825

825
Akhir Pekan



Raina memutar kembali video Haidar yang bernyayi semalam di cafe, Bos nya itu benar-benar memiliki suara yang sangat bagus. Lagu yang di nyanyikan pun membuat semua orang jadi tertuju pada Haidar, termasuk Raina, saat merekam, jantungnya itu berdebar, suara nya benar-benar bisa membuat para wanita salah tingkah. 


Saat sedang menonton, Raina jadi ingat ia belum mengirimkan video itu pada Haidar. Membuka ruang obrolannya dengan Haidar. Nama yang tercantum masih 'Haidar' karena orang itu sendiri yang menyimpan namanya. 


Sedikit ragu, Raina mengetik ucapan salam, lalu menghapusnya lagi, mengetik lagi dan terus menerus seperti itu. 


Hingga akhirnya Haidar mengirim pesan lebih dulu padanya



Raina meletakan ponselnya sembarang ke kasur lalu membanting tubuhnya ke atas kasur yang sama. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, bergerak ke kanan dan kekiri. 


"ih bego bego bego ... " ucap nya seorang diri, menyesali tindakannya. 


Beberapa detik kemudian, Ia terdiam, menatap langit-langit kamarnya "Habis dia ngapain ngeliat room chat  gua sih. Masa iya sekelas direktur gak banyak yang ngchat huh" ocehnya seorang diri lagi. 


Raina menghela nafas, mencoba menenangkan dirinya. "udahlah, gak usah dipikirin, besok juga udah lupa" 


***novurieen***


Haidar tersenyum menatap layar ponselnya, ia tak menyangka dirinya bisa sefrontal itu mengirim pesan pada Raina. Ruang obrolannya dan Raina memang sengaja Haidar sematkan, ia ingin tahu status-status apa yang akan wanita itu bagikan. 


Semalaman menunggu, Raina tak mengupload status apapun. Untung saja tadi Haidar sedang memegang ponsel dan membuka Whatsapp nya, jadi ia bisa tahu Raina tengah bingung mengetik sesuatu di ruang obrolan mereka. 


"Dia pasti lagi gerak-gerak kayak ulet" gumam Haidar, ia pun membayangkan tingkah Raina yang mungkin saja sedang dilakukan wanita itu. 


Haidar melihat kalender di layar utama ponsel nya "Senin masih lama ya?" gumamnya seorang diri


Tak melakukan apapun pada akhir pekan, tiba-tiba sudah hari Senin. Mungkin ini pertama kali nya Haidar sangat senang pergi ke kantor pada hari Senin, biasanya dia menggerutu sepanjang jalan, sampai pernah berdoa ada demo besar-besaran di daerah kantornya. 


"Ada angin apa lu jam segini udah dateng?" Javan yang baru memasuki pintu utama gedung kantornya menayapa


"Bagus dong" 


"Iya sih, tapi gak biasa aja" 


"Gak biasa kalo bagus, gak usah di protes" Haidar berjalan mendahului Javan


"Sensi banget, gua maen bentar ke ruangan lu ya?" 


Haidar menoleh menyipitkan mata "Gak usah rese dulu deh" 


"Ngobrol doang, udah lama kita gak ngobrol. Lu gak mau balik rumah juga pas weekend" 


"Kapan-kapan aja, gua sibuk" Haidar berjalan lebih cepat menuju lift


Menunggu di depan lift bersama dengan Javan beberapa karywan ada yang menghindar, memilih menunggu di lift yang lain, atau bahkan naik tangga.


"Selamat Pagi Pak Javan, Pak Haidar" suara Raina membuat Haidar menoleh kebelakang


Wanita itu sedang tersenyum, menatap Haidar dan Javan bergantian. 


"Pagi ... hmm, Al ... "


"Althara Pak" ucap Raina meneruskan ucapan Javan yang ragu


"Ya, Althara. Maaf, saya agak pelupa" 


"Gapapa Pak" Raina tersenyum lagi


Haidar masih menatap Raina yang sedang mendangak menatap Javan. 


Ting Pintu lift terbuka, Javan masuk lebih dulu sedangkan Haidar masih menatap Raina. 


"Pak, mau masuk?" tanya Raina


Haidar mengerjap, "oh, iya" gumamnya kecil seraya masuk ke dalam lift


Namun Raina tidak masuk, Haidar dengan cepat menahan pintu lift lift yang akan tertutup. "Kenapa diem disitu?" tanya Haidar


"eh? oh ... saya nanti aja Pak, silahkan duluan" ucap Raina sopan


"Masuk" ucap Haidar


Raina mengerjap lalu menoleh ke Javan, kemudian menoleh ke Haidar lagi. 


"cepet" ucap Haidar lagi


"Masuk aja Al, gapapa" ucap Javan


Raina mengangguk kecil, lalu masuk. 


Haidar segera melepaskan tangannya yang menahan pintu lift. Ia melirik Raina yang berdiri di antara dirinya dan Javan. Raina memegang tote bag nya di bawah dengan kedua tangan. Tatapannya datar menatap ke depan. 


"Berangkat bawa motor Al?" tanya Javan


"Enggak pak, naik transjakarta" 


"Duh, rame banget dong kalo pagi?"


Kepala Raina bergerak kekiri sedikit, "hmm, pagi sih masih bisa terkendali. kalo pulang yang parah. duh jangan di bayangin deh Pak, bikin males pulang" 


"haha , bagus dong. Kamu jadi kerja lebih lama" 


"ya jangan gitu dong pak" jawab Raina dan Javan kembali tertawa


ngapain juga si Javan nanya-nanya


kepo banget jadi orang anjing


Tak lama pintu lift terbuka, Haidar sampai di lantai kerja nya lebih dulu, ia keluar lalu menoleh ke belakang "Rain, mau ikut Bang Javan?" tanyanya sinis


"oh, enggak pak" Raina keluar dari lift kemudian menatap ke arah Javan lagi "Pak saya duluan" 


"Hmm iya" Javan tersenyum dan pintu lift pun tertutup


"Mau diri disitu sampe kapan?" tanya Haidar sinis, tentu saja pada Raina


Raina menatapnya "iya, Maaf Pak. Saya duluan ya pak" 


Mata Haidar mengikuti gerak tubuh Raina. Staf nya itu langsung berjalan cepat menuju meja kerja nya, menaruh tas lalu mulai menghidupkan komputer. 


Lu kenapa sih dar... 


***novurieen***


Semakin hari Raina semakin sibuk, akhir tahun memang menjadi hari-hari yang sibuk. Semua barang masuk sebelum libur panjang. Proses tidak bisa sekaligus karena keterbatasan staf di bandara.


"Haah ... " kepala hingga bahu Raina melemas, ia menjatuhkan kepalanya di meja


"Semangat semangat Al!" Mas Dhika, rekan kerja Raina yang duduk disebelahnya berusaha menyemangati.


Raina mengangguk lemas di atas meja.


"Gantian ya, ini bagian gua awal sampe tengah tahun sibuk gak ketulungan" ucap Lusi berusaha membandingkan


"Iya iya, namanya juga kerja Lus. Pasti ada sibuknya. Yang penting semangat! Ya gak Rain?" Dhika menepuk pundak Raina


Perlahan Raina bangun "iya, harus semangat. Kan mau jajannya gak cimol mulu" ucapnya


"Tapi cimol enak" ucap Dhika


"Iya sih, duh, jadi pengen cimol deh mas" Raina memegang perutnya


"Belakang kantor ada Rain. Sore pas balik ayo kesono" ajak Lusi


"Yang bener?"


"Iya"


"Oke, balik kantor ya kita kesana" Raina menunjukan jempol tangan kanannya dan dibalas oleh Lusi dengan jembol juga.


***novurieen***


Haidar menunggu keadaan diluar agak tenang seperti biasanya sebelum ia keluar dari ruangan dan pulang.


Saat kondisi sudah di rasa aman, Haidar keluar, berjalan ke arah lift. Kepalanya menoleh saat ia tak mendapati keberadaan Raina. Padahal biasanya wanita itu masih ada disana dan turun ke bawah bersama Haidar.


Kening Haidar mengernyit, berpikir kemana perginya Raina?


"Belom balik lu?" Suara Jafi dari arah toilet membuatnya menoleh.


"Gua yang harusnya nanya gitu"


"Hehe, kebelet gua tadi"


Haidar tak menanggapi


"Mau bareng ke bawah?" Tanya Jafi


"Yang laen udah pada pulang?" Tanya Haidar


Jafi mengangguk "buru-buru tadi itu anak-anak. Mau beli cimol"


"Hah?"


"Jajanan kampung, lu mana ngerti"


"Semuanya beli?"


Jafi mengangguk "aneh banget emang mereka, sama cimol segitunya"


Lagi, Haidar tak menanggapi. Ia berjalan ke arah lift.


"Oiy! Tunggu, gua ambil tas gua dulu" Jafi berlari ke arah meja nya


Menunggu lift naik, Haidar membuka ponselnya, lebih tepatnya membuka google dan mencari yang dimaksud jafi tadi.



"Gua nunggu dari weekend, kalah sama ginian?" Gumam Haidar


"Apa?" Suara Jafi yang tiba-tiba mmebuat Haidar cepat-cepat memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jas


Haidar tak menjawab. Ia menatap lurus kedepan.


Cimol sialan


TBC