
Raina membawa satu lembar kertas hasil cetak file Excel dari data yang Haidar minta tiba-tiba tadi. Menghela nafas, Raina berjalan mendekat pada ruangan Haidar, tepat di depan pintu, Raina mengetuk pintu ruangan itu, lalu membuka pintunya sedikit memastikan tak ada siapa-siapa di dalam.
Sosok Haidar yang duduk terlihat menoleh mantap Raina dengan wajah datar, kepalanya mengangguk kecil, mempersilahkan Raina masuk.
"Permisi Pak, saya bawa yang tadi Bapak minta" Raina masuk sambil berbicara
Pintu ruangan Haidar tertutup otomatis
"Duduk"
Raina mengangguk, duduk dihadapan Haidar. Tangannya terulur menyerahkan kertas yang dibawanya.
"Susah gak?" tanya Haidar sambil meraih kertas dari Raina
"Susah apa nya ya Pak?"
"Kerjanya"
"Oh, enggak kok. Udah biasa saya, di kantor sebelumnya mirip-mirip disini. Walau disini lebih banyak sih barang nya, jadi sedikit bikin pusing dan butuh ... " ucapan Raina terhenti, ia sadar baru saja bicara tanpa henti
Sebelah alis Haidar terlihat naik.
"Maaf Pak, kebablasan" Raina menutup mulutnya dengan satu tangan
Mata Raina melebar saat melihat Haidar tersenyum, ia terkejut.
"Kebanyakan kerjaannya?" Tanya Haidar, masih ada senyum tipis di wajahnya
"Iya ... eh, enggak maksudnya Pak. Engga kok" Raina mengibaskan tangannya
Haidar melihat kertas yang tadi Raina bawa, tak lama Bos Raina itu menaruh kertas tersebut di sisi Meja, lalu kembali menatap Raina.
"ada yang salah ya Pak? itu masih proses kok, satu-satu saya prosesnya" jelas Raina khwatir Haidar marah
"Rain, kalo rekan kerja lu nyerahin semua ke lu, lu bisa protes kok" ucap Haidar
"Hah?"
"Gua tau kalo ini bisa di bagi, ini udah gua liat beberapa hari yang sibuk lu sendiri, balik paling belakang, istirahat paling sebentar" ucap Haidar
Raina diam, mengedipkan matanya beberapa kali.
Dikantornya yang lama, Raina tak pernah mendapat perhatian seperti ini. Saat ia mengerjakan semuanya, atasannya hanya diam, rekan kerjanya terus meminta tolong, lebih tepatnya melimpahkan pekerjaan ke Raina.
"Saya ... "
"Lu bilang gapapa juga gua yang ngeliat jadi kesel"
"Maaf Pak" Raina menundukan kepala, padahal ia tidak salah, tapi kata itu terucap begitu saja
"Ngapain lagi lu minta maaf?"
Raina menegakan kepalanya lagi. Menatap Haidar.
"Gua ntar ngomong sama Jafi, dia jadi manajer harusnya bisa ngeliat kinerja masing-masing karyawannya"
"Pak, saya khawatir kalau Bapak negor yang lain, nanti saya yang kena. Saya tahu saya masih baru disini"
"Justru karena lu masih baru, harus dari awal di tegasin, kalo gak mereka gitu terus"
Raina diam
"Rain, tenang aja. Gua gak akan bawa nama lu"
Kali ini Raina masih diam, ia baru sadar jika Haidar selalu memanggilnya Rain, bukan Al seperti yang lain. Rain adalah nama panggilan orang-orang terdekatnya, seperti kedua orang tuanya.
"Hari ini gak usah lembur. Gak ada yang urgent dari data lu. Bisa di besokin" ucap Haidar
Raina pun beranjak dari kursi, "Baik Pak, saya permisi"
Kok bisa bisanya dia manggil gua Rain sih?
aneh, tumben bos manggil nama belakang bukan depan
***novurieen***
"Divisi Lu kerja nya bisa cepetan dikit gak sih?" Javan mengehntikan langkah Haidar yang sebelumnya ingin masuk ke dalam ruangannya
Spontan kepala Haidar menoleh ke arah ruangan staf nya, beberapa staf menatap mereka, beberapa ada yang menunduk. Haidar menghela nafas panjang.
"Gak usah pake teriak bisa?" tanya Haidar pelan
"Gua gak teriak, cuma gua kencengin dikit suara gua" jawab javan
Haidar mengulum bibirnya, menahan diri agar tidak berteriak dihadapan staf nya. "Lu mau ngobrol disini?"
"perlu? biar sekalian yang lain denger" ucap Javan
"Oke Bapak Javan yang terhormat, kita bicara disini" Haidar menegakan tubuhnya, menatap Javan tegas
Javan pun sama, menatap Haidar dengan ekspresi angkuh.
"Semua"
"Semua itu apa? bapak tahu proses kerja di divisi kami? harusnya tahu sih"
Javan mencibir
"Untuk proses penerbitan PO, kami sudah sangat cepat, tapi dari bagian perencanaan yang terus memberikan permintaan di waktu yang berdekatan dengan deadline. kami menerbitkan PO kurang dari satu hari, setelah itu pembayaran, proses pembayaran bisa lebih dari satu minggu, itu bukan tanggung jawab kami, tanggung jawab keuangan, silahkan Bapak tanya ke bagian terkait kenapa bisa lama. lalu proses pengiriman, semua sudah sesuai permintaan dan waktu terecepat, tapi adanya port congestion di akhir tahun diluar kendali kami, kami proses semua satu persatu ke bea cukai, jika ada satu dua kiriman yang dapat respon merah, itu juga diluar kendali kami, Bapak tahu kan kalai red line itu acak? sisa nya kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan jika bisa proses customs hanya satu hari. penjelasan apa lagi yang bapak perlukan?" jelas Haidar panjang lebar hingga ia harus mengatur nafasnya setelah menjelaskan itu pada Javan
Tak menjawab, Javan tersenyum, mendekat pada Haidar dan memeluknya. "duh, adek gua udah paham banget"
Haidar mendengus
Setelah itu, Javan pergi dan Haidar mendekat pada ruangan staf nya. "Yang dibilang Javan tadi ada benernya, gua cuma cari pembelaan aja"
Jafi dan yang lainnnya menoleh ke Haidar
"Pembagian kerja harus sesuai, gua udah bilang ke Jafi kan?" Haidar menatap Jafi
"Iya Pak"
"Yang keberatan sama kerjaannya ngomong sama Gua, kalo gak berani ngomong ke Jafi. Jangan dilimpahin ke orang laen, ngerti?"
"Siap Pak" jawab semuanya
Haidar mentap ke arah Raina sebentar, lalu berbalik dan pergi.
Beberapa jam berlalu hingga jam pulang tiba, Haidar mendengar keributan dari luar ruangan, yang mengartikan semua stafnya sedang berlari ke arah lift. Berebut untuk naik lebih dulu.
Haidar menunggu hingga suara ricuh hilang sebelum Ia akhirnya beranjak dari kursi, mengambil jas nya kemudian berjalan ke luar ruangan.
Kaki nya melangkah ke arah lift, saat itu pula ia berpapasan dengan Raina. Wanita itu seorang diri.
"Oh, Pak ... " ucap Raina
"Gak ikut berebut?" tanya Haidar
Raina tersneyum dan menggeleng "enggak deh, jumat ini. Besok libur jadi santai aja pulangnya"
Haidar mengangguk, berjalan ke arah lift dan diikut oleh Raina.
"Pak, yang Pak Javan marah tadi itu beneran serius? saya lama ya pak urus clearance nya?"
"kenapa jadi lu?"
"karena lagi banyak banget barang dateng, barengan semua"
Haidar berhenti tepat di depan lift, menoleh menatap Raina yang tengah cemberut. Segala ekspresi Raina membuatnya tersenyum, itu yang Haidar sadari sekarang.
"Ya kerjain satu-satu, lu lebih ahli. Tapi Javan cuma mau tau gua ngerti atau gak kok. gak usah dipikirin" jawab Haidar
"Semoga ya Pak, kalo yang di maksud saya, duh ... penilaian saya bisa jelek nanti"
"Yang nilai lu kan nanti gua"
Raina menoleh "emang Pak Javan gak ikut campur?"
"Enggak"
Pintu lift terbuka, Haidar masuk lebih dulu kemudian diikut Raina.
"Syukur deh" ucap Raina "Kalo Pak Javan ikut nilai, kayaknya saya bisa jadi karyawan kontrak dua tahun atau bahkan diputus kontrak kali ya pak"
Haidar menoleh, sedikit menunduk menatap Raina yang masih memasang wajah cemberut.
"Gak akan"
Raina menoleh, mendangak menatap Haidar. "Pak, bapak baik banget, tahu gak?"
Sebelah alis Haidar terangkat
"Padahal awalnya saya kira jutek galak, ternyata baik dan jago nyanyi" lanjut Raina
Haidar measih menatap Raina.
"Rain ... " panggilnya setelah beberapa detik
"Ya Pak?"
"Ikut gua makan malem"
"Hah?" mata Raina membulat
"gak ada bantahan atau nilai lu jelek nanti" ucap Haidar bertepatan dengan pintu lift yang terbuka
"Pak! kok gitu sih!" teriakan Raina diabaikan Haidar, karena ia lebih dulu keluar lift dan berjalan mendahului Raina.
Haidar tersenyum tipis
TBC