A Dream

A Dream
Swimming



Max sudah membantu Key duduk di tepi kolam. Mereka sudah siap dengan pakaian renang. Dogie duduk dipinggir kolam memperhatikan mereka.


     "Kemarilah, pelan-pelan." Max membantu Key turun ke kolam. Air kolam yang sengaja dihangatkan itu membuat Key tidak perlu merasa kedinginan.


     "Nah, coba gerakan kakimu, perlahan." walau sulit, tapi Key mencoba. Mereka tidak benar-benar berenang, hanya di pinggir saja sambil berpegangan pada tepi kolam.


     "Lebih mudah dari terapi berjalan biasa." ucap Key antusias. Max ikut senang mendengarnya.


     "Dogie."


     "Guk!"


     "Ambilkan handuk dan taruh di kursi seperti biasa."


     "Guk!" Dogie sudah sangat mengerti kebiasaan Max. Sebelum ada Key pun sebenarnya Max sering berenang, sekadar merilekskan otot-ototnya.


    "Terima kasih." Max tersenyum.


     "Guk-Guk!"


     "Apa dia mengerti?" Tanya Key. Max mengangguk cepat.


     "Tentu. Itulah kenapa aku menyukai anjing. Selain bisa dijadikan teman, dia juga sangat mengerti perasaan kita."


     "Guk!"


     "Sepertinya dia sangat menyukaimu, Max" Key ikut tersenyum ke arah Dogie. Tidak buruk juga ternyata. Key harus membiasakan diri.


      "Tidak. Dia menyukaimu Key." kemudian Dogie berputar dan melompat kecil, memperlihatkan atraksi ke arah Key. Ya ampun, Dogie benar-benar menyukai Key sepertinya.


     "Hei, coba ikuti aku. Gerakan kakimu." Max sudah mulai membawa Key ke tengah kolam. Dengan susah payah, Key berusaha tetap mengambang di atas air. Tangan Max juga masih setia memegangi pinggulnya.


     "Begini." Max mempraktikan gaya seperti menggoes sepeda. Key perlahan mengikuti. Walau sedikit kaku, tapi lebih baik.


     "Woah, keren. Kakiku bergerak, Max!" Key mengalungkan tangannya di leher Max.


     "Guk! Guk!"


     "Coba gerakan tanganmu perlahan. Berenang ke arah sana sedikit. Kalau kau tidak bisa, lambaikan tangan, aku akan menarikmu." Key menurut. Ia berenang sedikit demi sedikit. Walau beberapa kali kehilangan kendali, karena terlalu dipaksakan. Key melambaikan tangan. Max segera menarik Key kembali merengkuh pinggangnya.


     "Apa lebih baik?" Key mengangguk cepat. Ia mengalungkan kembali tangannya.


     "Eh ... Apa yang terjadi." Air kolam bergoyang, seperti ada arus. Max baru saja akan membawa Key ke tepi, tetapi air kolam sedikit naik dan membuat mereka tenggelam.


     Max panik, bukan karena tidak bisa berenang. Tapi ia mengkhawatirkan Key yang sekarang mungkin sudah meronta di dalam air. Sesegera Mingkin Max berenang ke tepi sekuat yang ia bisa. Air kembali normal. Tapi keadaan Key sudah berbeda.


     "Key!" Max memompa dada Key. Berusaha mengeluarkan air yang masuk.


     "Key! Bangunlah!" Max memberikan nafas buatan. Sekali, dua kali, masih tidak berpengaruh. Max memompa lagi. Kemudian memberi nafas buatan ketiga.


     "Uhuk!" Key sadar. Max segera memeluknya erat. Merasa lega.


     "Key ... Maafkan aku." Key balas memeluk Max. Ia ketakutan. Air tiba-tiba datang seperti menerjang mereka. Lantai tepian kolam juga sudah basah karena tadi air naik.


     "Tidak apa-apa." Max mengusap pipi Key pelan. Kemudian mengambil handuk di kursi tepi kolam, memakaikannya pada Key dan segera menggendongnya masuk ke dalam.


          "Maafkan aku." dengan pelan Max membantu Key memegang gelas teh hijau hangat. Key mengangguk pelan.


Mereka sudah duduk di ruang TV dengan berlapis selimut. Kursi roda Key masih berada di tepi kolam. Max membiarkannya berada di sana. Lagipula, Key harus istirahat.


     "Kau butuh sesuatu?" Key menggeleng pelan. Ia memejamkan matanya sejenak.


     "Tapi, aku lapar." Max menoleh pada Key.


     "Kau mau makan apa? Aku akan membuatkannya untukmu." Max baru akan bangkit, namun gadis itu menahan tangannya.


     "Boleh aku ikut melihatmu memasak?"


     "Tapi kau harus—"


     "Ku mohon ..." puppy eyes Key tidak dapat membuat Max pada pendiriannya. Oh, atau memang puppy eyes Key selalu membuat siapapun luluh padanya.


     "Baiklah." Max perlahan mengangkat badan Key dan menggendongnya menuju dapur. Gadis itu mengalungkan tangannya, dan sedikit bersandar pada dada Max. Nyaman sekali. Begitu pas. Aroma Sang Dokter yang sangat ia sukai juga membuatnya betah.


     "Key?"


     "Eh, maaf." Key segera melepaskan tangannya. Ia duduk di meja pantry. Mulai memperhatikan Max yang sudah memakai apronnya.


     "Sejak kapan kau bisa memasak, Max?" Key berusaha menghilangkan rasa bosan dengan bertanya. Max tak keberatan dengan itu.


     "Sejak aku tinggal sendiri di apartemen." Max menoleh sebentar. "Daging atau ikan?"


     "Aku alergi seafood." ucap Key. Max mengangguk dan kembali memasak.


     "Jadi, kenapa kau tinggal sendiri Max? Apa rumah mu tidak sebesar ini?" Key masih terus bertanya. Ia ingin tahu lebih banyak tentang dokter yang selama ini merawatnya.


     "Ah iya, selain kau alergi tomat dan seafood, apalagi yang harus aku perhatikan agar tidak salah memberimu makanan?" Max berhenti sejenak. Menunggu rebusannya mendidih.


     "Eum ... Yang aku ingat, tidak ada." Key menggeser duduknya agar Max bisa duduk di kursi pantry. Kini posisinya, Key lebih tinggi dari Max karena dia duduk di meja. Kaki mereka bersentuhan.


     "Sebenarnya, apa saja hal yang kau ingat, Key Jeycee?"


     "Aku hanya mengingat seputar diriku saja. Selebihnya aku benar-benar tidak ingat." Key menunduk. Merasa telah salah berbicara, Max mengalihkan perhatian.


     "Kalau kau mau tahu, aku suka sekali anjing, aku suka angka tujuh—itulah mengapa aku pilih lantai tujuh— aku suka warna merah, aku mempunyai sahabat bernama Brian dan teman yang sudah aku anggap seperti kakak ku, Jonathan, atau dipanggil Jo. Aku digemari banyak wanita, tapi tidak satupun diantara mereka yang terlihat menarik perhatianku." Max terkekeh di akhir kalimatnya. Ia sedikit menertawakan hidupnya. Usianya yang sudah dua puluh tiga tahun itu namun belum memiliki kekasih.


     "Tunggu, kau bilang menyukai warna merah? Tapi kenapa semua furniture, bahkan cat apartemenmu berwarna biru. Biru langit, biru pastel, biru navy. Dan parfum mu, bubble gum." Key menyerngitkan dahinya dalam. Ia menatap sekeliling apartemen Max.


      "Aku tidak tau. Hahaha, mungkin mulai sekarang aku akan menyukai biru." Max tersenyum. "Eh? Kau tahu parfumku beraroma bubble gum?"


     "Heum, tercium sekali aroma tubuhmu." Key seperti menyadari kata-katanya, sedetik kemudian pipinya memerah dan ia menyesali kalimatnya. Max tertawa melihat ekpresi Key yang sangat polos.


      "Kau menggemaskan, KeyJoy!"


Blush!


     Key benar-benar memerah, mungkin sampai ke telinganya. Ia dapat merasakan hangat dikedua pipinya.


 


"Aku Key Jeycee, bukan Key Joycee!" katanya sambil bersemu.


 


     "Biarkan saja, aku suka Key Joycee. Ah, dan Ini warna merah yang aku suka." Max menunjuk pada pipi Key. Dengan cepat gadis itu memukul lengan Max. Merasa terus digodai, Key memilih mengalihkannya.


     "Ngomong-ngomong, aku suka warna biru. Apalagi warna biru pada gorden kamar tamu." Key tersenyum.


     "Aah, biru Navy. Ya, aku suka." Max menatap Key lama, begitu juga sebaliknya. Mereka dalam posisi itu cukup lama. Sampai suara sesuatu dari perut Key membuat Max tertawa.


      "Kau menyebalkan."


      "Kau lucu, Key. Maaf aku lupa, ini makananmu, tuan putri Key Jeycee." kemudian mereka makan bersama dengan sisa tawa dan senyuman. Hanya berdua di dalam apartemen.


...


"*Sheana, Maafkan Mama."


"Sheana! Secepatnya kau harus menikah!"


"Aku akan menjodohkanmu."


"Sheana, apa kau mencintaiku?"


"SHEANA*!!"


"TIDAK!!!"


Key terduduk. Dengan napas yang memburu. bulir Keringat tampak di dahinya. Mimpi itu begitu nyata. Seperti ia baru saja mengalaminya.


Gadis itu menoleh, melihat pada jam dinding yang menunjukkan pukul 3 pagi. Lagi\-lagi menghela napas yang terasa berat. Sudah beberapa kali ia mendengar panggilan itu.


Sheana. Siapa dia?


Apa Sheana adalah dirinya? Tapi kenapa ia tidak mengingat bahwa namanya adalah Sheana? dan apa maksud mimpi itu? Semua begitu abu\-abu untuknya. Ingin rasanya dapat segera mengingat kembali semua kenangan yang ia lupakan.


"Sheana, sadarlah."


"Apa? Tidak!"


"Sheana, kau tahu aku mencintaimu?"


"SIAPA KAU?! AAHH!! TIDAK!!" Key memegang kepalanya yang terasa begitu sakit. Seperti dipukul oleh batu yang sangat besar dan keras.


Lampu kamarnya menyala. Max masuk masih dengan piyamanya. Ia segera mendekati Key.


"Hey, kau baik-baik saja?"


"Ya, aku hanya bermimpi."


Wajah Max masih tampak khawatir. "Apa kau yakin? Mimpi itu begitu buruk?"


Tanpa sadar Key menangis. Ia mengangguk pelan. "Aku takut."


"Kalau gitu, aku akan menemanimu. Tidurlah kembali." Max menarik selimut untuk Key. "Aku di sini, jangan takut."


"Aku selalu di sini, Sheana. Sadarlah."


Mata Key pun kembali terpejam. Melupakan mimpi buruk yang baru saja datang. Dirinya aman, di dalam pelukkan Max.