
Bel jam istirahat siang berbunyi.
Hirotsuka-sensei telah keluar dari ruang kelas.
Akemi mengajak kita semua untuk makan siang bersama.
"Mari kita berempat makan siang bersama!"
"Ide bagus!"
Takeshi menanggapinya dengan penuh semangat sambil mengacungkan jempol.
"Ano...Apa tidak apa-apa?"
Yuki dengan keberanian yang ia miliki, mengangkat salah satu tangannya dan mencoba untuk berbaur satu sama lain.
"Tidak apa-apa. Tapi jangan biarkan Takeshi untuk mengambil bagian mu."
"Heh!? Bukankah kau yang selalu saja mengambil punya ku?"
"Heh!? Apa benar? Aku tidak pernah mempunyai ingatan seperti itu."
Aku memberikan reaksi polos ku kepada Takeshi.
Kemudian, dia mulai menarik seragambku dan menggoyangkan diriku.
"Yuuto! Kau ini!"
"Hahaha! Tenanglah! Itu hanya bercanda"
Kemudian, dengan suara pelan, Yuki sepertinya mengatakan sesuatu namun tidak seorang pun yang mendengarnya.
"Ingatan."
"Eh!? Apa kau mengatakan sesuatu?"
Aku merespon.
"Tidak! Bukan apa-apa."
Tak lama setelah itu, Akemi menerjang masuk memecahkan suasana yang canggung.
"Ya sudah mari kita makan!"
Akemi mendorong mejanya, mendekatkannya kepada meja ku dan disusul oleh Takeshi dan juga yang lainnya.
Akemi mengeluarkan kotak bekal makanannya.
Desainnya berwarna biru dan tutupnya berwarna putih dengan bentuk persegi dan ditemani gambar hiu biru kecil disana.
Disana terdapat 4 tamago yaki, 2 sosis berbentuk gurita, nasi yang diatasnya ditaburi rumput laut dan beberapa salad.
"Seperti biasa, Bentou milik Akemi terlihat enak!"
Disusul oleh Takeshi. Kotak makanannya berwarna putih dan bentuknya oval memanjang.
Isinya hanya terdapat beberapa potong karage dan nasi.
"Yuki! Apa kau bawa Bentou juga?"
"Un! aku juga membawanya!"
Yuki mengangguk tersenyum dan mengeluarkan kotak bekal makanannya.
Desainnya berwarna pink dengan bentuk oval memanjang dan ditutupnya tergambar gambar wajah kucing kecil berwarna putih.
Saat Yuki membuka kotak makanannya.
Disana terdapat 2 tamago yaki, 2 sosis berbentuk gurita, 1 daging hamburger, dan nasi yang diatasnya ditaburi rumput laut.
"Bentou mu terlihat sangat enak dan isinya hampir mirip dengan punya Akemi!"
"Hahahaha"
Yuki tertawa kecil setelah mendapat komentar dari Takeshi.
Kemudian, Karena hanya diriku seorang yang terlihat tidak membawa Bentou. Yuki bertanya kepada diriku.
"Are? Punya Yuuto-kun?"
"Aku dan adik kecil ku tidak pernah membawa Bentou ke sekolah."
"Adik kecil?"
Lalu, Takeshi melakukan pembalasan terhadap diriku.
"Yuki! Asal kau tahu! Yuuto ini sebenarnya adalah seorang siscon akut! Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengannya."
"Siscon?"
Yuki dengan wajah polosnya mengatakan kata itu.
"Hiraukan saja perkataan Takeshi. Aku mempunyai seorang adik perempuan. Namanya Hikari. Kami memang tidak pernah membawa sebuah Bentou ke sekolah."
"Lalu bagaimana dengan makan siangnya?"
"Aku akan pergi ke kantin sekolah dan membeli sebuah roti dan juga beberapa minuman sedangkan Hikari bersama dengan temannya makan di kantin sekolah."
"Eh!? Apa cukup jika hanya segitu?"
"Tenang saja!"
Aku berdiri dari tempat duduk ku dan bersiap untuk pergi ke kantin sekolah.
"Yuuto! Seperti biasa, aku jus apel!"
"Aku koucha!"
Akemi meminta dititipkan sebuah jus apel sedangkan Takeshi sebuah koucha.
Sebelum ku bergegas pergi ke kantin, aku bertanya kepada Yuki, apakah ada sesuatu yang ingin dititipkan kepada diriku.
"Apa ada yang kau inginkan Yuki?"
Dengan suara lembutnya, Yuki memberikan sebuah jawaban.
"tolong, Susu sapi."
"Baik! aku pergi dulu! Kalian boleh langsung makan saja tanpa perlu menunggu ku!"
Aku pun melambai dan pergi meninggalkan mereka.
...***...
Aku sudah membeli makanan ku dan itu adalah sebuah Yakisoba pan.
Aku berdiri dihadapan sebuah vending machine yang berada di dalam gedung sekolah.
Aku memasukkan uang ku dan menginput nomer minuman yang ku inginkan.
"1 jus apel, 1 susu sapi, dan 2 koucha."
Sebuah suara pun berbunyi dan aku mengambil semua minuman dingin itu.
Selama di perjalanan, aku memikirkan sesuatu yang sempat diucapkan oleh Yuki.
Ingatan kah...
Aku bergumam dalam hati.
Aku memegang jidat ku dimana luka bekas jahitannya berada.
Lukanya sulit dilihat oleh orang lain karena rambut ku yang panjang.
Entah mengapa saat berada di dekat dirinya, aku merasakan sebuah perasaan nostalgia.
Tidak mungkin Yuki adalah orangnya.
Untuk seorang gadis yang pernah ku temui di musim panas itu dan melihatnya kembali, rasanya sangatlah mustahil apalagi di tempat kecil seperti ini.
Tapi bagaimana jika ternyata dia adalah orangnya?
Saat ku pikirkan tentang dirinya lebih dalam dan melihatnya.
Hati ku berdetak sangat cepat.
Aku menenangkan diriku dan mencoba berpikir secara rasional.
Jika memang dia adalah orangnya.
aku tidak tahu harus bagaimana selanjutnya.
...***...
Aku pun telah kembali ke kelas ku dan menyapa mereka.
Aku memberikan minuman yang sesuai dengan permintaan mereka dan mereka membayar diriku.
Aku duduk di tempat ku.
Aku memakan makanan ku dan diam-diam mengamati Yuki tanpa sepengetahuannya.
Dirinya begitu sangat cantik, imut, dan mempesona seperti Akemi.
Yang membedakan mereka berdua adalah Akemi yang tampil secara elegan dan bermartabat sedangkan Yuki layaknya seorang putri kebangsawanan dari negeri yang jauh.
Sepertinya ukuran mereka berdua tidak jauh berbeda. Tapi yang lebih besar sedikit milik Akemi kah...
aku sempat sedikit melirik dan membandingkan kedua dada mereka.
aku benar-benar sangat mesum! Maafkan aku Hikari!
Akhirnya, kami semua telah selesai makan siang dan Akemi tiba-tiba mengusulkan sesuatu.
"Ngomong-ngomong kalian belum menentukan untuk masuk klub bukan? Ayo kita bikin klub sendiri!"
"Boleh juga itu! Tapi, memangnya ingin bikin sebuah Klub yang seperti apa?"
"Hmmmm."
Akemi dengan sangat keras memikirkan tentang apa yang akan kita lakukan di klub tersebut.
"Klub langsung pulang ke rumah saja bagaimana?"
Kepala Takeshi dihantam keras oleh Akemi.
"Takeshi, tidak apa-apa?"
"Itu sakit sekali Akemi!"
"Salahmu sendiri tidak serius dalam hal ini!"
Pada saat kelas 1 SMA, aku dan Takeshi tidak mengikuti sama sekali kegiatan klub di sekolah sedangkan Akemi masuk ke dalam klub lari.
Namun, pada saat masih di SMP, kami pernah masuk dalam klub sepakbola.
Berpikir untuk mendirikan sebuah klub dan menjalankannya bersama, kurasa tidak terlalu buruk.
"Ah! Bagaimana dengan penelitian kehidupan laut?"
Aku sangat tahu kenapa Akemi bisa mengeluarkan ide yang seperti itu.
"Kau hanya ingin melihat lebih banyak hiu biru bukan?"
"Memangnya kenapa!?"
Aku menghela nafasku dan membiarkan apa yang ingin Akemi lakukan.
"Baik-baik! Lakukanlah apa mau mu!"
"Yuki juga ikut bersama kami!?"
"Eh!?"
Yuki terkejut mendengar tawaran Akemi.
"Akemi! Kau boleh bersemangat, tapi jangan memaksakan seseo―"
"Aku mau!"
Kalimat ku dipotong oleh perkataan Yuki dan dirinya terlihat sangat bersemangat sekali.
"Syukurlah!"
Akemi sangat gembira sambil menggenggam kedua tangan Yuki.
"Apa boleh buat, kurasa aku juga akan ikut."
Takeshi memberikan komentarnya.
"Bagaimana dengan Yuuto?"
Akemi melirik dan bertanya kepada ku.
"Untuk mendirikan sebuah klub kita membutuhkan satu orang lagi bukan? Bagaimana dengan hal itu?"
Ya. Untuk mendirikan sebuah klub diperlukannya minimal 5 orang anggota, 1 guru pembimbing, dan prospek tentang jenis kegiatan yang akan dilakukan.
Semua itu harus ditulis dalam formulir pendirian sebuah klub dan diserahkan kepada pihak OSIS.
Dengan sangat percaya diri Akemi memberikan tanggapannya.
"Heh! Heh! Heh! Tenang saja! Kita punya Hikari!!
" Oiii! Jangan tiba-tiba melibatkan Adik ku! Lalu bagaimana dengan guru pembimbingnya?"
Tahun lalu adik ku Hikari mengikuti klub upacara minum teh.
Untuk Tahun ini aku sama sekali tidak tahu apakah dirinya sudah memutuskan untuk bergabung ke sebuah klub atau belum.
"Pasti Hikari mau ikut! Tapi untuk guru pembimbingnya... Benar juga, kita harus segera memikirkannya."
Bel jam masuk pelajaran pun berbunyi.
"Untuk lengkapnya besok kita bahas lagi akan hal ini dan jangan lupa untuk beritahukan kepada Hikari, Yuuto!"
"Ya! Ya! Aku mengerti!"
Kami kembali ke tempat kami masing-masing dan menyimak pelajaran.