825

825
Raina



Raina duduk diam sambil menatap ke arah halaman rumahnya. Ia menghela nafas, memikirkan kehidupannya beberapa tahun kebelakang.


Hidup seorang diri ternyata sangat melelahkan, apalagi Raina bukan tipe orang introvert, ia suka mengobrol, bercanda, melakukan banyak hal entah itu penting atau tidak. Raina merindukan hari-hari nya yang ramai bersama mama dan papa nya, ia merindukan gelak tawa setiap hari di rumah, ia merindukan suasana ramai walau hanya ada tiga orang di rumah, ia merindukan mama dan papanya.


Sebagai seorang yatim piatu, sesekali Raina merasa iri dengan teman-temannya yang masih memiliki keluarga yang lengkap, terlebih saat melihat mereka pergi bersama, kerinduan terhadap keluarganya yang utuh pun sering muncul dan membuatnya menangis.


Sebelum ditinggalkan orang tua nya, Raina bukanlah anak yang mudah menangis. Ia sangat kuat, tangguh dan berpikiran positif. Berbeda dengan sekarang, ia jadi lebih sensitif.


Tin!


Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Raina, ia melihat mobil Jafi berhenti di depan rumah nya.


Segera Raina mengunci pintu, lalu berlari kecil menghampiri Jafi.


Raina membuka pintu depan mobil, "gua kira lu ... " ucapan Raina terputus saat ia mendapati Haidar duduk di kursi penumpang depan. Bos nya itu mendangak menatap Raina.


"Lu duduk di belakang gapapa ya Al?" Tanya Jafi dari kursi pengemudi


Raina masih diam, mencerna situasi sekarang.


"Masuk dulu Al, entar gua jelasin" lanjut Jafi


Akhirnya Raina mengangguk, tanpa mengatakan apapun ia duduk di kursi belakang. Walau agak takut, tapi Raina mencoba menahannya, ia sudah berlatih untuk duduk di kursi belakang mobil setahun ini, harusnya hari ini ia akan baik-baik saja.


Memakai sabuk pengamannya, Raina menelan ludahnya gugup.


"Lu pasti bingung, Haidar ini temen gua Al. Sengaja gak ngasih tau lu, nanti lu segan sama gua juga lagi" jelas Jafi sambil menyetir


Raina mengangguk di belakang, menatap ke arah spion depan.


"Tadi gua ketemu dia dulu, terus gak tau kenapa dia pengen ikut. Gapapa kan?" Tanya Jafi lagi


"Iya, gapapa" jawab Raina sambil memegang sabuk pengamannya


Beberapa menit menuju mall yang menjual berbagai kebutuhan rumah, Raina hanya diam, ia terus menggenggam erat sabuk pengamannya.


"Udah kenal sama tetangga? Pasti udah beda ya orang-orang nya?" Tanya Jafi


"Baru tetangga sebelah aja"


"Lu gak usah sungkan, ngobrol santai aja sama Jafi. Gua cuma bosen" suara Haidar terdengar untuk pertama kalinya


"Iya Pak" jawab Raina


Padahal Raina bukan merasa sungkan, ia sedang melawan ketakutannya.


Tak lama mereka tiba di mall, berjalan bertiga membuat Raina canggung, karena entah mengapa ia bisa berada di tengah-tengah antara Jafi dan Haidar.


"apa aja yang belom ada?" tanya Jafi


Raina menoleh dan mendangak "banyak, tapi beli dikit dulu deh"


"barang-barang lama udah pada gak ada?" tanya Jafi lagi


Kepala Raina menggeleng pelan "sejak mama sama papa gak ada, mau gak mau aku jual-jualin yang bisa dijual buat sekolah dan kuliah"


"sorry Al" suara Jafi melemah


"Santai aja, masa lalu itu. Sekarang udah oke kok" Raina tersneyum lebar


Menghidupi dirinya sendiri yang masih remaja, membayar semua urusan pembelajaran sampai urusan perut, Raina memang menjual harta orang tua nya, agak sedih memang, tapi Raina kuat, akan lebih sedih jika orang tua nya di sana melihat dirinya kelaparan. 


"Gua beliin satu yang lu butuh" Suara Haidar membuat Raina menoleh


"hah? eh ... enggak usah Pak. Gapapa, saya punya uang kok" Raina mengibaskan kedua tangannya sambil menatap Haidar


Namun Bos nya itu lagi-lagi tak menanggapinya


"Terima aja" 


Akhirnya Raina hanya mengangguk, mereka bertiga pun mulai berbelanja. Raina memulai dengan membeli tempat tidur baru, karena yang ada sekarang sudah sangat tua dan rasanya tidak nyaman, lalu membeli lemari, beberapa nakas, lampu tidur hingga karpet. 


"Gua ganti gak?"


"ya nggak" Jafi memegang kepala Raina dan mengcak rambutnya


Raina tertawa kecil, lebih tepatnya senang karena ia menghemat uang untuk sofa. 


Setelah membayar di kasir dan mengatur waktu serta alamat pengiriman, Raina, Jafi dan Haidar keluar dari toko perlengpan rumah. 


"Lu katanya mau beliin, masa diem aja dari tadi" Jafi bicara pada Haidar


"Ih, jangan gitu" Raina sedikit memukul lengan Jafi, "Gak usah Pak, serius" Raina berpindah menatap Haidar


"Kurang apa? Sisanya gua yang bayar" ucap Haidar


Raina menggeleng cepat "nggak pak, udah cukup, udah semua kok tadi" ucapnta cepat


"Kayaknya TV, kompor, gas, perkakas dapur, kulkas, microwave, sama hmp!" Raina dengan cepat menutup mulut Jafi


"Oke, gua beliin semua"


"Nggak ya!!" Raina spontan berteriak, lalu saat Haidar menatapnya sambil mengangkat sebelah alisnya, Raina lansung menangkupkan kedua tangannya "maaf pak, kelepasan"


"Haha ... udah terima aja. Si Haidar duitnya kebanyakan, daripada buat mabok, mending buat sedekah ke lu" ucap Jafi


"Ih! Emang gua apaan patut di sedekahin?" Raina mencubit pelan lengan Jafi


"Ayo beli" Haidar berjalan lebih dulu


"Pak! Serius deh! Saya gak butuh itu semua kok" ucapan Raina kembali di abaikan


Raina menatap Jafi tajam "lu sih!"


"Sama-sama"


"Ish!"


***novurieen***


Haidar menatap keluar kaca ruang kerjanya yang entah mengapa langsung berhadapan dengan mesin fotokopi. Masih menjadi pertanyaannya, mengapa mesin fotokopi di taruh di depan ruang direksi? 


Keningnya mengernyit saat melihat sosok Raina datang dan mulai mengoperasikan mesin fotokopi. Wanita itu membawa tumpukan berkas lalu memasukannya sebagian ke tray atas mesin fotokopi. Tangan gadis itu lihat menekan tombol di mesin kemudian kertas yang di atas tray satu persatu masuk. 


Mata Haidar tak lepas dari sosok Raina, karena tubuh wanita itu tak berhenti bergerak, seperti sedang berdendang dan mengikuti nyanyiannya sendiri. 


Tanpa Haidar sadari, Ia tersenyum tipis. Althara Raina, staf Exim baru nya yang sangat terlihat berjiwa extrovert. 


Beberapa detik kemudian, Raina membalik badannya, sontak saja Haidar mengambil berkas asal dan menutup wajahnya dengan berkas itu. Ia menarik sedikit berkas ke kiri agar matanya bisa memastikan Raina tak melihat ke arah nya lagi. Tapi Haidar justru mendapati Raina tengah bercermin, menatap rambutnya, menepuk-nepuk kemeja dan rok nya bergantian. Kemudian Raina menangkup wajahnya sendiri dengan kedua tangan, memajukan bibirnya, menggembungkan pipi, lalu menyipitkan mata. Sepertinya kaca ruangannya tak bisa dilihat dari luar, otomatis Haidar menurunkan tangan dan mengamati perilaku Raina. 


ngapain coba dia? 


Sepertinya mesin fotokopi selesai menyalin berkas pertama, Raina kembali membelakangi ruangan Haidar, lalu memasukan berkas yang lain. Wanita itu pun mengambil hasil salinan sebelumnya, merapihkannya. 


Mata Haidar menyipit saat sosok Jafi entah dari mana muncul, mendekati Raina, bicara sesuatu kemudian mereka berdua tertawa. 


"Katanya gak mau ketahuan temenan" gumam Haidar seorang diri


Penasaran obrolan apa yang dibicarakan Jafi dan Raina, Haidar beranjak dari kursinya lalu keluar, spontan Jafi dan Raina menoleh menatapnya. 


"Pak ... " Sapa Raina


"Rain, bisa kasih gua list barang yang udah sampe di bea cukai?" ucap Haidar asal saat Raina dan Jafi menatapnya bingung


"Ya Pak, saya siapkan!" Raina berbalik, mengambil hasil fotokopi nya, lalu berjalan pergi sambil sedikit membungkuk saat melewati Haidar


Haidar menatap Jafi sebentar, lalu membuang muka dan masuk ke dalam ruangannya lagi. 


"apaan sih gua" 


TBC