What'S Happening Around Me

What'S Happening Around Me
Pengetuk Pintu



Malam itu aku sedang duduk di salah satu kursi di ruang tamu, namun karena akhir-akhir ini hujan turun dengan sangat deras, membuat hawa dingin yang menusuk di malam hari.


Kuputuskan untuk kembali ke kamarku untuk mengambil jaket, lalu kembali lagi menuju ruang tamu.


Ada sebuah acara TV yang tidak bisa kulewatkan. Acara ini hanya tayang satu kali dalam seminggu, dan jadwal tayangnya dibuat pada tengah malam agar menimbulkan kesan yang menakutkan. Ya, acara TV yang sedang ku nantikan ini adalah acara TV yang bercerita tentang penjelajahan MC dan bintang tamunya di sebuah bangunan tua tak berpenghuni yang kabarnya dihantui, lalu mereka akan melakukan tes uji nyali di bangunan itu.


Ibu dan adikku terduduk di sofa lainnya, di sebelah sofa yang ku jadikan tempat berbaring ini. Sambil menarik selimut, kami mulai menikmati acara TV yang dinanti-nantikan itu.


Saat memasuki pertengahan acara, ku dengar pintu rumah kami di ketuk-ketuk. Apakah itu Ayah? Beliau memang berpesan kalau akan pulang larut hari ini akibat pesanan di pabriknya yang overload.


Aku menoleh kesamping untuk melihat Ibu dan adikku yang matanya sudah terpejam, tidur dengan pulas.


Akhirnya dengan enggan aku terduduk dan kembali menoleh ke arah pintu.


Suara ketukan pintu itu tidak berhenti, jadi aku menjawab, "Iya, sebentar."


Kasihan, Ayah pasti sudah kedinginan di balik pintu itu. Jadi aku bergegas berdiri.


Sambil berjalan menuju pintu, aku mendengar suara lain yang berbicara padaku.


"Apa kau mendengarnya?" Kata seseorang berbisik di telingaku.


"Setiap malam, sebuah ketukan akan terdengar di pintu rumah-rumah."


Dia mulai menjelaskan tentang peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di kampung lain.


"Ketukan pintu ini akan dimulai pada pukul sembilan malam, dan berlanjut hingga pukul tiga dini hari." Lanjutnya.


"Pintu itu jangan engkau buka, jika kau tidak ingin malapetaka mendatangi rumahmu."


Aku tidak akan membuka pintunya…


"Apakah engkau akan mengintip dari balik korden di kamarmu?"


"Apa kau akan bertanya-tanya siapa dan kenapa mereka melakukannya?"


Ya, aku memang merasa penasaran…


"Itu tidak penting,bukan? Yang terpenting dengarlah aku."


Aku bisa mendengarkanmu berbicara…


"Hei, kau mendengarkan bukan?"


Ya, suaramu terdengar sangat jelas di telingaku…


"Maksudku, kau sudah membuka pintunya untukku.."


Dan kau berdiri di sampingku dengan kepala terikat yang kau miringkan ketika berbisik kepadaku…


"Jadi, jangan lupa bilang sampai jumpa pada keluargamu, ya."


Mengapa aku melakukannya?


Kabar menghilangnya Tiara, putri dari Ibu Surti dan Bapak Farhan menyebar dengan cepat.


Setiap rumah terkunci dengan rapat tiap malam. Beberapa pemuda desa mulai melakukan jaga malam, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi di kampung mereka, mencoba untuk memberikan rasa aman pada penduduknya.


Pak Farhan terduduk di samping istrinya yang menangis histeris sambil memeluk pigura foto anak perempuannya yang menghilang itu.


Tiara pun ikut menangis melihat keadaan orang tuanya.


Dia masih tetap berada di samping mereka saat ini, namun tubuhnya lah yang tidak kasat mata.


Tiara menangis tersendu-sendu, mencoba menahan sakit di dadanya. Lalu ia merasakan tali yang terikat di pergelangan tangannya ditarik-tarik dan ia pun berputar. Ia berjalan mengikuti kereta manusia yang bernasib sama dengannya.