You're Able

You're Able
Periksa



"Apa jangan-jangan aku hamil?" Alya mulai berfikir kearah sana.


Karena gejala masuk angin dan hamil itu hampir mirip, itu yang Alya pelajari disekolah. Kenapa bisa berfikiran kearah sana, lantaran ia sudah pernah melakukanya beberapa kali dengan pacarnya.


"Tapikan dia selalu memakai pengaman, Kenapa bisa? Ya walaupun waktu pertama kali tidak memakainya, tapi katanya dikeluarkan diluar. Harusnya ini tidak terjadikan?" mengingat-ingat kembali kejadian saat melakukan hubungan itu dengan Pacarnya.


Alya memutuskan untuk mengeceknya terlebih dulu, untuk memastikan. Daripada menebak-nebak yang belum tentu benar. Lantas pergi keapotik untuk membeli Tespeck, ia bukan lagi anak kecil yang tidak tau tentang kehamilan dan apa itu alat Tespeck.


Saat ini Alya sedang berada didepan sebuah Apotik, dengan memakai pakaian yang fasionable. Menggunakan jaket, kupluknya dipasang menutupi kepalanya. Ditambah kaca mata hitam dan masker (protocol kesehatan), sedikit menjauh dari yang lain (jaga jarak).


Bukan tanpa alasan ia seperti itu, kadang disaat kita melakukan hal yang salah, dengan sendirinya akan merasa cemas, was-was, Malu, takut dan lainya.


Begitupun dengan Alya saat ini, akan beda rasanya jika membeli alat tersebut ketika sudah menikah. Apalagi diantar Suaminya, datang keApotik dengan tersenyum suka-cita. Berharap hasilnya nanti positif.


Berbeda dengan sekarang, yang malah cemas dan was-was. Takut jika nanti ada temanya yang melihat, atau orang yang mengenalinya. Saat dirumahpun juga berharap hasilnya negative.


Setelah dengan takut dan malu-malu membelinya, berbicara dengan petugas apotiknya saja dengan suara yang sangat pelan, takut didengar orang lain. akhirnya dapat juga tiga jenis macam tespeck.


Menurut apotekernya tadi, waktu yang tepat untuk menggunakanya adalah pagi hari. Tapi Alya sudah tidak sabar, langsung mencobanya ditoilet umum. Kalau pulang takut ketahuan keluarganya.


Setelah menunggu lima belas menit, dengan perasaan ketar-ketir yang tidak karuan. Bagaimana jika hasilnya positif, apa yang harus ia lakukan. Berharap itu tidak terjadi.


Tapi apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan, dari ketiga alat yang dibelinya, semua menunjukan bahwa dirinya positif hamil.


Alya gemeteran menutup mulutnya dengan tangan, melotot melihat alat tersebut. Limbung, tubuhnya lemas bersandar pada tembok. tidak percaya dengan hasilnya. Ia tau cara kerja alat itu, apakah positif atau negative dia paham betul. Tapi otaknya berusaha menyangkal semua itu, tidak mau mempercayai alat yang ia beli.


"Alat ini pasti rusak, ngak mungkin aku hamil. Katanya tadi waktu terbaik adalah pagi hari, sedangkan ini sudah agak siang. Pasti alat ini rusak, ya, mungkin sudah kadaluarsa." Alya berusaha mengatur nafas dan menenangkan pikiranya terlebih dulu.


"Sebaiknya aku periksa kedokter," Alya menegak kan tubuhnya dan menguatkan hatinya, beranjak menuju dokter umum. Karena itu yang terdekar dengan posisinya saat ini.


Setelah periksa kedokter hasilnya juga sama, bahwa Alya dinyatakan positif hamil.


"Selamat ya Bu, anda hamil. Kemungkinan usia kandungan ibu sekitar 5-6 mingguan, untuk lebih tepatnya bisa ibu periksakan kedokter kandungan," Alya semakin bingung sekarang.


Bagaimana ini, apa yang harus ia lakukan. Pasti keluarganya sangat marah ketika mendengar semuanya. Haruskah ia menyembunyikan semua ini? Atau harus mengggugurkan kandunganya? Pasti ayahnya akan mengusirnya dari rumah jika mengetahui kondisinya sekarang.


Ya, ayahnya. Ayah bayinya ini harus bertanggung jawab. ia harus memberitahunya, jika sekarang tengah hamil mengandung darah dagingnya.


Tapi yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan, seseorang Yang digadang-gadang bisa mengurangi beban ini, bisa membantunya menyelesaikan masalah. Malah menolak untuk bertanggung jawab, tidak mengakui anaknya, darah dagingnya sendiri. Justru mencaci-maki, menyalahkanya dan mengatakan yang tidak-tidak.


Itu membuat Alya makin sedih dan terpuruk. Disini ia adalah orang yang paling dirugikan dalam situasi sekarang ini, tapi dia juga orang yang disalahkan.


Bagaimana nanti kala keluarganya mengetahuinya, pasti sangat marah padanya. Malu dengan kondisinya yang hamil diluar pernikahan, apalagi saat nanti menjadi bahan pergunjingan orang. Memikirkan itu semua membuatnya makin terpuruk dan depresi, bingung harus berbuat apa.


**


Sekarang Alya sedang mengantri dengan beberapa ibu-ibu hamil yang lain, sama juga ingin memeriksakan kandunganya kedokter obgyn. Saat yang lain diantar suaminya, justru ia malah ditemani oleh ayahnya.


Ada empat pasangan yang sedang menunggu antrian disana, lima termasuk Alya dan ayahnya. Tinggal menanti dua orang lagi sebelum giliranya tiba.


Selama duduk disana Alya tidak merasa senang dan bahagia sama sekali, yang ada hanya berang dan gondok dihati. Memberengut bersungut-sungut, naik darah ingin mencakar wajah orang.


Lantaran sejak ia datang ketempat itu sudah mendapat sambutan yang kurang mengenakan. Orang-orang yang ada disana menatapnya dengan pandangan sinis, saling berbisik dan melirik kearah Alya dan ayahnya.


"Itu pasti istri mudanya."


"asal dompetnya tebel, dengan Om-om juga ok."


"Amit-amit, jangan sampai anak ku nanti seperti itu." Dan masih banyak lagi cibiran yang lain.


Ingin sekali Alya merobek mulut-mulut mereka yang tidak tau sopan santun itu, yang sudah menjadje sembarangan. Datang bersama ayahnya saja sudah seperti ini, apalagi jika mereka mengetahui bahwa dirinya hamil diluar nikah?. Tapi P. Burhan selalu menenangkan dan menghiburnya, Agar tidak terpancing dengan apa yang mereka bicarakan.


"Ibu Alya Aulia Azzahra, silahkan." Ujar Asisten dokter mempersilahkan.


Hingga sampailah pada giliranya Alya, setelah menanti dan menunggu dengan perasaan emosi yang memuncak, tegangan darah tinggi, ingin sekali membabat habis mereka semua.


"Silahkan duduk, bisa saya lihat bukunya?" seorang dokter perempuan setengah baya berbicara dengan ramah.


Alya dan ayahnya duduk dikursi pasien sambil menyerahkan buku pemberian Asisten dokter tadi saat pendaftaran, katanya saat periksa lagi disuruh membawanya.


"Baru pertama kali periksa ya?"


"Iya dok."


"Ada keluhan apa?" Tanya budokternya lagi.


"Tidak ada dok, kemaren habis periksa katanya hamil. Disuruh kedokter kandungan untuk memastikan," jawab Alya cuek, sudah tidak ada mood untuk periksa. Hanya menjawab sekenanya.


"Baiklah, Ibu Alya bisa rebahan diranjang pasien" bu dokter perempuan setengan baya itu menunjuk brangkar disampaingnya.


"Jangan panggil ibu, saya belum tua!" menjawab dengan muka ditekuk, tapi Alya tetap tiduran di ranjang pemeriksaan.


Budokternya hanya melongo mendengarnya, biasanyakan memang begitu. Setiap wanita yang periksa akan dipanggil ibu, karena sebentar lagi mereka memang akan menjadi seorang ibu. Tapi yasudahlah, pelanggan adalah yang mulia Ratu.


P. Burhan melotot menatap Alya, menasehatinya agar jangan begitu.


Budokternya mulai menghidupkan monitor, menyibak baju Alya keatas dan membawa alat-alat perangnya. Mulai menaruh Gel diperutnya Alya dan menggerak-gerak kan benda aneh diatasnya.


Rasanya dingin dan geli saat benda itu mulai bergerak-gerak, terlihat dari ekspresinya Alya yang cengar-cengir.


"Suami ibu Alya, eh maksudnya mbak Alya. bisa mendekat kesini untuk ikut melihat." Budokter memanggil P. Burhan, karena beliau masih duduk dikursi saat pertama kali datang tadi. Saat menyadari ada yang keliru dari ucapanya, budokter langsung meralatnya.


"Iya dok, tapi saya Ayahnya bukan suaminya!"


Budokternya lebih terkejut lagi,saat mendengar pernyataan dari P. Burhan. Ternyata salah apa yang ada difikiranya.


"Ah maaf, saya kira bapak suaminya, ternyata Ayahnya." Ada rasa canggung saat mengetahui fakta sebenarnya.


"Kenapa tidak diantar suaminya Mbak?" Tanya budokter yang mulai terbiasa, mengalihkan pembicaraan untuk mengurangi kecanggungan.


"Suaminya sedang ada urusan dok, jadi saya yang nganter,"jawab P. Burhan, karena Alya nampak diam saja bingung harus menjawab apa.


"Oh, pantes dianter Ayahnya."


**Selamat membaca


**Patto