
"Sekali kau bilang ya, kau akan terikat denganku untuk selamanya"
• • •
Yovie, mereka menyebutku..
Yovie, mereka mendengarkanku..
Yovie, mereka melihatku..
Yovie...
[ 1 hari sebelumnya ]
Aku merupakan siswi tahun akhir di salah satu SMA kota S. Saat ini adalah liburan akhir semester satu. Bersama kedua sahabatku, Amel dan Yovie, kami memutuskan untuk pergi travelling bersama ke Timur di pulau Jawa.
Sebuah kota kecil, yang tak terlalu padat penduduknya. Kami memutuskan untuk menginap di salah satu hotel bintang tiga.
Tengah malamnya, kami bertiga pergi diam-diam dengan membawa sebuah senter. Kami pergi menjelajah kota yang memang sengaja kami pilih ini, karena maksud dari tujuan kami datang adalah mencari sebuah penampakan.
Timur Jawa terkenal dengan mistisnya, atau begitu yang dikatakan orang-orang.
Dengan menyewa ojek online yang sebelumnya sudah kami pesan, kami menuju ke sebuah tempat yang sudah sangat tua dan sangat dihindari oleh warga sekitar. Rumah yang dulunya milik seseorang yang mengidap gangguan jiwa.
Kabarnya beberapa tahun yang lalu, si pemilik rumah di temukan tewas di salah satu ruangan tanpa sebab. Polisi pun menyerah dalam mencari titik terang kasus tersebut.
Sampailah kami di depan rumah tersebut. Ojek online yang mengantar kami nampak syok dengan tempat yang kami datangi. Salah satu pengemudi ojek bahkan melihat ke satu titik dimana tak ada seorangpun di sana, dan ia terlihat sangat ketakutan. Setelah menerima uang pembayaran, mereka langsung cabut dan pergi.
Aku : " Yuk kita masuk. "
Yovie : " Masing-masing udah bawa senter kan? "
Amel : " Udah dong! "
Aku : " Yaudah, yuk cus. "
Kami mendorong pintu masuk yang sudah sangat tua itu dengan perlahan-lahan. Lantai di penuhi dengan debu dan kotoran. Langit-langit pun sudah dipenuhi dengan sarang laba-laba. Untung saja kami membawa senter bersama kami, jika tidak mungkin kepala kami sudah penuh dengan sarang laba-laba tersebut.
Cahaya lampu senter kami hanya menyinari sebagian dari ruangan. Rumah ini terdiri dari dua lantai, dari luar kami bisa melihat bahwa lantai dua sangat tidak memungkin untuk kami jelajahi karena tembok-tembok di sana sudah mulai roboh.
Ada 3 ruangan di lantai satu ini, satu mengarah ke tangga, satu mengarah ke dapur dan toilet, dan satu lagi mengarah ke kamar yang berukuran sedang.
Kami bertiga memutuskan untuk berpencar.
Yovie menuju ke arah dapur.
Amel menuju ke arah tangga, dia masih penasaran dengan lantai dua.
Dan aku menuju ke dalam kamar.
Terdapat satu ranjang dan lemari besar di kamar tersebut. Cahaya bulan yang masuk melalui korden-korden yang sudah usang dan sobek itu membuat ruangan ini terlihat lebih terang.
Aku : " Mungkin aku bisa mendapatkan sebuah penampakan dari dalam lemari itu. "
Akhirnya kuputuskan untuk membuka lemari yang berukuran besar itu.
Apa yang kulihat tidak bisa ku percaya, sebuah jalan rahasia yang menuju ke lantai basement!
Karena aku sangat penasaran, aku pun maju melangkah.
Tiba-tiba saja sesuatu mencengkram pundakku.
Aku pun meloncat, tapi pijakanku yang tidak imbang membuatku jatuh ke dalam jalan rahasia di dalam lemari tersebut. Terguling-guling tak karuan sampai aku merasakan pundak kiriku menghantam sesuatu yang keras.
Senter yang kubawa terjatuh saat menggelinding tadi dan mati.
Ngilu yang amat sangat mulai menyerang pundakku.
" Lo gila ya Put?! "
Aku mendengar suara seseorang meneriakiku. Suara ini, Yovie?
Aku : " Yovie? Itu elu Yov? "
Yovie : " Iya siapa lagi?! "
Tiba-tiba cahaya senter yang menyilaukan menerangi muka Yovie dari bawah, menunjukkan mukanya yang kesal.
Aku : " Lo kali yang gila Yov! Bahaya tau tiba-tiba nongol kayak gitu! "
Memegang pundakku yang masih terasa nyeri, aku berusaha untuk duduk dengan bantuan Yovie.
Yovie : " Kita lagi dimana ini Put? "
Aku : " Basement kayaknya. "
Cahaya senter Yovie bergerak menuju satu pintu berwarna merah.
Yovie : " Masuk nggak nih? "
Menahan nyeri yang hebat, aku hanya mengangkat satu pundak.
Yovie : " Masuk yuk, gue penasaran nih. "
Aku : " Terus Amel gimana? "
Yovie : " Udahlah, Amel udah gede. Nanti juga telfon kalau kenapa-kenapa. "
Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti langkah Yovie dari belakang.
Yovie : " 1.. "
Aku : " 2.. "
Yovie : " 3.. "
Dalam hitungan ketiga, pintu berwarna merah itu terbuka dan menunjukkan apa sisi di balik pintu tersebut.
Taman hiburan.
Sebuah taman hiburan kuno yang masih berfungsi dan sangat sepi tanpa ada satu pun pelanggan ataupun penjual, hanya berjejer stan-stan yang penuh dengan makanan dan komedi putar yang masih berputar.
Yovie menggandengku dengan erat menuju stan makanan, ia mengambil beberapa kue lapis dan melahapnya, kemudian beralih ke kue-kue pasar lain dan melahap semuanya.
Aku : " Yov, jangan makan banyak-banyak Yov. Kita nggak tau tempat apa ini. "
Seakan-akan tidak mendengarkanku, Yovie tetap melanjutkan makannya. Ia tampak pucat dan memandang kosong apa yang ada di depannya.
Setelah menengok untuk terakhir kali pada Yovie, aku berjalan menuju komedi putar tempat anak itu berada.
Ia berpakaian seperti pakaian di jaman kolonial.
Ketika jarak kami mulai dekat, aku pun menyapanya.
Aku : " Halo dek. Boleh tau dengan siapa ini? "
Anak tersebut diam memandangiku.
Aku : " Adek tau nggak tempat apa ini? "
Ku kira ia juga akan diam saja kali ini, tapi ternyata ia memutuskan untuk merespon pertanyaanku.
Anak berbaju kolonial : " Kamu tidak makan? "
Aku : " Oh, tidak. Aku tidak lapar. "
Anak berbaju kolonial : " Bagus. Kalau begitu kamu mau main dengan saya? "
Aku : " Boleh. Mau main apa? "
Anak itu menunjukkan permainan menembak target. Aku hanya tersenyum, tentu saja anak laki-laki menyukai sesuatu seperti itu.
Kami berdua berjalan beriringan dengan tangan kananku yang menggandeng tangan kirinya yang kecil.
kami berhenti di depan target, dan anak laki-laki itu menyuruhku untuk berbalik ke arah depan.
Aku terkesiap melihat apa yang berada di depanku.
Entah darimana, tiba-tiba di depan kami sudah berjejer orang-orang yang berbaris dengan pistol mereka.
Salah satu orang di barisan terdepan telah menengadahkan pistolnya padaku. Ketika aku menengok ke samping untuk bertanya pada anak tersebut apa maksud dari semua ini, yang tersisa dari anak itu adalah tangan kirinya yang masih ku genggam.
Bulu kudukku mulai berdiri.
Dan suara tembakan dilepaskan terdengar melaju sangat cepat ke arahku.
*splash*
Darah mengucur dari mata kiriku.
Orang di barisan depan tersebut bergeser, dan orang di belakangnya bersiap untuk melepaskan tembakan selanjutnya.
Teror mengisi kepalaku.
Kulihat Yovie dari kejauhan, tubuhnya mengembang seperti balon, masih tetap melanjutkan makannya. Air mata mengalir membasahi pipinya.
Aku : " Yovie!! "
Berteriak sekencang-kencangnya, berharap Yovie akan sadar dan berhenti makan lalu membebaskan kami berdua dari tempat ini.. tapi apa yang terdengar dari mulutku hanyalah darah yang menyiprat keluar, berjatuhan di rerumputan yang kuinjak.
Beberapa jam berlalu, mereka masih menembakan isi pistol mereka padaku. Tubuhku yang sudah berlubang di sana sini masih berdiri tegak.
Di sisi lain, aku masih melihat dengan samar Yovie dengan badannya yang semakin membengkak seperti akan meledak.
" Tinggal di sini bersamaku, ya? "
Suara anak kecil tadi terdengar lagi olehku.
Ia berdiri di depanku, di gerombolan orang-orang yang menembaki tubuhku.
Aku sangat ingin berteriak sekencang-kencangnya dan bangun dari ini semua.
Mulutku bergerak perlahan, suara serak keluar darinya.
Aku : " Y..ya.."
Tidak!!
Itu bukan aku!
Itu bukan suaraku!
Itu bukan kemauan aku!!
Mataku bergeser ke samping untuk melihat Yovie, sepotong makanan lain masuk ke dalam mulutnya. Tak lama kemudian tubuhnya benar-benar meledak seperti sebuah balon, mencecerkan apa yang di dalamnya.
Air mata panas muncul di sudut mataku setelah melihatnya.
Suara tembakan lain terdengar.
Dan tak lama kemudian, semuanya terlihat gelap untukku.
Suara-suara tembakan masih terdengar.
Mereka memanggil namaku, menyanjungku, dan tertawa ria.
Tanpa melihatpun aku tahu mereka memandangi tubuhku yang bercucuran darah ini.
Suara anak kecil itu terdengar lagi..
" Sekali kau bilang ya, kau akan terikat denganku untuk selamanya. "
" Selamat datang di duniaku. "
Suara tepuk tangan mulai memenuhi gendang telingaku.
Aku ingin ini segera berakhir..
Yovie..
Keesokan harinya jasad Yovie dan Putri di temukan dalam keadaan utuh di dalam lemari tua di sebuah kamar, tepatnya di tempat meninggalnya sang pemilik rumah sebelumya. Masih sama dengan kasus sebelumnya, keduanya meninggal tanpa sebab yang di ketahui. Lemari tersebut pun kembali terlihat seperti lemari baju biasa.
Amel yang menemukan jasad mereka berdua dan menghubungi polisi setempat.
Di belakang garis polisi, di belakang kerumunan warga, sebuah senyuman terbentang di wajahnya.
Amel,
makhluk dari dunia lain,
dan sang pencipta ruangan asing yang menuju ke dunia lain di balik pintu merah itu.
(Cerita ini pernah saya ikutin untuk cerpennya Desa Berkabut Noveltoon, tapi karena belum terikat kontrak apapun jadi saya menyertakan cerita ini di sini.)