A Dream

A Dream
The Begin



 


"Dia ... Dia amnesia sebagian, Jo." Harold memegang kepalanya frustrasi. Buku-buku jarinya memutih. Wajahnya dipenuhi keringat dingin.


 


     "Kau harus tenang, Max." Jo mengusap lengan sahabat lamanya itu.


     "Bagaimana aku bisa tenang! Dia tersadar setelah hampir tiga bulan, tanpa orang tua, tanpa siapapun yang peduli padanya. Kemudian dia harus kehilangan ingatannya!" Harold mondar mandir di dalam ruangannya. Sambil sesekali menatap kertas hasil tes pasien bernama Key Joycee


     "Mungkin kau bisa merawatnya, membawanya pulang, Max." usul Jo. "Dengan begitu, kau bisa menghilangkan rasa empati dan khawatirmu terhadapnya. Kau tidak akan seperti ini." Harold berhenti mondar mandir. Kemudian ia duduk kembali. Memikirkan kata-kata Jo.


      "Kau benar. Dia kehilangan ingatannya, juga tidak ada yang tahu siapa dia. Aku harus merawatnya." Harold tidak sanggup membayangkan bagaimana keadaan Key saat pertama kali ia temui. Harold segera berterima kasih kepada Jo dan berlari kecil menuju ruang rawat Key.


...


     "Hallo, Key." Harold memasuki ruang rawat Key. Menyuruh perawat Sam untuk kembali ke pekerjaannya. Harold mendudukan diri di kursi sebelah kiri tempat Key berbaring.


     "Saya sudah mengambil hasil tes mu. Maafkan saya Key, saya tidak tega memberitahukannya padamu." Harold mengelus pipi Key pelan. Lalu ia menggenggam tangannya. "Kau mengalami amnesia sebagian. Tetapi belum diketahui apa penyebabnya." tidak ada reaksi dari Key. Dia hanya diam, menatap Harold yang sudah hampir menangis.


     "Kau ... Siapa namamu, Dokter?" hanya itu yang diucapkan Kry. Tidak ada wajah sedih, atau terluka.


     "Saya? Oh, tentu saja, nama saya Max Harold. Setelah kau boleh pulang, Saya akan merawatmu." Harold tersenyum padanya. Senyum tulusnya. Tangan Key bergerak pelan ke arah Harold. Mengusap air mata Harold yang entah sejak kapan membasahi pipinya.


     "Kau baik sekali, Dokter. Terima kasih. Maaf aku merepotkanmu." Key berusaha tersenyum. Harold menggeleng pelan kemudian menggenggam tangannya.


     "Tidak, Key. Kamu tidak merepotkan saya." jeda sebentar, "Lusa saya akan membantumu untuk pindah ke apartemen. Kamu akan tinggal bersama saya, Key Joycee."


...


— Key's poin of view


 


Dua hari telah berlalu. Aku menjalani terapi selama dua hari itu, ditemani oleh dokter Harold yang baik hati. Aku, Key Joycer, seorang gadis yang tidak memiliki siapapun lagi. Yang aku tahu, hanya dokter Harold yang sudah merawatku selama ini.


 


      Katanya aku koma selama tiga bulan lebih. Selama itu, tidak ada yang menjenguk atau mencari-cariku. Akhirnya dokter Harold memutuskan untuk menjadi waliku. Dia lelaki yang tampan, terlalu sulit untuk mendeskripsikannya. Yang aku tau, dia baik dan sangat peduli padaku. Aku senang masih ada orang yang mau menolongku disaat semua ingatanku hilang dan tidak tahu harus bagaimana.


     Kalau memang dulu aku mempunyai keluarga, pasti mereka akan mencariku kan? Tapi sekarang, tidak ada siapapun yang peduli padaku sampai aku dipulangkan. Dokter Harold mengajakku tinggal dirumahnya. Sebenarnya aku merasa sangat merepotkan, apalagi dengan keadaan kakiku yang belum bisa berjalan dengan benar, sehingga harus menggunakan kursi roda.


     Tadi, kami sudah membeli beberapa baju dan perlengkapan untukku. Seperti sikat gigi, sabun, handuk, dan lainnya. Terlihat bahwa dokter Harold ini sangat penyayang sekali. Mungkin aku seperti adik perempuannya. Sekarang kami sudah berada didepan apartemennya. Aku melihat bangunan tinggi menjulang dihadapanku. Woah, keren sekali. Pasti dokter Harold orang yang kaya raya, karena tinggal ditempat secantik ini.


     Dokter Harold mendorong kursi rodaku menuju lift. Aku memperhatikan angka-angka itu. Ternyata apartemen miliknya ada dilantai 7. Dokter Harold kembali mendorong kursi rodaku. Ia memasukan password kamarnya, kemudian membuka pintunya lebar. Aku tanpa sadar berucap 'Wow' ketika memasuki apartemennya. Besar sekali!


     "Apartemenmu besar sekali, dokter!" kataku. Mungkin terlalu antusias membuat dokter Harold tertawa pelan. Dia mendorong kursi rodaku untuk melihat-lihat sekitar.


     "Wah, apa itu kolam ikan?" kataku girang. Keren sekali, di dalam apartemen bertingkat ada kolam ikan kecil seperti itu di dalamnya.


 


Dokter Harold berjongkok dihadapanku. Dia tersenyum. "Iya, Joycee."


 


Deg!


     Aku merasakan rindu ketika mendengar sebutan itu. Seperti ... Aku mempunyai sesuatu yang aku lupakan. Ya, benar, aku memang sudah melupakan hampir seluruh ingatanku dan memulai dari awal. Tapi rasanya berbeda. Seperti ada kenangan yang seharusnya tak aku lupakan. Yang bisa aku ingat, hanya tentang diriku saja.


     "Sekarang, kita harus membereskan barang-barangmu. Kamar tamu disana, akan menjadi milikmu." katanya sambil tersenyum dan menunjuk kearah pintu tertutup, didekat aquarium dan bersatu dengan ruang tv. "Aku sengaja tidak memberimu kamar di atas, karena keadaanmu belum pulih." ucapan dokter Harold membangunkan lamunanku. Aku menoleh, dan mengangguk pelan.


     Dokter Harold mendorong kursi rodaku menuju kamar tamu yang akan menjadi kamarku. Woah, lebar sekali. Padahal ini hanya kamar tamu, bagaimana kalau kamar sungguhan? Ranjangnya king size, lemarinya menempel dengan dinding dan ada ruang ganti pakaian juga walk in closet. Ya ampun, dokter ini benar-benar kaya raya.


Tapi, seketika aku merasakan rindu lagi. Apa aku dulu punya rumah seperti ini? Apa dulu aku bisa tertawa bersama keluargaku? Apa dulu aku seantusias ini? Apa dulu aku mempunyai orang yang peduli padaku seperti dokter Harold? Ya ampun, aku bahkan tidak sadar kalau sekarang aku sudah banyak merepotkannya. Secepatnya aku harus memulihkan ingatan ini, kalau saja aku bisa.


     "Key? Kau baik-baik saja?" aku tidak sadar bahwa dokter Harold sudah selesai merapikan bajuku, dan dia sekarang sedang berjongkok di depanku.


     "Ah ... Iya, kepalaku ... Sedikit pusing."


     "Apa? Dibagian mana? Aku bisa memeriksamu." katanya cepat. Sudah bersiap membuka tas dokternya. Aku mencegahnya.


     "Tidak perlu. Aku ... Hanya perlu air putih. Aku haus, dokter." Dokter Harold langsung berlari ke arah dapur. Aku menunggu di sini. Mencoba untuk mendudukan diri di sofa.


     "Hei, kau bisa jatuh." dokter Harold datang, menaruh gelas di meja nakas kemudian membantuku duduk di sofa.


     "Terima kasih, dokter."


     "Tentu saja. Kalau kau butuh sesuatu, tekan tombol ini." dia menunjuk kearah tombol merah di atas kepala ranjang. Aku mengangguk pelan.


     "Oh ya, jangan menanggilku Dokter ketika diluar rumah sakit. Panggil saja Max atau apapun sesukamu." Dokter Harold ikut duduk disofa sebelahku. Aku memikirkan kata-katanya. Bagaimana seharusnya aku memanggilnya? Kak Max? Harold? atau Max?


 


"Begitu lebih terdengar ramah."


 


'Drtttt ... Drtttt ...


Max mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Ia mengedip beberapa detik, mungkin sedang memikirkan kenapa seseorang itu meneleponnya.


"Hallo, Mom? Maaf Mom, aku di apartemen. Aku bukan anak kecil lagi Mom. Ya. Mom, datangkah ke apartemenku. Ada seseorang yang akan aku kenalkan. Iya, dia seorang gadis. Iya, tapi—"


 


Beep.


     Sepertinya panggilan itu ditutup sepihak oleh Mom nya. Tadi Max menyuruh Mamanya ke sini? Apa dia akan mengizinkan aku tinggal di sini? Atau dia akan mengusirku?


     "Eum ... Ada apa, Max?" dia tersenyum, kemudian menggeleng pelan.


     "Jangan khawatir, Mom orang yang sangat baik. Ayo." Max membantuku kembali duduk di kursi roda. Aku menunggu saja apa yang akan terjadi. Aku siap kalau seandainya aku akan diusir.


     "Kau tunggu disini. Aku akan memasak." Max membawaku ke meja pantry. Aku memperhatikannya yang sedang memakai celemek dan mulai fokus dengan kegiatan masaknya.


    Jadi, selain merawat dia juga bisa memasak. Sudah tampan ditambah keren. Nyaris sempurna.


     Ketika Max memotong-motong tomat. Spontan aku bersin. Apa aku alergi tomat? Sepertinya iya. Aku bisa sedikit mengingatnya.


     "Eum ... Maaf, Max. Aku alergi tomat." kataku. Max menoleh padaku, kemudian pada tomat, dan kembali padaku. Max tersenyum dan menyingkirkan tomat itu.


     "Maaf, aku belum tahu." katanya. Aku mengangguk paham. Max kembali fokus memasak. Sampai suara bell apartemennya berbunyi. Sepertinya itu Nyonya Harold. Baru saja aku ingin membukakan pintu, suara derap langkah yang terdengar tegas memasuki apartemen.


     "Max~ putra Mom yang paling tampan~" Seorang wanita cantik diusianya yang sepertinya sudah tidak muda lagi, memasuki apartemen. Aku mengintip dari kaca yang membatasi dapur dan ruang tv. Nyonya Harold sepertinya mencium aroma masakan, jadi ia langsung berjalan ke arah dapur. Sebisa mungkin aku memasang senyuman.


     "Ouh, putra Mom memasak?" Sepertinya nyonya Harold belum menyadari keberadaanku. Dia menghampiri Max. Mereka berpelukan. Sampai tatapan tegas itu bertemu dengan tatapanku.


      "Oooh! Manisnyaaa~ apa kau gadis yang akan dikenalkan Max? Cantik sekali." aku tersenyum saat nyonya Harold memegang kedua pipiku. Dia terlihat sangat senang sekali. Apa dia tidak akan mengusirku?


     "Dimana kau bertemu dengan putraku, manis? Oh, siapa namamu?"


     "Key ... Key Joycee." kataku pelan. Aku gugup sekali.


     "Dia pasien ku, Mom." Max sudah selesai memasak. Ia meletakan pasta dengan bumbu buatannya sendiri di meja pantry. Kemudian melepas celemeknya dan duduk di sebelahku.


      "Ou-ou, tidak mungkin kalau hanya sekadar pasien dengan dokter sampai kau bawa ke apartemenmu, Max ku sayang." Max tidak berkata apapun. Ia hanya menarik tangan Mamanya, meninggalkanku sendiri duduk di depan meja pantry.


     Beberapa menit mereka kembali. Nyonya Harold tersenyum padaku sekali lagi. Max kembali duduk disebelahku.


     "Kalian makanlah. Maaf ya Mom mengganggu. Mom akan kembali minggu depan. Tolong jaga Max-ku, Key." Nyonya Harold mengelus pipiku pelan. Aku tersenyum lagi padanya. Ia melambai dan keluar dari apartemen.


      "Nah, sekarang makanlah, Key."


 


Aku jadi penasaran apa yang mereka bicarakan tadi. Aku berusaha mengingat ekspresi ramah milik Nyonya Harold. Tapi seketika kepalaku terasa sangat sakit. Nyeri seperti dihantam dengan batu yang sangat keras. Tanganku dengan refleks mendeskripsikan rasa sakit di kepalaku.


 


Prang!


 


Aku menjatuhkan gelas secara tidak sengaja. Aku butuh pegangan karena kepalaku yang sakit ini. Aku tidak berniat memecahkan gelas itu.


"Hei, apa yang terjadi?" Max mendekat, dia memegangi pundakku, sepertinya dia panik. "Key? Kau baik-baik saja?"


Aku memejamkan mata, bukan gelap yang muncul dipengelihatanku, melainkan sebuah kilas kejadian yang aku tidak tahu kapan dan apa itu. Tapi aku mendengar suara seseorang.


"*Sheana* ..."


Sheana? Siapa itu?


"*Sheana, aku sangat*—"


Lalu suara itu menghilang.