A Lost Promise

A Lost Promise
Chapter 1 ー Pertemuan Yang Tidak Terduga 「Part 1」



"Onii-Chan!"


Sebuah suara terdengar berulang-ulang dan sepertinya ada yang berat di atas tubuh ku.


"Onii-Chan! Bangunlah!"


Aku membuka mata ku secara perlahan dan melihat Hikari yang berada di atas tubuh ku sedang berusaha membangunkan diriku dengan baju piyama tidur yang masih dikenakannya.


"Kalau Onii-Chan terus berada diatas kasur nanti bisa terlambat ke sekolah tahu!"


Aku melihat ke arah jam weker yang berada di samping tempat tidur ku dan telah menunjukkan pukul 06.00 pagi sedangkan jadwal untuk masuk sekolah adalah pukul 08.00 pagi.


"Kakak mengerti."


Aku tersenyum manis kepadanya dan mengelus rambut cokelat panjangnya dengan lembut.


"Hikari ingin sarapan apa hari ini?"


"Hikari ingin makan omelette buatan Onii-Chan!"


"Kalau begitu Hikari harus bersiap-siap terlebih dahulu supaya kita tidak datang terlambat pada upacara pembukaan."


"Ehm!"


Hikari mengangguk kepada ku dan akhirnya menyingkir dari atas tubuh ku.


Sambil menunggu Hikari selesai mandi, aku menutup kembali mata ku dan berharap ada hal baik yang terjadi pada tahun ajaran baru ini.


Seperti yang kalian tahu.


Namaku adalah Kazami Yuuto, seorang anak Laki-laki yang menyentuh bangku kelas 2 SMA dan kehilangan beberapa ingatan penting di masa lalu akibat insiden kecelakaan lalu lintas serta memiliki seorang adik perempuan yang baru saja menginjak kehidupan SMA-nya.


Tak lupa juga memiliki catatan tambahan, yaitu tidak memiliki seorang teman dan tidak tertarik untuk menjalani hubungan yang seperti itu! Terlebih lagi jatuh dalam kehidupan Love Comedy.


"Sial!"


Aku mendecitkan suaraku karena masih tidak terima mengenai kecelakaan lalu lintas yang pernah ku alami di masa lalu.


Tak lama kemudian suara Hikari terdengar oleh ku.


"Onii-Chan! Hikari sudah selesai mandi! Onii-Chan sudah bisa menggunakannya sekarang!"


"Kakak akan segera menyusul!"


Aku pun bangun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.


...***...


Setelah selesai sarapan pagi.


Kami berdua berjalan bersama-sama menuju ke sekolah sambil berbincang kecil di tengah perjalanan.


"Omelette buatan Onii-Chan selalu enak di lidah Hikari!"


"Jangan mengatakan hal aneh."


"Aduh!"


Aku menyentil jidat Hikari untuk menghentikan perkataannya.


"Ngomong-ngomong Onii-Chan! Bagaimana dengan seragam ku?"


"Terlihat lebih imut saat dirimu yang sedang mengenakannya."


"Onii-Chan terlalu memuji Hikari."


Bukannya menunjukkan ekspresi bahagia.


Hikari malah menunjukkan ekspresi khawatir kepadaku.


"Memangnya tidak boleh?"


Hikari berhenti di depanku dengan jari telunjuk kanannya yang sedang mengarah ke arah ku.


"Jika Onii-Chan dibilang Siscon oleh orang lain. Hikari tidak tahu harus berbuat apa!"


"Cukup katakan saja kepada mereka kalau Hikari mencintai kakaknya."


"Hubungan sedarah tidak boleh dilakukan!"


"Hai! Hai! Terserah padamu!"


Dirinya menatap kesal kepada ku dan aku meninggalkannya dibelakang.


"Onii-Chan tunggu!"


Menuju ke tempat sekolah bersama-sama dengan ditemani oleh jatuhnya tiap kelopak bunga sakura di sepanjang jalan, membuatnya terlihat indah dan sangat cocok sebagai energi tambahan untuk menjalani aktivitas pada tahun ajaran baru.


Aku dan Hikari bersekolah di sekolah yang sama.


Pemerintah kami cukup unik dalam menerapkan dunia pendidikan.


Berbeda dengan universitas.


Tingkat SD sampai dengan tingkat SMA, kehidupan sekolah kami diatur oleh mereka.


Dengan kata lain tidak adanya ujian masuk sekolah.


Namun kelemahan sistem pendidikan ini adalah kriteria untuk lulus tidak main-main dan terbilang cukup sulit.


Jika nilai seseorang dari awal semester hingga akhir semester tidak memenuhi standar kelulusan, maka dia harus mengulang kelas hingga memenuhi standar kelulusan.


Beruntungnya kami berdua telah memenuhi kriteria dan lulus serta mendapat sekolah yang terbilang elite karena dekat dengan distrik tempat kami tinggal, yaitu Hirayuki Gakuen.


...***...


Saat ini diriku sedang duduk di dalam aula, tempat dimana upacara pembukaan sedang dilaksanakan.


Pembukaan pertama dilakukan oleh OSIS, lalu di lanjut dengan pidato dari kepala sekolah.


Mendengar pidatonya yang panjang membuat diriku ingin tertidur kembali, namun tidak bisa kulakukan karena disamping ku ada Hikari.


Sebagai seorang kakak. Aku tidak bisa menunjukkan sifat buruk ku kepada adik kecil ku itu.


Melihat Hikari yang sangat serius mendengarkan pidato yang sangat membosankan itu membuat diriku tidak tega untuk mengganggunya.


Akhirnya upacara pembukaan itu pun selesai dan mereka menyuruh kami untuk kembali ke kelas masing-masing.


"Onii-Chan sekarang berada di kelas mana?"


"Kakak ada di kelas 2C. Kalau Hikari?"


"Hikari ada di kelas 1A."


"Jangan lupa untuk berteman disana! Semoga saja Saki-san berada satu kelas dengan dirimu."


Aoyama Saki adalah teman dekat Hikari saat dia berada di bangku SMP.


Sifatnya bisa dibilang sama seperti Hikari, yaitu periang dan baik hati.


"Tenang saja Hikari pasti bisa mendapatkan seorang teman pada hari pertamanya masuk sekolah! Saki tidak termasuk dalam hitungan Hikari karena sudah berteman sejak SMP!"


Dirinya berbicara dengan nada yang sangat percaya diri dan kurasa aku tidak perlu mengkhawatirkan dirinya lebih lanjut.


"Kalau begitu kakak senang mendengarnya."


Aku mengelus kepalanya dengan lembut namun di tolak oleh Hikari.


"Kenapa?"


"Jangan lakukan disini! Itu membuat Hikari sangat malu! Hikari juga sudah besar!"


"Hahahaha maaf! Kurasa aku berlebihan. Tapi apa kau yakin?"


Aku tertawa melihat ekspresinya yang diliputi rasa malu karena ku perlakukan dirinya seperti anak kecil.


"Tidak peduli! Selamat tinggal Onii-Chan!"


Hikari pergi meninggalkan diriku dan bergegas menuju kelasnya.


Kurasa aku sudah membuatnya marah di hari pertamanya sekolah.


Aku pun bergegas menuju ke tempat ruang kelas ku berada.


...***...


Sekolah ini memiliki fasilitas yang terbilang lengkap.


Mulai dari gedung kantin, gedung olahraga, gedung ekstrakurikuler, gedung ruang guru, dan ruang OSIS serta ruang kepala sekolah.


Lapangan sepak bola, sebuah asrama, kolam renang, lapangan estafet, dan lain-lain.


Untuk gedung dalam kegiatan belajar mengajar ini, terdapat 4 lantai yang dimana tiap-tiap lantai di isi ruangan yang berbeda-beda.


Mulai dari lantai 1 yang di isi ruangan murid kelas 1 dan sebuah UKS serta sepasang ruang toilet.


Lantai 2 yang di isi ruangan murid kelas 2 dan sepasang ruang toilet.


Lantai 3 yang di isi ruangan murid kelas 3 dan sebuah perpustakaan serta sepasang ruang toilet.


Terakhir lantai 4 yang di isi ruangan ekstrakurikuler tambahan dan di tutup dengan atap sekolah yang di kunci dari dalam.


Pemegang kunci tempat tersebut adalah guru BK dan pihak dari OSIS saja.


Sekolah ini memiliki 6 ruang kelas untuk tiap tingkatan kelas.


Jika di total maka berjumlah 18 ruang kelas, yaitu dari kelas A sampai dengan F.


Tiap-tiap ruang kelas terdiri dari 30 tempat duduk, namun hanya di isi 27 murid sebagai antisipasi adanya murid pindahan yang ingin bersekolah disini.


Penataan tempat duduknya seperti 6 kolom yang di ikuti 5 baris ke belakang.


Dan ku beritahu sesuatu kalau OSIS yang berada di SMA memiliki kuasa dan wewenang yang sama dengan guru di sekolah pada umumnya.


Jika ingin tahu alasannya, maka tanyakan saja pada pemerintah di negeri ini.


Setelah berjalan cukup lama.


Akhirnya aku menemukan ruangan kelas ku, kelas 2C.


aku membuka pintu dan masuk ke ruang kelas tersebut.