
Tanganku yang saat ini penuh dengan debu, membuatku bersin dengan suara keras, yang menggema di ruangan.
Teman-temanku tertawa mendengarnya.
Lalu kulihat Sania berjalan ke arahku, "Aku tidak percaya kita disuruh melakukan ini." Protesnya kepadaku.
"Aku juga, tapi ini kan demi kepentingan kita sendiri. Kalau tidak kita lakukan, mau belajar di mana nanti? Lapangan sekolah?" Jawabku.
Kami siswi kelas 5 diminta untuk membersihkan gudang di pojokan, yang terapit oleh ruangan kelas 4 dan kelas 6.
Sekolah kami memutuskan untuk membuka dua ruangan untuk kelas 1, jadi kami kelas lima harus berbondong-bondong pindah dari ruangan sebelumnya, yang sekarang dijadikan kelas 4, ke gudang di pojokan ini.
Aku mendengar banyak hal tentang gudang ini semenjak kami masih kelas satu.
Ada yang mengatakan gudang ini berhantu, dan sebagainya. Dan tentu saja kami yang dulu masih duduk di kelas satu mempercayai ucapan dari siswa-siswi yang lebih tua dari kami.
Ada juga yang bilang pernah melihat kertas yang melayang ketika mengintip dari melalui lubang pintu.
Gudang itu sudah di tutup lama sekali, tidak ada yang pernah masuk ke dalamnya. Ruangan ini dijadikan sebagai gudang tempat bangku dan kursi-kursi yang tidak terpakai.
Namun dua tahun yang lalu, ketika kami masih kelas 3, beberapa murid kelas 4 berhasil masuk melalui pintu yang terhubung ke gudang itu dari kelas mereka, entah bagaimana caranya. Tiba-tiba saja sebuah teriakan terdengar, membuat kami berhamburan keluar.
2 siswi yang memasuki gudang itu menjerit-jerit tak karuan. Kami percaya bahwa mereka baru saja kerasukan hantu gudang tua itu.
Setelah kejadian itu, sekolah kembali tenang dan pintu penghubung itu pun digembok.
Aku berusaha tetap berpikir positif dan membersihkan gudang ini dengan segenap hati. Saat ruangan ini akhirnya bersih dari debu dan barang-barang lainnya, tempat ini sebenarnya terasa lebih menyejukkan dibanding kelas lainnya, karena gudang ini memiliki jendela yang mengarah ke belakang sekolah, dimana berada lapangan hijau dan penuh dengan banyak pepohonan. Membuat hanya sedikit dari sinar matahari yang menyengat mampu masuk ke dalam kelas.
Kegiatan bersih-bersih pun selesai. Bangku sudah tertata rapi, ruangan bersih yang sudah di sapu dan di pel lantainya. Jendela-jendela juga sudah dilap bersih.
Karena kami tidak memiliki kelas apapun di hari itu demi tujuan bersih-bersih, para guru memberikan kami izin untuk pulang lebih cepat.
Aku dan beberapa temanku berbalik untuk meletakkan alat-alat kebersihan di pojok ruangan.
"Aku tidak sabar untuk sekolah besok." Kataku kepada Sania.
"Ya." Jawabnya setuju, "Ruangan ini ternyata lebih indah dari kelas-kelas lainnya, dan kita yang berkesempatan untuk mencobanya. Kelas lain pasti akan cemburu!"
Kami tertawa riang menuju pintu masuk kelas baru kami, sampai aku melihat sosok gadis sebaya asing yang berdiri membelakangi kami di dekat jendela.
Dia melambaikan tangannya, dan wajahnya terlihat gembira dari bayangan pantulannya di kaca jendela.
Aku tergidik dan berpaling dengan cepat.
Namun mungkin gadis itu merasa bahagia karena gudang ini akhirnya bersih dan layak untuk di tempati. Karena nyatanya tidak ada kejadian aneh apapun yang terjadi bahkan sampai kami lulus dari SD ini.
Meskipun harus kuakui, tetap menakutkan ketika sedang berada di ruang kelas baru kami itu sendirian.