A Dream

A Dream
Prolog



 


Key Sheana Joycee, gadis itu merasakan banyak cahaya menerobos masuk kedalam matanya. Perlahan ia membuka matanya. Hawa dingin langsung menerpa sekujur tubuhnya. Key merasakan sakit pada bagian kepalanya.


 


      "Dimana aku?" Key menatap ke seluruh arah. Jalanan sepi. Aspal yang basah, seperti bekas air hujan. Gaun putihnya berlumuran darah. Key memegang pelipisnya nyeri. Ternyata dibagian itu juga mengeluarkan darah.


    Key berusaha bangkit, berjalan. Berpegangan pada tembok-tembok pembatas jembatan. Ia mengerjapkan matanya sekali lagi. Masih di tempat yang sama. Sepi sekali.


     Key berjalan tertatih-tatih. Perasaannya sungguh gelisah dan ketakutan. Seperti ada yang mengawasinya, dan ia harus segera berlari menjauh.


      "Sheana! Berhenti!" Key mendengar suara seorang pria yang sangat dikenalnya. Tapi ia tidak berani menoleh kebelakang. Key terus berusaha berlari ketakutan. Sebisa mungkin menghindari pria itu. Kabur jauh dari pria dengan pakaian jas hitam seperti baju pengantin.


     "Tidak! Aku tidak mau!" Key berteriak. Terus berteriak ketika pria itu terus memanggil namanya dan menyuruhnya berhenti.


     "Guk! Guk guk!"


     "Aku bukan mainan mu! Tidak! Aku tidak mau!"


     "Guk-guk!"


     "Aaa!" Key merasakan sakit pada bagian pundaknya. Anjing yang mengejarnya itu berhasil mengigit bahunya. Key meronta. Anjing itu membuatnya tersungkur diatas aspal.


     "Ezy, jangan gigit dia!" suara pria itu! Key berusaha melepaskan diri. Ia menendang-nendang anjing itu. Berhasil!


    Key berlari sekuat yang ia mampu. Tapi secara tiba-tiba, mobil besar melaju cepat dihadapannya. Menabraknya sampai ia terlempar jauh. Kakinya seperti remuk ketika merasakan beban berat. Perlahan, tubuhnya merosot, jatuh dipinggir trotoar.


    Pria itu kaget. Ia berdiri kaku menatap wanita yang mengenakan gaun pengantin putih tersungkur dengan berlumuran darah. Perlahan, pria itu terduduk di atas aspal yang basah dengan badan terkulai lemas.


 


"SHEANA!!!!"


***


 


 


     Langkahnya yang tegas dan pasti menuju sebuah ruangan yang sudah lama sekali berisi orang yang sama. Tanpa ada yang menjenguknya dan merawatnya. Selama ini Dokter Harold yang menjadi walinya. Setiap hari, Dokter Harold selalu menyempatkan untuk menjenguk pasien itu. Mengajaknya berbicara, membacakan buku, bercerita tentang hari-harinya, atau sekadar menemaninya dan duduk sampai tertidur di sofa.


       Gadis yang saat ini matanya sudah bisa terbuka, membuat Dokter Harold tersenyum senang setengah mati ketika memasuki ruang perawatannya. Dokter Harold segera mengeluarkan stetoskopnya.


      "Selamat pagi. Saya akan memeriksa anda." Sang pasien hanya bisa diam ketika Dokter Harold menempelkan stetoskop ke dadanya. Mengecek alat bantu kedokterannya, dan mulai mengganti infusannya. Pasien itu hanya memperhatikan dengan seksama. Tanpa tahu apa yang terjadi.


     "Aku ... Apa yang terjadi padaku?" Pasien itu cukup sulit ketika berkata. Dokter Harold tersenyum.


     "Saya akan menceritakan semuanya, tapi saya harus tahu siapa nama anda?" Dokter Harold bicara sangat lembut sekali. Dia mengunggu pasien itu menjawab sambil mengganti bunga anggrek yang sudah layu dengan yang baru.


     "Namaku ..." sang pasien mengerutkan dahi cukup lama. Berusaha mengingat. "Key ... Joycee." akhirnya dia berucap. Dokter Harold kembali tersenyum dan menghampirinya lagi.


     "Buka mulutmu, Key." Key menurut. Dokter memeriksanya mulutnya, juga matanya. Semuanya pulih kembali. Kecuali kakinya yang mungkin masih harus mengenakan kursi roda dan menjalani terapi.


     "Aku ... Dimana? Apa yang terjadi padaku?"


Deg!


       Dua pertanyaan yang mampu memudarkan senyuman Dokter Harold. Ia langsung kembali mengecek keadaan Key. Kemudian wajahnya sedikit panik, namun segera ia sembunyikan dengan senyuman.


     "Saya harus ke ruang kerja, Key, mengambil hasil tes. Kau akan dijaga oleh perawat Sam." pelan, Dokter Harold mengelus rambut Key. Kemudian ia memberikan senyum kekuatan dan keluar dari sana.


...


          "Apa yang terjadi pada pasien itu, Max?" Seorang dokter—teman Dokter Harold, menghampiri Harold yang sudah duduk di kursi kerjanya dengan wajah frustrasi.


     "Dia ... Dia amnesia sebagian, Jo."