You're Able

You're Able
Andini



"Mbak Alya saat ini memang sedang hamil, selamat ya Mbak atas kehamilanya. Bisa dilihat dimonitor, mungkin Janinya masih sebesar buah Anggur. Karena usia kehamilan Mbaknya baru berusia Sembilan masuk Sepuluh minggu."


"Kok belum kelihatan Dok tangan dan kakinya, cuma bulet gitu aja," Tanya Alya yang bingung dengan kondisi Bayinya, yang tidak seperti Bocah pada umumnya.


P. Burhan saat ini merasa sedikit terharu ketika melihat calon Cucunya, tapi saat mendengar ucapanya Alya, Beliau jadi ingin tertawa.


"Belum Mbak, saat ini baru seperti ini. Untuk tangan dan kakinya akan terbentuk nanti pada akhir Trisemester pertama atau awal Trisemester kedua. Saat itu itu Jari-jarinya sudah terbentuk dan Organ-organ yang lainya juga," jelas Bu Dokter pada Alya, yang entah paham atau tidak.


"Apakah Mbak Alya mengalami mual dan muntah?" Tanya Bu Dokter setelah selesai pemeriksaan, sudah duduk kembali dikursi.


"Tidak Dok, hanya makan ku saja tambah banyak," ujar Alya tersenyum malu.


"Itu wajar Mbak, setiap ibu hamil pasti nafsu makanya bertambah, kandungan Mbaknya juga sehat"


"Ini saya kasih vitamin untuk memperkuat kandunganya, dijaga ya Mbak. Jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat, jangan sering begadang dan stess"


"Iya Dok," P. Burhan yang menjawab, Alya? masa bodoh.


"Tidak disarankan untuk merokok dan minum Alkohol, sebaiknya juga hindari makanan mentah ata..." belum juga selesai Bu Dokter menjelaskan sudah disela oleh Alya.


"Siapa juga yang mau makan makanan mentah, emangnya aku Singa makan makanan mentah?" ngedumel protes.


Mungkin masih kesel dengan orang-orang tadi, kebawa sampai sekarang. Sedangkan Ayahnya hanya tersenyum canggung, melihat Bu Dokter yang sudah mulai ikut sebel juga.


"Maksudnya begini mbak, kan ada beberapa makanan yang tidak dimasak dulu. Misalnya, Sushi dan Sasimi, kita tidak tau bagaimana proses pengolahanya, hieginis atau tidak. " menjelaskan sambil menatap P. Burhan, seolah memerintah.


"Kasih tau tu anakmu!" mungkin seperti itu arti tatapanya.


"Iya dok, terima kasih saranya," jawab P. Burhan, yang langsung mengerti. Karena Alya masih cemberut tidak terima dengan ucapan Dokter tadi. Merasa dirinya yang normal, wanita hamil itu cenderung naik turun emosinya.


Dirumah nanti Beliau harus menyuruh Alya untuk lebih memperhatikan kandunganya, lantaran putrinya itu terlihat acuh dengan apa yang disampaikan oleh Bu Dokter. Sebenarnya juga sudah dilarang ikut bekerja, tapi tetap saja ngenyel. Apa boleh buat, akhirnya mencari lowongan yang bisa bekerja sekaligus menjaganya.


**


"Emangnya dia siapa, ngak bolehin ini itu. Ngak boleh kerja, angkat berat. Hey, aku tu masih sehat bugar, kalau cuma Smackdown Dokter tadi juga bisa. Mau dibanting kemana? Depan, belakang, atas, samping. Gaya bebas, punggung, kupu-kupu, tinggal pilih!!"


Alya masih saja ngedumel, ngomel-ngomel ngak jelas. Meski sekarang sudah berada dibelakang meja Kasir Resto, gondok dihatinya terus saja kebawa sampai keRestoran. Padahal sudah dibujuk dan dinasehati Ayahnya, untuk tetap tenang tidak mudah emosian. Nanti bisa Stres, serta mempengaruhi kandunganya.


"Apalagi apa itu tadi, 'Jangan makan makanan mentah'," Alya sambil memanyunkan bibirnya untuk menirukan Bu Dokter tadi, walau dilebih-lebihkan sih.


"Emangnya aku sejenis 'Sri Gila' makan makanan mentah, Eh maksudnya Srigala. Aku ini masih waras dan normal, makan yang sudah mateng, dimasak terlebih dulu."


"Brukk."


"Pyarr."


Ketika Alya enak-enaknya ngomel sambil mencaci-maki Dokter yang memeriksanya, tiba-tiba terdengar keributan dan suara gelas pecah. Mengganggu saja!


"Hei, kamu buta ya, lihat bajuku jadi basah!!" Teriak seorang Gadis muda, cantik, dilihat dari pakaianya kelihatan orang berada. Mungkin masih anak kuliahan, berdua dengan temanya.


"Maaf Kak, saya tidak sengaja," ujar seorang Pelayan, bernama Andini dengan datar, tidak ada penyesalan sama sekali. Seperti sudah terbiasa dengan hal macam ini.


"Kamu tahu bajuku ini harganya berapa? Di Import langsung dari Luar Negeri, kamu ngak bakalan mampu menggantinya meski bekerja setahun!!" sarkas Gadis yang bajunya tersiram tadi dengan cukup keras.


Seolah ingin menunjukan kelasnya, dan mempermalukan Andini yang seorang Pelayan. Karena semua pengunjung sedang menyaksikan keributan ini, tapi hanya menonton saja. Tidak ada yang melerainya.


"Kak Andin ngak salah, dia yang salah!!" seloroh Alya, sambil berjalan kearah mereka. Menunjuk kearah temanya siGadis sombong. Ingin ikut dalam acara adu urat saraf.


"Ngak usah nunjuk-nunjuk, saya Kasir disini. Kenapa emangnya?" ngegas Alya tidak mau kalah, dari tadi sudah kesel ingin mencakar orang, malah diajak ribut. Sudah kebakaran disiram bensin, makin menjadi-jadilah.


"Sudah Al, ngak usah diterusin. Biar aku selesaikan sendiri masalah ini," Andini merasa tidak nyaman dibelain Alya, tidak ingin orang lain terlibat masalahnya.


Alya dan Andini tidak begitu akrab, hanya saling mengenal satu tempat kerja saja. Karena ia juga baru semingguan disini.


"Seorang kasir, Cih! Kalau kamu ingin membela temanmu yang bodoh ini, ganti rugi sekarang. Kamu tahu berapa harga bajuku ini? Ratusan jutal!!" Gadis tadi mengejek Alya dan menantangnya.


"Ganti rugi? Cih, cih," Alya menirukan apa yang dilakukan Gadis Angkuh itu, meledeknya.


"Aku dan Kak Andin tidak mau ganti rugi, karena aku lihat sendiri temanmu itu menjegal kaki Kak Andin sehingga jatuh," teriak Alya sambil nunjuk pada teman sigadis.


Sedangkan orang yang ditunjuk sudah gelagapan, takut karena aksinya ketahuan, "Tidak, aku tidak menjegalnya."


"Kamu jangan menuduh tanpa bukti, aku bisa melaporkan kamu kePolisi dengan tuduhan pemfitnahan!" gertak siGadis pada Alya, tidak goyah meski aksinya sudah ketahuan.


Justru Andini yang takut-takut, khawatir jika Alya sampai berurusan dengan Polisi gara-gara masalah ini, " Sudah Al, sudah." Mencoba membujuk, memegang tanganya Alya.


Tapi sepertinya tiak berhasil, "Hei, aku tidak memfitnah, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!" Alya sudah melangkah maju ingin merobek mulutnya siGadis yang merah merekah.


Pasti itu lipsticknya mahal harganya, tapi sebelum itu terjadi sudah dihentikan oleh Ayahnya, "Cukup Al, kembali ketempatmu!"


P. Burhan datang tepat waktu sebelum Alya mencabik-cabik dan menerkamnya.


"Tapi aku ngak salah, dia itu yang..."


"Kembali ketempatmu!" perintah Ayahnya tegas, tidak mau dibantah.


Dengan terpaksa kembali kemeja Kesir dengan cemberut, kesel dengan Ayahnya yang menyuruhnya kembali. Kalau tidak sudah habis itu orang.


"Maaf Nona, saya Managernya disini. Ada masalah apa?"


"Kebetulan bapak datang tepat waktu, Pelayan bapak yang bodoh ini menumpahkan minuman dibaju saya. Saya minta sekarang pecat dia dan suruh ganti rugi!" senyum smirk melirik kearah Andini.


"Mohon maaf atas kelalaian saya, masalah ini kita selesaikan saja dikantor Polisi. Jika memang Pelayan saya bersalah, biar diproses dengan semestinya, biarlah rekaman CCTV yang menjadi buktinya."


Gadis tadi dan temanya terkejut mendengarnya, takut jika aksinya terbongkar. Sedangkan Andini tersenyum melihat P. Burhan, lega. Takjub dengan Manager barunya.


"Begini saja Pak, kita selesaikan secara kekeluargaan saja. Ribet jika sampai kepengadilan, Bapak pecat saja dia, kita anggap selesai. Restoran ini milik sepupu saya, dari pada Anda kena masalah nanti." Dengan pedenya masih mencoba bernegosiasi.


"Jika Nona ingin melanjutkan menikmati makananya, silahkan berpindah kesebelah sini. Nanti saya ganti hidanganya dengan yang baru, sambil menunggu Polisi datang!" saran P. Burhan.


Perkataan P. Burhan ini sontak membuat mereka khawatir, ternyata orang ini tidak bisa diajak kompromi batinya. Apalagi teman siGadis yang menjegal Andini, pucat pasi ketakutan. Gelisah jika sampai berurusan dengan polisi, lantaran memang merekalah yang salah.


Kedua Gadis tersebut langsung pergi dengan kesel, menggertakan gigi karena kalah telak. Wajahnya sama sekali tidak enak dilihat, ditekuk seperti baju kusut.


"Silahkan bayar makananya diKasir, jangan lupa ganti gelas yang pecah sekalian," P. Burhan mengingatkan.


"Sering-sering bikin ulah ya Neng?" Alya dengan senyum sumringah mengejeknya, merasa menang diatas angin. Saat kedua gadis tersebut memberikan uang padanya, meski dengan cara dilempar kemeja. Langsung bablas minggat keluar dari Resto.


*Selamat membaca


*Patto