
"Aku pulang."
Aku melepaskan sepatu dan pergi ke tempat tidur ku.
Setelah itu, aku mengganti seragam ku.
Sambil menunggu Hikari pulang, aku memutuskan untuk tidur sebentar sambil mendengarkan beberapa musik yang berada di smartphone ku.
...***...
"Onii-chan!"
Terdengar suara seperti sedang membangunkan diriku.
"Onii-chan!"
Suara tersebut makin lama makin terdengar dengan jelas.
"Onii-chan! Bangunlah!"
Aku perlahan membuka mata ku dan terlihat ada Hikari disana.
"Mo...! Tidur sambil menyetel musik itu tidak baik!"
"Maaf-maaf."
Aku meminta maaf kepada Hikari, lalu melepaskan earphone ku dan mendengarkannya berbicara.
"Makan malamnya apa?"
"Bagaimana dengan nasi kare?"
"Baik! aku menunggu di bawah!"
Hikari dengan cepat pergi ke bawah dan menunggu.
Disusul dengan diriku dan aku mulai membuatkan makan malam.
Orang tua kami sangat sibuk dengan pekerjaan mereka dan selalu pulang larut malam, bahkan tidak bisa pulang sama sekali.
Jadi, itulah mengapa rumah ini hanya ditempati oleh kami berdua dan akulah yang biasa membuatkan makanan.
Makanannya telah selesai ku buat.
Aku memanggil Hikari dan menyuruhnya untuk mengambil bagiannya sendiri.
"Hikari! Sudah selesai!"
"Baik! aku ke sana!"
Kami menyantap makanan bersama di meja makan ruang keluarga.
Tidak lupa dengan perkataan Akemi, aku memberitahukan kepada Hikari bahwa kami akan mendirikan sebuah klub.
"Hikari, Apa kau sudah masuk ke sebuah klub?"
"Belum, kenapa onii-chan?"
Hikari menggelengkan kepalanya dan bertanya kepada ku.
"Kakak dan teman-teman kakak akan mendirikan sebuah klub dan kami kekurangan 1 orang anggota. Apa kamu mau ikut?"
"Teman-teman onii-chan?
Aku dengan nada seperti tidak ingin menjelaskan, terpaksa harus memberitahukannya kepada Hikari."
"Kau tahu Hikari. Kakak sebenarnya bukannya tidak mempunyai teman baru atau bagaimana. Tapi, sangat kebetulan sekali kakak berada dalam kelas yang sama dengan Takeshi dan Akemi."
"Dengan Akemi nee-san?"
"Ya."
"Lalu bagaimana dengan yang seorang lagi?"
"Dia murid pindahan baru. Namanya Mitsuki Yuki."
"Seperti apa orangnya?"
Aku menjelaskan ke Hikari apa adanya menurut dengan pandangan pribadi ku tentang Yuki.
"Dia imut, tapi sifatnya canggung dan pemalu. Mungkin karena hari pertamanya ia berada di lingkungan yang baru. Meskipun begitu, dia orang yang baik. Kamu pasti menyukainya."
Hikari selesai menyantap makan malamnya.
"Bagaimana Hikari?"
"Baik aku ikut! Lagipula disana juga ada Akemi nee-san."
"Apa tidak apa-apa jika kamu tidak melanjutkan lagi klub mu?"
"Tidak apa-apa! Tidak ada masalah!"
Aku selesai menyantap makanan ku.
"Kalau begitu, syukurlah."
"Ngomong-ngomong klub seperti apa yang kalian dirikan?"
"Semua ide itu berasal dari Akemi. Sederhananya, klub tersebut bertujuan untuk mempelajari kehidupan di bawah laut."
"Begitu rupanya."
Aku berdiri mengambil piring ku dan milik Hikari, lalu bersiap untuk mencucinya.
"Jangan tidur terlalu malam Hikari!"
"Tanpa diberitahu aku sudah tahu!"
Hikari memberikan pose meledeknya kepada diriku dan dia menuju ke kamarnya sendiri.
Kamar kami saling bersebelahan dan berada di lantai 2.
Selesainya aku mencuci piring dan peralatan makan.
Aku langsung kembali ke kamar ku dan tidur.
...***...
Terlihat Yuki sedang memeluk salah satu boneka kucing besarnya yang berwarna putih dan hitam diatas kasur.
Yuki memakai baju piyama bermotif pink dan putih polka dot.
Dirinya mengingat kembali perkenalan dirinya sendiri pada waktu itu.
Saat pertama kali masuk ruang kelas.
Yuki sudah sangat tahu tentang Yuuto saat melihat pertama kali wajahnya.
Hatinya berdetak sangat cepat seakan ingin meledak.
Bahkan sekarang, hanya dengan memikirkannya saja, hatinya masih berdetak sangat cepat dan wajahnya memerah merona.
"Kazami Yuuto..."
Dia memanggil namanya dengan sangat pelan.
Karena sangat malu, dirinya menutup wajahnya dengan boneka kucingnya.
"Aaa-Apa yang sedang ku katakan?"
Dirinya berbicara dalam keadaan wajahnya masih tertutup.
Tak lama dari itu, dirinya membuka wajahnya.
"Setelah sekian lama, aku masih tidak percaya kalau bisa bertemu dengannya lagi."
Tubuh Yuki kemudian terjatuh ke tempat tidur.
"Tapi sepertinya dia tidak mengingat diriku."
Ia mengatakannya dengan nada yang kecewa.
"Gadis yang bernama Akemi itu, apa dia pacarnya? Dirinya sangat dekat sekali dengan Yuu-kun."
Yuki mengangkat boneka kucingnya di udara.
"Ne, Nyanko-nyan! Sebaiknya apa yang harus aku lakukan? "
Seketika dirinya teringat sesuatu.
"Oh ya! Besok kami akan melanjutkan pembahasan mengenai pendirian sebuah klub. Bagaimana pendapat mu, Nyanko-nyan!?"
Yuki memeluk kembali bonekanya.
"Bersama dengan Akemi-san dan Takeshi-kun dan juga Yuu-kun."
Matanya terlihat mulai mengantuk sekarang.
"Ngomong-ngomong Yuu-kun punya seorang adik perempuan. Aku ingin bertemu dengan―"
Dirinya tertidur lelap sebelum ia selesai, menyelesaikan kalimatnya.
...***...
"Jadi, Yuuto! Apa Hikari setuju untuk bergabung?"
Akemi bertanya kepada diriku.
Kami melanjutkan pembahasan kemarin sambil menyantap makan siang.
"Dia bilang, dia ikut."
"Benarkah!?"
"Ya! Dia sendiri yang bilang 'selama ada Akemi nee-san, maka tidak apa-apa' begitulah yang dia katakan."
Kemudian, Akemi terharu setelah mendengar hal tersebut.
"Hikari benar-benar gadis yang baik dan dia masih memanggil ku dengan sebutan itu. Hiks."
"Oii! Oii! Jangan menangis!"
"Lalu bagaimana dengan guru pembimbingnya?"
Takeshi menerjang masuk ke dalam pembicaraan.
"Hmmm. Aku masih belum bisa memikirkannya."
"Bagaimana dengan Hirotsuka-sensei?"
Yuki memberikan usulannya.
"Sepertinya akan kelihatan sulit jika meminta kepadanya."
Aku sedikit menentang pendapat Yuki karena sepertinya akan sulit untuk membujuknya.
"Benarkah?"
"Ide bagus Yuki!"
Tiba-tiba Akemi memeluk erat Yuki.
"Tenang aja! Aku yang akan pergi meyakinkannya."
"Sudah ku duga kau akan berkata seperti itu Akemi."
"Lalu, siapa yang akan jadi ketuanya?"
"Tentu saja dirimu bukan? Karena kau yang mengusulkan ini semua pertama kali."
"Eee...Tapi aku ingin Yuuto yang menjadi ketuanya."
"Oke aku keluar."
Sebelum aku benar-benar meninggalkan Akemi, langkah ku dihentikan olehnya.
"Janganlah begitu Yuuto! Baik-baik! Aku mengerti! Aku yang akan jadi ketuanya."
Aku pun kembali ke tempat duduk ku.
Takeshi dan Yuki tertawa kecil setelah melihat kami berdua.
"Tapi aku juga ingin jika ketuanya adalah Yuuto-kun."
"Yuki! Kau lebih baik jangan ikut-ikutan Akemi. Takeshi tolong bantulah diriku."
Takeshi memalingkan muka dan bersiul tidak jelas menghiraukan diriku.
"Pokoknya sudah diputuskan bahwa ketuanya adalah Akemi. Jika tidak, aku tidak akan bergabung dengan kalian."
"Yuuto tidak asik."
Akemi menyampaikan hal tersebut dengan nada kecewa.
"Maaf jika diriku seperti ini."
"Baiklah! aku yang akan menjadi ketuanya. Pulang sekolah nanti, aku akan pergi membujuknya. Tunggu Aku! Hari ini semua anggota harus pulang bersama!
" Ya! Ya! Aku mengerti."
Aku mengeluarkan smartphone ku dan men-Line Hikari.
"Ah! Aku hampir lupa! Yuki! Ayo saling tukar alamat Line! Hanya Dirimu yang belum ku miliki."
"Tentu saja."
Yuki tersenyum manis dan kami saling bertukar satu sama lain.
Kemudian, tidak lama dari itu, Akemi membuat sebuah grup dan sudah ada nama kami disana.
Untuk photo profile-nya memakai gambar hiu biru.
Memang benar-benar Akemi sekali.
Kemudian, aku melihat profile milik Yuki dan terlihat gambar wajah kucing putih disana.
Kamu memang benar-benar suka kucing ya.
Aku tersenyum kecil ke layar smartphone ku.