
Flashback On
Hallo, Anin nyariin lo, sekarang dia pergi gitu aja kayanya sih bakal masuk gang Xxx
"shit" suara orang di balik ponsel
Tutt...
Flashback Off
***
Ditepi danau...
"lo kenapa masuk gang itu" tanya Bara melihat Anin masih nangis sesegukkan dan menyodorkan air mineral ke Anin.
"kalo gue telat nolongin lo" lanjut Bara
Anin langsung melihat Bara dan menggelengkan kepalanya
"lo ngapain nyariin gue?" tanya Bara yang mengalihkan pandangannya kedepan
"gak, gue gak nyariin lo" ucap Anin sambil menghapus air matanya dan meminum air mineral.
"lo kangen ya, baru juga gak di jemput" ucap Bara menggoda
"apaan si lo, jangan kepedean" ucap Anin beranjak pergi
"hati-hati lo, jangan sampai orang itu ngejar lo lagi" ucap Bara berhasil menghentikan langkah Anin. Anin membalikkan badannya dengan memasang wajah cemberutnya sambil duduk di samping Bara.
"Cantik" ucap Bara, Anin langsung melirik Bara
"Pemandangan di danau ini" lanjut Bara dengan senyuman smirk pandangannya lurus kedepan.
Anin menghela nafasnya "lo kenapa gak sekolah" tanya Anin
"ngapain lo pengen tau" Bara balik tanya
"hemmmm... Hemmm.. G-gue kan p-pacar lo" ucap Anin sambil menyentuh jidatnya.
"ahahaha, ngaku juga lo" ejek Bara
"gak, gue salah ngomong" ucap Anin
"oke" ucap Bara
****
Malam hari..
Anin yang selesai belajar, langsung membaringkan dirinya di tempat tidur menatap langit-langit kamarnya.
"Kok gue ngerasa ada hal aneh ya setiap gue liat muka tu anak nachkal" ucap Anin
"untuk kejadian tadi siang, gue utang nyawa sama tu anak" gumam Anin
Terlintas di kepala Anin kebersamaannya dengan Bara....
"Oh no, cukup Anin.. Dia itu nachkal. Yang lo pikiran bagaimana caranya lo gak berurusan lagi dengan dia" ucap Anin, tidak menyadari bahwa ia mulai merasa aneh kebersamaannya dengan Bara.
Nada pesan wa masuk di ponsel Anin..
Bara Nachkal
Pacar, besok gue jemput
Anin pun senyum menerima chat dari Bara. Dan langsung membalas
Anindita
Okee..
Bara Nachkal
Tumben cepat balasnya, sepertinya ad yang senang ni gue jemput
Anindita
B aja kale
Bara Nachkal
Nin, ada yang jatuh ni
Anindita
Jatuh? Siapa? lo.. haahha ******
Bara Nachkal
jahat banget tu jari..
Anindita
Emang apaan yang jatuh??
Bara Nachkal
Anin jatuh cinta dengan Bara Leonardo
(read)
"Apaan sih PD amat ni cowo" ucap Anin kesal. Tiba-tiba tersenyum pula.
***
Di Markas genk Bandit...
Kumpulan cowo-cowo yang biasa di katakan nakal sedang sibuk dengan ponsel masing-masing yang pastinya mereka lagi main game. Mereka kumpul di rumah yang mereka kontrak bersama-sama, rumah yang menjadi tempat mereka mengatur strategi jika ada yang menyerang.
Selain itu tempat mereka beristirahat jika lelah dengan urusan pribadi.
Bara hanya duduk sambil chattingan dengan cewe yang ia tolong tadi siang siapa lagi kalau bukan Aninndita.
"Bar, sepertinya Rehan makin menjadi-jadi deh" ucap Aldo memulai pembicaraan
"tenang, sebelum tempat ini di sentuh kita jangan bertindak" ucap Bara dengan smirk
"lo beneran pacaran dengan Anin?" tanya Aldo lagi
Bara melihat sekilas ke arah Aldo "gue juga gak tau" ucap Bara
"jangan sampai dia jadi orang kedua yang kena imbasnya karena perseteruan kita" ucap Aldo tanpa melihat Bara
Bara melihat Aldo dengan tatapan tajam.
"karena kelemahan lo terletak pada seorang perempuan" ucap Aldo
Bara mengepalkan tanganya dan..
Bughhh... Bara memukul wajah tampan Aldo
Mereka yang tadi serius memainkan game sambil tertawa dan mengumpat terkejut mendengar suara pukulan itu. Dan semua melihat ke arah Bara yang berdiri, sedangkan Aldo terlihat memegang wajahnya.
Bara mengambil tasnya dan langsung pergi dari markas genk Bandit.
***
Seseorang membuka pintu memasuki ruang yang sepi dan hanya suara alat-alat medis, terlihat sosok wanita yang terbaring dengan wajah pucat menggunakan ventilator, dengan tangan di infus.
Seseorang itu berjalan pelan mendekat pada bankar dan langsung menduduki dirinya di kursi yang sudah tersedia.
"kamu kapan sadarnya?.. gak cape apa baring terus" ucap seseorang itu
"sorry.. aku sudah satu minggu gak jengukin kamu" ucapnya lagi
"Ayah sudah pulang, dan seperti biasa kita bertengkar lagi" ucap seseorang itu yang tidak lain adalah Bara.
Setelah memukul Aldo di markas, Bara melajukan motornya ke rumah sakit, Bara menuju ruang dimana tempat wanita yang spesial di hatinya yang di rawat selama satu tahun ini.
Bara memperhatikan wajah yang pucat itu dengan tatapan sendu, penuh dengan kerinduan. Tiba-tiba terlintas wajah cemberut Anin di pikirannya, dan sejenak ia bingung dengan pikirannya itu dan langsung tersenyum mengingat melihat wajah Anin yang kesal jika ia mendekatinya.