A Lovely Baby Keeper

A Lovely Baby Keeper
Chapter 6



Pelan aku menggendong Rangga yang terus saja menangis. Di rumah besar ini sama sekali nggak ada orang, Rangga demam dan aku harus memberikannya obat penurun panas dari resep dokter, tapi aku harus bawa dia ke dokter.


seorang wanita melintas di depan kamar, "maaf bu, bisa bantu aku untuk bawa Rangga ke dokter?"


dia mendekatiku dan mengusap dahi Rangga. "sebentar, saya telpon saja dokter Rahmat," ujarnya lagi.


"sayang, maaf ya aku nggak punya asi untuk menghangatkan tenggorokanmu. Maafkan aku ya, aku cuma bisa peluk dan cium kamu. Anggap aja aku mamamu."


"Bagaimana keadaannya?" eh, kapan dia datangnya?


Dirga masuk dan membuka blazernya. Keringat membanjiri dahinya. ia menggulung kemejanya hingga siku.


"Kak Dirga, tolong dekap Rangga dalam dadamu," pintaku pada Dirga. Ah, kenapa dia bengong , sih?


"Kak... tolonglah,"


"Aku tidak tahu caranya menggendong dia, nanti dia bisa lolos dari lenganku dan jatuh."


aku mau tertawa dan juga gemas melihat bagaimana paniknya Dirga. sepertinya aku memang harus mengarahkannya.


"Kak, duduklah di sana. Aku akan mengambil selimut."


"ah , sayang. sebentar yah nak, jangan nangis terus. sebentar lagi dokter datang."


"Kenapa dokter Rahmat lama sekali!" Dirga terus saja mengomel sampai aku melotot padanya.


"maaf." dia sadar kalau suaranya mengagetkan Rangga.


"Duduklah dulu, coba buka lengan kananmu. Ini selimutnya. tolong buka juga kancing kemeja hingga empat kancing."


aku juga heran kenapa lancar sekali menginstruksinya seperti itu.


"Luna, kamu yakin mau melihat dadaku? aku takut kamu tidak bksa tidur."


"kak, ini buat Rangga. agar dia merasakan detak jantung ayahnya," jelasku lagi. apa sih? kenapa dia ngomong begitu?


"kenapa wajahmu memerah?"


"apanya yang merah? enggak kok. Aku nggak mikir apa apa,"


"memangnya siapa yang tanya apa yang kamu pikirkan?"


Terus saja sampai perang dunia ke lima perdebatan ini nggak akan selesai. Aku menyerahkan Rangga dekat dengan dada Dirga yang sudah terbuka. Sambil terus mengusap kepalanya.


"sayang, sama papa yah. papa akan jaga Rangga, ya kan Pa?" aku bertanya dan membuat Dirga salah tingkah. Dirga melakukan apa yang aku minta pada Rangga.


"puas?"


eh kenapa sih dia?


"ma...maksudnya apa kak?"


"tentu dong, Kak Dirga, kan, papanya."


"Luna, boleh aku bertanya?" wajahnya terlihat serius. Aku mengangguk tanda setuju.


"Apa dia mirip denganku?"


pertanyaan apa ini. iissshh...


"tentu saja dia mirip kak. Hidungnya, kulitnya, tampannya juga."


Dirga tertawa senang waktu aku ngomong begitu.


"pantas saja kamu tidak pernah berkedip kalau melihatku."


"Eh, bukan begitu kak."


Aku sebenarnya bingung, apa dia mencoba merayuku? Karena jantungku kayak mau melompat keluar.


Interaksi bayi dan ayahnya di depanku ini indah sekali. Rangga mirip sekali dengan Dirga.


"Luna, apa yang sedang kamu pikirkan?"


Pertanyaan Dirga mengagetkanku. Ia tertawa waktu melihatmu terkejut.


Menurut Mentari, Dirga memiliki sikap yang sinis dan dingin. Aku merasa, ada sesuatu yang membuatnya seperti itu.


"aku...hhmmm...Kenapa ibu yang melahirkan Rangga tega banget membuangnya?"


"mungkin dia malu menanggung aib yang ia buat sendiri," jawab Dirga masa bodo.


"sebenarnya kakak beneran nggak inget yang mana ibunya Rangga?"


Ia tertawa keras sekali hingga keluar air mata.


"ayolah, Luna jangan bercanda? dalam satu minggu aku bisa bergonta ganti wanita lebih dari tiga kali," jawabnya dengan penuh kesombongan.


"jadi, beneran susah yah untuk cari tahu siapa ibunya Rangga?"


"Luna, tugasmu hanya sebagai pengasuhnya bukan yang mencari asal ususlnya."


Aku terdiam tidak enak hati. Rasanya aku sudah melewati batas.


*maaf yah baru update*


With love


Luna Radinka