
Saat aku keluar laboratorium Renata sudah menunggu sambil menghisap minuman Boba gula aren yang sedang ngehits itu.
"Lun, yuk jalan?" serunya seraya mengeluarkan kunci mobil dari ransel chanelnya. Aku bingung karena sepertinya Renata mau ikut untuk menemaniku mengajar.
"Ren, gue kan mau ngajar dulu. Kok lo ikut sih?" tanyaku bingung dengan kelakuan Rena.
Dia tertawa kecil menyadari kalau aku bingung. "ya udah memangnya kenapa? Gue nggak nonton lo ngajar kok, gue akan tunggu lo di kafe depan bimbel lo itu."
Aku seharusnya tahu keras kepalanya Rena. Aku tahu dia nggak akan mendengarkan pendapatku.
"yodah terserah lu aja," kataku lagi.
Saat di perjalanan Rena mendapatkan telepon dan ngobrol seru dengan seseorang. Lalu dia mengatakan sesuatu dan menyebut nama Luna. Hal itu membuatku menoleh dengan wajah penuh tanda tanya.
"barusan sepupu gue namanya Mentari atau biasa gue panggil Tari. Nanti malam dia juga bakalan hadir di acara yang akan gue datangin dan kebetulan setelah itu ada acara ulang tahunnya. Dia minta gue ngajak temen cowok, gue bilang nggak punya. Tapi gw punya sahabat baik, dan dia mau kenalan sama sahabat gue itu."
Aku menggeleng dan nggak mau ikut dengan perkumpulan orang-orang kaya. Aku cukup bahagia dengan hidup sederhana ini dan nggak mau dianggap sampah sama mereka. Aku berteman dengan Renata karena dia memang baik hati.
"Lun, lo denger gue nggak?"
"denger kok. Gue nggak bisa Ren. Nanti malam mau nemenin mama,"kataku lagi berusaha untuk menolak ajakannya.
Renata menggeleng."gue yang jemput dan minta ijin sama tante deh. Gue juga yang bakalan nganter lo balik princess," ucapnya lagi. Renata nggak akan menyerah sampai aku mengatakan iya.
Kayaknya aku perlu mempertegas kenyataan yang ada. Bahwa Renata adalah cewek yang punya relasi orang penting dan kaya raya. Sedangkan aku cuma teman biasa. Teman kampus biasa. Aku nggak nyaman berada di tengah mereka.
"Ren, gue bukan golongan kalian. Gue nggak bisa bergaul dengan orang-orang kayak kalian. Gue cuma temen kampus biasa dan gue..."
Belum selesai aku bicara Renata sudah menginjak pedal rel dengan keras. Hingga aku hampir terbentur bagian depan kaca.
"Luna. Lo harus tau kalau gue nggak akan ngajak lo ke tempat orang yang bakalan bikin lo nggak nyaman. Dan gue dan Tari itu nggak kayak orang kaya lainnya yang lo liat di kampus. Gue juga nggak mau dilahirin kaya yang bahkan ngejar cita cita aja susah. Gue malah di cetak jadi mesin pencetak uang. Padahal lo kan tau gue mau jadi dokter. Gue berharap banget lo temenin gue dan gue yakin lo bakalan jadi temen yang baik buat Tari."
Aku terdiam mendengar penjelasan Renata. Ada rasa sedih setiap kali dia mengatakan bahwa terkadang kekayaan membatasi geraknya. Terkadang dia iri dengan kebebasanku.
Setelah hampir dua jam aku mengajar di bimbel sebelah selatan Jakarta. Renata mengajakku sebuah mall yang memiliki banyak brand terkenal. Aku sendiri merinding melihat isi toko tersebut dan nggak mau menyentuh barang apa pun.
Renata memilih gaun berwarna peach untuk acara makan malam dan dia memilih gaun sederhana selutut berwarna cokelat muda. Dengan model yang sama dan berwarna merah marun dia memintaku mencoba dan memantaskan diri di depan cermin ruang ganti.
"Ren, gue pake gaun mama aja. Ini kemahalan. Gila ah," seruku sambil melempar gaun itu ke arah Renata.
Dia mengejarku lagi sambil mengatakan. "gue mau ambil ini biar kita pake samaan. Lo katanya sahabat gue, kalau sahabat ya harus mau, Luna!" serunya lagi sambil tertawa. Dia menertawakan wajahku yang kaget saat dia membawa kedua gaun itu ke kasir.
"lo jebak gue Renata!" seruku dengan kesal.
Dia tertawa terbahak-bahak karena sadar aku sudah masuk perangkapnya. .
Begitu tiba di rumah Renata langsung bilang kepada mama mengenai rencananya. Anak itu memang lancang banget.
"Luna, nggak apa-apa kamu pergi. Mama sudah ada yang nemenin. Ada Rena yang akan jaga kamu,"
Mama percaya sekali pada Renata. Mama bilang karena Renata adalah anak yang jujur dan spontan. Bahkan sangat menghibur.
Renata yang berdiri di samping mama tersenyum penuh kemenangan. Dasar anak itu!
"Ma, tapi aku mau menemani mama,"kataku dengan menyentuh tangan mama. Entah kenapa aku nggak mau jauh dari mama. Jangan tanya ayah, dia akan pulang dengan bau alkohol malam nanti.
Aku sudah mengenakan gaun sederhana karya seorang desainer terkenal yang harganya sama dengan motor matic. Semua ini karena Renata. Mama bilang kalau penampilanku sangat cantik dan berbeda. Tentu saja dia menutup mulut waktu aku kasih tahu harga gaun itu.
Dengan cepat ia memukul lengan Renata.
"kamu benar benar nakal Renata. Kenapa beli gaun yang sangat mahal begitu?"
Bukannya takut Renata malah tersenyum kena pukulan mama. Menurutnya mamanya jarang bersentuhan langsung dengannya. Sejak kecil dia sudah diasuh oleh pengasuh karena kedua orang tuanya selalu sibuk dengan perjalanan keluar negri untuk bisnis mereka.
Aku mengikuti Renata yang sudah sangat cantik dan dia juga yang membantuku berhias.
"wah pasti gue bakalan kalah pamor deh dari lo," ucap Rena. Aku cuma menggeleng dengan ocehannya barusan. Terkadang anakn itu suka ngoceh nggak masuk akal. Jelas-jelas dia yang paling cantik dan modis.
Perjalanan sudah kami tempuh selama 45 menit. Renata sengaja tidak menyetor sendiri karena takut mengantuk saat pulang terlalu malam. Aku tergelitik untuk bertanya kenapa kita masuk ke area yang mirip seperti hutan tertata dengan pohon pohon pinus dan juga banyak lampu.
"rumahnya Tari itu sebenarnya di mana sih Ren? Kok masuk ke hutan gini?"
"Sebentar lagi kita sampe kok. Ini udah wilayah rumah mereka."
Aku mengernyit siapa yang dimaksud mereka menurut Rena. Mobil mewah Rena memasuki gerbang bertuliskan huruf C yang besar berwarna keemasan. Aku nggak bisa mengontrol kedua mataku yang mengerjap kagum melihat lampu di sekeliling rumah mewah yang disebut mansion Cakrawala. Semua petugas mengenakan blazer berwarna hitam dan beberapa asisten wanita menemuiku dan Rena. Mereka mengantarku dan Rena ke kebun yang luas ditumbuhi bunga mawar warna warni. Persis pesta kebun yang sederhana tapi indah. Benar-benar selera yang cantik. Pasti yang bernama Mentari itu seorang yang baik hati.
Renata menatap berkeliling kemudian mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil seseorang dari jauh. Gadis tinggi semampai dan memiliki senyuman manis itu berlari ke arah Renata. Mereka berpelukkan.
"Renaaa... Akhirnya kamu datang. Seneng banget aku tuh," ucapnya dengan barisan gigi yang rapi. Dia memiliki senyuman menawan yang membuat siapa saja menyukainya. Bahkan aku juga jadi suka lihat senyumnya.
Ia melirikku sejenak. "kamu pasti Luna ya?"
"Luna. Kamu pasti Mentari ya?" tanyaku lagi sambil tersenyum.
"iya. Eh tapi panggil aku Tari saja ya, Renata dan semua orang dekatku juga panggil Tari."
Mentari tersenyum riang waktu menarik tanganku sementara Renata sudah sibuk sama cowok ganteng yang barusan dia temui. Dasar Rena!
"ayo aku kenalin sama temen-temenku yang lain. Eh, ngomong-ngomong baju kamu bagus pasti Rena yang pilihan ya? Tahu aja dia punya temen cantik."
Aku nggak tahu harus ngomong apa. Mentari memperkenalkan aku pada semua tamu yang dia temui. Kakak laki-lakinya yang bernama Yoga dan pacarnya juga sangat ramah.
"Kamu satu kampus sama Renata?"
"iya kak." sahutku sambil mengangguk.
"eh panggil Yoga aja, tua banget gue rasanya," ujarnya cuek sambil tertawa. Di sebelahnya cewek yang berpakaian seksi itu terlihat sinis. Dan Mentari menggandeng tanganku lagi untuk menemui kakak laki-lakinya yang lain.
"pacarnya kak Yoga itu model yang belagu banget. Tapi, dia nggak tau aja kalau kak Yoga nggak bakalan serius deh sama dia," ujar Mentari panjang lebar. Aku cuma menghela napas pelan, kenapa orang-orang kaya ini kehidupannya lebih rumit.
"dia kan cantik. Masa dimainin juga sama kak Yoga," seruku lagi sambil berjalan di samping Mentari.
"Dia mau cari cewek baik-baik untuk dijadikan istri. Kalau bisa cewek kayak kamu. Cantiknya asli."
Mentari dan Renata ini sebelas dua belas kalau sudah memuji orang. Mereka ini kena racun apa sih?
Mentari mengajakku ke ruangan yang memiliki pintu dengan ukiran yang indah. Dia membuka perlahan Seolah-olah takut kalau yang di dalam itu bisa marah dengan suara pintu.
Aura ruangan itu sangat dingin dan Seolah-olah nggak Bersahabat sama sekali.
Mentari menaruh telunjuknya di bibir. Tanda bahwa aku sebaiknya nggak bersuara sebelum dia yang bicara.
"kak Dirga, ini Luna. Dia temannya Renata. Hmmm... Dia juga teman baru aku."
Mentari berbicara padahal sang kakak masih duduk membalikkan badan ke arah jendela yang memiliki pandangan yang sangat indah itu.
Laki-laki itu mengangkat tangan kanannya. Tanda bahwa Mentari harus berhenti bicara.
"ya semoga dia bisa menjadi teman yang baik buatmu. Ya sudah silahkan keluar dan nikmati pesatnya."
Mentari terlihat tidak enak hati padaku. Dia tidak enak hati dengan perlakuan Dirga barusan. Dia bicara tanpa melihat ke aku dan Mentari.
Saat aku dan Mentari mau keluar. Seorang laki-laki lainnya masuk dan mengatakan kalau bayi yang mereka bawa dari rumah sakit sudah ada di kamar bayi. Wajah Mentari berubah menjadi sangat ceria.
"kak Dirga, siapa yang akan merawatnya?" tanya Mentari sambil menghampiri kakaknya. Dia bergelayutan manja pada lengan kakaknya. Dirga memutar kursinya karena sikap Mentari yang manja. Wajah laki-laki itu begitu tampan dan bergaris tegas. Wajahnya ditumbuhi rambut halus dan tatapan matanya seperti elang. Kejam tetapi mampu membius wanita mana pun dengan sekali bertemu pandang.
Aku merasakan lemas pada otot otot kakiku. Perutku mulai mulas. Aku nggak mengerti gejala apakah yang terjadi pada tubuhku?
Dia melirikku sekilas. Seharusnya aku tahu kalau aku nggak akan dia lirik. Aku bahkan lebih pantas menjadi asisten rumah tangga buatnya.
"apa kau sudah menemukan orang yang bisa merawatnya?" tanyanya dengan memasukkan kedua telapak tangan pada saku celana.
"belum tuan. Saya belum menemukannya."
Mentari memutar bola matanya ke sana kemari. Aku mendengar bunyi high heels yang berjalan begitu cepat dari arah luar dan langsung masuk dan seperti biasa nyengir tanpa rasa bersalah.
"eh gue salah masuk kamar ya? Kok pada ngeliatin gitu sih?" Renata seperti biasa membuyarkan ketegangan.
Dirga menatapnya sambil memutar mata dan komat kamit.
"kamu nggak bisa ketuk pintu?"
"ups sori bos. Gue keluar lagi ya?"
"eh nggak usah. Sini ah temenin aku, kamu kayak nggak tau kak Dirga kan emang gitu. Galak banget," seru Mentari lagi tanpa berpikir kalau kakaknya ada di situ. Sepertinya Dirga sudah maklum dengan sikap para cewek dalam keluarganya.
Mentari menjelaskan kalau di rumah ini akan ada bayi dan kak Dirga butuh pengasuh untuk bayi itu. Karena nggak mungkin kak Dirga mengasuh bayi.
"itu bayi datang dari mana?" Renata bertanya yang enggan dijawab oleh Mentari. Aku cuma bisa menunduk lesu dengan sikap Rena barusan.
"dia anaknya kak Dirga. Jangan tanya bagaimana ya Ren. Mending kamu bantu aja cari pengasuh yang baik untuk ngerawat bayi itu. Pastinya nggak sendiri kok kan ada banyak asisten rumah tangga di rumah ini,"Mentari masih menjelaskan sedangkan sang kakak bersikap masa bodo dengan mengambil beberapa kaleng minuman bersoda yang ia berikan padaku dan lainnya.
"Ya udah gue aja deh jadi pengasuhnya. Toh gue lagi mumet di suruh kuliah lagi di bidang bisnis. Lagi pula gue juga udah mau lulus kedokteran."
Dirga menoleh waktu Renata menjelaskan mengenai kuliahnya. "lalu kenapa kamu tidak meneruskan kuliahmu?"
"kayak nggak tau bokap aja. Kan kalian semua lebih mau kita ini jadi penerus bisnis. Gue mau jadi dokter kak. Gue mau nolongin banyak orang."
Ruangan mendadak hening waktu Renata berbicara demikian.
"kamu bisa menyelesaikan kuliahmu dulu dan masalah bisnis. Aku akan mendampingimu, tenang saja. Bisnis itu hal mudah kalau otakmu encer."
Bola mata Renata seperti berair. Ia menoleh dan tersenyum ke arahku. Matanya penuh harapan.
"thanks kak. You are the best."
"yes I am."
Sikap percaya dirinya membuat Renata dan Mentari mencibir.
Mentari kembali menepuk tangannya agar semua orang kembali pada kenyataan bahwa kami semua membutuhkan pengasuh bayi.
"eh tante dan om tahu kalau ada bayi di rumah ini?"
Lagi-lagi Renata membuat semua orang mendecak kesal.
"apa kamu tidak bisa membuang rasa ingin tahumu itu Rena?"
"nggak bisa ah masa orang kepo ditahan sih! Bisa mules perut gue!" serunya asal-asalan yang bikin aku kesal.
Aku menyenggol tangan Renata agar dia nggak asal-asalan lagi kalau ngomong. Memangnya dia nggak takut ditelan sama kak Dirga apa?
"apa sih Lun?"
Aku masih saja memelototinya.
"Ya elah Luna. Ngapain lo nunduk gitu? Takut ya sama kak Dirga?" Renata tertawa puas setelah bikin aku malu.
Mentari tersenyum melihatku dan Renata ribut seperti anak kecil.
"kalian bikin heboh aja."
Dirga nggak ambil pusing dengan tiga cewek yang ada di ruangannya.
"Tari, berapa bayarannya buat pengasuh bayinya kak Dirga?" tanya Rena.
Dirga terdiam melihat Mentari dan Renata berbicara. Renata menekan beberapa tombol yayasan pengasuh yang semuanya nggak sesuai dengan kriteria yang diinginkan Mentari dan Dirga.
"bayarannya sebulan bisa dua digit. Tapi aku punya satu syarat," seru Dirga menatap Mentari dan Renata bergantian.
"perempuan itu bukan hanya sebagai pengasuh tapi juga bisa mengajarinya ilmu pendidikan sejak dini. Dan dia tidak perlu harus dekat-dekat denganku setiap waktu."
Mentari terdiam dan alis kanannya naik. Renata juga melipat tangan ke dada.
"Tapi kak. Dia anaknya kak Dirga kan?"
"I don't know well. Untuk saat ini aku menganggapnya begitu, bagaimana apa kalian bisa menemukan kriteria itu?"
Renata melirikku sekilas kemudian Mentari juga demikian. Eh kenapa semua anak panah tertuju padaku?