
Aku menelan saliva yang mulai terasa pahit. Entah bagaimana aku jadi takut kalau Renata dan Mentari yang memintaku menjadi pengasuh bayinya Dirga.
Renata dan Mentari nyengir sambil mengedipkan mata padaku. Ah... Aku tahu apa maksud mereka.
Renata berdehem memecah keheningan. "gimana kalau lo aja, Lun?"
Aku menggeleng ngeri seperti sapi yang siap disembelih.
"nggak usah becanda, Ren," jawabku singkat. Mereka pasti bisa membaca wajah tegangku.
Mentari tertawa hingga keluar air mata. "lihat mukamu deh Lun? Kayak orang yang mau disembelih. Kamu kan cuma bantu kak Dirga," serunya lagi.
"girls.. Mengasuh bayi itu bukan perkara mudah. Dan aku nggak ada pengalaman untuk itu."
"kalau gitu jadiin pengalaman pertama lo aja, Lun."
Renata merebahkan dirinya di sofa. Sementara yang bersangkutan Dirga hanya sibuk dengan ponselnya. Apa dia nggak tahu yang kita ributkan dari tadi adalah urusannya dia?
Dirga berdiri sambil memasukkan kedua telapak tangannya di saku celana.
"satu pesanku girls...jangan sampai hal ini terendus oleh media dan mempengaruhi saham perusahaan,"ujarnya sambil berdecak. Ia mengacak rambutnya dan menyalakan rokok yang sejak tadi hanya ia gigit.
Saat Mentari masih mencoba meyakinkan aku, Dirga keluar ruangan setelah menerima telpon. Ia menyerahkan urusan bayi itu pada Ferdi asisten pribadinya. Bahkan kalau aku hitung asisten pribadi di rumah ini bisa mencapai 20 orang.
"Luna. Please kamu aja yah yang ngasuh anaknya kak Dirga. Biar kita bisa bareng terus. Lagian mama dan papaku akan pindah ke rumah lain. Aku dan kak Dirga yang akan di sini."
Renata terkejut sekaligus senang. "serius? Ah seru deh ngebayanginnya aja. Bakalan sering mampir ke sini gue.
Udah ambil aja Lun, yang penting nggak ganggu kuliah lo plus dapat gaji gede pula."
Renata terus saja ngomong mempromosikan pekerjaan mengasuh bayi.
Jujur aja aku suka anak-anak. Tapi, membayangkan mengasuh bayi yang baru lahir itu, nggak gampang. Lagian, kok ada sih perempuan tega buang anaknya sendiri.
Mentari berbicara dengan Ferdi mengenai aku adalah kandidat yang bagus untuk menjadi pengasuh bayi milik Dirga.
"Non, Luna. Tenang saja, kalau butuh bantuan ada banyak asisten rumah tangga di sini. Dan kalau non butuh apa-apa bisa cari saya," serunya dengan wajah tenang. Kemudian ia keluar memanggil seseorang yang membawa sebuah keranjang bayi. Ya Tuhan kenapa jantungku berdebar kencang begini? Padahal cuma mau ketemu bayi loh!
Renata memperhatikan mimik wajahku. Ia menyentuh bahuku menandakan kalau dia mendukung langkahku.
"ooohhh... Imut banget. He is too cute!"seru Mentari yang udah nggak bisa menyembunyikan kegirangannya. Renata menarik tanganku untuk segera mendekat dengan keranjang bayi itu.
"Luna. Cakep banget nih anak!"
Aku meminta Renata mengecilkan volum suaranya yang cukup keras karena takut membangunkan si bayi tampan itu.
Tanganku bergetar waktu menarik ujung selimut dan melihat kaki-kaki mungilnya.
Renata memelukku dari samping."tuh kan, lo pasti jatuh hati deh sama dia. Apa lo masih mau berubah pikiran setelah ngeliat gimana gantengnya nih bayi?"
Aku menggeleng cepat untuk menjawab pertanyaan Renata.
"lo sendiri kenapa nggak mau ngasuh dia Ren? Kan anak sepupu lo sendiri."
"jiwa keibuan gue masih mendem. Beda banget sama lo yang udah ada bibit emak-emak."
Mentari tertawa mendengar omongan Renata barusan. Mentari pengin banget gendong bayi itu tapi takut. Alhasil aku orang pertama yang menggendong si ganteng itu.
"kita kasih nama siapa ya?"
Renata dan Mentari berpandangan. Tersadar kalau bayi itu belum punya nama.
"Daniel." sebut Renata
"terlalu bule Rena. Gimana kalau Rangga?"sanggah Mentari lagi.
"wah pas banget tuh sama wajahnya yang ganteng ini." aku mencium pipi merah mudanya.
Benar kata Renata kalau aku akan jatuh cinta begitu melihatnya.
Sehingga aku memutuskan akan menjaga Rangga apa pun yang terjadi.
"ok. Aku mau mengasuh dan menemani Rangga."
Mentari dan Renata tersenyum puas. Ferdi memintaku untuk ikut ke kamar Rangga. Kamar yang didominasi warna biru serta hiasan pesawat itu membuatku takjub. Pasti Mentari yang mendesain ini.
"di dalam kamar ini ada pintu lagi. Sini buka deh," pinta Mentari sambil mengajakku ke pintu penghubung ke ruangan tidur minimalis dengan interior yang cukup feminim.
"ini kamar kamu. Kalau ada apa-apa bisa nginap dan tidur di dekat Rangga,"
Aku dan Renata mengikuti kemana kaki Mentari melangkah. Setelah ke kamar sebelah. Kami berhenti di kamar yang berhadapan dengan kamar bayi.
"itu kamar kak Dirga. Tapi, dia nggak suka kalau ada yang masuk kamarnya," ujarnya lagi dengan suara berisik. Mungkin takut Ferdi nguping.
Lalu aku melirik kamar lainnya di dekat ruang keluarga. Mentari melihat ke arah mataku.
"kalau itu kamar kak Yoga. Tapi, dia jarang stay di sini. Kebanyakan stay di apartemennya," ujar Mentari lagi.
Aku menangkap ada sesuatu yang aneh antara Dirga dan Yoga. Keduanya seperti kurang akrab. Tapi aku lebih menyukai Yoga yang begitu murah senyum.
"udah selesai tur keliling rumahnya?" aku dan Mentari berjingkat karena terkejut mendengar suara Yoga. Dia menghampiri kami dengan senyuman mengembang di wajahnya.
"gimana Lun? Kamu bisa bantu Dirga?"
Aku mengangguk dan tersenyum.
"syukurlah jadi bisa sering ketemu kamu," katanya sambil tertawa ringan.
"hhmmm... Ada hawa-hawa cinlok nih." ledekkan Rena membuatku terkejut. Cewek itu benar-benar kayak hantu. Dia bisa muncul kapan saja. Aku memelototinya karena bicara ngawur.
"Ren, kayaknya udah malam deh. Kita kapan pulang?" aku sengaja menanyakan ini agar dia nggak membullyku lagi dengan Yoga.
"kapan aja lo mau. Nginap juga boleh,"serunya lagi sambil tertawa ngakak. Mentari juga ikut tertawa memperhatikan wajahku yang panik.
Apa aku sepanik itu yah sampai semua orang seneng banget meledekku habis-habissan.
Renata mengantarku hingga depan rumah. Ia mengatakan kalau dia berterima kasih aku sudah membantunya. Tentu saja dibumbui ejekkan mengenai Yoga yang ia curigai akan cinlok sama aku.
"lumayan loh Yoga itu. Baik dan ramah. Nggak kayak Dirga. Kadang suka dingin dan sinis. Entahlah. Tapi gue lebih suka Yoga."
"hahaha... Kamu ngomong apa sih Ren?"
"ngomongin calon pacar lo!"
Aku cepat-cepat turun dari mobil menghindari topik barusan.
Aku merasa malas berkhayal punya pacar seperti Dirga atau Yoga. Hidupku sudah cukup normal. Dan hidupku baik-baik saja.
"Woi! Kok kabur sih?!" Teriak Renata yang aku tidak dengarkan.
Cewek itu memang kalau sudah ngomong suaranya keras sekali kayak ngomong pakai toa masjid.
Aku tersenyum waktu menutup pintu kamar. Membayangkan wajah Yoga yang tersenyum. Dan kesal membayangkan wajah Dirga yang sembarangan berhubungan dengan perempuan sampai menghasilkan anak.
Iissshhh nggak banget!
**Maaf readers aku baru update. Semoga ceritanya bisa lanjut.
With love
Luna Radinka**