
Pagi hari, disebuah kamar yang berantakan. Entah bagaimana tadi malam penghuninya tidur, sampai-sampai bantal, guling, dan selimut tidak berada ditempatnya. Sudah terbang kemana-mana.
Apalagi entah gaya tidur macam apa ini, yang pasti tidak mencerminkan jika yang sedang meringkuk dikamar ini adalah seorang perempuan.
Untungnya tidak mendengkur, apa jadinya jika sampai itu terjadi. Sudah tidurnya tidak bisa diam, selalu ganti gaya sepanjang malam. Ditambah lagi ngorok, lengkap sudah pasti penderitaan suaminya kelak saat tidur bersama.
"Hoahh." Alya menutup mulutnya saat menguap, mengucek-ucek matanya yang terasa lengket. Seperti ada sesuatu yang menempel disana. Bukan hanya dimatanya, tapi juga dipipinya. Kelihatan ada sebuah gambar peta pulau Kalimantan.
Duduk diranjang dengan sedikit kebingungan, entah apa yang dipikirkanya. Mungkin bukanya sedang berfikir, tapi nyawanya masih belum sepenuhnya masuk. Sebagian masih ada yang antri, dan yang lain sedang lari-larian dikamar.
"Perasaan aku semalam tidur disofa deh, saat ngobrol dengan Ayah. Kenapa aku bisa ada disini?" berusaha mengingat-ingat kejadian semalam, sebelum terbang keatas awan.
Hasilnya nihil, kecuali ia berbicara dengan Ayahnya disofa ruang tengah. Setelahnya tidak mengingat apapun lagi.
"Apa Ayah yang mindahin aku? Sepertinya itu bukan mimpi deh," Alya mengingat mimpinya semalam, bahwa Ayahnya menggendongnya kekamar dan mengatakan jika dirinya berat.
"Mungkin aku tanyain saja keAyah."
Mengikat rambutnya asal dan berjalan keluar kamar. Ingin menemui Ayahnya untuk mencari tau kebenaran mimpinya semalam.
Saat keluar kamar telinganya mendengar sebuah suara alat perang sedang beradu, yang berasal dari dapur. Langsung menuju kesana, karena yakin jika itu pasti ulah Ayahnya yang sedang memasak.
Sekarang P. Burhan sedang memasak didapur. Karena beliau pernah bekerja sebagai Manager Restoran, jadi Beliau bisalah memasak beberapa makanan. Tapi jangan bandingkan dengan masakan Chef ya, pasti kalah jauh lah.
Begitu melihat seseorang yang dicarinya, Alya langsung memanggilnya, "Yah."
P. Burhan langsung nengok saat merasa ada yang memanggilnya, sebenarnya Beliau juga sudah tau jika itu putrinya. Karena dirumah ini hanya ada mereka berdua, lagian yang menggunakan panggilan itu juga hanya Alya saja.
Bahkan sebelum memanggilnya pun P. Burhan juga sudah tau jika itu Alya, karena Beliau sudah hafal betul dengan langkah kaki anak semata wayangnya itu.
"Ya, ada apa Al?" Tanya P. Burhan.
Penasaran apa yang akan dibicarakan Alya, ada sedikit kecemasan dibenakya. Khawatir jika putrinya itu kurang nyaman atau tidak betah dengan rumah barunya.
"Apa kandunganmu bermasalah? Atau kamarmu kurang nyaman, jadi tidurmu terganggu. Atau..."
"Ngak yah, kandunganku baik-baik saja kok. Kamarnya juga nyaman banget malah, semalam saja tidurku nyenyak banget!" langsung menyanggahnya. Menenangkan Ayahnya yang sangat mengkawatirkanya.
Ada sedikit kelegaan yang telihat diwajahnya P. Burhan, saat mengetahui tidak terjadi masalah apapun terhadap Alya dan Kandunganya, "Terus ada apa?"
Alya sedikit malu dan canggung saat ingin bertanya pada Ayahnya. Masa dirinya yang sudah sebesar ini masih diperlakukan seperti itu, macam anak kecil saja.
"Eee anu yah, apa Ayah yang mindahin aku kekamar?"
"Kirain mau ngomong apa! Emangnya ayah ngak punya kerjaan apa, mindahin kamu segala. Sudah sana mandi, ganggu ayah masak saja. Lihat itu dipipimu ada pulau Papuanya," jawab P. Burhan cuek, kembali melanjutkan acara memasaknya. Takut gosong jika ditinggal ngobrol lama-lama.
Sedangkan Alya hanya nyengir kuda saat menyadari ada yang aneh dipipinya. Sebelum beranjak untuk mandi sudah di ingatkan kembali oleh Ayahnya, "Jangan lupa kamarmu diberesin juga, nanti ayah tunggu dimeja makan."
"Iya yah!" langsung berlari kekamarnya, sebelum diceramahi Ayahnya lagi. Pasti beliau sudah hafal betul dengan kondisi kamarnya Alya waktu pagi.
"Heh hati-hati... hufh anak ini!" P. Burhan dibuat frustasi oleh kelakuan putrinya, Alya yang hamil tapi beliau yang begitu khawatir. Mungkin lupa jika sekarang dirinya sedang berbadan dua.
**
"Al, kamu sudah memeriksakan kandunganmu?"
"Belum yah, aku belum pernah periksa. Waktu itu saja hanya datang keDokter umum, "Alya menjawab sambil menikmati sarapanya, sebenarnya hanya dia saja yang makan. Ayahnya sudah selesai, makanan dipiringnya sudah habis daritadi, hanya menemani putrinya saja. Yang nambah beberapa piring lagi, mungkin nafsu makanya bertambah efek hamil.
Ada sedikit keharuan pada Alya, pasalnya Ayahnya selalu perhatian padanya. Ia yang hamil tapi Ayahnya selalu memikirkan semua kebutuhanya, dari mulai A-Z. bahkan setiap hari selalu membuatkan Susu Kehamilan untuknya.
Seperti saat pertama kali pindah kesini, "Ayah buat susu kok cuma satu?"
Alya bertanya pada Ayahnya sambil nunjuk segelas Susu yang ada diatas meja.
"Kan yang hamil hanya kamu, ngapain Ayah minum susu untuk Ibu hamil?"
"Jadi ini untuk aku yah? makasih yah, Ayah adalah Ayah terbaik didunia. paling keren, paling ganteng pokoknya." Alya sangat senang sekali dan bahagia saat Ayahnya selalu memperhatikan dan memanjakanya seperti ini.
Padahal Alya yang hamil, tapi Ayahnya yang selalu mengurus segala kebutuhanya. Seolah Ayahnya yang lebih tau tentang kehamilan.
**
"Nanti setelah sarapan kita periksa dulu, sebelum berangkat keResto."
P. Burhan mengajak Alya untuk memeriksakan kandunganya, karena beliau juga sedikit heran. Lantaran putrinya itu tidak menunjukan tanda-tanda sebagai seorang wanita yang tengah hamil.
Entah itu mual dan muntah atau gejala yang lain, perutnya juga masih rata. Ya emang sih kandunganya juga baru masuk dua bulanan. Kalau ngidam, ngak usahlah. Kalaupun ngidam biar minta sama Ayah Bayinya sana, jangan minta padanya.
"Iya yah, makasih? Ayah terbaik pokoknya!" Alya menatap Ayahnya berkaca-kaca, penuh dengan keharuan.
"Ngak usah nangis gitu kali, ngak ada yang lucu juga," ujar Ayahnya bercanda.
Alya tersenyum sambil mengusap air matanya, sedikit terhibur dengan lelucon Ayahnya, "Ngak lucu tau, Ayah tu ngak berbakat jadi Pelawak."
"Yang pentingkan berusaha."
Makanan dipiring Alya sudah tinggal dikit, apalagi punya Ayahnya? Sudah habis dari tadi. Bukanya Alya makannya lambat, tapi porsinya yang bikin lama.
"Yah, aku jadi teringat saat pertama kali periksa keDokter. Apakah beneran hamil atau tidak, karena tidak percaya dengan alat Tespeck yang aku beli. Bukanya tidak percaya, tapi hanya berharap alat itu rusak. Siapa sih yang ingin hamil sebelum pernikahan, karena itu akan menjadi aib bagiku dan keluargaku." Alya mengingat kembali saat pertama kali mengetahui jika dirinya tengah hamil.
*Flashback
Pada hari itu badanku rasanya tidak nyaman, meriang dan sedikit mual. Males saja mau ngapa-ngapain. Sudah dua hari tubuhku seperti ini, padahal kemaren sudah minum obat untuk masuk angin.
Yang katanya orang pintar minum itu, yang untuk orang bejo juga sudah aku teguk semua. Tapi rasanya tidak ada perubahan sedikitpun, malah hari ini rasanya perutku seperti diaduk-aduk, lebih mual dari kemaren. Masuk angin macam apa ini?
"Heh, masuk angin? Mual-mual?" Alya mulai berfikir, merangkai pazel-pazel yang ada diotaknya.
Juga mengingat-ingat, kapan terakhir kalinya dia Mens. Harusnya dua minggu yang lalu kan? Tapi ini.
"Apa jangan-jangan aku hamil?"
*Selamat membaca
*Patto