When We Falling In Love

When We Falling In Love
Tim Lawan, Malam Pertemuan, & Teman Adikku



Tim Lawan


Aisyah adalah seorang atlet voli yang sangat bersemangat dalam bermain dan mencapai tujuannya. Suatu hari, saat Aisyah dan timnya sedang bermain voli di sebuah turnamen, ia melihat seorang pemain voli dari tim lawan yang sangat menarik perhatiannya.


Meskipun mereka bertanding satu sama lain, Aisyah tidak bisa menahan perasaannya. Setiap kali ia melihat pemain voli dari tim lawan tersebut, perasaannya semakin kuat dan ia merasa bahwa ada magnet yang menariknya pada pemain tersebut.


Namun, Aisyah tahu bahwa ada beberapa halangan dalam hubungan mereka. Mereka adalah lawan dalam turnamen dan tidak mungkin bisa bersama. Selain itu, Aisyah merasa bahwa ia harus fokus pada permainannya dan tidak boleh terlalu tergoda oleh perasaannya.


Namun, pada suatu hari saat Aisyah sedang memperbaiki peralatan voli di gudang, pemain voli dari tim lawan tiba-tiba muncul dan memberikan bantuan. Mereka mulai berbincang-bincang dan semakin dekat.


Lambat laun, mereka mulai saling mengenal satu sama lain dan saling tertarik. Aisyah dan pemain voli dari tim lawan mulai bertukar nomor telepon dan berbicara secara teratur. Mereka saling mendukung satu sama lain dalam permainan mereka, meskipun sebagai lawan.


Setelah turnamen selesai, Aisyah dan pemain voli dari tim lawan akhirnya memutuskan untuk bertemu secara pribadi. Mereka berbicara dengan jujur dan terbuka tentang perasaan mereka dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan.


Meskipun awalnya sulit, Aisyah dan pemain voli dari tim lawan berhasil mempertahankan hubungan mereka dengan baik. Mereka belajar untuk tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan tim mereka dan memfokuskan diri pada cinta mereka yang saling mendukung. Mereka terus bermain voli dan mendukung satu sama lain dalam permainan mereka, sambil merayakan cinta mereka yang unik dan tak terduga.


Dimalam Pertemuan


Ketika aku memasuki restoran itu, hatiku berdebar kencang. Sudah bertahun-tahun aku tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Tempat ini, di mana aku dan dia seringkali berkumpul dan menghabiskan waktu bersama, tempat yang penuh kenangan.


Aku melihat ke sekeliling mencari-cari, dan akhirnya aku melihat dia. Dia masih sama seperti dulu, tetap tampan dengan senyumannya yang menawan. Aku tahu dia pasti tidak mengenaliku, tapi aku berharap dia masih ingat tentang kenangan kita di tempat ini.


Aku memilih meja di dekatnya dan berusaha keras untuk tetap tenang. Saat dia melihat ke arahku, aku tersenyum lebar, dan dia tersenyum balik. Dia pun duduk di meja yang sama, tanpa menyadari bahwa aku duduk di meja di sebelahnya.


Kami bercerita tentang masa lalu, tentang kenangan kita di tempat ini, dan aku melihat dia tersenyum lebar ketika ia menyadari siapa aku. Dia terkejut, namun segera merangkulku dalam pelukannya.


Ketika kami berpisah pada malam itu, aku merasa berbunga-bunga. Aku merasa bahwa mungkin ada harapan bagi kita di masa depan. Dan aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan berusaha untuk lebih dekat dengan dia lagi, dan melihat kemana hubungan kita akan membawa kita.


Teman Adikku


Aku baru saja selesai mengantarkan adikku ke tempat lesnya ketika aku bertemu dengan seorang gadis cantik yang berdiri di depan pintu les. Setelah beberapa menit berbicara, aku mengetahui bahwa gadis itu adalah teman adikku, namanya Lisa.


Saat itu, aku tidak terlalu memikirkan apa-apa tentang Lisa. Tapi, seiring waktu berjalan, aku mulai merasa tertarik padanya. Dia lucu, cerdas, dan selalu membuatku tertawa. Namun, aku tidak bisa mengatakan apa-apa padanya karena dia masih terlalu muda dan juga teman adikku.


Tapi, setiap kali aku mengantar adikku ke tempat lesnya, aku selalu menemukan alasan untuk melihat Lisa. Aku bahkan mulai berharap adikku akan lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya, sehingga aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya juga.


Kemudian, ada satu malam ketika aku berada di kamar adikku, dan Lisa juga di sana. Kami sedang menonton film, dan ketika adikku pergi ke kamar mandi, aku berani untuk mengatakan padanya bahwa aku suka padanya.


Lisa terlihat terkejut, tapi kemudian dia tersenyum dan menjawab bahwa dia juga suka padaku. Kami berbicara sepanjang malam, dan akhirnya kami berencana untuk bertemu lagi.


Ketika aku pulang, aku merasa bersemangat dan gembira. Aku tidak percaya bahwa Lisa ternyata merasa sama denganku. Namun, aku juga merasa sedikit khawatir tentang bagaimana adikku akan bereaksi jika mengetahui bahwa aku menyukai temannya.


Keesokan harinya, aku memberanikan diri untuk memberi tahu adikku tentang perasaanku pada Lisa. Dia terkejut pada awalnya, tetapi akhirnya dia mengerti dan mengatakan bahwa dia mendukungku.


Akhirnya, aku dan Lisa mulai berkencan dan semakin dekat. Kami bahkan mulai menghabiskan waktu bersama tanpa adikku. Meskipun hubungan kami harus dipertahankan secara rahasia di depan adikku, aku sangat bahagia bersama Lisa dan merasa beruntung memiliki teman adik yang memahami perasaanku.