A Dream

A Dream
Danger



Key membuka matanya perlahan karena cahaya matahari dari balik kaca menyambut indra pengelihatannya. Ia mengerjap perlahan. Berdiri sesosok siluet pria. Key sekali lagi mengerjap menyesuaikan cahaya.


"Max?"


"Maaf membangunkanmu Key, tapi aku harus. Hari ini aku ada praktik di rumah sakit. Mungkin akan pulang sekitar jam delapan malam." Key menyingkirkan selimutnya. Ia mencoba mendudukan diri dibantu oleh Max.


"Ooh, begitu. Baiklah. Aku akan menjaga apartemenmu." Max membantu Key untuk duduk dikursinya.


"Apa kau tidak masalah? Atau kau akan ikut denganku ke rumah sakit?" Tawar Max. Key menggeleng pelan. Mereka bergerak menuju dapur.


"Aku akan bosan di sana. Lebih baik aku disini saja." Max mengangguki ucapan Key. Mereka duduk di kursi Pantry.


"Aku sudah membuatkanmu sarapan." Max menyodorkan sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi. Key tersenyum melihatnya.


"Terima kasih." Key mulai memakan sarapannya. Max memperhatikan kegiatan Key. Ia menopang kepala dengan kedua tangannya diatas meja. Max ikut tersenyum saat melihat ekpresi menggemaskan Key ketika makan.


"Kau tidak berangkat?"


"Aku sedang menemanimu makan." Max menuangkan air kedalam gelas untuk Key.


"Kau sudah sarapan, Max?" Max mengangguk. Key semakin salah tingkah ketika diperhatikan begitu.


"Ah iya, Key. Aku sudah membelikanmu ponsel, aku juga sudah mengaturnya. Hanya ada nomerku di sana. Kau bisa menghubungiku kalau perlu sesuatu atau sedang terjadi sesuatu." Max menyerahkan ponsel kepada Key.


"Woah, aku bahkan lupa bagaimana cara menggunakannya." Key menertawakan dirinya sendiri. Max menjelaskan sedikit mengenai iPhone barunya.


"Aku hampir lupa. Mungkin Hans atau Claire akan datang lagi ke sini untuk mengambil Dogie. Kau tidak boleh membukakan pintu untuk siapapun kecuali kalau dia orang yang kau kenal, mengerti?" Max memberikan nasihat sambil mengenakan jas dokternya dan memasukan kunci mobil ke dalam sakunya. Ia meminum sisa susu putihnya.


"Siap laksanakan!" Key memberikan gaya hormat. Ia tertawa sebelum pipinya memerah karena Max mengacak-ngacak rambutnya.


"Semua yang kau perlukan ada disini. Jangan khawatir. Aku pergi." Max sekali lagi melambai dan tersenyum sebelum menghilang di balik pintu.


Kini, hanya ada Key dan Dogie didalam apartemen Max. Dengan keadaan jantung Key yang masih berdetak cepat. Dia merasa harus memeriksakannya pada Dokter. Tapi, Max adalah Dokternya kan?


...


Max memasuki lobi rumah sakit. Ia memarkirkan mobilnya di tempat VIP. Max segera menaiki lift VIP menuju lantai tempatnya bekerja.


Langkahnya yang tegas dan pasti itu membuat orang selalu memperlakukannya dengan sopan. Rambut yang dicukur rapi, sengaja tidak memakai jel dan dibiarkan agak sedikit berantakan membuat kesannya menjadi cool. Max merupakan salah satu Dokter muda dengan prestasi yang sangat banyak.


Awal bekerja menjadi Dokter ketika usianya sembilan belas tahun, tepat ketika ia lulus kuliah. Otaknya yang cerdas itu membuatnya lompat kelas. Sudah empat tahun dirinya menjadi dokter spesialis bedah tulang dan tidak pernah sekalipun gagal dalam menjalani operasinya. Bahkan Max sudah membuka praktik sendiri dan mengajarkan untuk dokter-dokter magang yang berada di rumah sakit itu.


Max berasal dari keluarga yang berada. Ibunya seorang International Designer dan sudah memiliki banyak cabang di seluruh belahan dunia. Prestasi wanita itu sangat banyak. Nyonya Harold juga pernah menjadi duta dan model majalah Florida yang paling terkanal pada delapan tahun berturut-turut, sejak usianya dua puluh dua tahun. Namun akhirnya memutuskan untuk mengurus cabangnya dan masih menggeluti hobinya merancang busana. Sifat Nyonya Harold yang terkenal tegas, teliti, dan propesional membuat banyak anak buahnya salah mengartikan sifatnya, padahal sebenarnya Nyonya Harold orang yang ramah dan mudah bergaul. Ia sangat beken.


Papanya Max Harold, George Harold, adalah seorang peneliti bawah laut. Ia sudah membuat banyak tempat pariwisata bawah laut di luar Amerika. Selain menjadi peneliti, beliau juga dulunya pernah menjadi seorang Letnan. Namun karena pada waktu itu beliau mengalami kecelakaan dalam perang, ia tidak bisa lagi melanjutkan menjadi seorang Tentara sekaligus tim khusus. Kakinya yang harus diamputasi waktu itu sempat membuatnya terpuruk dan hampir depresi, namun berkat dukungan dari banyak pihak, ia bangkit kembali. Tuan Harold sampai sekarang menggunakan alat bantu berupa kaki palsu sebelah kiri. Walau begitu, beliau tetap terlihat gagah dan sangat bersahaja.


Mungkin, beberapa sifat dari kedua orangtuanya menurun kepada Max. Salah satu alasan Max menjadi Dokter spesialis bedah tulang itu karena peristiwa yang di alami sang Papa. Max berjanji tidak akan membiarkan siapapun kehilangan kaki, tangan atau bagian tubuh lainnya. Selain menyakiti fisik, itu juga menyakiti batin. Max ikut merasakan terpuruknya seorang George Harold. Ia tidak mau orang lain merasakan seperti dirinya.


"Max!" seseorang memasuki ruang kerja Max Harold yang baru saja selesai dengan pratiknya. Pria itu langsung duduk di sofa ruangannya tanpa diperintah. Dia adalah Brian.


"Ada apa, Brian? Wajahmu berkeringat seperti itu?" Max masih memasang wajah tenangnya. Barian berusaha mengatur napasnya.


"Claire ... Claire..." wajah Max mulai mengeras kaku. Ia merasakan sesuatu buruk akan terjadi.


"Ada apa dengan adikku?" Walau begitu, Max harus merasa tenang.


"Apa?! Papa menuju apartemen?!" Max segera bangkit dan membuka jas dokternya.


"Mungkin saat ini dia sudah didalam apartemenmu, Max!"


"Ya Tuhan!"


Satu hal tentang Papa seorang Max Harold. Beliau tidak menyukai orang asing, apalagi tanpa ada keterangan keluarga dan keturunan yang jelas. Tuan Harold tidak akan segan segera membenci orang itu, kalau itu ada hubungannya dengan keluarganya. Ia tidak akan membiarkan sembarangan orang memasuki kehidupan seluruh anggota keluarganya.


Dan sekarang, Key Jeycee berada di dalam apartemen Max Harold. Mungkin dia sedang bersantai dan bermain dengan Dogie. Tapi bukan itu yang Max pikirkan. Fakta bahwa yang akan dilakukan terhadap Papanya kepada Key, itu yang membuatnya sekarang berlari sepanjang koridor rumah sakit menuju mobilnya di lobi. Ia harus segera sampai di apartemennya!


...


Key Jeycee, gadis itu sedang mencuci alat makan yang dipakainya tadi. Key membuat roti lapis sebagai makan siangnya, ia juga memberi makan Dogie dan bermain bersamanya. Sudah hampir pukul tiga sore, tapi Claire atau Hans belum juga datang, yang Key pikir mungkin mereka masih ada kelas.


Key menggerakan kursi rodanya ke arah kolam renang di belakang. Sejenak Key merenungkan semuanya. Tentang Max yang sangat baik kepadanya, tentang hidupnya yang akan berjalan seperti apa. Sampai sekarang Key masih bertanya, kenapa tidak ada yang mencarinya?


Kejadian kemarin melintas di pikiran Key. Saat Max mengajaknya berterapi di dalam air. Max memegangi pinggangnya dan membantunya. Lalu ketika air tiba-tiba naik—yang mungkin ada tekanan dari pompa air di apartemennya— yang membuat Key harus terlepas dari pegangan Max dan tenggelam. Bagaimana Max yang panik dan segera menyelamatkannya. Key bisa merasakan ketika bibir Max bertemu dengan bibirnya untuk memberi nafas buatan. Tentang bagaimana Max membopongnya ke sofa dan mendekapnya. Key rasa, Max terlalu baik sebagai dokternya.


Lamunan Key terpecah karena suara 'ting' dari pintu apartemen yang terbuka. Key segera menggerakan kursinya ke arah pintu apartemen. Ia sangat bersemangat sekali menyambut kepulangan Max. Tetapi yang dilihatnya sekarang bukan seorang Max Harold. Melainkan pria asing yang mirip dengan Max Harold.


"Who ... who are you?" Key sesaat merasa khawatir. Max tidak mengizinkannya membukakan pintu kepada orang yang tidak dikenalnya. Tetapi bagaimana kalau orang itu tahu password apartemen Max dan sudah masuk ke dalamnya berhadapan dengan Key. Tatapan pria paruh baya itu sangat tajam dan menyelidik.


"Who are you? Kau bertanya siapa saya? Bukankah saya yang harusnya bertanya, siapa anda?" sekejap Key mengerjapkan mata. Ia tidak tahu harus melakukan apa selain membalas tatapan pria paruh baya itu susah payah.


"Sa... Saya, Key Jeycee." Key menunduk, memberikan salam hormat kepada seseorang yang baru dikenalnya.


Pria itu berjalan masuk menuju dapur. Key mengikuti. Pria itu mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih dingin lalu meneguknya dengan sekali tegukan. Pria itu berjalan ke arah Key dengan tatapan yang lebih tenang. Langkahnya yang sedikit pincang membuat atensi Key terarah sesaat padanya.


"Jadi, Key Jeycee, siapa sebenarnya anda? Kenapa anda bisa berada di apartemen anak saya?" Key sedikit tersentak. Nada bicaranya yang dingin membuat gadis berusia sembilan belas tahun itu menatap takut ke arahnya.


"Sa ... Saya ... Saya pasien Dokter Max." Key menunduk. Ia merasa sangat canggung disini. Dalam hati berdoa semoga Max segera datang.


"Begitukah?"


"Ya ... paman." Key berusaha bersikap sopan.


"Bagaimana kalau kita berbincang di ruang TV, Key Jeycee?" ajak Tuan Harold dengan makna tersirat penuh. Key mendongak sebentar, kemudian hendak mengarahkan kursinya menuju ruang TV.


"Tidak perlu, Papa." Key menoleh cepat kearah pintu masuk. Di sana, Max berdiri dengan napas memburu dan keringat di dahinya. Ia segera mengganti alas kakinya dan menghampiri mereka.


"Putraku." Tuan Harold merentangkan tangannya meminta pelukan seorang Max Harold. Max tidak membalasnya. Ia tahu betul maksud Papanya seperti itu untuk apa.


"Kenapa Papa datang kemari?" Max sama sekali tidak mengajak Tuan Harold untuk sekadar duduk dan menawarinya minum.


"Mamangnya Papa tidak boleh mengunjungi apartemen putra Papa sendiri?"


"Tapi keadaan Papa ... Apa harus istirahat." Max menjalankan kursi roda Key. Ia mendorong kursi roda itu sampai masuk ke dalam kamar Key. Meninggalkan Tuan Harold menunggu di luar.


"Kau harus istirahat Key. Aku akan bicara dengan Papa. Jangan khawatir." Max menggendong Key, dan meletakannya di kasur. Menarik selimut sampai menyisakan kepala Key. Mengusap rambut Key pelan dan tersenyum padanya. Lalu Max keluar kamar dan menutupnya rapat.


"Entah kenapa, rasanya aku tidak asing dengan wajah tuan Harold, walau terlihat dingin tapi ... aku merasa seperti sudah mengenalnya."