
Sesampainya di tempat museum aquarium.
Aku mengambil beberapa foto disana dan melihat Akemi yang sangat senang melihat ikan-ikan tersebut berenang dalam kotak transparan yang membatasi dunia mereka bergerak.
Aku memfotonya diam-diam dan tak sengaja tertangkap basah oleh dirinya.
Lalu dirinya mengambil kamera yang sedang ku pegang.
"Yuuto! Kau curang sekali memfoto diriku diam-diam!"
"Aku minta maaf dan bisakah kau kembalikan kameraku?"
Dirinya pun tersenyum kecil kepada ku seperti ada maksud terselubung yang disembunyikannya.
"Akan ku kembalikan jika Yuuto mau mendengarkan permintaan kecilku♪"
"Jadi apa permintaan kecil nyonya manis ini?"
Setelah ku mengatakan hal tersebut, dirinya tersipu malu.
Tapi aku tidak peduli dengannya dan masih bersikap normal seakan tidak terjadi apapun.
"Kalau begitu berfoto lah bersamaku!"
Aku pun membeku ditempat dan wajah ku memerah seketika.
Semua Laki-laki akan takluk kepadanya jika sudah melihat seorang gadis manis memasang wajah memohon kepada dirinya.
"Kenapa Yuuto? Apa kau tidak ingin berfoto bersamaku?"
"Apa kau tahu Akemi? Bukannya aku tidak mau berfoto denganmu tetapiー"
Keadaan benar-benar dikuasai oleh Akemi.
Tetapi sebisa mungkin aku tidak ingin sepenuhnya mengikuti alur permainannya dan menunggu kesempatan saat dia sedang lengah.
"Kalau begitu kamera ini akan menjadi milik ku."
"Baiklah aku menyerah! Aku akan berfoto denganmu!"
Sial! Apa jadinya jika kamera tersebut benar-benar menjadi miliknya.
Akemi tidak akan pernah bercanda jika dia sudah mulai mengancam mangsanya untuk tunduk kepadanya.
Hal ini didasari atas kejadian...Lupakan sajalah! Ku tidak ingin membahas masa lalu suram itu lagi.
Dibalik pesonanya yang manis dan dirinya yang lemah lembut.
Sebenarnya Akemi adalah gadis yang sangat mengerikan!
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menyerah dan mengikuti permintaan kecilnya.
"Kalau begitu ikut aku!"
"Tunggー"
Sebelum ku menyelesaikan perkataan ku, Akemi sudah menarik tangan ku dan diajak nya diriku ke suatu tempat di dalam museum aquarium tersebut.
Lalu ku lihat sebuah hiu biru besar.
"Seekor Blue Shark rupanya."
Setelah mendekati aquarium tersebut, Akemi melepaskan tangan ku.
"Jadi apa yang akan kita lakukan dengan Blue Shark ini?"
"Tentu saja berfoto bersamanya."
"Apa kau benar-benar menyukai hiu ini?"
"Lebih tepatnya aku sangat menyukainya."
"Kalau begitu aku ambil fotonya."
Kami menjadikan Blue Shark itu sebagai latar belakangnya dan juga Akemi yang sangat dekat dengan diriku, membuatku bisa mencium aroma shampo yang berasal dari rambut hitam panjangnya.
Aku hampir terpesona olehnya.
Kami mengambil foto selfie dan suara kamera pun terdengar.
"Ini aku kembalikan dan jangan lupa untuk mencetaknya dirumah mu ya! Yuuto♪"
"Kau ini ya...!!!!"
"Hehehehe♪"
Setelah kamera tersebut telah kembali ke tangan ku.
Aku memeriksa file foto yang telah diambil barusan dan hasilnya tidak terlalu buruk walau aku terpaksa tersenyum karenanya.
Sementara itu, aku melihat Akemi yang sangat serius melihat hiu biru tersebut dan kulihat mata merahnya berkilau-kilau.
"Kau ini benar-benar menyukai hiu tersebut."
"Apa kau mengatakan sesuatu Yuuto?"
"Ah benar juga! Kita sudah lama berkeliling dan sudah saatnya untuk makan siang!"
Kami berdua pun langsung menuju ke tempat dimana kedua orang tua Akemi berada dan yang pasti di suatu tempat di dalam museum aquarium ini.
Walau ku katakan begitu.
Akemi terus melihat-lihat disekelilingnya dan lupa dengan tujuannya seakan lenyap dalam kesenangannya.
...***...
Saat ini aku sedang melihat sebuah menu dari sebuah Café yang tidak terlalu jauh dari tempat museum aquarium yang kami masuki tadi.
"Jangan malu-malu Yuuto! Tenang saja kami yang akan membayarnya."
Walau Ibu Akemi berkata begitu, bagiku harganya sangatlah mahal dan wajahku dibuat pucat olehnya.
"Akemi apa kau sudah memutuskan pesanan mu?"
"Aku mau parfait yang besar ini ayah!"
Sepertinya Akemi sudah menentukan pesanannya dan saat ku lihat.
(Oii apa ini beneran? Kau pasti berbohong kan Akemi? Apa kau tidak kasihan dengan perut kecil mungimul itu!)
Disana tertulis komposisi yang membentuk parfait besar tersebut dan banyaknya bukan main!
"Yuuto ingin pesan apa?"
Akemi mendekatkan dirinya, sampai bahu kami bersentuhan.
"Bagaimana jika kamu memesan hal yang sama dengan Akemi?"
"Tidak terimakasih paman! Kurasa sebuah oolong tea sudah cukup untuk ku."
"Sudah dibilang jangan malu-malu."
"Kalau bibi memaksa! Kurasa aku akan memilih sebuah parfait kecil ini."
Aku memilih garis amannya saja dan memilih pesanan yang sama dengan Akemi, hanya saja berukuran kecil.
"Untuk makanannya paman pesan sebuah steak sapi untuk setiap orang, apa ada yang keberatan?"
"Tidak ada ayah!"
Akemi menjauhkan dirinya dariku dan kembali ke tempat asalnya.
"Kalau begitu sudah diputuskan."
Kemudian Ayah Akemi pergi dari tempat duduknya dan menuju ke kasir untuk memesan makanan dan minuman.
Sedangkan diriku, aku melihat ke sekeliling Café dan tempatnya tidak terlalu buruk serta nyaman untuk dikunjungi lagi.
Setelah melihat cukup lama, Ayah Akemi kembali dan kami melanjutkan sebuah percakapan kecil tadi sembari menunggu pesanan tiba.
Tak lama kemudian semua pesanan telah tiba dan kami menghentikan percakapan sejenak untuk fokus menyantap hidangan yang sudah tiba.
Disaat setengah perjalanan ku menghabiskan steak yang telah di pesan.
Ku melirik sedikit ke arah Akemi dan terkejut melihatnya.
Membuatku bertanya-tanya kemana perginya semua krim dan buah yang telah menjadi satu kesatuan besar parfait tersebut?
(Jangan bilang kalau semuanya sudah berada dalam perut kecil mungilnya itu!)
(Apa semua gadis memiliki ruang kosong yang banyak daripada Laki-laki diperutnya? )
Aku bertanya-tanya dikepala ku sambil menyantap daging steak yang ingin habis.
Saat sudah ku habiskan steak tersebut, rupanya bersamaan dengan habisnya parfait yang dimakan oleh Akemi dan beberapa krim parfait masih tersebar di sekitar mulutnya.
Aku mengambil tisu yang sudah berada di atas meja dan mengusap krim parfait yang menempel di sekitar mulutnya.
"Mmm...Terimakasih Yuuto!"
"Sama-sama dan jangan lupa untuk menghabiskan steak mu."
"Ehm..."
Akemi mengangguk dan tersipu malu kepada ku. Hal ini mengingatkanku kepada Hikari saat dia ingin memesan sebuah parfait.
Aku membuang tisu tersebut ditempat yang seharusnya dan kembali menyantap parfait kecil yang belum ku sentuh sama sekali.
(*Jadi begini rasanya parfait yang sering di makan oleh Hikari.)
(Rasanya lembut sekali dan berbagai kemanisan bersatu di dalamnya*.)
Walau aku sudah sering melihat Hikari makan sebuah parfait dengan ekspresi yang sangat senang, namun sebenarnya aku sama sekali belum pernah mencobanya.
Aku tidak ingin mengambil kebahagiaannya walau hanya sesendok kecil demi menikmati parfait yang sudah dimakan olehnya.
Hikari kira-kira sedang apa ya sekarang? Apakah dia bisa bersenang-senang tanpa diriku?
Aku memikirkan hal tersebut sambil memakan sebuah parfait kecil bersama dengan Keluarga Tachibana.