
Hidup Raina sepertinya berubah jadi aneh, bos nya yang baru tiba-tiba mengajak makan malam. Bos nya yang ia kira jutek.
Raina bahkan harus berbohong pada security yang mengambil mobil Haidar, ia bilang akan meeting di luar dengan Haidar, itu demi tak ada berita aneh yang menyebar
"Kenapa harus bohong?" Tanya Haidar saat mereka sudah berada di dalam mobil laki-laki itu.
"Bapak pasti gak tahu, tapi staf biasa kayak saya ini, pulang bareng bos itu pasti jadi berita yang heboh dan buat salah paham"
Haidar tak menatap Raina
"Tapi pak, ini masih sore, bapak udah mau makan malem?" Tanya Raina
"Iya"
"Pak, kalo saya nolak ... "
"Ya kan gua udah kasih tau konsekuensinya"
"Nyebelin banget"
"Apa?" Haidar menoleh menatap Raina
Raina tersenyum lebar dan menggeleng "ngga"
"Gua denger lu ngomong apa tadi" Haidar kembali fokus pada jalanannya
"Maaf Pak, kelepasan" Raina memukul pelan bibirnya sekali
Terdengar hembusan nafas yang lebih berat dari arah Haidar, bos nya itu tengah tersenyum.
Dia ini dibilang ganteng ya biasa aja
Tapi manis banget kalo lagi senyum
Kalo lagi mode jutek, keliatan cool.
"Pak, bapak sama Pak Javan beneran kakak adik? Saya nanya aja, buka obrolan" ucap Raina jujur
"Ya menurt lu aja"
"Ya kalo di liat pake mata sih gak mirip ya Pak"
"Yang ini maksudnya apa?" Haidar kembali menoleh menatap Raina, menaikan sebelah alisnya.
Nih, kalo kayak gini bikin dag dig dug njir
"Gak maksud apa-apa, kan cuma nanya" ucap Raina
"Javan lebih mirip bunda, gua mirip bokap" jawab Haidar yang sudah kembali fokus menyetir
Raina mengangguk "Ibu pasti cantik banget ya Pak? Belum pernah liat ke kantor sih"
"Pasti cantik. Jadi bisa nyimpulin ini gua"
"Hah? Nyimpulin apa?" Raina menoleh menatap Haidar
"Maksud lu itu Javan Ganteng, Gua jelek, ya kan?"
"Ih!! Enggak! Bapak ganteng juga kok!" Sadar apa yang ia ucapkan, Raina langsung menutup mulutnya "sorry pak, kelepasan lagi"
Haidar kembali tersenyum, kali ini lebih lebar.
Mereka diam untuk beberapa saat. Raina tak ingin lebih banyak 'kelepasan' yang ia lakukan.
"Rain ... "
Raina menoleh, ia masih takjub saat Haidar memanggil namanya begitu.
"Ke Cafe nya Alex aja, gapapa? Cafe LEX, tahu kan?" Tanya Haidar
Mata Raina berkedip, ia mengangguk, "iya gapapa Pak"
Beberapa menit berikutnya mereka sudah tiba di cafe, Raina terus mengikuti langkah Haidar hingga mereka duduk di bagian ujung Cafe.
"Pesen aja yang lu mau" ucap Haidar
Raina mengangguk, ia menyebutkan satu menu makanan dan minuman yang ia mau, kemudian Haidar hanya menyebutkan satu gelas kopi.
Mata Raina melebar "kok malah ngopi Pak?"
"Emang gak boleh?"
Kepala Raina menggeleng "engga lah, kan Bapak bilang mau makan"
"Ya lu aja yang makan"
Raina kembali menggeleng dengan cepat "enggak" ucapnya lalu menatap waiters yang kebingungan "mas, makanan saya tadi jadinya dua porsi ya"
"Oh baik mba"
"Kok ... "
"Udah mas sana" Raina meminta waiters tersebut pergi
Raina menatap Haidar "mana enak saya makan sendiri diliatin Bapak"
"Emang lu yakin gua suka makanan yang lu pesen tadi?"
"Suka gak suka harus di makan. Kecuali Bapak ada alergi"
"Gak ada sih"
"Yaudah makan berarti" ucap Raina
Haidar kembali tersenyum.
Mesam mesem mulu
Gak bagus kan buat jantung
***novurieen***
Haidar menatap Raina yang tengah menyantap makanannya. Beberapa saat kemudian, Raina meletakan sendok, minum dan menatap Haidar.
"Pak, kalo cuma ngeliatin saya makan mana kenyang? Di makan itu makanannya" ucap Raina
"Kayaknya ngeliatin lu makan udah bikin gua kenyang deh"
"Sekeliatan rakus itu ya Pak saya?" Mata Raina membulat
Haidar tersenyum tipis "bukan"
"Di makan dong, mubazir nanti"
"Iya iya" Haidar pun mulai menyantap makanan miliknya
Sesekali ia melihat ke arah Raina, wanita itu makan sambil menatap ke arah band yang sedang bernyanyi. Saat nyanyian selesai, Raina pun bertepuk tangan kecil.
"Pak, tempo hari saya lihat bapak nyanyi disini" ucap Raina seraya meminggirkan piring nya yang sudah kosong
"Oh" gumam Haidar
"Bapak gak mau nyanyi lagi?" Tanya Raina
"Jelek suara gua" ucap Haidar lalu menyuap makanannya
Raina mendekatkan kursi ke meja, lalu tubuhnya di condongkan ke arah Haidar, sontak saja Haidar memundurkan kepalanya kaget.
"Suara Bapak bagus banget, unik. Lagu yang Bapak nyanyiin jadi kedengeran beda. Nyanyi lagi dong Pak" ucap Raina
Mata Raina menatap tepat ke mata Haidar, wanita itu tak ada rasa takut sama sekali.
"Lagi gak mood" jawab Haidar seraya menunduk, menghindari tatapan Raina
Haidar menghela nafas, "entar gua nyanyi satu lagu"
Kepala Raina bergerak cepat menoleh menatap Haidar "serius pak?"
"Iya"
"Nanti saya rekam ya pak, buat kenangan. Entar saya kirim ke Bap ... eh, saya gak punya nomornya deng. Saya kirim ke Jafi aja" ucap Raina sedikit terjeda
Haidar meminggirkan piring miliknya, lalu satu tangannya terulur "sini hp lu"
"Buat apa?"
"Sini, buka dulu kuncinya"
Mungkin karena masih menganggap Haidar ada Bos nya, Raina memberikan ponsel nya dengan suka rela.
Haidar mengetikan nomor ponsel nya, lalu mengirim pesan whatsapp ke nomornya sendiri dari ponsel Raina.
"Itu nomor gua"
"Wah ... makasih Pak. Bahaya nih"
"Ya?"
Raina menggeleng "enggak, eh Pak, itu di abisin makanannya"
"Gak deh"
"Ih gak boleh gitu, Bapak tahu? Di luar sana ada ribuan orang yang kelaparan. Masa Bapak tega buang-buang makanan kayak gitu?"
Haidar kembali menghela nafas. "Lu tuh bener-bener ya ... "gumamnya seraya menarik lagi piring nya tadi
"Gitu dong Pak"
Selesai makan, Haidar pamit sebentar meninggalkan Raina, ia mencari Alex untuk meminta izin bernyanyi satu lagu.
"Udah kenal toh sama Al" suara Alex menyapa
"Staf gua"
"Oh, abis meeting?"
Haidar mengangguk, tentu saja berbohong.
"Gua nyanyi se lagu bisa?"
"Bisa, se album juga bisa"
"Gila"
Tak lama Haidar pun naik ke atas panggung. Matanya terarah pada Raina yang juga sudah menatap ke arah nya. Mata wanita itu membulat, bibirnya tersenyum dan tangannya bertepuk pelan seolah memberi semangat.
Sejak kapan gua nurut gini?
"Hmm Sorry, gua pinjem Mic nya sebentar. Satu lagu aja" ucap Haidar kemudian menoleh ke arah band belakangnya, menganggukan kepala kecil.
This is gonna hurt but I blame myself first
'Cause I ignored the truth
Drunk off that love, **** my head up
There's no forgetting you
You've awoken me, but you're choking me
I was so obsessed
Gave you all of me, and now honestly, I got nothing left
I loved you dangerously
More than the air that I breathe
Knew we would crash at the speed that we were going
Didn't care if the explosion ruined me
Baby, I loved you dangerously
Mm, mm
I loved you dangerously
Usually, I hold the power with both my hands
Tied behind my back
Look at how things change, 'cause now you're the train
And I'm tied to the track
You've awoken me, but you're choking me
I was so obsessed
Gave you all of me, and now honestly, I got nothing left
'Cause I loved you dangerously
More than the air that I breathe
Knew we would crash at the speed that we were going
Didn't care if the explosion ruined me
Baby, I loved you dangerously
You took me down, down, down, down
And kissed my lips with goodbye
I see it now, now, now, now
It was a matter of time
You know I know, there's only one place this could lead
But you are the fire, I'm gasoline
I love you, I love you, I love you
I loved you dangerously
Ooh, more than the air that I breathe
Oh, now, knew we would crash at the speed that we were going
Didn't care if the explosion ruined me
Oh, oh baby, I loved you dangerously
Mm, mm
Ooh, I loved you dangerously
Ooh, ooh, I loved you dangerously
TBC