A Lost Promise

A Lost Promise
Chapter 0 ー Sebuah Musim Panas Yang Ku Benci 「Part 1」



Aku mulai membenci musim panas pada saat diriku menyentuh bangku kelas 6 SD.


Alasan ku membencinya adalah setiap musim panas tiba.


Aku selalu dihantui oleh rasa penyesalan ku terhadap seseorang, yaitu sebuah janji yang tidak sengaja ku lupakan terhadap seorang perempuan.


Bukan hanya itu saja!


Bahkan namanya saja sudah tidak bisa ku ingat.


Namun beruntungnya, aku masih bisa mengingat bagaimana penampilannya pada saat itu!


Alasan tersebut lah yang membuat ku mulai membenci musim panas.


Semua berawal pada sebuah kecelakaan lalu lintas yang terjadi saat liburan musim panas sedang berlangsung.


Sialnya kecelakaan tersebut menimpa diriku.


Entah mengapa diriku masih selamat dan lolos dari malapetaka tersebut, akan tetapi... Sebagai balasan dari keberuntungan itu.


Memori ku tentang dirinya dipaksakan terhapus.


Kejadian tersebut terjadi pada saat diriku menyentuh bangku kelas 5 SD.


Sungguh kejam!


Seorang anak kecil harus mengalami kejadian yang bisa membuat dirinya terhapus dalam dunia ini dan pergi ke tempat dimana tidak dapat di jangkau lagi oleh orang lain.


Aku bertemu dengan dirinya jauh sebelum insiden kecelakaan itu terjadi, yaitu pada saat kelas 4 SD.


...***...


"Oiii Kazami!"


Seseorang memanggil nama ku dari belakang.


Dia adalah teman sekelas ku, Ryouji Takeshi.


Seorang Laki-laki berambut hitam berantakan dan juga mata hitamnya yang membuatnya terlihat seperti seorang berandalan.


Dirinya memakai kaos berwarna biru cerah dan celana jeans hitamnya, begitulah penampilannya.


Terlebih lagi sifatnya yang suka ikut campur dalam urusan orang lain membuatnya terlihat semakin sempurna.


Sebagian besar orang yang tidak mengenal dirinya akan beranggapan seperti itu, namun jika kalian sudah mengenalnya lebih dekat.


Sesungguhnya dia adalah orang yang baik dan perhatian.


Namaku adalah Kazami Yuuto.


Kazami merupakan sebuah nama marga keluarga ku dan Yuuto adalah nama asli ku, begitulah sistem penamaan di negara ku ini, Jepang.


"Panggil saja Yuuto! Kita sudah berteman cukup lama bukan?"


"Kalau begitu, mulai sekarang aku akan memanggilmu Yuuto dan kau akan memanggilku Takeshi. Sudah diputuskan!"


Di Jepang kalian tidak boleh langsung memanggil nama asli atau panggilan sebelum kalian benar-benar dekat antara satu sama lain dan diwajibkan memakai nama marga keluarganya.


Itulah tata krama yang ada di negara ini.


Lalu ada juga seperti penambahan kata ーsan atau sejenisnya setelah nama yang dipanggil, bertujuan sebagai bentuk hormat kita kepada dirinya.


Namun tidak memakainya juga tidak masalah jika kalian sudah mengenal dekat satu sama lain.


Karena kami sudah berteman cukup lama dan aku tidak terlalu terganggu dengan sifat alami yang dimilikinya, jadi kami memutuskan untuk memanggil nama asli kami satu sama lain.


Untuk mengisi waktu luang dan menunggu homeroom dimulai.


Aku menanyakan rencana Takeshi untuk liburan musim panas yang akan dimulai 1 minggu mendatang.


"Ngomong-ngomong Takeshi. Apa kau ada rencana pada liburan musim panas nanti?"


"Mungkin aku akan bermain ke pantai bersama dengan keluarga ku. Bagaimana dengan mu?"


"Mungkin sama dengan tahun sebelumnya dan aku akan mengajak adik perempuan ku untuk berjalan-jalan dan membeli beberapa es-krim."


(Mungkin sama dengan tahun sebelumnya).


Itulah yang ku katakan.


Sebuah liburan musim panas yang biasa ku habiskan hanya berdua bersama dengan adik kecil perempuan ku, Kazami Hikari.


Agak sedih mengatakannya karena sebagian besar orang pasti akan mengatakan, 'Mengapa tidak pergi bersama orang tua atau melakukan hal menyenangkan lainnya seperti melihat panda di kebun binatang?'


Sayangnya orang tua kami terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan mendengar mereka dapat berlibur bersama kami, itu merupakan sebuah keajaiban terbesar bagi kami.


(Aku benar-benar kakak yang menyedihkan).


Teganya membiarkan adik kecilnya yang imut hanya bisa diajak berjalan-jalan di sekitar kota dan membeli beberapa es-krim.


Namun Hikari sama sekali tidak pernah mengeluh dan menerima ajakan dari kakaknya.


"Maksudmu Hikari?"


"Apa kau mau ikut?"


"Mungkin lain waktu saja!"


Di tengah percakapan santai tersebut, terdengar sebuah bel pelajaran sekolah berbunyi, menandakan homeroom akan segera dimulai.


"Ah! Bel pelajaran sudah berbunyi."


"Enaknya~ bisa liburan dengan adik imut yang cantik dan perhatian! Aku iri padamu!"


"Entah kenapa aku merasa bahwa aku telah berteman dengan orang yang salah."


Sekilas aku menatap jijik ke arah Takeshi dan guru pun telah memasuki ruang kelas.


Semua murid yang berada dalam sekitar ruang kelas kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.


Di tengah keheningan yang ku dambakan akhirnya pecah dan dihancurkan oleh suara yang berasal dari belakang bangku ku dan suara menyebalkan itu milik Takeshi.


Aku memutuskan untuk menghiraukannya dan menganggap bahwa tidak ada seorang pun dibelakang ku.


Lalu terdengar seperti suara robekan kertas dan akhirnya mengenai kepala ku.


Aku sedikit kesal dan memutuskan untuk meladeninya.


"Apa mau mu Takeshi!? Aku sedang sibuk mendengarkan pelajaran."


"Bagaimana pendapatmu mengenai Tachibana-san?"


"Lelucon apa lagi yang sedang kau mainkan Takeshi!?"


Aku menutup mata ku dan mendecitkan alisku serta menggenggam erat pensil yang sudah ku pegang.


Kesabaran ku terhadap dirinya sudah berada di puncak.


"Janganlah menunjukkan ekspresi kesal seperti itu kepada ku. Aku hanya ingin mendengar pendapat mu saja, nanti akan ku bagikan sedikit bekal makanan ku kepada mu!"


Mendengar penawaran seperti itu.


Emosi ku langsung mendingin sedingin penawaran yang telah dia berikan kepada ku.


Sekilas aku menatap ke arah seseorang yang telah disebutkan oleh Takeshi barusan.


Dirinya duduk di paling depan sudut kanan dekat dengan pintu keluar kelas.


Dirinya memakai pakaian dan rok panjang berwarna hitam yang membuatnya terlihat seperti dewasa dan elegan.


Posisi duduk kami berada di paling belakang di tengah ruangan kelas membuatnya dapat menghasilkan view yang bagus saat melihat dirinya.


"Mungkin terlalu sempurna untuk dirinya seorang!?"


Setelah Takeshi mendengar jawaban yang sudah ku berikan.


Nadanya berubah menjadi lesu dan terlalu rumit untuk ia terima.


"Apa-apaan itu!? Apa tidak ada kata-kata yang lebih rumit lagi?"


Tachibana Akemi, seorang perempuan yang satu kelas dengan kami dan merupakan tetangga dekatku.


Bahkan bisa dibilang hubungan keluarga kami dengan keluarganya sangat dekat.


Selain dirinya yang cantik dengan rambut hitam panjang dan mata merah Ruby-nya.


Nilai akademiknya berada di atas rata-rata, tak lupa juga dengan kemampuan atletis yang ia miliki, membuat dirinya terlalu sempurna untuk dipandang.


Sebagian murid mungkin akan membencinya dan mengucilkannya, karena ia memiliki segalanya.


Namun hal tersebut tidak berpengaruh pada Akemi.


Akemi sangat baik dalam bersosialisasi dan sifatnya yang halus membuat dirinya tidak dibenci dan sangat disukai oleh guru.


Walau begitu... Dunia tidak berjalan sebaik itu.


Pasti ada 1 atau 2 orang yang akan terus membenci dan selalu membicarakannya dari belakang.


Setelah diriku lama memandanginya, Takeshi melanjutkan pembicaraan.


"Aku tahu kau sedang bercanda... Tapi... Bukankah dirimu sudah terlalu jauh dari batas bercanda yang sewajarnya, Takeshi!?"


Aku sedikit memberi peringatan kepada Takeshi karena telah menyentuh zona aman ku.


"Sesuai permintaan mu aku akan diam!"


Bukannya aku menghindari untuk menjawab pertanyaan barusan.


Hanya saja diriku tidak tertarik dengan yang namanya Love Comedy.


Apa lagi sampai dialami oleh seorang bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar.


Yang ada di pikiran ku saat ini adalah bagaimana caranya agar dapat menghabiskan waktu liburan musim panas nanti bersama dengan adik kecilku, Hikari.


Aku memikirkan hal tersebut sambil mendengarkan materi yang sedang dibawakan oleh guru.


Bel istirahat pun berbunyi...


Sesuai dengan Janjinya! Takeshi memberikan ku sedikit makanan dari bekal makan siangnya.


...***...


Cahaya senja menembus seisi ruang kelas dan sudah saatnya bagi kami untuk pulang ke rumah masing-masing.


Saat ku sedang merapikan semua keperluan sekolah ku, Takeshi memanggil nama ku dan melambai serta mengucap salam perpisahan di depan pintu kelas.


Aku pun membalas hal yang sama dilakukan oleh dirinya.


Setelah selesai merapikan semua barang keperluan ku.


Dengan santainya aku melangkah keluar pintu kelas dan menuju ke loker sepatu ku.


Saat hendak mengambil sepatu ku, aku mendengar suara langkah kaki yang dimana semakin lama semakin terdengar dari kejauhan.


Suara tersebut berasal dari Tachibana Akemi.


"Yuu..to...hah...hah...."


Napasnya yang sedang terengah-engah akibat berlari di koridor kayu, kini sedang mengambil napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.


Saat ku lihat dirinya sudah membaik, aku lah yang memulai percakapan terlebih dahulu.


"Ada apa Akemi? Dan juga... Apa tidak apa-apa berlari di koridor? Bagaimana jika sampai rusak karena mu?"


"Hahaha... Tapi... Tidak terjadi apapun bukan?"


Dirinya tertawa kecil seakan ingin menghindari pernyataan yang ku lontarkan barusan.


Bukan ingin menghindari tapi dirinya memang menghindari pernyataan ku barusan!


Karena ku tak ingin membuat masalah dengan dirinya.


Aku terpaksa mengalah dan mendengarkan alasan Akemi.


"Yuuto! Apa kau ada rencana pada liburan musim panas nanti?"


Mata Ruby-nya sangat menunggu jawaban dari ku.


"Tidak ada rencana apapun untuk saat ini."


Tak lama kemudian dirinya mendekat ke arah ku dan untuk berjaga-jaga, aku mengambil beberapa langkah mundur ke belakang.


"Kalau begitu ikutlah bersama diriku mengunjungi museum aquarium! Tentu saja kau boleh mengajak Hikari ikut bersamamu."


"Apa kami tidak merepotkan keluarga mu?"


Dengan percaya dirinya, Akemi menggelengkan kepalanya dan menyambut hangat kehadiran kami.


"Kalau begitu... Aku akan ikut bersamamu."


"Terimakasih Yuuto!"


Dirinya mendekat ke arah ku lagi dan seperti biasa aku mengambil beberapa langkah mundur.


Kemudian dirinya langsung tersenyum manis kepada ku dan mengambil sepatu yang berada di dalam lokernya, lalu memakainya dengan cepat.


"Aku duluan ya Yuuto!"


Akemi dengan cepat pergi meninggalkan diriku.


Sampai dimana ia benar-benar ingin meninggalkan pintu keluar, aku memberitahukannya untuk berhati-hati dalam berlari.


"Perhatikan langkah kakimu! Jangan sampai kau terjatuh!"


Tanpa melihat ke arah ku, Akemi sempat melambai yang artinya dia mendengarkan ucapan ku barusan.


Lalu dirinya lenyap benar-benar meninggalkan diriku.


...***...


"Aku Pulang!"


"Onii-Chan! Selamat datang!"


Perasaan lelahku hilang saat mendengar adik kecil ku menyambut ku dengan hangat.


Setelah ku merapikan sepatu ku dan berjalan menghampiri Hikari.


Disana aku melihat dirinya sedang terbaring di sofa dan menonton acara kesukaannya, yaitu sebuah animasi kartun kucing kecil yang lucu dan imut.


Rambut cokelat panjangnya tersebar di sekitar sofa.


Aku mengambil beberapa minuman di dalam kulkas dan Hikari mengucapkan sesuatu kepadaku.


"Tadi ayah dan ibu menelepon. Katanya mereka bisa menghabiskan liburan musim panas bersama kita kali ini mengunjungi rumah kakek dan nenek."


Aku mendengarkan sambil meminum jus botol berasa apel.


"Apa Onii-Chan punya urusan lain?"


Akhirnya tiba saatnya untuk diriku menjawab pertanyaan adik kecil ku ini.


Aku menutup kulkas sambil membawa jus botol yang barusan ku minum dan duduk di samping Hikari.


"Sebenarnya kakak sudah diajak Akemi untuk mengunjungi museum aquarium bersama dengan dirimu dan menyetujuinya akan tetapi..."


"Akan tetapi...?"


Hikari kemudian mengubah posisinya dari terbaring menjadi duduk di samping diriku.


Mata cokelatnya menatap mata ku dalam-dalam meminta sebuah jawaban pasti.


"Akan tetapi, tidak kakak sangka bahwa mereka dapat berlibur bersama kita kali ini."


"Jadi bagaimana Onii-Chan?"


"Lebih baik Hikari ikut bersama dengan ayah dan ibu karena sangat penting di umur seusia mu."


Aku mengelus rambutnya untuk menenangkan dirinya.


"Lagi pula jika kakak harus menolak ajakan Akemi... Pasti tidak sopan bukan? Maka dari itu kakak harus tetap menepati perkataan kakak."


"Kalau begitu Hikari akan ikut bersama ayah dan ibu."


"Kakak senang mendengarnya."


...***...


Liburan musim panas pun tiba dan sesuai janji ku.


Aku ikut bersama dengan keluarga Akemi untuk pergi mengunjungi museum aquarium.


Mungkin tidak adanya kehadiran Hikari membuat ku agak sedih, tetapi itulah yang terbaik untuknya.


Saat ini aku sedang bersiap menunggu kehadiran Akemi mengunjungi rumah ku.


Dengan beberapa uang yang ditinggalkan dan sebuah kamera DSLR, itu semua sudah cukup bagiku.


*Ding... Dong.... *


Suara bel dari dalam rumah ku berbunyi beberapa kali, itu pasti Akemi yang sedang menungguku di luar teras rumah.


Mendengar suara bel tersebut, aku segera bergegas menghampiri Akemi.


Aku melihat Akemi dengan pakaian bergaun pink dengan sepatu putih yang dipakainya dan hal tersebut membuatnya nampak lebih imut dari biasanya.


Jika diriku sudah maniak dengan yang namanya Love Comedy, pasti sekarang diriku sudah jatuh cinta kepadanya.


"Selamat pagi... Yuuto."


"Selamat pagi Akemi."


"Apa kau sudah sepenuhnya siap?"


Aku mengangguk dan mengatakan 'Ya' kepadanya dan mengunci rumah.


Lalu kami pun berangkat ke tempat tujuan.