A Dream

A Dream
The Reality



 Florida, Februari 2020


Leon Jeremy Harold. Pria berusia 22 tahun itu memijat pangkal hidungnya pelan. Di usia mudanya sekarang, ia dipaksa untuk memegang satu perusahaan yang cukup besar milik ayahnya. Sementara sang kakak, hanya diberikan kewajiban mengurus rumah sakit tempatnya bekerja.


 


Akhir-akhir ini Leon kurang istirahat. Pikirannya bercabang antara pekerjaan dan Tunangannya. Sudah beberapa bulan ia belum kembali. Leon selalu sabar menunggu. Ia selalu setia pada gadisnya. Leon tahu, gadisnya memang belum bisa mencintainya, tetapi ia yakin suatu hari nanti, gadisnya bisa menerimanya dengan tulus.


 


Tok tok tok!


 


Ketukan pada pintu ruang kerjanya terdengar jelas. Tanpa di suruh, seseorang yang mengetuk pintu langsung masuk ke dalam ruangannya.


"Kapan kau akan menikahiku?" Suara gadis itu begitu menganggu di telinga Leon. "Jeremy!"


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" Bentak Leon. Dirinya sudah lelah terus diusik oleh gadis yang begitu suka memaksanya.


"Kenapa?! Apa karena gadis jalang bodoh itu?! Dia sudah mati!"


"Diam, Stevy! Bagaimanapun dia adalah calon istriku!" Leon memberikan tatapan yang penuh peringatan. "Urusi saja calon suamimu!"


"Aku tidak menyukainya!"


"Aku juga tidak menyukaimu! Jadi jangan paksa aku!"


 


Prang!


 


Vas bunga kesayangan Leon dilemparkan oleh Stevy dengan kasar hinga pecah. Vas bunga itu pemberian dari gadisnya saat Anniversary pertunangan mereka.


"Kenapa semua orang begitu menyukainya?! Apa kelebihan jalang itu dibanding aku?! kakakmu juga sangat menyukainya!"


"Apa maksudmu?!"


Tatapan Stevy berubah licik. "Oh, kau tidak tahu rupanya," Stevy sengaja menjeda ucapannya. "Kakak mu itu, diam-diam menyukai tunanganmu! dia akan merebut gadis jalang itu darimu!"


"Tapi dia dan kau akan segera menikah!"


"Hah, cinta dia benar-benar palsu. Dan aku muak dengan semua itu. Ku dengar, gadis mu juga lebih dulu kenal dengan kakak mu, kan? Siapa yang tahu kalau ternyata mereka saling mencintai?!"


"Tutup mulutmu, Stevy! Aku dan dia sudah satu tahun bertunangan! Bahkan kita seharusnya sudah menikah!"


"Tapi kau tahu sendiri, tuan Leon yang terhormat. Dia pergi dari mu. Dan dia belum kembali. Daripada menunggunya yang tidak pasti, menikah saja dengan ku!" Stevy mendekat, dengan sengaja duduk di pangkuan Leon, menggodanya.


"Singkirkan tubuhmu dari hadapanku! Apa kau tidak salah memberi julukan? Kau yang jalang!" Leon berdiri, menghindari sentuhan gadis licik itu, "Dan kau harus tahu, dia akan kembali. Gadisku akan segera kembali!"


 


...


Florida, Desember 2019


"Sheana, dua bulan ke depan kamu akan menikah dengan Leon."


Gadis manis yang sedang menatap pemandangan dari balkon kamarnya terkejut ketika mendengar suara sang ibunda tepat dibelakangnya.


"Menikah? tapi aku masih harus menyelesaikan kuliah ku, Mam." katanya parau.


"Maafkan Mama, tapi kamu harus secepatnya menikah dengan Leon. Dia laki-laki baik, sayang. Selama satu tahun ini juga dia selalu merawat mu, kan." sang ibunda mengusap lembut kepala putri bungsunya.


"Dia merawatku karena kasihan padaku, mam. Dia tidak mencintaiku. Sulung Harold yang mencintaiku."


"Tapi kakak tunanganmu juga akan menikah dengan gadisnya, sayang. Dia sudah memilih."


"Kenapa harus aku? Masih ada Sheina. Kenapa tidak dia saja yang menikah dengan Leon?"


"Leon tidak mencintai kakak mu."


"Tapi aku juga tidak mencintai Leon!" amuk Sheana. Sang ibunda mundur beberapa langkah, ibu jarinya mengusap sebuah alat yang disembunyikan di balik lipatan pergelangan tangan kemejanya, bersiap memencet tombol di sana jika memang sudah dalam kondisi cukup terancam.


"Kenapa kamu tidak mencintai Leon? Dia lelaki yang sangat baik, dia tidak pernah berani menyentuh kamu jika tidak kamu izinkan, dia juga sangat sabar menyembuhkanmu." Sang ibunda menatap lurus ke dalam mata anak bungsunya. Berharap gadis kecilnya mengerti.


"Karena semua yang Leon berikan itu palsu, mam. Dia melakukan ini karena pekerjaan. Dia tidak benar-benar mencintai aku!" Sheana mulai terisak. Dia membuang wajahnya ke arah lain, selain pada ibunya. Wajahnya mulai pucat, dan dadanya naik turun seperti menahan amarah.


"Apa kamu tahu yang sebenarnya? Apa Leon pernah berkata seperti itu pada mu?" Ibunya memberanikan diri mendekat.


"Tidak. Tapi Leon tidak pernah menolak aku. Dia juga tidak pernah marah padaku, dia begitu penurut. Ini semua perintah Papa kan? Pasti papa menyuruh Leon memperlakukan aku seperti itu, kalau tidak, bagaimana bisa dia—"


"Sheana ..." sebuah suara menginterupsi percakapan dua orang yang memiliki keterkaitan darah tersebut. "Ah, kau sedang bicara dengan Mam? Baiklah, aku tunggu di luar." Tubuhnya yang sudah setengah masuk ke dalam kamar, mundur perlahan.


"Lanjutkan saja, aku hanya ingin memberitahumu kalau Leon tidak bisa menemanimu untuk memilih gedung pernikahan, dia ada rapat mendadak."


"Harold ..." wajah Sheana berubah masam. "Kau benar-benar akan menikah dengan Stevy?"


"Ya Sheana."


Tanpa persetujuan, Sheana memeluk pria di hadapannya, dan menyembunyikan isakkan tangisnya di sana. "Aku turut senang." katanya penuh dusta. "Kalian pasti akan memiliki keluarga yang bahagia." Lanjutnya. Harold tidak menolak pelukkan Sheana, dia malah balas memeluk gadis yang begitu kecil baginya.


"Terima kasih Sheana. Kau juga akan memiliki keluarga yang bahagia ... bersama Leon."


"Kau menyayangiku, Harold?" Sheana menengadahkan kepalanya, tanpa melepaskan pelukannya sedetik pun dari Harold.


"Tentu saja ... kau seperti adik kecil bagiku."


Adik kecil.


"Harold ..." Sheana melepaskan pelukannya. Wajahnya kembali memucat, dan tatapannya berkaca-kaca. "Kau ..." suaranya bahkan sudah hampir menghilang, "Sialan." lalu Sheana jatuh ke atas lantai sebelum Harold dapat menangkapnya.


 


Seorang pria terduduk gelisah di sebelah ranjang Queen Size. Telapak tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin. Seorang Dokter sedang memeriksa keadaan tunangannya.


"Bagaimana, Dok?" pria itu, Leon, segera bangkit ketika Dokter telah selesai memeriksa.


"Nona Sheana mengalami syok ringan. Dia kehilangan kesadaran. Tubuhnya tidak merespon dengan baik. Sepertinya ia menyadari phobianya di waktu yang tidak tepat, apa nona Sheana bersentuhan dengan pria secara sengaja?"


Apa yang harus Leon katakan? Menyentuh gadisnya saja ia tidak pernah. Bagaimana itu mungkin? "Tidak mungkin, karena saya baru saja ditelepon ketika dia sudah kehilangan kesadarannya."


"Leon ... " Wanita paruh baya mendekat. Dengan wajah penuh sesal. "Maaf menginterupsi sebentar Dok. Leon, kita harus berbicara."


"Tante Nat, izinkan Leon untuk tahu penyebab Sheana seperti ini lagi. Semakin lama, dia semakin sering mengalami hal ini. Apa ada pria yang berani menyentuh gadis Leon?"


Air mata Natasha mengalir dengan sendirinya. Kepalanya menunduk dalam. "Sheana ... putriku ..." ucapannya terjeda, "Nikahi dia segera, tante mohon. Hanya kamu yang benar-benar bisa menjaganya."


"Leon akan berusaha. Kita bisa memajukan pernikahan menjadi dua minggu lagi."


"Leon, dengarkan tante." Natasha menarik napas dalam, "Kau harus sabar menghadapi Sheana. Dia sangat mudah rapuh, dia juga kadang tidak sadar kalau dirinya memikiki trauma mendalam. Dia masih belum menerima bahwa dirinya tak sebebas dan sesehat dulu."


"Leon paham."


"Apapun yang terjadi, tolong jaga dia dengan baik. Dan jangan pernah meninggalkannya."


Leon mengangguk mantap. Sama sekali tidak mengetahui fakta bahwa tunangannya sendiri mencintai pria lain, kakak kandungnya. Dan semua yang dialami Sheana, disebabkan oleh Max Harold, kakak tertua keluarga Harold, kakak kandung dari Leon Jeremy Harold.


...


Florida, Februari 2020


 


"Hai, Shea." Leon duduk di kursi, tempat di samping sebuah ranjang rumah sakit. "Aku sangat merindukan kamu. Kapan kamu mau menemuiku?" Tangan Leon bergerak perlahan mengenggam sebuah jari-jari kecil yang dihiasi selang infus.


"Sheana, kenapa kamu tidak pernah mengatakannya? Kenapa kamu tidak pernah menolak? Kenapa kamu tidak berkata kalau kamu sebenarnya mencintai, Max?" Leon mengenggam tangannya lebih erat. "Aku sudah sangat mencintaimu, dan tidak bisa melepasmu begitu saja. Sekalipun orang itu kakak ku sendiri."


"Sheana, dua hari lagi Max dan Stevy akan menikah. Apa kau tidak ingin melihat pernikahan mereka?" Leon masih asik bermonolog. Sekarang tangan yang ia genggam, diarahkan pada bibirnya. Leon mengecup jari-jari indah itu dengan lembut. "Bangunlah, kalau kau memang mencintai Max dan ingin mencegah pernikahan mereka. Sebaliknya, aku akan membatalkan pernikahan kita. Kau bisa hidup bahagia dengan Max."


Satu tetes air mata jatuh ke punggung tangan Sheana. Gadis itu masih menutup matanya rapat. Dengan selang oksigen dan alat lain menempel di tubuhnya.


"Sheana, apa kau mencintaiku?" Leon mengusap air matanya yang jatuh di punggung tangan Sheana. "Sheana, sadarlah."


Leon tidak bisa menahannya lagi, ia ingin memeluk Sheananya. "Sheana, kau tahu aku mencintaimu?" pria itu bangkit, lalu mendekatkan bibirnya pada wajah gadis yang sangat pucat itu.


"Aku selalu di sini, Sheana. Sadarlah." Lalu sebuah kecupan mendarat pada kening Shena yang terlelap. Untuk pertama kalinya, Leon berani menyentuh gadisnya yang memiliki phobia akan sentuhan pria. Hanya demi gadisnya.


...


"TIDAAAAAKK!!"


Key terbangun dari tidurnya. Keringat dingin bercucuran. Ia menatap kesegala arah. Ini masih kamar tamu di apatemen milik Dokter Max. Jelas-jelas itu semua hanya mimpi.


"Key, kau baik-baik saja?" Suara Max dari luar kamar sambil mengetuk pintu. "Key?"


"A—aku ... Aku baik-baik saja." Key berjalan susah payah dengan bantuan tongkatnya ke arah pintu. Ia berhasil membukanya. Terlihat Max dengan baju tidurnya dan kacamata bulat menghiasi wajahnya.


"Hei, kau pucat sekali, Key."


"Aku baik-baik saja. Hanya bermimpi."


"Ah begitu, syukurlah."


"Mimpi itu begitu nyata."