A Lovely Baby Keeper

A Lovely Baby Keeper
Chapter 5



Aku menghubungi Mentari untuk bersedia menjadi pengasuh bayi kakaknya. Aku nggak punya pilihan lain and i need the money. Renata pasti senang banget dengan berita ini. cewek itu selalu punya pikiran ajaib dalam kepalanya.


Mentari merentangkan kedua tangannya untuk menyambutku, dia senang bukan kepalang seperti mendapat mainan baru.


"ah ... aku nggak pernah sesenang ini di rumah. aku sengaja nggak ke kantor demi menyambutmu, Luna."


aku memeluknya dan melihat seseorang yang begitu dingin sedang diperiksa pakaiannya. orang kaya memang aneh. Mentari melihat arah pandangku.


"makasih Tari sudah mau terima aku. Aku nggak tau bisa jadi pengasuh yang baik buat Rangga atau enggak, tapi aku akan berusaha," ujarku menenangkannya. lebih tepatnya agar dia menerimaku jadi pengasuhnya Rangga.


"Kak, nggak mau lihat Rangga dulu? sejak dia ke rumah ini kakak nggak pernah sama sekali lihat dia. dia lucu banget kak." Mentari berusaha mendekati lelaki dingin itu.


"ah... dia kan sudah ada pengasuh bukan?" tatapannya dingin seolah olah aku berusaha mendekatinya.


Mentari mensejajarkan langkah kakinya dengan kaki lelaki jangkung itu. Aku berjalan di samping Mentari karena dia menarik tanganku. entah apa yang ada di dalam pikiran Mentari. kenapa bawa-bawa aku coba?


Heran deh mereka berdua ini sama sama tinggi dan staminanya juga bagus saat berjalan cepat.


"Kak Dirga, you know ... he is your son!" bentak Mentari lagi sambil menghentakkan kakinya. aku mengusap lengannya, agar dia kembali tenang.


"sabar, Tari. nggak semua yang kita mau itu akan tercapai. Mungkin kakak kamu memang nggak tau bagaimana menjadi seorang ayah," kataku sambil menggandeng tangan Mentari masuk kembali ke dalam rumah yang besarnya seperti istana. Asistan rumah tangga berpakain safari hitam berjalan di belakang kami. memastikan kalau kami berdua baik-baik saja.


Mentari masuk ke kamar Rangga dan menggendong bayi lucu itu. Selang berapa lama suara seperti orang buang angin dan bau khas kotoran bayi mulai tercium. Wajah Mentari pucat, "aku nggak tau caranya mengganti pampers, tolong Luna." ia menyerahkan Rangga padaku.


Sebenarnya kotoran bayi yang hanya minum susu formula itu belum berbau aneh. dan aku sudah terbiasa membersihkan kotoran mama waktu di rumah sakit.


"hey ... there you go. kamu wangi banget sekarang. minum susu yah? kita bobo, pasti kamu capek main terus," aku mengatakannya sambil mengecup pipi merahnya. Mata rangga seperti Dirga, kulitnya juga seperti Dirga. Bahkan Mentari juga sangat cantik, wajahnya blasteran Eropa. Tidak heran Dirga memiliki paras yang sangat tampan.


aku menelan ludah waktu membayangkan dirinya. aku rasa, otakku sudah mulai nggak sinkron waktu memikirkan Dirga, laki-laki dingin yang hanya peduli dengan kesenangannya sendiri.


Aku berpikir tega sekali ibu yang melahirkan bayi tampan ini. Jika dia memang bersalah sudah tidur dengan Dirga, seharusnya dia menebus kesalahannya dan merawat bayi ini dengan baik.


Rangga tertidur lelap saat aku peluk sambil duduk di kursi goyang. Mentari menatapku sambil tersenyum.


"wow ...pemandangan yang indah." aku dikejutkan dengan suara klik kamera dari belakang Mentari. Yoga, tersenyum waktu aku menunduk karena malu.


"Terima kasih sudah menjadi objek foto yang indah, Luna."


"Cuma memangku bayi aja bagaimana indah, kak?"


"nggak semua perempuan bisa begitu dekat dengan bayi, kecuali mereka memiliki perasaan yang halus."


kata-katanya barusan membuat pipiku merona.


"kak, anak orang dibikin salah tingkah gitu ih!" Mentari berkata sambil tertawa mengejek Yoga.


Saat berhasil menaruh Rangga di keranjang bayi, aku pamit ke kampus.


"Balik dari kampus ke sini yah Lun? aku sudah kasih tau Rena juga untuk ke sini."


Mentari dan Renata benar benar selalu bertindak tanpa bertanya kepadaku dulu.


Aku mendesah lega waktu taksi masuk ke halaman kampus. itu artinya aku nggak terlambat.


"Luna! dari rumahnya Tari?"


"Rena, lama lama lo bisa bikin gue mati berdiri. kenapa harus teriak teriak? gue nggak budek," kataku kesal. seperti biasa cewek ajaib itu cuma tertawa.


"lo serius banget sih? mikirin siapa? Dirga atau Yoga?" setelah mengucapkan dua nama itu dia tertawa terbahak bahak.


"Nggak lucu, Ren!"


Renata kembali tertawa dan mengejekku. Kemudian ia kembali mengusap rambut panjangnya dan melirik jahil. Pasti cewek ini merencanakan sesuatu.


"Luna, ke salon yok. gue udah lama nggak nyalon," ujarnya lagi. aku menggeleng karena harus menyiapkan ujian masuk sekolah perawat esok hari. Waktu aku menyelesaikan sekolah farmasi satu tahun. Dokter Anwar yang bekerja di rumah sakit tempatku praktik menawarkan untuk sekolah perawat agar bisa bekerja di rumah sakit miliknya.


Akhirnya aku berhasil merubah tujuan Renata dari salon ke bakso mang didin yang nggak jauh dari kampus.


"ini hari terakhir gue, Ren. Dokter Anwar merekomendasikan gue ikut sekolah perawat. katanya gue iti telaten waktu dia ajak merawat pasien bulan lalu."


Renata terdiam dan menunduk. kemudian matanya berkaca-kaca dan menggeleng.


"terus gue gimana Lun?"


"yah lo akan tetap bisa ke rumah gue kapan aja. lagi pula kan gue masih kerja jadi pengasuhnya Rangga," hiburku lagi seraya memeluk Renata.


"ah males gue! udah nggak asik lagi lo Lun!" ujarnya kesal dengan wajah menunduk.


"kata siapa? buktinya aja kita masih asik jalan keluar."


Setelah usai makan bakso bersama Renata. aku memutuskan pulanh untuk kasih tau ibu kalau aku sudah diterima di sekolah perawat. ibu pasti senang.


"Serius? ah ibu bangga sama kamu. kamu pasti akan jadi anak yang berhasil Luna," ungkap ibu sambil memelukku.


selang berapa lama, ayah masuk dengan tampang kucel yanh jelas-jelas dia nggak senang dengan kehadiranku. aku bingung salahku apa sampai-sampai kehadiranku bikin ayah kesal.


"sampai kapan mau sekolah? kapan mau nikahnya? ayah mau jodohin kamu sama teman ayah."


aku mencoba untuk nggak menganggap serius omongan ayah.


"Luna!" panggil ayah dengan suara tinggi. Cangkir yang aku pegang hampir terjatuh karena mendengar suara ayah yang menggelegar.


"ayah kita udah pernah membicarakan ini. aku masih mau sekolah, Yah."


"Sampai kapan? sampai kulitmu kendur semua dan jadi perawan tua? percuma!"


wajah ibu memerah mendengar omongan ayah barusan. tangannya menggenggam erat sisi kursi roda.


"kamu nggak seharusnya ngomong begitu ke Luna mas. Dia anak kita bukan barang yang harus dijual."


Ya Tuhan apa aku sebegitu nggak bergunanya yah?


"mas semua kebutuhan kita dipenuhi oleh Luna ... bahkan hutang mas aja akan dibayar oleh Luna!" ungkap ibu dengan nada tinggi.


"kalau dia kawin dengan temanku, kita pasti bebas dari hutang,"


"Mas!" ibu teriak dan membentak ayah.


"Kalian berdua sama-sama nggak berguna!" teriak ayah sambil membanting pintu rumah dan membiarkan aku dan ibu memandangi punggungnya. ayah adalah ayah paling baik sedunia sebelum segalanya direnggut dan dia menjadi seperti sekarang ini.


"Ibu, aku pergi dulu yah. pulangnya agak malam, selesai


sekolah masih ada kerjaan," kataku sambil mencium tangan ibu.


"Luna bukannya kamu akan tinggal di asrama?"


"sebenarnya sekolahnya belum mulai, aku cuma mau isi beberapa formulir, Bu. sekolahnya minggu depan dan kata dokter Anwar, luna tetap boleh melakukan pekerjaan lainnya selesai sekolah."


ibu mengangguk waktu aku jelaskan panjang lebar. satu satunya kebaikan dalam hidupku adalah dipercaya dokter Anwar untuk ikut pelatihan keperawatan di akademi milik temannya. Akademi perawat Gemilang.


Aku memesan taksi online untuk datang ke rumah Mentari. Mentari juga memberikan kartu akses agar aku mudah memasukki pekarangan Cakrawala. Anehnya, barusan dia mengirim chat supaya aku nggak terpengaruh dengan apa pun yang aku dengar saat tiba di rumah besar mereka. entahlah apa maksud chat itu.


Aku tiba disambut dengan asisten rumah tangga yang tersenyum sopan dan lembut. saat aku berjalan ke kamar Rangga dan melewatk ruang kerja Dirga. aku melihat Dirga duduk berhadapan dengan laki laki tua yang berwajah tegas dan wanita blasteran yang mengenakan atasan batik dan celana hitam.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini, Dirga? kerajaan ini membutuhkanmu. Yoga tidak akan mampu memimpin semuanya sendirian."


fokusku terganggu mendengar suara berat dari ruangan Dirga.


"aku bukan orang yang pantas, Pa. minatku berbeda dengan yang papa jalani,"


"Bisnis seumur jagungmu itu tidak akan bertahan lama."


"aku melakukan ini juga demi bisnis keluarga kita," jawab Dirga lagi dengan suara meninggi.


"apa kamu sudah gila? sudahlah, papa mau kamu segera terbang ke London untuk mengurus semuanya."


"Pa, sampai kapan papa akan memaksakan kehendak papa pada anak-anak papa? usiaku sudah tidak muda lagi."


"Dirga, jangan begitu."


"apa? jangan katakan kamu juga senang, Yoga. aku tahu kamu punya cita-cita menjadi seorang pilot dan harus terkubur dalam-dalam."


"DIRGA CUKUP !!!"


"Mas, aku rasa kita harus mengakhiri ini dengan anak-anak. kita datang besok lagi." suara wanita blasteran itu begitu lembut dan pengertian. ia mengelus pungung Dirga dan Yoga.


"Mami, apa kabar?" suara Dirga begitu lembut menyapa wanita yang sudah melahirkannya hingga telingaku ikut terhanyut.


aku merasa berdosa sudah mengintip dengan sangat lama di depan ruangan kerja Dirga.


"Eh, di sini? aku kira belum datang," Mentari menyentuh bahuku hingga aku terlonjak karena kaget.


"siapa? " tanya Dirga dari dalam ruangannya. keringat mengucur deras di belakang punggung. bagaimana aku bisa seceroboh ini?


aku menoleh pada Mentari yang tersenyum dan mengajakku masuk ruangan.


"kita sudah tertangkap basah. lebih baik kita masuk," katanya lagi.


"Kenapa kalian bisa ada di depan pintu?" tanya Dirga sambil memasukkan telapak tangan ke dalam saku celana. Yoga berdehem dengan tatapan jahil padaku.


"mami, aku kangen sekali sama mami."


wanita cantik yang tidak muda lagi itu merentangkan tangannya untuk memeluk Mentari. ia tersenyum hangat padaku, lalu merengtangkan tangannya padaku.


"kamu siapa?"


"Mam, kenalkan ini Luna temanku."


"nice to see you Luna." dengan cepat ia memelukku juga.


ah ... pantas saja Mentari selembut itu. ibunya saja lembut dan baik banget.


"kalau kalian sudah selesai, sebaiknya keluar," nada suara Dirga terdengar tidak nyaman dengan orang lain dalam ruangannya.


"Dirga, jangan begitu. kami cuma ingin saling menyapa."


"Baiklah, pikirkan baik baik semuanya Dirga, jangan membuat papamu ini marah." ujar laki laki itu lagi sambil berjalan melengos dan nggak menoleh sedikitpun


aku bisa melihat rahang Dirga yang mengeras. seolah olah dia mau menghancurkan semua barang di dalam ruangannya.


"Nak, sabarlah. atau paling tidak coba kamu pertimbangkan lagi. Mami tidak mau kalian bertengkar." ujar wanita cantik yang memeluk Dirga. suaranya begitu lembut menyapa semua orang di rumah ini.


"Mentari, ayo antar Mami ke kamar Rangga." pintanya pada Mentari yang kemudian melirikku.


"Rangga dirawat oleh Luna, Mam. dia dekat sekali dengan Luna,"


senyuman wanita itu merekah cantik sekali kemudian menggenggam kedua tanganku sambil mengatakan , "terima kasih sudah membantu Mentari dan Dirga, Nak. semoga Tuhan membalas kebaikan hatimu." ia memelukku lagi sambil berjalan ke kamar Rangga.


Dirga hanya mengintip tanpa ingin masuk menengok anaknya sendiri.


ah... apa hatinya sekeras itu? terlepas siapa ibunya. Rangga adalah bayi paling tampan yang pernah kulihat.


---------------------------------------------------


to be continue .........