A Dream

A Dream
Quality Time



 


"Key? Sadarlah."


 


Aku berhasil membuka mata. Yang aku lihat sekarang adalah Max dengan stetoskop yang melingkar di lehernya. Aku juga merasakan tubuhku sudah berbaring di atas kasur empuk.


"Apa yang terjadi?"


"Kau kehilangan kesadaran. Kau menyebut nama Sheana, siapa dia? Apa kau mengingat sesuatu?" Tanya Max berturut-turut.


Aku menggeleng, "Tidak. Aku bahkan tidak bisa melihat dengan jelas gambaran apa itu. Tapi ... aku seperti mendengar suara seseorang memanggilku Sheana."


Max duduk di tepi ranjang kamar yang aku tempati. "Tidak usah dipaksakan. Kalau kau ingin memulihkan ingatanmu, kau harus sabar. Secara perlahan, semua pasti akan kembali." kata Max. Tapi wajahnya terlihat agak sedih. Matanya redup.


"Aku ... lapar."


"Astaga, tadi kau belum sempat makan, tapi sudah terlanjut hilang kesadaran." Max bangkit, "Kalau begitu, ayok kita ke ruang TV. Kau bisa makan sambil menonton." Aku mengangguk, membiarkan Max membantuku untuk duduk di kursi roda.


Max mendorong kursi roda hingga ruang TV. Dia kembali membantuku untuk duduk di Sofa panjang depan TV. Setelah itu, Max memasukan CD kedalam DVDnya. Aku sudah duduk nyaman bersandar di sofa berwarna biru langit. Film dimulai, tapi aku tidak merasakan Max duduk di sebelahku. Kemudian Max datang dengan membawa beberapa camilan, soda, dan makan malamku yang tertunda.


     "Aku suka film ini. Wedding dress. Walau aku sudah menontonnya berkali-kali, tapi aku tetap suka." Max menjelaskan beberapa kejadian. Selama film berlangsung dia terus berkomentar dengan mulut yang penuh makanan. Begitu juga aku yang sambil melahap makan malam ku.


    Film Wedding dress menceritakan seorang wanita yang pekerjaannya menjadi penjahit baju pengantin, memiliki anak yang masih kecil. Anaknya itu sangat benci hal yang menjijikan, dia tidak suka makan satu sendok, minum satu gelas, dan hal lainnya. Anak itu sering dikucilkan karena prilaku terlalu bersihnya itu. Dia pernah membalas perlakuan temannya kemudian guru harus memanggil ibunya. Anak itu adalah penari, dia bertemu guru tari yang sangat baik padanya. Ibunya selalu menitipkan dia pada keluarga bibinya, karena ibunya terlalu sibuk di butik. Akhir cerita, ternyata ibunya memiliki penyakit. Anak itu menunjukan aksi tarinya yang terakhir kali untuk ibunya. Setelah itu, ibunya meninggal dunia dan dia harus tinggal bersama keluarga bibinya. Anak itu sedih sekali. Dia merasa bahwa hanya ibunya yang sangat mengerti dirinya, tapi harus pergi meninggalkannya.


     Aku menangis. Membayangkan kalau aku menjadi anak itu. Tidak. Aku tidak harus membayangkan menjadi anak itu, karena keadaanku sendiri saja sudah menyedihkan sekali.


     Aku merasa beban berat dipundakku. Aku menoleh, dan mendapati Max sudah tertidur dengan nyaman bersandar di bahuku. Aku ingin membangunkannya, tapi sepertinya ia sangat lelah. Akhirnya aku hanya merapikan sisa makanan di tangannya dan menarik selimut untuk kami tidur di sofa. Sekarang sofa besar ini sudah menjadi kasur. Posisi Max yang bersandar di dadaku membuatku harus menahan nafas ketika aroma bubble gum memasuki indra penciumanku karena jaraknya yang sangat dekat.


    Max menggeliat. Mencari posisi yang nyaman, posisi kami sudah berhadapan ditutupi selimut. Dia meletakan satu tangannya dipinggang kecilku. Ya Tuhan, jantungku. Ada apa dengan jantungku?


...


— Max's poin of view


          Aku membuka mata perlahan ketika merasakan beban berat di perutku. Aku mengerjap. Seketika aroma vanilla memaksa masuk kedalam indra penciumanku. Hal yang aku lihat pertama adalah rambut hitam lebat milik .... Key Joycee?!


     Ya Tuhan. Kami sepertinya tertidur di sofa tadi malam. Aku menoleh ke bawah. Mendapati tangan kecil Key sudah berada di atas perutku. Wajah tidurnya damai sekali. Aku tidak tega membangunkannya. Tapi, posisi kakinya yang seperti itu pasti akan membuatnya pegal-pegal nantinya. Akhirnya aku menarik kaki itu agar masuk ke dalam selimut. Cuaca menyambut musim dingin. Aku merapat padanya. Apa tidak apa-apa kalau aku memeluknya? Karena terlihat sekali tubuhnya pun sedikit menggigil.


    Masa bodo kalau nanti aku akan dipukuli olehnya. Yang terpenting dia tidak merasa kedinginan, begitupun denganku. Aku merengkuhnya. Dia menggerakan kepalanya mencari kenyamanan di dadaku. Aku menarik selimut sampai menutupi seluruh badan kami, dan tersisa kepala saja.


    Baru saja aku akan kembali memejamkan mata, karena kebetulan aku sedang libur. Suara pintu apartemen terbuka dan selanjutnya ada suara benda pecah. Key terkejut, dia langsung membuka matanya. Kemudian mata kami bertemu. Posisiku yang menghadap ke pintu membuatku mudah melihat siapa orang yang masuk kedalam apartemenku.


     "Claire?" kataku. Claire sudah berdiri melihat ke arah aku dan Key—yang sekarang sudah terdiam kaku. Mungkin dia takut seseorang itu akan salah paham.


     "M—Max ..." Aku memberikan kode padanya untuk segera pergi ke dapur. Claire segera mengangguk dan pergi ke dapur.


     Tubuh Key masih kaku. Aku merendahkan wajahku sedikit agar bisa melihat wajahnya. Matanya terbuka, tak berkedip. Peluh keluar dari dahinya. Aku tersenyum melihat wajah polosnya ini.


     "Itu adikku, Key. Namanya Claire." Perlahan, aku merasakan tubuh yang masih berada dalam dekapanku ini merileks. Kemudian Key menatapku takut-takut.


     "Maaf, Max." ketika dia ingin bangkit, aku mencegahnya.


     "Kau bisa jatuh, Key. Jangan bergerak. Aku akan mengambil kursi mu." aku bangun terlebih dulu. Kemudian membantu Key untuk duduk.


     "Terima kasih, dan maaf sudah tertidur di sini." aku tersenyum lagi padanya.


     "Tidak masalah. Lagipula ini salahku. Aku yang duluan tertidur. Kau pasti merasa pegal. Apa perlu aku pijit?" aku berjongkok di depannya. Dia segera menggeleng cepat.


     "Tidak, terima kasih."


     "Baiklah. Ayo kita sarapan. Claire sudah membawakan makanan." aku mendorong kursi roda Key menuju dapur. Wajahnya kembali menegang, tapi aku berusaha menenangkan dengan memberikan usapan di kepalanya.


 


Kau harus terbiasa dengan kehidupanku Key.


— 3rd person's POV


          "Jadi namamu adalah Key Joycee?"


      Kini, Key, Max dan Claire berada di meja makan. Mereka sedang sarapan bersama. Tadi Max sudah menjelaskan beberapa hal yang sedikit keliru kepada Claire. Walau perasaan hati Key merasa sangat gelisah dan takut pada awalnya, tapi segera tergantikan menjadi tenang ketika mengetahui sifat Claire yang sangat baik, seperti Nyonya Harold.


     "Iya." Key menatap malu ke arah Claire. Setiap Clarie menatapnya, ia seperti ditelanjangi. Merasa malu sekali karena tadi tertangkap basah sedang berpelukan dalam posisi tiduran bersama Kakaknya. Walau memang Max sudah menjelaskannya, tetap saja Key merasa malu.


     "Claire ini seumuran denganmu, Key. Dia masih delapan belas tahun."


     "Sembilan belas!" ralat Key cepat. "Aku sudah mempunyai SIM dan boleh berpacaran, tahu! Jadi umurku sembilan belas!" Claire dan Max membuat Key tersenyum melihat pertengkaran kecil mereka. Keluarganya sangat bahagia sekali.


    Apa dulu Key juga memiliki keluarga sebahagia ini? Kenapa setiap melihat sesuatu, selalu membuat Key merasa semakin kehilangan.


     "Eum, Key... Claire ini juga jago memasak sepertiku." Key tersadar dari lamunanya. Ia tersenyum sambil mengancungkan jempolnya ke arah Claire. Mulutnya tidak bisa bicara karena penuh dengan makanan.


     "Kau ini, makanmu kenapa berantakan sekali, Key." Max mengelap kecap di ujung bibir Key. Claire tersenyum penuh arti ke arah mereka. Sedangkan Key sudah terdiam kaku.


     "Aku akan langsung ke kampus setelah ini. Aku tidak akan menganggu kalian." Claire menyengir ke arah Key. Dia mengedipkan matanya. Ya ampun, wajah Key memerah.


     "Oh iya! Dogie akan diantar oleh Hans kemari. Jangan lupa kunci pintu ya. Bahaya kalau sampai Hans melihat yang seperti tadi." Claire sekali lagi terkekeh kemudian bangkit, mencium pipi kakaknya dan memeluk Key, lalu keluar apartemen.


          Setelah Claire keluar dari apartemen, Key segera menghela nafas panjang.


     "Apa adikku semenyeramkan itu?" Max bertanya sambil terkekeh melihat ekspresi Key.


     "Ah, tidak. Aku hanya gugup." Key membantu Max merapikan piring dan gelas. Untunglah kursi roda Key sudah diganti menjadi otomatis.


     "Kenapa harus gugup? Claire bukan jaksa." lagi-lagi Max terkekeh. Key ikut tersenyum mendengarnya. Benar juga. Padahal Claire sangat baik, kenapa dirinya harus gugup?


     "Siapa Dogie?" Key mencuci piring-piring itu. Untunglah washtafelnya tidak terlalu tinggi membuat Key dengan mudah bekerja di dapur.


     "Anjing keluargaku."


     "Apa?!"


Prang!


     Key menjatuhkan gelas yang dipegangnya karena kaget. Dia segera menunduk mengambil pecahan gelas, tapi Max mencegahnya.


      "Biar aku yang bersihkan." Max tersenyum meyakinkan pada Key. Akhirnya gadis itu membiarkan Max membersihkan pecahan gelas.


     "Aw!" Max spontan memasukan jarinya yang mengeluarkan darah ke dalam mulut. Key menyerngit ngeri. Dia segera meraih tangan Max.


     "Kau ini seorang dokter, kan? Kenapa tidak berhati-hati?" Key sudah mengajak Max untuk duduk di kursi pantry.


     "Aku tidak tahu kalau masih ada sisa pecahan kecil di sana." Max meniup jarinya. Key melakukan hal yang sama. Key mulai mengobati jari Max dengan kotak P3K yang berada di dapur dengan serius. Ungtunglah Max seorang Dokter, ia menyimpan kotak P3K dimana-mana, di setiap ruangan.


     "Hei, Key." panggil Max. Key hanya balas dengan dehaman. "Kenapa kau kaget sekali tadi kalau Dogie adalah anjing keluargaku?" Key sudah selesai. Ia menatap Max. Ikut berpikir kenapa ia begitu kagetnya.


     "Aku ... Tidak tahu. Apa karena, dulu aku tidak menyukai anjing?" Key tidak yakin dengan ucapannya. Tapi ia merasa perasaannya mengatakannya kalau anjing adalah hal buruk yang tidak ingin ia temui.


Ting tong...


     "Biar aku. Itu pasti Hans." Key membiarkan Max membuka pintu.


     "Dogieee!!" Max langsung memeluk anjing shiba kesayangannya yang berwarna putih coklat itu.


     "BROTHER! Kau hanya memeluk anjingmu saja? Bagaimana denganku?!" Pria bertubuh pendek itu mencebikkan bibirnya kesal. Max terkekeh dan membiarkan Hans masuk ke dalam pelukkannya.


     "Wah, siapa gadis cantik itu, Bro?!" sekarang Hans sudah terlihat sangat antusias sekali.


     "Dia pasien ku." jawab Max santai.


     "Jangan berbohong! Tidak mungkin kalau dia hanya pasien sampai kau bawa kesini. Aku saja boleh menginjakkan apartemen ini setelah bersedia mengantar jemput dogie!"


     "Kalau itu berbeda Hans. Kau sudah sarapan?"


     "Tentu! Aku ingin berkenalan dengannya. Dia cantik sekali, Bro!"


     "Eh-eh." Max tidak bisa menahan Hans karena dia sudah lebih dulu berlari ke arah dapur, menghampiri Key.


     "Hallo, aku Hans, kau?"


     "Key Joycee." Dia tersenyum. Sepertinya ia harus menahan rasa gugup lagi. Tapi rasa gugup itu tergantikan oleh rasa takut ketika melihat Dogie.


     "Kenapa? Kau takut dengannya?" Key mengangguk pelan. "Tenang saja, dia baik dan penurut." Hans tersenyum tiga jari, kemudian dia berjalan menuju kulkas.


     "Tadi kau bilang sudah sarapan." Cibir Max. Mereka sudah berada diruang TV sekarang. Dengan posisi Key yang berjauhan dengan Dogie.


     "Aku tidak bilang kalau sudah makan camilan, kan?" Hans menyengir. Max hanya bisa mendengus. Pria yang lebih muda lima tahun darinya itu memang kadang menyebalkan.


     "Jangan terlalu banyak makan makanan ringan seperti itu. Kau tahu, banyak sekali bahan pengawet didalamnya."


     "Siap pak dokter."


     "Guk!" seperti mengerti, Dogie mengiyakan ucapan Max. Hans dan Max terkekeh, sedangkan Key terkejut beberapa saat.


     "Kau ini, jangan terlalu banyak makan seperti itu. Selain membuat banyak lemak, kau juga akan memboros uang, lebih baik makan yang sehat dan bergizi."


     "Hei! Aku tidak berlemak! Kau harus lihat bagaimana pipi Karl kalau ingin berpidato!" Hans menunjuk-nunjuk Max dengan snack kentangnya.


     "Guk!"


     "Siapa Karl?" kini Key yang bersuara. Ia perlahan mendekat. Berusaha untuk tidak takut dengan Dogie yang sudah menjulurkan lidah ke arahnya. Seperti mengendus baunya.


     "Sahabatku. Kau harus melihat pipinya sangat tebal dan berlemak sekali, Joy! Mungkin kau akan semakin lucu kalau mempunyai pipi seperti Karl!" Hans terus berceloteh ria. Sampai alarm pada jam tangannya berbunyi.


     "Oops, aku harus pergi bersama temanku. Aku akan kembali sore untuk mengambil Dogie."


     "Tidak perlu. Hari ini Dogie akan menginap." ucap Max pelan. Key hampir tersedak air minumnya ketika mendengar ucapan Max.


     "Oh? Baiklah! Aku pergi. Senang bertemu denganmu, Keyjoy. Daah~"


     "Daah."


          "Jadi? Kau mau terapi kakimu dengan berenang?" Key menoleh cepat ke arah Max.


     "Guk-guk!" sepertinya Dogie setuju dengan usulan Max.


     "Ayok berenang!"


 


"Panggilan Hans terdengar cocok untukmu, Keyjoy." Kata Max sebelum menghilang ke dalam kamar untuk berganti baju renang.


Entahlah, bagaimanapun panggilan setiap orang padanya saat ini, dirinya tetap merasa kosong. Seperti ada kejadian penting dan tak seharusnya ia lupakan begitu saja.


"Sheana!"


Sampai panggilan itu muncul lagi.