825

825
Haidar



Haidar melempar jas nya sembarang, membuka dasi, melepaskan satu persatu kancing kemejanya, lalu melepaskan ikat pinggang di celananya. Dalam hitungan detik, Haidar langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. 


"Capek Anjing" umpatnya kesal


Pekerjaan kantor benar-benar tidak cocok untuknya, Ia lebih suka bernyanyi, Ia lebih suka mengekspresikan apa yang ia rasakan dengan suaranya. Bekerja di depan komputer dengan berkas bertumpuk di meja bukan lah dirinya. 


Kedua tangan Haidar menutup wajahnya, ia menggeram, menahan rasa kesal di dada nya. Bagaimana pun, Ia tak akan bisa lari dari kehidupan seperti ini. 


Setelah mengistirahatkan tubuhnya beberapa menit, Haidar mandi dan berganti pakaian. Seharian ia sudah menyelesaikan keinginan Ayahnya, sekarang ia akan melakukan apa yang ia suka. 


Ya, Haidah pergi ke sebuah cafe di daerah Kemang, Ia mengenal pemilik Cafe tersebut dan Ia sesekali bernyanyi bersama band yang disewa cafe tersbut. Bukan untuk menghibur pengunjung, Haidar lebih ingin menghibur dirinya sendiri. 


Setibanya di Cafe, Haidar bertemu Alex, pemilik Cafe yang juga temannya. 


"Mau naek?" tanya Alex


"Cukup gak?"


Alex melihat jam tangannya, "cukup lah, biarin aja mereka gak nyanyi semua, asal lu seneng" 


"bisa aja lu" 


Haidar dan Alex berjalan memasuki Cafe yang entah mengapa terlihat lebih ramai dari biasanya. Mata Haidar pun spontan menatap kesekeliling, banyak dari mereka yang asing di mata nya, sepertinya bukan pengunjung lama. 


"Lagi ada farewell party, Sorry ya, agak rame" ucap Alex yang sadar akan sikap haidar


"Santai, malah bagus cafe lu makin rame" 


"Haha Iya, anak-anak Jaktim sih. Pasti lu gak pernah liat"


"Oh Pantes" 


Haidar dan Alex duduk di salah satu kursi, menunggu band yang sedang tampil selesai bernyanyi. 


"Hei! Al, minum lah! acara lu yakali lu gak minum" teriakan dari satu sudut membuat Haidar spontan menoleh. 


Segerombolan orang tengah duduk di meja panjang, lalu menatap ke satu arah, mata Haidar pun mengikuti arah pandang orang-orang itu. Matanya menyipit saat ia mengenali sosok yang sedang jadi pusat perhatian itu. 


Althara Raina? 


Sebelah alis Haidar terangkat, Raina terlihat mengibaskan kedua tangannya, mengelak untuk melakukan apa yang orang-orang tadi teriakan. Sepertinya minum alkohol. 


"Udah tuh, naek gih" ucap Alex


Haidar menoleh, "oh udah?" 


Haidar pun beranjak dari kursi, Ia menuju ke atas panggung kecil, duduk dan memposisikan mic nya agar sesuai dengan tinggi tubuhnya. Tanpa mengucapkan kata pembuka, Haidar pun mulai bernyanyi. 


Kali ini Haidar menyanyikan lagu dari Shawn Mendes berjudul mercy . Suara riuh yang sebelumnya terdengar, perlahan mereda, keadaan cafe jadi sunyi. Saat melihat ke sekeliling, Haidar mendapati semua orang fokus pada nya, termasuk Raina. 


Raina terlihat kaget, mata gadis itu melebar. Tak ingin terpecah konsentrasinya, Haidar memalingkan wajah, menatap ke arah lain. 


Tatapan Raina terasa berbeda, Raina tak terlihat takut, tak terlihat segan apalagi meremehkan. Beberapa hari berinteraksi dengan Raina, Haidar merasa lebih nyaman karena wanita itu tak menghakiminya.


Selesai bernyanyi tiga lagu, Haidar turun. Menghampiri Alex yang masih bertepuk tangan untuknya. 


"udah anjir" Haidar memegang tangan Alex agar berhenti


"Lu tuh nyanyi apa aja oke, lagu nya jadi beda, jadi kayak lagu lu sendiri. Sayang banget lu gak mau jadi penyanyi" 


Haidar menghela nafas, "iya, sayang ya" ucapnya seraya duduk dan menyesap minuman yang ada dihadapannya. 


Saat minum, mata Haidar kembali menangkap sosok Raina. Kali ini staf baru di divisinya itu tengah melambai ke semua orang yang ada di meja panjang tadi, tersenyum sambil mengucapkan sesuatu dan beberapa detik berikutnya Raina pergi meninggalkan semua orang disana.  


"Namanya Althara, kayaknya sebulan ini dia sering kesini. Tapi pas lagi gak ada lu sih" ucap Alex


Haidar menoleh


"Gua tau lu gak nanya, gua ngasih tau aja" 


Tak menaanggapi Alex, Haidar menyesap kembali minumannya. 


***novurieen***


Gila banget 


itu Pak Haidar bisa nyanyi sebagus itu? 


orang sejutek dia bisa nyanyi selembut itu gimana caranya? 


apa jangan-jangan dia kembar lagi, yang tadi itu bukan pak haidar? 


Raina menggeleng-gelengkan kepalanya "mikir apa sih" gumamnya sendiri saat ia sudah duduk atas motor, lebih tepatnya ojek online. 


Akses Transjakarta di cafe tadi memang sulit, jadi mau tidak mau Raina harus merogoh kocek yang sedikit lebih dalam agar bisa pulang dari sana. 


Sesampainya di rumah nya, Raina menghela nafas. Ia menghabiskan cukup banyak uang malam ini, Ia harus menabung lebih giat beberapa bulan. 


Mata Raina menoleh menatap meja kecil yang ada di dalam kamar nya, berdiri sebuah bingkai kecil terbuat dari kayu murahan, namun foto yang ada di dalamnya sangat mahal. 


Foto kedua orang tua nya. 


Orang Tua Raina sudah tiada, mereka berdua meninggal karena kecelakaan mobil. Saat itu Raina juga ada di dalam mobil yang sama, namun karena Raina duduk di belakang dengan sabuk pengaman, kecelakaan itu memiliki kerusakan yang parah pada bagian depan mobil, kedua orang tua nya meninggal di lokasi. 


Raina membersihkan diri lalu bersiap tidur. 


***novurieen***


"Ini tuh weekend ya, lu ngapain manggil gua sih?" Jafi tiba dihadapan Haidar dengan wajah besungut nya


Haidar menggerakan wajahnya ke arah kursi dihadapannya. "Duduk"


"Sumpah lu nyebelin banget anjir" Jafi menarik kursi dengan setengah hati lalu duduk


Hal yang tak banyak orang tahu, Jafi adalah teman Haidar. Mereka berteman sejak SMA hingga lulus kuliah. Walau Haidar atasan Jafi, tapi Jafi lebih lama bekerja di perusahaan milik Ayah Haidar itu.


"Langsung aja, lu mau apa?" Tanya Jafi


"Pesen kopi gih"


Jafi terdengar mendengus "Haidar, gua serius. Ini gua mau bantuin orang, udah ada janji"


"Lu juga bisa bantuin gua"


"Gak bisa. Lu gak minta apa-apa sama gua kemaren!"


"Sekarang gua minta"


Jafi kembali mendengus "capek ngomong sama lu deh"


Akhirnya Jafi memanggil waiters lalu memesan kopi sesuai apa yang Haidar suruh tadi.


"Lu berantem lagi sama bokap lu?" Tanya Jafi selesai memesan kopi nya


"Ngga"


"Terus?"


"Gua bosen aja sendirian"


"Anjing!"


Haidar menatap tajam Jafi, tanpa mengatakan apapun ia mengambil kopi lalu menyesapnya.


"Gua temenin setengah jam aja. Si Al nungguim gua"


Kening Haidar mengernyit, ia tak mengenal nama yang Jafi sebutkan "Al?"


"Althara, staf lu"


"Kok weekend gini?"


Kopi Jafi datang, temannya itu menyesep kopi nya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Haidar.


"Dia temen gua"


"Kok gua gak tau?"


"Kalo lu tau ntar gak fair"


Haidar menaikan sebelah alis nya "lu tidurin juga?"


"Anjing! Ya ngga lah bangsat!"


Kali ini Haidar mengangkat bahu nya acuh.


"Temen gua dulu sebelum pindah. Anaknya baru pindah dari kosan ke rumah baru nya. Banyak yang belom dia punya" jelas Jafi


"Lu mau beliin?"


Jafi memiringkan kepalanya "kalo gak sampe sepuluh, bisa lah"


"Modus"


"Haha ... gua serius ya, setengah jam doang"


Haidar mengangguk


Setelah setengah jam berlalu, Jafi mengahbiskan kopinya lalu beranjak dari kursi. Hidar pun mengikugi.


"Lu balik juga?" Tanya Jafi bingung


"Gua ikut lu"


"Hah?!"


"Buru" Haidar berjalan mendahului Jafi


"Ih setan!"


TBC