
Deretan motor berjajar di parkiran sebuah rumah makan.
Rumah makan berlantai dua ini menyajikan pemandangan indah tengah kota ketika matahari terbenam, di selimuti dengan cahaya keoranyean.
"Hanna." Sapa teman kerjaku.
Aku pun menoleh. "Iya Ren?"
"Dipanggil bos tuh." Jawabnya sambil menunjuk ruang manager yang berada di dekat meja kasir.
Aku pun mengangguk dan bergegas menuju ruang manager, sambil meletakkan pisau daging di atas talenan.
Sambil berjalan, aku mengintip keramaian yang berkumpul di meja-meja makan. Ada beberapa turis dari luar kota, ada juga warga lokal, tapi tidak pernah absen, turis dari luar negeri.
Tempat ini tidak jauh dari pantai, yang membuatnya menjadi semakin ramai setiap tahunnya.
Aku sendiri sudah bekerja di sini hampir lima tahun lamanya.
Tiga meter jauhnya dari ruang manager, seorang turis luar negeri menghentikanku.
"Hi! You must be the chef here?" Tanya turis itu. (Hai, kau pasti kokinya di sini?)
Aku tersenyum tipis, "No sir, sorry, I'm just the chef's assistant." Jawabku singkat. (Tidak tuan, maaf. Saya hanya seorang asisten koki.)
Turis itu manggut-manggut, "Is that right? My deepest apologies then! But still, I just have to say this to the cook, your meal is really delicious! I've never tasted any meat like that!" (Benarkah? Maafkan aku kalau begitu. Tapi, aku harus tetap mengatakan ini kepada yang memasak, makanan milik kalian sangatlah enak! Aku tidak pernah merasakan daging seperti itu!)
Sekali lagi aku tersenyum sambil mengangguk, "That's too much of a compliment sir, thank you. We just cook them like how everyone else would. No secret ingredient or any special treatment." (Itu pujian yang berlebihan tuan, terima kasih. Kami memasaknya seperti bagaimana yang orang lain lakukan. Tidak ada bumbu rahasia maupun perlakuan spesial apapun.)
Turis itu balik tersenyum, "Now, you're being too polite. Just take this compliment and don't forget to pass them along to your chef and co-worker, please." (Kau bersikap terlalu sopan. Terima saja pujian ini dan tolong jangan lupa untuk memberi tahu chef dan rekan kerjamu yang lainnya.)
"Very well, sir!" Jawabku lalu berbalik untuk meneruskan langkahku menuju ruang manager. (Baiklah, tuan.)
*Tok tok tok* ketukku di depan pintu.
"Masuk." Suara perintah terdengar dari dalam ruangan.
Aku pun membuka pintu menuju ruang manager dan melihat, Ian, manager kami sedang sibuk dengan layar komputernya.
"Anda memanggil saya, bos?" Tanyaku setelah menutup pintu di belakangku.
Ian pun akhirnya memalingkan wajahnya dari layar komputer dan menatapku, "Ya, duduk lah." Katanya sambil menunjuk kursi di depan meja kerjanya.
Setelah duduk, aku terus memperhatikan ekspresi wajah atasanku ini.
Dulu wajahnya penuh dengan luka sayatan, namun berkat operasi plastik, wajah beliau bisa kembali terilihat normal, bahkan lebih tampan.
Ian menatapku balik, "Stok daging akan datang malam ini. Jangan lupa masukkan mereka ke ruang pendingin dan pastikan semuanya berjalan dengan lancar." Perintahnya dengan tegas.
Aku pun mengangguk, "Baik, bos."
"Bagus, kalau begitu kembalilah bekerja."
Seperti perintah Ian, atasanku. Malam itu aku menunggu sampai restauran tutup untuk menunggu truk yang membawa stok daging baru kami.
Saat jam menujukkan pukul 00.35 itulah truk pengantar daging itu mulai memarkir di pintu belakang restauran, tempat dimana semua persediaan bahan makanan kami diantar.
Aku menyapanya, "Selamat malam, Diablo."
Diablo hanya mengaggukkan kepalanya saja.
"Aku menerima perintah dari bos untuk menunggu stok daging baru kita. Itu berada di muatan truk ini, kan?" Tanyaku sambil berjalan menuju pintu gerbong muatan.
"Ya.." jawab Diablo dengan suara yang parau. "Susah sekali mendapatkan daging jenis ini. Kalian harus berhemat saat menggunakannya."
Aku berpaling ke arah Diablo, "Oh, ayolah. Aku sudah bekerja di sini selama lima tahun dan kau masih meragukan aku?
Diablo mengendikkan bahunya, "Kalau kau tidak ingin bernasib sama dengan pria itu. Dia bahkan sudah bekerja di sini selama sebelas tahun dan lihatlah apa yang di dapatkannya." Jawabnya sambil membuka pintu gerbong.
Kevin, chef kami yang sudah bekerja di restauran ini selama sebelas tahun, tubuhnya terpampang digantung di dalam gerbong muatan, yang juga berisikan mayat tubuh manusia lain, serta beberapa daging sapi biasa.
"Kau membuka ususnya?" Tanyaku pada Diablo sambil menunjuk ke sekumpulan usus yang terburai keluar dari perut Kevin.
"Dia tidak mau diam. Aku terpaksa melakukannya."
"Kau ini ya.. kau tahu kan kualitas daging yang dipakai di tempat ini? Kau tidak bisa dengan bebas menebasnya. Itu tugasku sebagai asisten koki di sini."
Diablo sekali lagi mengendikkan bahunya.
Aku menghela napas dengan berat, "Sudahlah, pindah mereka ke ruang pendingin. Kita tidak mau kualitas daging-daging ini berkurang."
"Kau mau makan?" Tawarku pada Diablo setelah pekerjaanya selesai.
"Cih, siapa juga yang mau makan sup daging sapi campur daging manusia. Aku tidak sepertimu, jadi makanlah sendiri."
"Enak loh supnya, tadi saja ada turis luar yang memuji masakanku."
Diablo menatapku jijik, "Tugasku hanya menyediakan daging, bukan memakannya. Jadi menjauhlah dariku."
Aku tertawa kecil. "Baiklah, kalau begitu bersiap lah. Aku ingin tiga orang dari di sebrang jalan itu selanjutnya. Pastikan mereka bukan orang lokal."
Diablo mengangguk dan bergegas pergi.
Aku berputar dan kembali memasuki dapur. "Nah, sekarang.. aku tidak sabar untuk memasaknya… hihihi…" tawaku memenuhi ruangan, sampai kudengar suara benda jatuh di sudut rak-rak bahan makanan.
Dengan perlahan aku menghampiri suara tersebut. Dan kulihat seseorang berjongkok dengan tubuh yang gemetaran.
"Astaga..Rendi. Apa yang kau lakukan di dapur malam-malam?" Tanyaku santai.
Namun Rendi tidak menjawab, tubuhnya masih gemetaran tak karuan.
Aku menghela napas, "Oh, ayolah. Kau sudah mengenalku selama lima tahun dan kau takut padaku?"
"Cup.. cup..Dengarkan aku ya, Ren. Aku akan memberikan kamu pilihan, bersikaplah manis dan turuti semua kemauanku, atau, jadilah bahan makanan seperti Kevin."
Rendi memalingkan wajahnya padaku dengan mata yang terbelalak. "Han.."
Aku hanya tersenyum lebar dan mengeluarkan pisau daging yang sedari tadi kusembunyikan di belakang pinggangku.
"Selamat malam, Rendi."