What'S Happening Around Me

What'S Happening Around Me
Mie Tengah Malam



Aku selalu merasa kesepian akhir-akhir ini.


Kedua orang tuaku sedang pergi berlibur 5 hari ke pulau Dewata Bali, sedangkan kakakku lebih sering menghabiskan waktunya di kos-kosan bersama teman-temannya.


Sekolah juga sedang di liburkan selama dua hari karena kelas 12 yang sedang melaksanakan tryout.


Jadi aku hanya tinggal berdua bersama pembantuku di rumah ini.


Mbok Mirna namanya, beliau sudah bekerja di sini semenjak aku masih SD. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan badannya cukup berisi. Usia beliau masih belum terlalu tua, mungkin sekitar umur 45 tahun ini.


Sambil berjalan menuju dapur dengan perut yang keroncongan, aku memikirkan apa yang sebaiknya kulakukan besok?


Hanya berdiam diri di rumah membuatku sangat bosan. Lagipula, aku mendapatkan uang jajan yang cukup sampai kedua orangtuaku pulang dari liburan itu.


Mungkin aku akan pergi shopping besok. Aku akan mengajak Rena sekalian, sudah lama aku tidak pergi shopping dengannya.


Semenjak memasuki SMA yang berbeda, aku dan Rena jadi jarang pergi keluar bersama.


Saat memasuki pintu dapur, kulihat pembantuku juga sedang berada di dapur.


"Lapar, neng?" Tanyanya.


Aku mengangguk sambil memegang perutku yang sedang keroncongan ini.


"Iya nih, Mbok. Ada makanan nggak ya di dapur?"


"Kebetulan mbok sudah bikin mie ayam bawang, monggo neng saja yang makan." Katanya sambil menyodorkan semangkuk mie kuah yang masih hangat ke tanganku.


"Wah, makasih ya mbok. Maaf jadi ngerebut makanan mbok. Mbok buat aja lagi yang baru, ya?"


Simbok tersenyum tipis dan mengangguk. Lalu aku berbalik menuju kamarku dengan mangkuk mie kuah hangat di tangan.


Sambil duduk di meja belajar, aku menyalakan handphoneku yang sedari tadi kucharge batreinya. Sebuah pesan masuk yang belum terbaca dari Mbok Mirna muncul di layar.


Dengan penasaran aku mengetuk menu pesan dan membacanya.


Lalu setelah menjawab pertanyaan Ayah dan Ibu, aku kembali untuk membaca pesan dari simbok.


Mbok Mirna melampirkan sebuah foto juga, yang menunjukkan Dewo, anaknya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit akibat terkena demam berdarah.


"Kasihan Mbok Mirna harus ikut menginap di rumah sakit bersama putranya." Kataku pelan sambil mengambil satu suapan mie dari mangkuk.


Dia tadi terlihat sangat pucat, semoga beliau tidak tertular anaknya atau terlalu kecapekan.


Tanganku berhenti bergerak secara mendadak dan memandang mangkuk mie kuah di mejaku.


Mangkuk mie itu kosong.


Sontak aku pun berdiri dari kursi sambil melangkah menjauh dari meja belajarku.


Masih dengan handphone di tangan, aku memencet tombol dial ke nomor hp Mbok Mirna.


"Iya, halo neng." Jawab mbok Mirna dari dalam telpon setelah berdering beberapa saat.


"Mbok.. Mbok sekarang lagi di mana mbok?"


"Loh, kan simbok sudah bilang mau nginep di rumah sakit pagi tadi neng. Apa neng lupa? Barusan simbok juga kirim foto lagi di kamar rumah sakit kan neng." Jawabnya, "Ada apa neng? Apa eneng butuh sesuatu atau mau nitip sesuatu? Besok pagi biar mbok bawakan." Lanjutnya.


"Oh, enggak kok mbok. Semoga Dewo cepat sembuh ya mbok."


"Iya neng, makasih banget buat doanya."


"Iya mbok, yaudah aku tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sambil menatap layar handphoneku yang sekarang mati, aku mulai membatin sambil merasa hawa dingin yang membuatmu merinding.


"Siapa wanita yang barusan?"