You're Able

You're Able
Jebakan Batman



“Yah besok aku mau jalan dengan Andini,” Alya menghampiri Ayahnya, yang duduk disofa seperti biasa. Selepas membersihkan diri, pulang dari resto.


“Jalan kemana?”


“Ya jalan keluar, emm mungkin ketaman atau ngeMall,” jawab Alya jujur sambil ikut duduk bersama Ayahnya. Karena juga ngak tau mau diajak Andini kemana.


Karena juga hanya bilang, “Besok jalan yuk Al,”


Saat situasi Restoran cenderung lenggang, Andini ikut duduk bersama Alya. Waktu makan siang juga sudah lewat, hanya ada satu dua pelanggan saja.


Tidak enak sudah melibatkan Alya dalam masalahnya, akan merasa sangat bersalah jika sampai mereka menggangunya juga. Yakin jika kedua Gadis sialan itu tidak akan berhenti sampai disini.


“Makasih Al, sudah dibelain. Tapi sejujurnya aku baik-baik saja kok, malah justru khawatir jika kamu juga ikut diganggu oleh mereka.”


Berbeda dengan Andini, Alya justru merasa senang saat ditemani duduk ditempat kasir. Jadi punya temen ngobrol, untuk menghilangkan kebosanan. Apalagi ditempat barunya ini, ia belum memiliki teman. Hanya Ayahnya saja yang menjadi tempatnya bercerita dan berkeluh kesah.


“Kalau sampai mereka masih berani mengganggu lagi, biar aku cabik-cabik nanti,” masih bersemangat dan berkobar-kobar saat membicarakan kedua Gadis pembuat onar tadi, tapi hanya ditanggapi senyuman oleh Andini.


 “Emangnya kamu kenal dengan mereka?” Tanya Alya penasaran.


“Mereka itu teman kuliahku dikampus, namanya Vira, dan yang satunya Rena. Emang suka mengganguku sih, entah dikampus atau ditempat kerja,” jelas Andini.


“Kenapa kamu tidak melawanya, orang seperti mereka itu kalau tidak diberi pelajaran tidak akan jera. Kita itu harus kuat, tidak boleh lemah. Jika kita lemah, hanya akan ditindas dan dimanfaatkan orang lain.” seperti diriku ini, batinya.


Andini menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Alya.


“Ngapain melawan mereka, buang-buang waktu dan tenaga. Aku saja sudah sering gonta-ganti pekerjaan karena ulah kedua Gadis angkuh itu. Mereka itu orang-orang berduit, jika bersalah hanya akan memutar balikan fakta. Jadi aku mengalah saja,” jelas Andini pasrah.


Namun semenjak bekerja disini ia sering dibelain Bosnya. tapi semenjak beberapa minggu yang lalu, Mas Ryan lebih sering diMalang mengurus Cabang disana. Sedangkan Mas Ricko, ngak tau pergi kemana. Tidak pernah datang keResto lagi.


Sebab itulah Mas Ryan mempekerjakan P. Burhan jadi Manager Restoran disini. Untungnya tadi juga dibelain oleh Beliau. Makasih P. Bur….


“Al besok kamu ada waktu ngak, jalan yuk kemana gitu. Eh iya, kamu di bolehin ngak oleh Ayahmu, lupa kalau kamu sedang hamil.” Andini juga senang berteman dengan Alya, karena saat dikampuspun ia juga dijahui teman-temanya, itupun karena kedua Gadis sialan itu.


“Emangnya kenapa kalau hamil? Orang hamil juga boleh kali jalan-jalan. Nanti aku Tanya Ayah dulu, emanya kamu ngak keKampus?” tau jika teman barunya ini kerja sambil Kuliah.


“Besok itu minggu Al?”


“Oh minggu ya!! Semenjak hamil, berhenti kuliah dan pindah kesini aku sudah tidak ngerti hari lagi,” Alya menanggapinya dengan lesu kurang semangat.


“Ah maaf Al, Aku ngak maksud untuk….”


“Ngak apa-apa kali, aku juga sudah lupain semua. Mungkin ini memang sudah menjadi takdirku,” menenangkan Andini yang merasa bersalah, sudah mengungkit serta membuka luka yang sangat dalam dan menyakitkan.


Semua karyawan Resto tau jika Alya hamil, diluar nikah pula. Tak terkecuali Andini, karena percuma juga di sembunyikan. Lambat laun pasti juga akan ketahuan, ia sudah siap dengan resiko, dampaknya dan apapun yang akan terjadi.


**


“Sama siapa saja, perginya naik apa?” Tanya P. Burhan khawatir.


Siapasih yang ngah khawatir, mereka baru disini. Belum mengenal banyak orang, tidak tau mana yang baik dan buruk, tulus atau ada sesuatu dibaliknya, sebagai Orangtua Beliau harus memastikan itu.


“Berdua saja yah, palingan naik motor. Kalau jadi akan dijemput kerumah,” jawab Alya dengan senang, kemungkinan akan di izinin oleh Ayahnya. Pastinya dengan bekal kata-kata mutiara.


“Hati-hati perginya, besok kalau keTaman ngak usah main yang aneh-aneh, dilihat saja. Dijaga kandunganmu…….”


“Iya yah, makasih.”


“Katanya, Andini tadi seperti melihat sosok Ayahnya lagi.  Merasa senang saat Ayah belain tadi.” Mengalihkan pembicaraan, bosen jika harus mendengarkan Pidato Ayahnya.


“Baguslah jika dia senang, Ayah juga ikut bahagia mendengarnya,” jawab P. Burhan santai dan tersenyum.


“Apa ayah suka dengan Andin, Dan tidak cinta lagi sama Ibu?” protes Alya, yang dibungkus pertanyaan.


“Ngak tau sih yah, aku pernah jatuh cinta. Eh malah salah sasaran.” Menjawab dengan getir, apa yang pernah dialaminya. Kata orang cinta dan benci itu bedanya hanya setipis kertas dibelah jadi tujuh. Dulu Alya pernah mencintai seseorang, tapi hanya dalam hitungan menit saja semua berubah menjadi benci.


“Kalau ayah ngak cinta, tidak mungkinlah ada kamu!” Alya sudah mulai tersenyum, bisa menebak isi hati ayahnya.


“Jadi ayah masih cintakan dengan Ibu?” masih mencecar dengan pertanyaan yang sama.


^^^“Dulu Ayah pernah mengatakan cinta pada seseorang, tapi sampai sekarang belum tau apa itu arti kata cinta.”^^^


^^^Yaelah P. Bur… bilang cinta gitu saja susah amat, apa perlu minta readers ajarin? C I N T A, cinta.^^^


“Mungkin cinta itu hanya sebuah kata, yang hanya butuh waktu satu menit untuk mengatakanya, atau mengungkapkanya pada seseorang. Tapi membutuhkan waktu seumur hidup untuk membuktikan cinta itu.


Ayah pernah mengatakan cinta pada Ibumu, dan Ayah akan membuktikanya seumur hidup Ayah.”


Biasanya jika membicarakan cinta Ayahnya, Alya akan cengengesan menggodanya. Tapi saat ini malah terharu dengan ungkapan isi hati Ayahnya.


“Maaf Yah, gara-gara aku Ayah harus berpisah dengan Ibu,” langsung memeluk Ayahnya, terisak dan menitikan airmata. Menyadari kesalahan yang sudah diperbuatnya. Yang mengakibatkan harus berjahuan dengan Ibunya.


P. Burhan masih dipeluk oleh Alya, membelai dan mengusap rambutnya pelan.


^^^“Ayah harus memilih diantara kalian, Anak atau Istri. Jika ada pilihan ketiga, pasti akan langsung memilih itu.”^^^


^^^Tapi sayangnya ini bukan soal pilihan Anak SD, pilihlah jawaban yang benar. A, pilih Anak. B, pilih Istri. C, pilih Anak dan Istri.^^^


“Kamu tau kenapa Ayah memilihmu? Ayah hanya ingin memberi tahu Ibumu, bahwa seorang Anak adalah tanggung jawab Orang tuanya. Jika seorang Anak melakukan kesalahan, tugas Orang tua adalah membimbingnya kembali kejalan yang benar. Bukan malah membuangnya dan meninggalkanya.”


P. Burhan melihat putrinya itu, yang sudah tenang dan tidak bergerak lagi. Setelah Beliau menengok dan mengamati lebih jelas lagi, bisa memastikan jika putri tercintanya itu telah tertidur.


“Yaelah anak ini, kena Jebakan Batman lagi. Besok-besok jika diajak ngobrol begini lagi ngak akan mau, dari pada berurusan dengan gendong-menggendong.”


**


P. Burhan menghela nafas, melihat Alya yang masih tertidur dalam pelukanya. Mencium puncak kepalanya dan mengusap bahunya dengan kasih.


“Jika tau kelakuanmu seperti ini, mungkin Ayah akan memilih Ibumu dirumah, haha.” Canda P. Burhan.


“Jika disuruh memilih lagi, Ayah akan memilih Ibumu. Tapi saat ini ada pengecualian, kamu tau Al kenapa Ayah memilih Ibumu?” P. Burhan bercerita sambil tetap membelai Alya, seolah memberinya dongeng pengantar tidur. Tapi sayangnya yang didongengi sudah terbang kealam mimpi.


“Kalau disuruh memilih Orangtua dan Ibumu, Ayah akan tetap memilih Ibumu. Karena ia Ayah sendiri yang memilihnya, meski ada campur tangan Tuhan.


Tapi Orangtua siapa yang bisa memilihnya, siapa yang bisa memilih jadi Anaknya siapa?


Anak, Siapa yang bisa memilih punya Anak yang bagaimana? Tapi juga bukan berarti memilih Ibumu lantas meninggalkanmu dan menelantarkan Orangtua. Ayah tetap merawatmu dan menghormati Mereka.


Maksudnya, Orangtua suatu saat akan meninggalkan kita, begitupun dengan Anak. Akan menikah, ikut dengan pasanganya, atau mungkin punya kehidupanya sendiri.


Tapi seorang Istri, ia yang akan menjaga dan merawat Ayah saat sakit, menemani dimasa-masa tua.


Orang tua adalah orang yang akan menjaga dan merawat Anak-anaknya dengan baik, tidak ada yang lebih baik darinya. Tapi saat mereka sudah tiada, pasangan kalian lah yang akan menggantikan semua tugas itu.


Seorang Anak? Jangan berharap lebih kepada mereka. Seorang Anak tidak akan pernah sebaik Pasangan dalam melakukan hal tersebut.


Sudah malam Al, sebaiknya kita tidur!” setelah Beliau melihat putrinya, beliau malah tergelak sendiri.


“Eh kamu sudah tidur ya, ternyata merawat orang hamil itu bikin cepat pikun Al.”


*Selamat membaca


*Patto