Young, Wild And Free

Young, Wild And Free
Eps. 04



Tak terasa sepuluh menit berlalu, mereka pun telah menyelesaikan tugas tersebut.


"fuhh... akhirnya selesai juga ni tugas. thanks ya si, lo udah mau bantu nyiapin tugas gua sampai selesai... "


"iya sama sama, anggap aja ini sebagai tanda permintaan maaf ku karena tadi pagi aku gk sengaja nabrak kamu..."


"Apaan dah... kan gua udah maafin lo soal yang tadi pagi... pokoknya lo harus terima traktiran gua, sebagai imbalan lo udah mau bantuin gua... titik" ucap Max kesal karena Nimshi tetap tidak mau menerima tanda terimakasih nya tersebut.


"sudahlah... lupakan... mendingan kamu beresin buku-buku yang kamu gunakan dan kamu kembalikan ketempatnya semula... 5 menit lagi lonceng masuk akan berbunyi"


"Gimana sih lo... kan gua jadi ngerasa punya hutang budi kalau lo gk mau nerima traktiran gua..."


Nimshi tetap tidak mau menerima imbalan yang diberikan oleh Max dan berjalan menjauhi Max menuju kelas.


"pak, Nimshi duluan ya... soalnya tugas si Max sudah selesai, dah pak Hari..." melambaikan tangannya.


"loh... si Max nya mana... kok kamu tinggalin... ?" ucap pak hari yang kebingungan.


"Max nya masih di lorong 2... nyusun buku yang tadi dia pakai untuk ngerjain tugas pak"


"Kamu gk ikut bantu nyusun bukunya nak?"


"gk deh pak... Nimshi harus cepat sampai kelas karena tadi bu Liza memberi amanat untuk mencatatkan tugas yang harus diselesaikan hari ini di papan tulis pak..."


"ya sudah, belajar yang giat ya nak" ucap pak Hari yang telah menganggap Nimshi seperti anaknya sendiri.


"siap komandan... hehe..." mengangkat tangannya dan memperagakan sikap hormat.


Sementara itu, Max berlari dari lorong 2 menuju ke meja pak Hari di dekat pintu perpustakaan.


"pak... bapak ada liat Nimshi gk?" tanya Max yang dari tadi tergesa-gesa.


"loh, Nimshi nya udah ke kelas, katanya ada amanat dari bu Liza... kamu mending cepet ke kelas, jangan sampai telat masuk, nanti dihukum lagi loh..."


Sesampainya di kelas, Max melihat Nimshi sedang sibuk membuka lembaran buku yang diberikan oleh bu Liza yang akan dicatatkan Nimshi ke papan tulis.


"teman-teman... hari ini bu Liza tidak dapat hadir karena ada keperluan mendadak... sebagai gantinya, kita diberi ringkasan untuk kita pelajari di rumah..."


"sip Nimshi..." kata Tita, Laura dan teman-teman yang lainnya.


1 ½ jam berlalu... Waktu pelajaran bu Liza pun berakhir. Nimshi bergegas pulang karena hari ini ia harus membantu ibunya menjajakan gorengan ke tetangga di sekitar rumahnya.


Tetapi hari mulai mendung dan sepertinya akan hujan.


(aduh... gimana ini... sudah gerimis dan aku harus cepat sampai rumah membantu ibu menyiapkan dagangannya) pikir Nimshi.


Ia pun bergegas mencari angkutan umum yang menuju ke arah rumahnya, tapi sayangnya sudah setengah jam ia menunggu, tidak ada angkot yang lewat.


"hei... lu lagi ngapain...?" ucap Max yang datang dan mengagetkannya.


"kamu lagi..." ucap Nimshi kesal. "aku lagi cari angkot yang menuju kerumah... kamu ngapain disini, kok belum pulang...?"


"ya gua nyariin elo , kan gua masih ada utang sama lo"


"utang lagi utang lagi... gini aja deh, kalau kamu ngebet banget pengen bales budi... gimana kalau kamu anterin aku pulang... karena jam segini udah gk ada lagi angkutan umum yang lewat" sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 17:15 WIB.


"gimana ya... oke deh... deal ya..." menjabat tangan Nimshi sebagai tanda bahwa ia sudah tidak punya hutang budi lagi.


"iya deal... udah ayo cepetan... entar gerimis nya makin lebat loh"


"ok, silahkan naik tuan putri... pegangan yang erat ya... soalnya bakal sedikit ekstream ni" Max beniat sedikit usil kepada Nimshi yang dari tadi melindungi wajahnya dengan telapak tangannya.


Motor Max pun melaju dengan cepat menuju rumah Nimshi...


bersambung.......