A Lost Promise

A Lost Promise
Chapter 1 ー Pertemuan Yang Tidak Terduga 「Part 2」



Lalu terdengar suara tidak asing sedang menyapa diriku dan itu adalah Ryouji Takeshi.


"Yuuto! Bagaimana kabarmu?"


Aku menghampiri Takeshi dan duduk tepat di depannya.


Kemudian aku meletakkan tas ku diatas meja.


"Sama seperti biasanya."


"Seharusnya kau harus mengikuti cara hidup Akemi. Jika kau terus-terusan begini, nanti kau tidak bisa memiliki seorang pacar."


"Aku tidak mau mendengarkan nasihat dari seseorang yang perkataannya sangat bertolak belakang dengan aslinya."


"Hahahaha apa itu? sebuah lelucon pembuka hari ini?"


Tak lama kemudian, datang seseorang menghampiri kami berdua.


"Takeshi. Hentikanlah. Kau membuat Yuuto semakin terganggu."


"Akemi?"


Aku terkejut melihat kehadirannya.


Tak ku sangka bahwa diriku akan satu kelas lagi dengan mereka.


"Yahoo! Sepertinya kita bertiga satu kelas lagi tahun ini."


Akemi pun melambai dan tersenyum hangat kepada kami berdua.


"Berbahagialah Yuuto! Karena kita bisa satu kelas lagi dengan salah satu dari top 10 idol yang ada di sekolah ini!"


Takeshi memukul punggungku dengan keras seakan tahun ini akan menjadi baik sama seperti tahun sebelumnya.


Lagi pula aku sendiri tidak tertarik dengan yang namanya idol sekolah atau apapun itu.


Selama ada Hikari semuanya cukup bagiku.


Tentu saja aku ini bukan seorang SISCON! Aku hanyalah seorang kakak yang sangat perhatian kepada adik tercintanya.


"Memangnya aku terlihat seperti itu, Takeshi?"


Dengan wajah polosnya, Akemi bertanya mengenai hal tersebut kepada Takeshi.


"Eh!?!?"


Takeshi terkejut karena mengetahui betapa polosnya Akemi.


"Dirimu itu saking terkenal di sekolah ini! Aku tidak peduli dengan top idol atau apapun itu! Yang membuatmu populer adalah tingkat kecerdasan dan kecantikan dirimu! Aku pun mendapat julukan sebagai Raja Penyendiri."


"Aku tidak tahu akan hal tersebut. Dan juga kenapa Yuuto mendapat julukan sebagai Raja Penyendiri?"


Sejujurnya aku tidak mau menjawab pertanyaan tersebut.


Alasannya hanya simpel dan sederhana, yaitu terlalu bodoh untuk di sampaikan. Untungnya ada Takeshi yang menjelaskan.


"Yuuto disebut sebagai Raja Penyendiri karena nilai akademiknya yang bagus dan juga banyak yang memberikan sebuah Love Letter kepada dirinya, bahkan salah satunya ada diantara top 10 idol di sekolah ini. Dan hasilnya di tolak semua oleh Yuuto."


"Heh... Rupanya seperti itu. Apa itu juga alasannya mengapa Yuuto tidak pernah ikut dalam kegiatan klub sekolah?"


"Kalau yang itu beda lagi ceritanya."


"Berbeda?"


"Kau tahu Akemi?! Yuuto hanya malas mengikuti acara begituan."


Setelah mendengar penjelasan dari Takeshi. Pandangan mata Akemi terlihat sedih melihatku.


"Um... Akemi?"


"Iya?"


"Jangan pandangi diriku sebagai orang yang menyedihkan di mata mu."


"Ah! Maaf Yuuto!"


Tak lama kemudian, bel pelajaran berbunyi.


"Sudahlah cepat kembali ke tempatmu! Bel sudah berbunyi."


Aku menyuruh Akemi untuk kembali ke tempat duduknya.


Beberapa saat kemudian.


Terlihat seorang guru wanita berambut hitam panjang dan bermata tajam bersama dengan seorang murid perempuan memasuki ruang kelas.


Aku sempat merasa seperti perasaan nostalgia setelah melihat murid perempuan yang dibawakan oleh guru wanita itu.


Rambut putih panjangnya yang seakan baru saja turun dengan sangat lembut di bulan Desember dan mata kuningnya memancar dengan sangat indah.


Lupakan tentang hal itu!


Mengapa guru tersebut memakai jas lab berwarna putih? Apa hal itu tidak melanggar peraturan? Apa yang ada dipikirkannya?


Tak lama kemudian guru tersebut mengambil alih kelas.


"Selamat pagi semuanya!"


"Pagi!!!"


"Seperti yang kalian ketahui! Aku adalah wali murid kalian yang baru dan juga.... Pasti kalian bertanya-tanya mengapa diriku memakai sebuah jas lab masuk ke dalam kelas ini? Kamu yang disana!!! Coba jawab!!!"


"Ehhhhhhh!?!?!?"


Guru tersebut menunjuk salah satu murid Laki-laki yang berada di paling belakang pojok kanan.


Saking terkejutnya. Dirinya secara tidak sadar langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Apa Sensei seorang perawat di UKS ini?"


Murid tersebut menjawab apa adanya dengan nada gugup.


Lalu murid tersebut kembali duduk.


"Jawaban tadi merupakan jawaban yang benar, akan tetapi saya bukanlah guru UKS di sekolah ini. Saya adalah wali kelas kalian yang mengajar pelajaran Bahasa Jepang dan juga merupakan guru BK disini. Tentu saja diriku tidak melanggar peraturan. Apa ada yang tahu kenapa?"


Seorang murid kacamata di barisan paling depan berdiri dan menjawabnya.


"Itu karena jas putih hanya boleh di pakai jika jabatannya adalah seorang perawat UKS atau guru BK atau juga guru IPA di sekolah ini dan tidak adanya peraturan jika jas tersebut hanya boleh di pakai di dalam ruangan khusus."


"Bingo! Dan juga ini merupakan hobi Ibu untuk memakai jas ini dimanapun Ibu berada. Kamu boleh duduk sekarang!"


Hobi yang menarik. Itulah yang ada di pikiranku saat ini.


"Nama Ibu adalah Hirotsuka Ibuki dan hari ini kita mendapat seorang murid pindahan baru."


Guru tersebut menuliskan namanya di papan tulis


"Beginilah tulisannya jika kalian ingin mengetahui!"


Lalu guru tersebut memberikan isyarat bahwa selanjutnya adalah murid pindahan yang dibawakannya itu.


Gadis itu menghapus nama yang telah di tulis sebelumnya dan menggantinya dengan tulisan namanya.


Setelah dia selesai menuliskan namanya. Gadis itu memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan. Namaku Mitsuki Yuki. Aku pindah ke sini karena pekerjaan orangtuaku. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua!"


Gadis itu dengan sangat gugup menyampaikan perkenalannya.


Perasaanku mengatakan, jika diriku terlibat dengannya. Maka aku akan terlibat dalam hal yang merepotkan.


"Mitsuki kau bisa duduk di tempat yang kosong."


"Baik."


Murid baru tersebut berjalan menuju tempat duduk yang kosong, berada paling belakang di barisan tempat duduk ku.


"Baik! Sekarang kita akan mengundi nomer tempat duduk dan jangan protes! Anggap saja Dewi Keberuntungan sedang tidak berada di pihak kalian."


Setelah mengatakan hal tersebut.


Dirinya terlihat sedang mengambil sesuatu di dalam meja gurunya dan itu merupakan sebuah kotak berwarna putih yang di tengahnya sudah berlubang.


"Ibu akan memanggil nama kalian satu per satu dan kalian harus mengambil satu kertas di dalamnya. Untuk urutan nomer tempat duduknya akan seperti ini. Apa kalian mengerti?"


"Mengerti!"


"Bagus!"


Lalu, kami di panggil satu per satu dan diriku mendapatkan nomer 25 yang dimana berada paling belakang pokok kiri dekat dengan jendela, sedangkan Takeshi mendapatkan nomer 19 dan dia berada tepat di depanku.


Kenapa aku harus selalu berada di dekatnya?! Sepertinya Dewi Keberuntungan sedang tidak berada di pihak ku.


Disisi lain Mitsuki, si murid baru mendapat nomer 26 tepat di sebelah diriku dan Akemi mendapat nomer 20 tepat di depan tempat duduk milik Mitsuki.


"Baik semuanya sudah berada di tempat duduknya masing-masing dan Ibu akan keluar sebentar memberikan sebuah materi. Oleh karena itu gunakan waktu kalian sebaik-baiknya untuk berkenalan satu sama lain."


Guru tersebut pun keluar dari ruang kelas dan murid-murid terlihat ada yang senang dengan tempat duduknya dan ada juga yang terlihat sangat menderita.


Terlihat juga murid lainnya yang mulai berkenalan satu sama lain.


"Hei Yuuto! Aku selalu penasaran kenapa kita selalu dekat?!"


"Jangan tanyakan diriku!!!"


"Tapi ini pertama kalinya bukan? Kita duduk dekat dengan Akemi?"


Tak lama kemudian, Akemi masuk dalam pembicaraan.


"Bukankah itu bagus? Betulkan Yuuto?! Hehehe."


"Terserah padamu!"


Melihat Akemi yang tertawa seperti itu, membuatku sedikit malu terhadapnya dan aku membuang muka.


Akemi juga mengajak murid baru tersebut untuk saling berkenalan satu sama lain.


"Kamu Mitsuki-san bukan? Aku Tachibana Akemi, kamu boleh memanggilku Akemi. Senang berkenalan dengan dirimu."


"Senang berkenalan dengan dirimu."


Akemi juga memperkenalkan kami kepada dirinya.


"Yang duduk disana itu namanya Ryouji Takeshi dan yang berada di belakangnya adalah Kazami Yuuto."


"Senang berkenalan dengan dirimu."


Aku dan Takeshi menyapa dirinya.


"Aku Mitsuki Yuki. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua."


"Jika kau mau, kau boleh memanggilku Yuuto. Berlaku juga kepada Takeshi dan juga Akemi."


"Kalau begitu... Akemi-san, Takeshi-kun, Yuuto-kun."


Gadis Tersebut menunjuk kami satu per satu dan menyebut nama kami.


"Tidak perlu menambahkan -san dibelakangnya!"


"Kalau begitu Akemi."


"Mohon bantuannya, Yuki!"


Akemi tersenyum manis sambil memegang kedua tangannya.


"Kami juga mohon bantuannya!"


Aku dan Takeshi memberikan respon yang sama kepada dirinya.


Tak lama kemudian, Hirotsuka-sensei telah kembali memasuki ruang kelas dan homeroom pun dimulai.