
Suara hentakan sepatu pantopel baru saja memasuki rumah, langsung di sambut pembantu di rumah itu "Assalamualaiku. Mana anak itu mbok?" ucap ayah Bara.
"Waalaikumsalam, Den Bara masih di luar tuan" jawab mbok Sam
"Anak itu tidak pernah betah di rumah" ucap Ayah Bara lalu pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
Yang datang adalah Ayah Bara yaitu Brian Leonardo seorang pembisnis sukses, yang baru saja pulang dari luar kota tentunya untuk urusan bisnis.
***
Tengah malam...
Seorang pemuda memasuki rumah dengan jalan sempoyongan, lalu membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dia adalah Bara, yang tiap malam pasti nongkrong di club, walaupun jarang sekali ia minum, tapi malam itu entah dia ingin sekali minum sampai mabuk. Pastinya dia di antar sahabat-sahabatnya pulang.
"ooh dari dulu sampai sekarang kamu masih saja seperti ini" ucap Brian
"hai ayah, ayah kapan pulang" ucap Bara yang setengah sadar
"anak tidak berguna, bisanya hanya membuat onar. Dasar anak..."
"pembunuh..." potong Bara dengan senyuman smirk
"selalu itu saja yang anda katakan, pernah tidak anda peduli dengan saya sedikitpun, pernah tidak anda bermain dengan saya waktu saya kecil, pernah tidak anda memberikan saya mainan di saat saya membutuhkannya" ucap Bara dengan nada tinggi
Membuat mbok Sam keluar dan melihat anak dan ayah itu berdebat lagi.
Bara pun berjalan melewati Brian dengan langkah sempoyangan langsung di bantu mbok Sam "ayok den, mbok bantu ke kamar" ucap mbok Sam langsung menaruh tangan Bara di pundaknya.
"terima kasih mbokku sayang" ucap Bara
***
Pagi hari...
Di meja makan, Brian menikmati sarapannya. Dan mbok Sam sambil menyiapkan menu sarapan yang lainnya.
"den Bara sarapan dulu" ucap mbok Sam yang melihat Bara turun dari lantai dua.
"hemm" balas Bara yang duduk dan memakan roti yang sudah di siapkan mbok Sam
"mbok, besok malam hidangkan makanan yang enak-enak dalam porsi banyak ya, besok saya kedatangan tamu dan ingin memperkenalkan ke kalian semua" ucap Brian melihat mbok Sam
"Baik tuan" jawab mbok Sam
"mbok Bara pergi dulu, Assalamualaikum" ucap Bara dan langsung pergi
"Waalaikumsalam" jawab mbok Sam. Ayah Bara juga menjawab salam itu hanya di dalam hati nya saja, dan menatap punggung anaknya yang perlahan pergi.
***
Terdengar dering ponsel Anin dan tertera penelpon (Bara Nachkal...)
Hallo
.......
Oke
Menutup ponselnya, dan bengong "tumben tu anak gak maksa buat jemput gue, gakpapa deh gue juga capek sisir rambut gue yang kusut kalau naik motor" gumam Anin.
***
Sekolah..
"nin tumben di antar, pak Tono" ucap helena
"hemm, emang kenapa? " ucap Anin cuek
"yaa biasanyakan si Nachkal" balas Helena
"tadi dia telpon gue katanya gak bisa jemput" ucap Anin
"yaelah mukanya udah masam aja tuh gak di jemput doi hahaha" ucap Helena
"Apaan sih lo" kesal Anin
Helena melirik Yasha yang berada di sampingnya "Sha, lo sudah sampaikan perasaan lo sama si Aiden" ucap Helena dengan volume suara besar
Tersontak Yasha menutup mulut Helena
"apaan sih lo, tentang perasaan gue, biar gue aja yang tau dan kalian" ucap Yasha
Anin menatap sahabatnya itu dengan sendu, "kenapa sih lo gak coba dulu sha, untung gue ngalah" ucap Anin
Anin dan Helena kaget dengan tingkah Yasha "nin lo buat dia marah" ucap Helena
"tau ahh" ucap Anin kesal dengan Yasha karena tidak bermaksud apa-apa dengan ucapannya tadi dan langsung meninggalkan Helena.
Anin melewati teman-teman Bara yaitu genk Bandit Aldo, Noto, Dion, Ivan dan Tristan yang sedang asik mengobrol seketika "pacarnya boss ni" ucap Aldo duluan
Anin langsung membalikkan badannya dan baru sadar dia melewati teman-teman Bara tapi dia tidak melihat Bara di situ.
Anin tiba-tiba mendekat "Mana si boss lo?" tanya Anin dengan ketus. "ciee nyariin, tapi muka biasa aja dong cuek amat" ucap Noto dan yang lainnya tertawa.
"biasa kalau ada something pasti dia gak masuk sekolah" ucap Aldo
"Bolos?? kalian gak ikut" tanya Anin dengan polosnya
"ya elah, ni cewek gini-gini kita sering masuk ya di kelas, walaupun masuk tidur ahhahaha" ucap Ivan
Anin pun langsung pergi. "dia pengen sendiri nin" teriak Aldo, yang cukup dekat dan tau saja permasalahan Bara.
"gak masuk sekolah, pengen sendiri" Anin bergumam
Tiba-tiba aja ada perasaan aneh yang Anin rasakan, terasa sepi, ya itu yang di rasakan Anin karena biasanya dihadiri cowo yang selalu mengancam menyebarkan surat cinta yang ia buat kalau tidak mengikuti apa yang dikataka Bara
***
Pulang sekolah...
Anin memasuki mobil "Pak Tono kita ke jalan Xxx" pinta Anin
"Baik non" ucap Pak Tono
Anin pun sampai di tempat Bara yang pertama kali membawa Anin, tapi saat itu terlihat ramai dan dia melihat ada teman-teman Bara tapi bergabung dengan siswa dari sekolah lain.
"Pak Tono duluan aja ya, Anin masih ada urusan" ucap Anin
Pak Tono pun melihat sekitar yang di datangi anak majikannya itu, "hati-hati ya non, nanti kalau ada apa-apa telpon saya ya" ucap pak Tono keliatan khawatir karena banyak sekali sekumpulan anak-anak cowo.
Anin pun membalas dengan anggukan.
Anin masuk ke warung itu. "ada cewe cantik ni" ucap salah satu siswa dari sekolah lain
"diam lo ini pacarnya si boss" ucap Aldo keluar dari warung dan langsung mengahampiri Anin
"Bara gak ada disini nin" ucap Aldo
"lo kok tau kalau gue cari Bara" tanya Anin yang bingung kenapa dia harus ke tempat ini.
"ahahhaha, yang pasti lo nyariin Bara kan, emang lo nyari siapa lagi" ucap Aldo menatap Anin
Anin pun diam seketika dan langsung pergi dan asal belok ke jalan yang belum pernah dia lalui.
Anin pun terus berjalan, aneh yang dirasakan Anin saat itu kenapa dia berinisiatif menyusul Bara ke tempat itu, "kenapa juga gue harus nyariin dia" ucap Anin dan tersadar
"gue dimana" Anin melihat sekitarnya dia memasuki gang kecil, penuh dengan sampah botol-botol bekas minuman, snack lain sebagainya.
Anin ingin putar balik, tapi dia kaget ternyata ada orang di belakangnya yang mengikuti entah sejak kapan.
Anin perlahan mundur dan langsung berlari, orang itupun mengejar Anin, "o may gosh, jalan buntu" lirih Anin melihat tembok besar di depannya.
Dia pun membalik badannya melihat orang itu jalan perlahan mendekatinya, dengan sambil tertawa.
"Toloooonggg.... mau ngapain lo" teriak Anin
Orang itu hanya tertawa dan mengeluarkan pisau
Anin pun membulat matanya orang itu semakin dekat, Anin pun merosot jatuh ke jalan dan menutup wajahnya "ya Allah tolong gue, gue takut, gue gak mau mati sekarang....Baraaa" ucap Anin dalam hati
Bughhhh
Bughhhh
Anin membuka matanya dan melihat orang itu sudah tergeletak dengan wajah yang telah berdarah
"Bara" ucap Anin demi apa dia melihat orang yang sedang ia cari. Anin langsung berdiri dan memeluk Bara.
"gue takut..hiiks..hikkss..hikss" tangis Anin pecah yang sedari tadi tertahan.
Bara mengelus kepala Anin dan langsung membawa Anin keluar dari gang itu.
TBC