A Lovely Baby Keeper

A Lovely Baby Keeper
Chapter 1



“Percuma lo kuliah, mending lo gue kawinin ama anak bos gue!” Suara ayah benar-benar bikin aku pusing. Mulutnya juga bau minuman. Ayah seperti itu sejak dua tahun lalu. Semua karena usahanya bangkrut. Dan beliau putus asa karena nggak bisa membiayai ibu yang sakit kanker pada bagian perutnya. 


“Ayah, jangan ngomong begitu dong sama Luna. Biarkan dia kuliah dan mengejar cita-citanya,”ujar ibu lagi dengan suara lirihnya.


Ayah tetap saja nggak mau dengar, dia malah menghalau omongan ibu dengan tangannya, tanda kalau dia malas menanggapi ibu. 


Ibu menyentuh kedua tanganku, “sabar yah, sayang. Ayah pasti nggak sadar waktu ngomong gitu ke kamu.”


Aku menggeleng dan tersenyum ke arah ibu. Aku nggak mau ibu sedih, walau pun rasa kesalku sudah menggunung. Aku akan tetap tersenyum untuk ibu. 


Jangan tanya apa aku benci ayah atau enggak. Aku nggak bisa membenci kedua orang tuaku. Sampai detik ini, aku cuma berpikir kalau ayah sedang khilaf sehingga menyakiti istri dan anaknya.


Setelah aku menenangkan ibu dan mengantarnya beristirahat di kamar. Aku bersiap ke kampus. Aku mendapatkan beasiswa jurusan farmasi pada Universitas Cakrawala sejak tiga tahun lalu. Keinginanku belajar pada bidang farmasi karena ingin sekali menjadi seorang yang ahli dalam meracik dan melakukan formulasi obat-obatan sehingga dapat membuat obat-obatan yang memenuhi standar dan layak di konsumsi oleh orang banyak terutama ibu. 


Tanganku masih saja sibuk menggapai tas ransel yang aku letakkan di meja belajar. Aku mendengar suara Renata yang cerewet banget ngobrol sama Mak Siti. Mak Siti sahabat sekaligus tetangga yang dekat banget sama rumahku. Saking dekatnya, dia bisa aja mendengar suara ayah yang marah-marahin aku atau Ibu. Kalau sudah begitu, Mak Siti yang akan nyamperin ayah sambil ngomel-ngomel. Ah, seru banget deh kalau Mak Siti udah ngomel. Kalian bakalan ikutan ngerasa kehabisan napas. 


Suara pintu kamarku diketuk sama cewek cerewet yang modis. Heran aku juga kenapa dia senang banget temenan sama aku yang nggak selevel sama dia. Semua cewek-cewek anak pejabat yang kuliah di tempatku nggak akan mau sekedar duduk di sebelahku di kafe kampus. Apa lagi kalau mereka tahu aku ini bukan anak orang kaya. Aku cuma beruntung, mendapatkan beasiswa yang diberikan setiap tahunnya oleh Universitas Cakrawala bagi siswa berprestasi pada saat aku masih bersekolah di salah satu SMA negri di Jakarta.


“Woi! Ngelamun aja. Nggak jadi kuliah?” tanya Renata sambil memeluk laptop bergambar apel yang sudah hilang bagian atasnya. 


“Kuliah dong, Ren. Bentar yah, gue lihat ibu dulu,” kataku lagi. Belum juga aku keluar Rena mengatakan kalau ibu masih tidur dan ada Mak Siti yang menemaninya duduk di depan kamar. 


Cewek yang hobi mengganti warna cat rambut ini, lebih suka datang ke rumah menjemputku dari pada harus bertemu di kampus langsung. Alasannya cuma satu, mau ngobrol ngalur ngidul sama Mak Siti. 


Renata menekan tombol pada kunci mobilnya agar pintu terbuka. Aku nggak pernah berkhayal sedikit pun duduk di kursi mobil mewah kalau bukan mobil Rena. Terkadang aku suka nggak enak sendiri, menjadi tatapan sinis mahasiswa lainnya di kampus.


Aku pernah bilang pada Renata sebaiknya jangan keseringan jemput, nggak enak bareng terus. Nanti dikira aku memanfaatkannya.


Jawaban Rena cuma satu. “Emangnya mereka pikir gue cewek bego? Sehingga gampang banget dimanfaatin ama cewek lempeng kayak lo.” Setelah itu dia akan tertawa kenceng banget. 


“Ren, lo langsung masuk kelas, kan?”


“Eh, gue suka banget sama lagunya Selena Gomez yang baru. Lo suka nggak?”


Aku tahu dia mengalihkan pembicaraan. “Ren, hhmm … kenapa? Lo males masuk kelas lagi?”


Dia nggak langsung menjawab. Tatapannya masih lurus pada kemudi. “Gue berpikir, kayaknya nggak akan bisa jadi dokter, Lun. Ortu gue mau gue ngikutin jejak mereka, jadi pengusaha.”


Aku terdiam sejenak. “Nggak ada salahnya kan jadi pengusaha dan dokter? Lo pasti bisa Ren. Selama ini, lo punya tenaga yang nggak ada habisnya.”


Renata menggeleng frustasi. Matanya berkaca-kaca. “Lun, lo tau kan gue pengen banget jadi dokter untuk menolong banyak orang. Gue iri sama lo yang di dukung tante Binar untuk menyelesaikan kuliah. Bahkan lo juga kerja untuk membiayai kuliah lo. Seru banget bisa melakukan banyak hal begitu.”


Ah, Renata. Seandainya aja dia tahu kalau jadi aku itu serba salah. Tujuanku cuma satu, lulus kuliah dan memberikan kehidupan yang bagi kedua orang tuaku. 


Aku menyentuh lengan Rena. Berharap kalau sentuhanku bisa sedikit memberikan energi yang positif baginya.


“Ren, mungkin untuk saat ini lo jalani semampu lo dulu. Fokus kuliah sampai pada waktu yang tidak ditentukan. Ya, paling enggak sampai ada ultimatum dari keluarga lo.” 


Renata membersit ingus dengan tisu. Aku baru tahu kalau dia punya stok air mata berlimpah. Selama ini mulut julidnya selalu berhasil melabrak cewek-cewek atau cowok-cowok tukang gosip di kampus. Aku juga heran, nggak ada satu pun yang berani menjawab omongannya Renata. 


“Lun, kelar kuliah lo ngajar, kan? Kelar ngajar jam berapa? Gue mau cari gaun buat acara makan malam peresmian hotel baru punya temennya bokap,”tanyanya dengan wajah serius.


“Eh, gue nggak ngerti tentang gaun-gaun macam itu,” jawabku lagi.


“Ya elah, seenggaknya gue minta temenin. Lo gitu amat ama gue,”rengeknnya kayak anak kecil. 


“Iya, gue selesai ngajar jam tiga sore.”


Renata nyengir senang karena berhasil membuatku menyetujui rencananya. Aku nggak bisa berbuat apa-apa kalau anak itu udah merengek. Dia begitu karena nggak punya kakak perempuan. Kedua orang kakaknya berwajah dingin dan kebanyakan minum air suci sehingga nggak pernah mengajaknya bercanda.