
Haidar Basurata menghela nafas saat ia baru memasuki pintu kaca kantor. Bekerja di kantor adalah pilihan terakhirnya, namun Ayahnya tidak sependapat dan memaksanya bekerja di kantor bersama dengan kakak laki-lakinya, Javan Basurata.
Kaki Haidar melangkah memasuki lift, menekan tombol lift dengan angka tujuh, lalu ia menunggu sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Pintu lift terbuka, ia langsung dihadapkan pada lorong dengan dinding kaca, berjalan keluar, kepalanya menoleh menatap beberapa karyawan nya yang sudah sibuk dengan pekerjaan.
"Selamat pagi Pak" ucap Lusi, salah satu admin di divisi pembelian, divisi yang dibawahi Haidar saat ini.
Tak menjawab, Haidar melanjutkan langkah kakinya ke satu ruangan dengan pintu putih dengan ornamen kaca tembus pandang di tengah atas. Tangannya terulur memutar knop pintu lalu masuk dan pintu pun tertutup otomatis.
Haidar membuka jas nya, menyangkutkannya di gantungan Jas kemudian ia duduk dan menyandarkan tubuhnya, Ia kembali menghela nafas panjang.
"Lu tuh berantem lagi sama Ayah?" suara Javan bersamaan dengan pintu ruangan Haidar yang terbuka membuat Haidar yang semula memejamkan mata, akhirnya menatap Kakak laki-laki nya itu.
"Lu tuh kalo masuk gak bisa ketok pintu dulu?"
Javan menarik kursi di hadapan meja kerja Haidar, lalu duduk "Ayolah, gak usah ribut terus. Lu kerja disini kan juga di bayar, bukan sukarela"
"Ya ini gua lagi mau kerja"
"Gak usah pake ngotot sama Ayah. Dia udah capek"
Haidar menegakan tubuhnya, "Gua juga capek Bang, lu tahu gua suka nya apa, lu tahu gua gak cocok di kantor begini"
"Lu masih boleh nyanyi, lu masih boleh ngelakuin hobi lu. Tapi lakuin itu sekedar hobi aja, bisa? ini Ayah cuma punya gua sama lu. lu mau liat perusahaan yang Ayah bangun pincang?"
"Asli, lu nyebelin banget"
"Ya gimana, kalo ego lu lebih gede ya berantem terus sama Ayah. Bunda yang nengahin, akhirnya Bunda yang nangis liat anak kesayangannya di marahin terus sama suaminya sendiri" oceh Javan
Haidar melonggarkan dasi dan melepas satu kancing dilehernya, "iya iya, ini gua lagi usaha. Bilang Ayah gak usah ngpush gua, gua semakin di push semakin males"
"lu di push aja males-malesan, apalagi nggak?"
"Bang!"
"Gua ngomong sama Ayah abis ini, mulai sekarang lu laporan sama gua tiap minggu progres divisi lu. udah tahu salah satu divisi paling sibuk, masa direkturnya males-malesan"
"Bawel banget sumpah" Haidar memutar bola matanya
"lu tuh ... "
tok tok tok suara ketukan pintu membuat Javan tak menyelesaikan ucapannya.
Haidar dan Javan spontan menoleh ke arah pintu, saat pintu terbuka, ada sosok Jafi, manajer pembelian lalu diikuti seorang wanita yang tidak Haidar kenal.
"Maaf Pak, saya ingin memperkenalkan staf exim baru" ucap Jafi seraya meletakan tangannya di punggu wanita itu.
"Oh, kamu udah dateng?" ucap Javan
Kening Haidar mengernyit "Lu kenal?"
"staf baru, yang ng-interview gua kemarin, lu lagi sakit"
"Oh"
Haidar dan Javan menatap wanita itu.
"Salam kenal Pak Haidar dan Pak Javan, saya Althara Raina" ucap wanita itu
Javan berdiri lalu menjabat tangan wanita bernama Althara Raina tadi "selamat bergabung ya Althara"
"Terimakasih Pak"
"Lu mau disitu aja?" Javan melepas jabatan tangannya lalu menoleh pada Haidar dan menatapnya tajam
"Jaf, gua minta laporan pembelian dua bulan terakhir" Haidar mengabaikan Javan dan memilih bicara pada Jafi
"baik pak"
Javan menyipitkan matanya pada Haidar, lalu menghelan nafas dan menggeleng
***novurieen***
Raina menatap layar monitor nya, ia berkedip beberapa kali saat melihat ada puluhan email yang masuk. Mayoritas email merupakan notifikasi kedatangan barang.
Menghela nafas panjang, Raina membuka satu email paling atas yang belum di baca.
Sekali baca, Raina dengan cekatan mengecek dan membalas satu persatu email. Sesekali ia mencatat pekerjaannya di excel dan di buku agar tidak lupa.
"Al ... bisa minta tolong copy in ini gak? Butuh tiga rangkap" Lusi, admin pembelian yang duduk dihadapannya mengulurkan setumpuk dokumen
Walau itu bukan bagian Raina, tapi karena ia masih baru akhirnya ia tersenyum dan mengangguk, kemudian mengambil berkas di tangan Lusi.
Raina berjalan ke arah mesin fotokopi ia melihat sekilas mesin itu, mencoba memahami bagaimana mengoperasikannya.
Kepala Raina menoleh kesembarang arah, mencoba mencari pertolongan.
Matanya tertuju pada sosok Haidar yang berjalan ke arahnya.
Yakali nanya dia?
Kayaknya jutek.
"Pak ... " akhirnya Raina memanggil atasannya itu tanpa rasa takut
Mata Haidar langsung menatapnya.
"Pak maaf, bisa ajarin saya cara pakai ini? Unit nya terbaru ya? Beda sama punya kantor lama saya. Saya kurang paham" jelas Raina berusaha untuk tidak terdengar bodoh
Haidar mendekat, menatap mesin fotokopi, lalu beralih ke berkas yang ada di tangan Raina.
"Coba liat" ucap Haidar seraya mengulurkan tangan
Dengan cepat Raina memberikan berkas di tangannya pada Haidar. "Bapak ajarin saya aja. Nanti saya ... "
"Jafi!!!!" Ucapan Raina terputus karena Haidar berteriak kencang memanggil manajernya
Mampus
Gua di omelin nih kayaknya
"Ya ... " Jafi berjalan cepat mendekati Haidar dan Raina
"Lu tuh gimana sih, ini berkas siapa? Kata lu dia staf exim" tanya Haidar seraya mengulurkan berkas yang Raina berikan tadi
"Hah?" Jafi menatap berkas itu bingung lalu menatap Raina "Al, ini siapa yang minta?"
"Mba Lusi pak, tapi gapapa kok. Saya bisa bantu" ucap Raina mencoba tak mempermasalahkan hal tersebut
"Lu di gaji buat tugas yang ada di job desc lu Al, kalo di awal lu gini, nanti ngelunjak anaknya" ucap Jafi
Raina tak tahu harus berkata apa, ia menggigit bibir bawahnya.
"Lu ajarin deh dia make ni mesin. kalo dia ngotot mau bantu yaudah, asal jangan ngdumel besok-besok" Haidar bicara pada Jafi kemudian berlalu pergi
Saat Haidar sudah jauh, Jafi menyentil kening Raina pelan "Lu tuh bener-bener ya"
"ih, gua mana tau dia bakal marah, elah" keluh Raina
"Al, lu masuk kesini udah susah, jangan di sepelein dong"
"Gua gak nyepelein, tapi kan lu tahu sendiri gua gak enakan"
Jafi menghela nafas, "yaudah sini gua ajarin, nanti gua ngomong ke Lusi deh biar lu gak disuruh-suruh seenak jidat dia"
"ih jangan lah kak!!" Raina memprotes
"liatin gua" Jafi mulai mengajari Raina mengoperasikan mesin foto copy tadi.
Raina dan Jafi memang sudah saling kenal, mereka pernah tinggal di komplek yang sama, Jafi lebih tua maka dari itu Rainan memanggilnya Kak. Tetapi Raina masuk ke kantor bukan karena Jafi, Ia benar-benar melamar sendiri, mengikuti prosesnya dari awal, Jafi tidak ikut campur apapun kecuali memberitahu pada Raina lowongan untuk posisi itu dulu.
***novurieen***
Haidar keluar dari ruangannya, bersiap untuk pulang. Beberapa karyawan divisinya juga melakukan hal yang sama, langkah kaki Haidar pun melambat, membiarkan mereka pergi lebih dulu.
Berjalan pelan, Haidar menoleh dan mendapati Althara Raina, staf exim baru yang tidak bisa menggunakan mesin fotokopi masih sibuk dengan monitor dan keyboard nya.
Kaki Haidar berhenti melangkah, memperhatikan staf baru nya itu. Saat kening Raina berkerut, tanpa Haidar sadari keningnya juga ikut mengernyit.
"Akh! kenapa sih NoA nya dateng sore-sore gini! nyebelin banget ih! mau pulaaaanggg!!" suara keluhan Raina entah mengapa membuat Haidar tersenyum tipis
Dilihatnya Raina mendangak menatap jam dinding. Wanita itu terlihat menimbang sesuastu. Beberapa detik berlalu, Raina terlihat menggembungkan pipinya.
"Pulang aja kali ya, nanti bus nya lama gimana" gumaman Raina masih bisa Haidar dengar
Ekspresi wajah Raina berubah-ubah, dari datar, tersenyum, mengernyit, lalu cemberut membuat Haidar tersenyum tipis.
Tiba-tiba saja Raina menoleh ke arah Haidar.
Spontan Haidar memalingkan wajahnya, tatapannya tak fokus, ia berusaha mencari alasan.
"Pak Haidar belum pulang?" tanya Raina seraya berdiri dari kursinya menghadap ke Haidar
Haidar memasukan kedua tangannya ke saku celana "mau" ucapnya singkat, tak ada kata lain yang ada di kepala Haidar saat ini.
"Oh ... kalau begitu, hati-hati ya pak" ucap Raina
Namun Haidar bukannya langsung pergi, ia justru menatap Raina tanpa mengatakan apapun.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Raina
"Nama lu itu, Althara Raina kan?" tanya Haidar asal
Raina mengangguk, "benar pak"
"Oke, Rain. beresin meja lu, ini udah jam pulang" ucap Haidar
"oh, bentar ... "
Haidar tak mendengarkan ucapan Raina selanjutnya, Ia memalingkan wajah dan pergi meninggalkan Raina.
Kenapa lu gagap sih?
TBC