You're Able

You're Able
remot



"Yah, ngurus anak kecil itu susah ngak sih?" Tanya Alya pada ayahnya. Saat sedang duduk nyantai disofa ruang tengah, setelah selesai makan malam bersama.


Ingin tahu pengalaman ayah dan ibunya dulu dalam mengurusnya, mungkin agar dapat mempersiapkan diri saat anaknya nanti sudah lahir.


Apalagi sekarang ia menjadi orang tua tunggal. Kalau ayahnya tidak bersamanya mungkin akan bertanya pada mbah Google, haha.


"Mengurus anak itu sebenarnya susah-susah gampang, tapi yang lebih mudah lagi adalah saat membuatnya. Selain mudah dan enak, juga bikin ketagihan," jawab Pak Burhan santai, sambil tersenyum menggoda Alya.


"Ayah, aku serius!!" Teriak Alya kesel.


Sebel dengan candaan ayahnya yang tidak difilter sama sekali.


Namun P. Burhan malah tertawa saat melihat Alya cemberut kecut begitu, mungkin beliau ingin memberitahunya. Jika belum siap mengurus anak, jangan coba-coba untuk membuatnya. Merawatnya tidaklah mudah, bikin anak itu bisa dilakukan setelah menikah atau sudah siap. Kalau beginikan berabe urusanya.


"Haha. Sudah sana, sekarang kamu tidur, besok kan harus kerja. Awas kalau kamu telat, ayah pecat nanti."


Alya sudah mulai bekerja selama semingguan ini, setelah mencari bersama ayahnya kesana kemari dan ditolak dibanyak tempat, akhirnya ada juga pekerjaan untuknya. Kebetulan lagi ayahnya juga satu tempat denganya, bekerja jadi Manager Restoran. Sementara dirinya menjadi Kasirnya.


"Restonya juga siang bukanya, lagipula ini masih sore. Ceritain sedikit dong yah, bagaimana pengalaman Ayah dulu?"


"Iya-iya!" apa boleh buat jika putri semata wayangnya ini sudah merengek.


Mendengar itu Alya langsung bersemangat dan Antusias, beringsut merubah posisi duduknya, bersila menghadap Ayahnya. Siap mendengarkan apa yang akan dijelaskan oleh Pak Guru.


"Mengurus anak itu pasti banyak yang harus dipersiapkan, lebih-lebih lagi seperti kamu ini yang akan menjadi orang tua baru. Misal, seperti cara menggendong, memandikan, dan menidurkanya. Saat Bayi itu menangis apa yang seharusnya dilakukan, kita harus menebak-nebak apa yang sedang terjadi. Pengen minum ASI atau justru mengompol, jangan-jangan malah pingin tidur.


Tapi semua itu bisa dipelajari sambil berjalanya waktu, yang harus dipersiapkan mulai dari sekarang itu adalah mental!" P. Burhan mulai menjelaskan materinya pada Alya, yang menjadi Mahasiswa dadakan.


Alya menyenderkan kepalanya pada sofa, masih mendengarkan dan memperhatikan dengan serius. Meski ngantuk sudah mulai menyerang, mungkin efek kehamilan yang membuatnya cepat lelah dan mengantuk. Apalagi sekarang juga sudah mulai bekerja.


Berhubung siMahasiswinya tidak protes atau bertanya, maka P. Burhan melanjutkan materinya lagi. Meski Alya sudah beberapa kali menguap.


"Yang namanya anak pasti identik dengan kenakalan, jadi harus sabar dan sesabar mungkin dalam mengurusnya. Saat belum bisa berjalan dan berbicara, mereka hanya bisa menangis. Ingin minum ASi nangis, ingin tidur nangis, ngompol nangis bahkan ingin nangis juga nangis.


Disaat sudah bisa berjalan malah akan lebih merepotkan lagi, suka berlarian kesana-kemari. Naik-naik meja, kursi, loncat-loncat dikasur, tidak bisa diam. Setelah bisa berbicara juga begitu, mereka suka marancau atau bertanya hal-hal yang lucu hingga yang ngak penting. Ingin tahu mengapa ini begini dan itu bisa begitu.


Dari yang awalnya lucu akan pertanyaan itu, sampai kita bingung harus menjawab apa. Bahkan yang lebih membuat kita kelabakan adalah bagaimana cara kita menjelaskanya pada...." P. Burhan masih bercerita panjang lebar kali tinggi, tidak tau jika yang diajak bicara sudah terbang keatas awan.


"Zzsz zzzsz zzs." Nafas halus dan teratur terdengar ditelinga P. Burhan, membuatnya menyadari jika putrinya itu telah terlelap.


"Yaelah anak ini, nyuruh cerita malah ditinggal tidur!"


P. Burhan menatap putrinya itu dengan sendu, sambil membelai rambutnya dengan penuh sayang. Mengingat kenangan beberapa tahun silam, "Ayah jadi teringat waktu kamu kecil, suka tidur begini saat nonton TV. Rasanya ayah rindu masa-masa itu."


"Dimana saat kamu nonton TV pasti selalu bertengkar dengan Ibumu, ribut hanya karena rebutan Remot. Kamu yang suka Acara Kartun Animasi, sedangkan Ibumu sukanya Sinetron atau Cerita Kolosal."


**


"Al sini Remotnya?" Ibu berujar meminta alat ajaib yang dibawa Alya, yang menjadi pemicu pertengkaran diantara mereka.


"Ngak, sekarang giliranku nonton. Kartunya baru saja mulai!"


"Aku tungguin saja sampai mulai!"


"Kalau begitu pencet saja kenomor tiga, nanti kalau Kartunya sudah mulai pindah lagi," Ibumu masih saja gigih dengan usahanya.


"Ngak mau! Nanti kalau aku pindah, jadi ngak tau kapan mulainya."


Terkadang Ibumu juga suka iseng nyuri-nyuri kesempatan, untuk mindahin keChanel lain. Dengan memencet tombol yang ada diTV, pastinya kamu akan langsung marah dan merajuk.


Walau Ayah tidak melihatnya setiap hari, karena masih sibuk kerja. Ketika pulang kerumah, kamu sudah terlelap tidur. Acaranya juga sudah berganti, karena kepemilikan Remot sudah berpindah tangan. Ibumu juga selalu menyuruh Ayah untuk menggendongmu.


"Pah, tuh Alya sudah tidur, pindahin kekamar gih. Nanti kalau balik jangan lupa bawa camilan sama minum ya?"


Haha, P. Burhan tertawa saat mengingat kejadian-kejadian yang sudah lalu. Sambil tetap membelai rambut Alya dengan lembut.


"Ayah masih kuat ngak ya gendong kamu sekarang? Apalagi sudah lama tidak menggendongmu lagi." Dengan hati-hati P. Burhan mencoba meraih dan mengangkat Alya, takut jika nanti menggangu mimpi indahnya.


Baru berjalan beberapa langkah saja beliau sudah ngos-ngosan. Berhenti sebentar untuk menetralkan nafasnya, baru kembali berjalan. Alya terasa sangat berat sekali dari terakir kali beliau menggendongnya.


Apalagi sekarang tengah hamil, jadinya P. Burhan tidak hanya menggendong satu orang. Tapi beliau sedang membawa seseorang yang juga menggendong calon orang.


Saat sampai didepan kamarnya Alya P. Burhan lebih bingung lagi, lantaran pintunya tertutup. Ingin menggendong dengan satu tangan beliau tidak kuat, didorong dengan kaki juga tidak mau terbuka.


Ketika mencoba mencari dan meraih gagang pintu dengan tanganya, meski masih menggendong. Kepalanya Alya kebentur pelan kepintu, walau beliau berhasil membukanya.


P. Burhan sudah cemas sekali jika Alya terbangun karena benturan itu. Tapi bukanya terbangun, justru hanya melenguh dan malah mengalungkan tanganya keleher Ayahnya. Seolah takut kalau terjatuh.


P. Burhan kembali melangkah masuk kekamar dan merebahkan Alya ditempat tidur, beliau membenarkan posisi tangan dan kakinya, serta menyelimutinya.


"Besok-besok jangan suka tidur disofa lagi ya? Kamu tu berat banget tau. Kalau cuma sekali sih ngak apa-apa, tapi kalau sering begini bisa keok Ayah." P. Burhan tidak langsung kembali, duduk sebentar disamping Alya. membelai rambutnya lembut mengajukan protes.


^^^Yang berat itu bukan Alya, tapi Om yang sudah tua.^^^


"Huft," P. Burhan menghela nafas sebentar.


"Dulu waktu kecil kamu begitu merepotkan, Ayah berharap kamu cepat besar dan dewasa. Tapi sekarang malah lebih menyusahkan, bisa ngak sih kamu kembali kecil lagi seperti dulu, agar lebih mudah digendong?"


P. Burhan bankit dari duduknya, mencium kening Alya, "Cup."


"Selamat malam sayang, selama tidur putri kecil ayah, semoga mimpi indah. Eh ada yang salah," beliau kembali menunduk untuk mencium kening Alya sekali lagi. Ketika menyadari ada yang kurang pas dari ucapanya.


"Selamat malam sayang, selamat tidur putri kecil ayah, yang sebentar lagi akan punya putri kecil juga. Semoga mimpi indah."


P. Burhan melangkah meninggalkan seseorang yang terlelap menuju pintu, sekali lagi melihat putrinya sebelum menutup pintu, untuk memastikan bahwa Alya baik-baik saja.


*Selamat membaca


*Patto