
Hari ini aku libur. Waktu yang sudah aku nantikan untuk memasak makanan kesukaan mama . Aku menghela napas lega karena sudah selesai membersihkan rumah dan menemani mama.
Saat aku masih sibuk menyiapkan bahan-bahan masakan. Mak Siti membuka pintu rumah sambil berjalan tergesa-gesa.
"Luna! Lo harus liat ayah lo tuh di depan. Dia habis digebukin orang. Dan bonyok mukanya!"
Aku langsung melepas apa pun yang saat itu dikerjakan. Pikiranku sudah nggak keruan memikirkan ayah. Mak Siti berjalan sambil mengapit lenganku.
"Luna. Gue akan ngehajar mereka semua!"
"jangan Mak. Kalau mereka banyak. Kita bisa jadi yang dihajar balik," ujarku menenangkan Mak Siti. Aku juga berusaha menenangkan diri sendiri.
Ketika melihat ayah terkapar di tanah. Aku berlari dan menghampiri ayah. Tanganku gemetaran saat memapah tubuh ayah ditemani Mak Siti. Darah sudah di mana-mana. Wajah ayah sudah tertutup oleh semua bengkak dan luka.
Laki-laki tadi menyeringai dan mendekat waktu aku memapah tubuh ayah.
"lo anaknya? Boleh juga. Kalau aja gue tau dia punya anak cantik gini."
Darahku berdesir waktu cowok sialan tadi menatapku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Entah kenapa aku pengin banget menampar wajahnya.
"Diaaammm!" ayah berteriak hingga cowok tadi dan anak buahnya berbalik badan. Aku ngeri melihat semua tato di tangan cowok itu. Dia nggak jelek, hanya saja terdapat tindikkan di ujung alis kanan dan bibir sebelah kirinya. Terlihat sekali kalau dia bisa merawat diri, dia bisa terlihat lebih tampan.
"ayah tolong jangan begitu. Nanti dia melukai ayah lagi," bujukku agar ayah nggak mencari keributan.
Lelaki itu berjalan menghampiri kami dengan tangan terkepal seperti seseorang yang ingin meninjau wajah ayah.
Aku maju dan menghalanginya.
Cowok itu berhenti dan terlihat sangat marah. Tatapan matanya seperti menelanku hidup-hidup.
"minggir lo. Gue nggak mau jadi pecundang dengan ngelukain cewek. Lelaki tua Bangka itu nggak tau diri! Gue harus kasih dia pelajaran."
Aku tetap berdiri mematung.
"lelaki tua Bangka itu ayah saya. Setiap anak pasti akan melindungi orang tuanya."
Ia tertawa sambil menggosok hidungnya.
"woi! Gila lo ya punya anak sebaik ini masih lo jual?"
Lelaki itu tertawa keras sekali sambil melihat ke arah ayah dari atas pundakku. Aku dapat merasakan ayah menunduk waktu cowok itu mengatakan tentang ayah menjual anaknya.
"gue terima kalau anak lo yang cantik ini buat ngelunasin utang. Apa perlu gue bawa pulang dia sekarang?!" seru cowok itu sambil terus mendekat ke depanku. Napasnya begitu bau alkohol. Aku mual waktu menghirup aromanya. Ia menarik paksa pinggangku mendekat padanya. Aku berusaha melepaskan dekapannya tapi sia sia dia jauh lebih kuat. Mak Siti nggak berdaya karena harus membantu ayah berdiri. Matanya membulat melihat cowok itu berusaha menyentuhku.
Tubuhku merinding waktu hidung cowok itu mendekat pada leher kanan.
Dengan bergetar ia berbisik. "kalau cara pembayaran kayak gini gue nggak keberatan. Kapan lo siap gue bawa?"
Aku memutar otak untuk membuat kesepakatan.
Saat kepalaku lagi sibuk berpikir. Cowok itu berbisik lagi. "gue bener bener tergila gila sama bau lo. Belum pernah gue menghirup bau tubuh cewek kayak lo. Gue bisa bikin lo puas sampe mata lo putih semua!"
Sebagai orang yang awam dengan sex. Aku seperti ditelanjangi waktu cowok itu ngomong seperti itu sambil berbisik. Dia belum menyentuhku aja. Aku udah merasa kotor. Ya tuhan.... Tolong aku...
Aku menelan ludah yang terasa pahit. Kalau saja aku punya kemampuan menghajar cowok sialan ini. Pasti sudah kuhajar sampai bagian tubuhnya terpisah.
"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?"usulku dengan nada suara yang kubuat berani. Aku nggak mau dia tahu kalau aku takut setengah mati.
Dia menoleh dan menatapku lurus.
"lo mau kesepakatan apa? Hati hati dengan omongan lo sendiri. Karena kalau lo nggak bisa penuhi. Gue akan seret lo untuk tinggal ama gue. Dan jangan harap bisa lari."
"Maksudku. Aku bisa melunasi hutang ayah. Asal kamu kasih aku waktu tiga bulan." kataku dengan nada tenang
"kelamaan. Dua bulan cukup!"
"berapa jumlah hutang ayah?"
Aku mengangguk tanpa berpikir.
"500 juta. Dan ingat, lo udah janji bakalan ngelunasin dalam waktu dua bulan."
Aku menelan ludah dan lututku gemetaran. Tanganku menggenggam sisi kiri dan kanan gaun pendek berwarna cokelat.
Aku memang baru menerima pekerjaan menjadi pengasuh bayi. Tapi rasanya nggak mungkin bisa terkumpul sebanyak itu dalam dua bulan.
Cowok itu mendongakkan daguku hingga hampir menyentuh bibirnya. Tubuhku bergidik ngeri membayangkan bibir itu mencium bibirku. Rasanya lebih baik aku meminum racun.
"kalau dalam waktu dua bulan nggak bisa lo penuhi. Siap-siap lo jadi pemuas gue di rumah. Tugas lo ngelayanin gue dan bikin gue puas!"
Setelah dia mengatakan itu, ia pergi bersama anak buahnya.
Ayah menunduk dan aku tahu ia merasa bersalah.
Mak Siti sudah sangat kesal memikirkan hal tadi
"Luna. Lu nggak serius kan sama yang barusan? Kasian ibu lu kalau tahu."
"lalu aku bisa apa Mak? Mereka nggak lepasin ayah kalau aku nggak bikin kesepakatan," ujarku lagi dengan perasaan sedih.
"ini semua gara-gara lu. Liat tuh anak lu jadi korban. Judi mulu sih lu!"
Mak Siti mengomeli ayah seperti anak kecil.
Dalam perjalanan pulang aku berpikir kenapa ayah melakukan ini semua? Jika dia sudah tidak menyayangimu. Setidaknya dia punya sedikit rasa kasihan padaku.
Aku memang butuh uang. Tapi, menjual diri adalah jalan yang sangat hina dan dibenci oleh Tuhan. Aku ingin mempersembahkan diriku seutuhnya pada laki-laki yang mencintaiku. Bahkan dalam keadaan terburukku sekali pun.
Wajah Mak Siti masih terlihat cemas. Aku nggak perlu bilang ke Mak Siti untuk nggak kasih tau mama. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Perlahan ia mengelus punggungku. Tatapan matanya begitu sedih, "Lun, lo kudu sabar ya. Jaga diri, gue nggak mau lo disakiti sama ******** itu."
Kami berpelukan erat lalu sama sama menghapus air mata agar mama nggak khawatir.
Ayah langsung masuk ke kamar dan nggak menggubris pertanyaan mama.
"Luna, dari mana? Loh Siti, kamu habis dari mana sama Luna? Dan itu ayahnya Luna kok bonyok gitu?"
Mak Siti melengos sambil mengambil botol air minum. Kami memang sangat keharusan sejak kejadian tadi. Setelah kami menyeruput air putih itu dengan nikmat, mama masih memandangiku dan Mak Siti penuh tanya.
"Luna?"
"ayah dikeroyok orang, Ma. Tapi, mama nggak usah khawatir semuanya sudah selesai."
"jangan menutupi kesalahannya, Nak. Mama tahu pasti dia sudah melakukan kesalahan. Pasti masalah uang lagi. Mama harus bagaimana Luna?"
Mama menangis frustrasi hingga bahunya naik turun.
"mama nggak usah banyak pikiran. Luna mau mama sembuh. Biar ini jadi urusan Luna,"kataku lagi menenangkan mama.
Mama menggeleng sambil memencet hidungnya yang memerah.
Dalam keadaan sedih kami dikagetkan dengan suara pintu yang dibanting.
"BENAR BENAR ANAK YANG NGGAK BERGUNA, LO!" ayah membentakku setelah keluar kamar. Lalu meninggalkan kami begitu saja.
Benarkah aku nggak berguna setelah semua yang aku lakukan? Bahkan nyawaku nyaris terjual.
Aku mengirim pesan pada Mentari untuk memberitahunya bahwa aku sudah siap bekerja kapan pun mereka mau.
Mentari membalasnya dengan emot senyum dan jempol sebagai tanda positif.
*maaf guys baru update lagi. Semoga suka yah*