
“Selamat tinggal diriku, sangat senang saat melihatmu berada di sini. Aku juga sangat mencintaimu, selamat tinggal diriku". Gadis itu melihat kearah ku sambil tersenyum. Ia menggendong seorang gadis yang memiliki wajah yang mirip dengannya. Senyuman gadis itu membuatku merasakan sedih yang begitu dalam seakan mereka adalah orang yang sangat berharga bagiku padahal aku tidak mengenal mereka.
Dan tiba-tiba gadis itu berteriak dengan lantang pada sesuatu. Aku melihat sekitarku tapi tidak menemukan apa-apa. Aku lalu mendengar suara seperti robot yang tidak kuketahui dari mana sumbernya.
“Konfirmasi: proses pengambilan benih akan dimulai"
Tubuh kedua gadis itu perlahan mulai memudar dan menjadi butiran cahaya yang membentuk sesuatu. Dan saat mereka sepenuhnya menghilang suara itu muncul lagi.
“Konfirmasi: Proses pengambilan benih telah selesai. Benih yang di dapatkan ada dua, apakah ingin memasang keduanya?”
Belum sempat aku menjawab pertanyaan dari suara tidak dikenal itu tanpa aku sadari tubuhku sudah menjawabnya. Aku bingung mengapa aku tidak bisa mengendalikan tubuhku terlebih lagi saat kedua gadis itu mati di hadapanku aku sama sekali tidak dapat menggerakan tubuhku. Apa yang sebenarnya terjadi?. Namun saat aku belum bisa mencerna semua yang terjadi suara itu kembali terdengar.
Konfirmasi: Penanaman benih akan dimulai. Melakukan pencocokan tubuh astral dan benih. Menghitung semua kemungkinan".
Sesaat setelah mendengar suara itu tubuhku terasa panas, tubuhku terus memanas seakan-akan ingin meledak tapi tidak sampai di situ aku perlahan mulai kesulitan beranapas. Dadaku sesak, keringat dingin keluar dari tubuhku. Aku memuntahkan darah dengan jumlah besar, kepalaku sakit. Karena aku tidak dapat mengendalikan tubuhku aku tidak sadar kalau tangan kananku putus. Aku baru menyadarinya saat darah keluar dari tangan kananku bersamaan dengan darah yang aku muntahkan. Fisik dan mental sangat tersiksa. Aku merasakan sakit yang luar biasa. Kedua kaki dan tangan kiriku mulai mati rasa. Tangan kananku tetap mengalirkan darah tanpa henti. Bagian dalam tubuhku serasa diacak-acak oleh sesuatu. Tubuhku lemas aku. Tubuhku mulai membiru. Urat urat mulai bermunculan di sekujur tubuhku. Rasanya aku seperti berada di ambang kematian.
...~*~
...
“Kring kring kring kring . . . . . . .”. Alaramku tiba-tiba berbunyi dan membuatku tersadar. Saat tersadar tubuhku dipenuhi keringat. Aku panik beberapa saat karna aku mengira semua itu nyata. Aku lalu kembali tenang saat melihat sekitarku kemudian aku bangun daei tempat tidur ku dan mematikan alaram. Aku kemudian kembali duduk dan memikirkan apa yang telah terjadi.
“Apakah itu adalah mimpi? Sepertinya beberapa malam terakhir aku terus memimpikan hal yang buruk”. Yap, ini bukan pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. 4 hari yang lalu aku bermimpi di dorong oleh seseorang dan jatuh kedalam tempat yang sangat gelap.
“Mungkin ini hanyalah mimpi buruk. Sebaiknya Aku tidak terlalu memikirkannya".
Namaku adalah Ivy Shyrasa, aku adalah seorang siswa kelas 1 sma. Sebenarnya aku baru lulus dari smp dan hari ini adalah hari pertama aku bersekolah sebagai anak sma. Aku mendaftar di sma Kitawa karena sma Kitawa dekat dengan apartemenku. Karena beberapa alasan aku tinggal sendiri di sebuah apartemen. Ayah dan Ibuku sudah meninggal karena kecelakaan pesawat saat pulang dari liburan di Hawaii.
Saat bangun aku langsunh merapihkan kembali tempat tidurku lalu pergi ke dapur. Aku melihat kedalam kulkas dan melihat apa saja yang bisa dimasak. Kemudian aku mengambil beberapa telur dan pasta untuk dimasak. Aku memasak omelet telur sebagai sarapanku dan juga membuat telur gulung dan pasta untuk bekalku. Saat sudah menyiapkan semuanya aku kemudian pergi untuk mandi lalu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Setelah bersiap aku pergi ke ruang makan untuk sarapan dan setelah habis sarapan aku kalu memasukan bekalku kedalam tas. Aku kemudian memakai sepatu ku lalu pergi keluar.
“Aku berangkat”. Setelah memberi salam aku langsung mengunci pintu dan berangkat. Aku pergj ke parkiran sepeda di dekat apartemenku lalu mengambil sepedaku dan berangkat ke sekolah.
Setelah sampai ke sekolah aku memarkirkan sepedaku di parkiran sepeda. Setelah itu aku berjalan menuju papan pengumuman untuk melihat kelas yang akan aku tempati.
“Hey lihat anak itu, dia cantik sekali".
“Hey Lihat bukankah dia sangat imut".
“Aku ingin dia menjadi pacarku".
“Hey hey coba kau dekati dia siapa tahu dia mau menjadi pacarmu”.
Saat sedang berdiri di papan pengumuman banyak orang yang membicarakanku. Aku sudah terbiasa sejak kecil karena banyak orang yang memujiku jadi aku tidak merasakan apapun saat mereka berbicara tentang diriku.
Setelah mengetahui kelas mana yang aku tempati aku langsung pergi menuju kelas itu. Saat sampai di kelas semua orang di kelas kembali berbicara tentangdiriku sampai guru masuk ke kelas kami.
“Baiklah semuanya harap duduk di tempat masing-masing. Aku adalah wali kelas kalian untuk kelas 1. Namaku Marie mohon bimbinganya untuk satu tahun kedepan”.
Kami semua dengan serentak menjawab iya. Setelah itu kami satu persatu mulai memperkenalkan nama kami. Dan saat pikiranku sampai aku berdiri lalu memperkenalkan diri.
“Selamat pagi semua, perkenalkan namaku adalah Ivy Shyrasa. Aku lahir di Kyoto dan dibesarkan di Tokyo. Hobikh adalah memasak. Itu saja perkenalan dariku semuanya mohon bantuannya untuk kedepan".
Semua memasang wajah yang sangat senang ketika mendengar perkenalan dariku. Mereka langsung membicarakan aku dengan orang di sekitar mereka. Setelah memperkenalkan diri aku kembali duduk dan di lanjutkan dengan orang berikutnya. Tempat duduk ku berada di paling ujung bagian kanan belakang jika dilihat dari depan kelas. Tempat duduk ku sangat dekat dengan jendela jadi aku sangat menyukainya.
Setelah semua selesai memperkenalkan diri wali kelas kami keluar dan digantikan dengan guru mata pelajaran pertama. Mata pelajaran pertama adalah karya sastra. Kami semua mengikuti pelajaran dengan antusias. Dan beberapa jam berlalu mata pelajaran karya sastra akhirnya selesai dan dilanjutkan dengan jam istirahat. Saat jam istirahat banyak anak perempuan teman sekelas ku yang mengajak ku untuk makan siang bersama di kantin tetapi aku menolaknya.
Karena melihat aku menolak beberapa ajakan beberapa orang yang ingin mengajak ku juga mengurungkan niat mereka. Mereka kecewa saat melihat aku mengeluarkan bekalku dan berjalan keluar dari kelas bersama teman-teman mereka. Aku tidak mempedulikan itu dan melanjutkan memakan bekalku. Selesai memakan bekal bel masuk belum berbunyi jadi aku pergi ke kamar mandi sebentar. Aku masuk ke salah satu bilik toilet yang kosong disana. Saat di toilet aku tidak sengaja mendengar pembicaraan dari beberapa kakak kelas yang masuk setelah ku. Mereka berbicara di depan wastafel sambil mencuci tangan. Dari yang ku dengar sepertinya mereka berbicara tentang seseorang.
“Apakah kalian tahu ada anak kelas satu yang sangat cantik? Mereka semua di sekolah berbicara tentang dia”.
“Ahh aku tahu, anak kelas satu yang sangat cantik itu. Teman sekelas ku ramai membicarakan anak kelas satu itu".
“Kalau tidak salah namanya adalah sara?”.
“Yang betul adalah Shyrasa bukan? Ivy Shyrasa".
“Nah itu bagaimana kau mengetahui namanya?”.
“Dia adalah siswa terkenal waktu aku masih smp. Memangnya ada apa dengan anak itu?”.
“Tidak aku hanya penasaran dengan anak itu, siapa tahu dia akan merebut senior idamanku”.
Aku yang daritadi mendengar pembicaraan mereka terdiam untuk sementara. Aku baru sadar kalau mereka membicarakanku. Setelah mereka sedang berbincang-bincang bel masuk tiba-tiba berbunyi. Mereka kemudian keluar dari wc dan berlari menuju kelas mereka. Aku yang dari tadi terdiam kemudian bangun dan keluar dari bilik toilet lalu mencuci tangan. Setelah selesai mencuci tangan aku berjalan kembali kekelasku dan melanjutkan pelajaran berikutnya.
Setelah semua selesai aku langsung membereskan buku-buku dan semua alat tulisnya kedalam tas lalu langsung keluar dari kelas menuju loker sepatu. Saat aku membuka loker sepatu tiba-tiba sebuah amplop jatuh dari lokerku. Aku memungutnya dan melihat amplop itu. Saat mencari siapa pemilik amplop ini aku melihat sebuah tulisan ‘untuk Ivy Shyrasa’ yang terdapat di depan amplop itu. Karena terburu-buru aku tidak membuka amplop itu dan melihat isinya tapi aku langsung memasukan amplop itu ke saku bajuku.
Aku memakai sepatu ku dengan cepat lalu berlari ke parkiran sepeda untuk mengambil sepedaku kemudian pergi ke mini market dan membeli bahan untuk makan malam. Aku membeli daging sapi, dan beberapa kentang untuk memasak kare. Setelah membeli bahan makanan aku langsung kembali ke apartemenku.
Saat di perjalanan pulang ke apartemen aku merasa diikuti oleh seseorang karena penasaran aku menoleh kebelakang namun tidak ada siapapun. Sepertinya aku sedang menguntitku dari belakang. Aku mengayuh sepedaku secepat mungkin untuk bisa sampai diapartemen ku tanpa ada masalah. Setelah mengayuh cukup lama akhirnya aku sampai di apartemenku tanpa ada masalah.
Saat samapi di apartemen aku langsung berganti pakaian lalu mulai memasak makan malam. Setelah memasak makan malam aku langsung mandi lalu memakan makan malam ku sambil menonton televisi. Aku terus menonton televisi sampai larut malam kemudian tidur.
...~*~
...
“Konfirmasi: Jiwa individu bernama Shyr telah menghilang. Proses tidak dapat di lanjutkan. Di perlukan Jiwa yang memiliki frekuensi yang sama! Memulai pencarian Jiwa dengan frekuensi yang sama".
“Memulai pencarian untuk jiwa yang memiliki frekuensi yang sama. Menghitung jumlah dunia. Melihat data dari dunia yang memiliki kemungkinan".
“Konfirmasi: Pecahan jiwa individu bernama Shyr ditemukan. Memperhatikan kondisi jiwa!”.
“Kegagalan: Pecahan jiwa tidak dapat dipindahkan. Jiwa masih memiliki tubuh jasmani di dunia asal”.
“Konfirmasi: Menunggu untuk pecahan jiwa keluar dari tubuh jasmani".
...~*~
...
Suara itu muncul kembali dalam mimpiku. Aku terbangun dan tubuhku kembali dipenuhi keringat dingin. Aku melihat sekitarku karena mengira ada seseorang yang mungkin ada di kamarku tapi tidak menemukan apa-apa.
Karena tidak ada apapun aku memenangkan diriku sebentar lalu melihat ke alaramku. Ternyata masih pukul 05.46 dan itu masih sangat pagi. Karena belum waktunya aku kembali berbaring di tempat tidur dan berusaha untuk tidur sebentar lagi. Perlahan aku mulai tenang dan akhirnya terlelap kembali.
Saat sedang bersiap-siap ada sesuatu yang jatuh dari bajuku. Aku memungut dan melihat benda itu dan akhirnya aku mengingatnya kalau kemarin aku melihat sebuah surat di dalam loker sepatu atas namaku yang kemarin aku ambil. Karena penasaran aku melihat isi surat itu sebentar.
‘Untuk Ivy Shyrasa
Aku ingin berbicara denganmu. Aku saat pertama kali melihatmu di hari pertama masuk sekolah aku sangat terpesona dan langsung jatuh cinta padamu. Apakah kamu mau menjadi pacarku?. Kamu bisa memberikan jawabannya besok sore waktu pulang sekolah di belakang gedung olahraga.
Sinohara Sasaki.’
Saat melihat surat itu aku sama sekali tidak tertarik untuk itu. Karena orang itu mungkin akan menunggu jawaban dariku maka aku akan menjawabnya sebentar waktu pulang sekolah nanti.
Setelah selesai bersiap-siap aku langsung sarapan dan langsung berangkat ke sekolah. Sesampai di sekolah aku langsung memarkirkan sepedaku lalu pergi ke loker sepatu dan mengganti sepatu ke sendal kemudian pergi ke kelasku.
“Selamat pagi Ivy”.
“Selamat pagi juga, Ashida”.
Saat sampai di kelasku aku di sapa oleh teman di sampingku dan setelah aku membalas sapaanya aku langsung duduk di kursiku sambil menunggu guru masuk ke kelas.
“Selamat pagi anak-anak saatnya untuk memulai pelajaran kita hari ini".
Guru kami masuk kedalam kelas sambil memegang buku pelajaran. Saat selesai memberi salam guru kami langsung membuka buku absen yang tadi ia pegang sama-sama dengan buku pelajarannya dan memeriksa kehadiran kami satu persatu.
Pelajaran berjalan dengan lancar hingga jam pulang. Saat jam pulang aku langsung membereskan barang-barangku lalu pergi ke loker sepatu. Setelah memakai sepatu aku langsung pergi ke tempat yang tertulis dalam surat yaitu di belakang gedung olahraga.
Ketika sampai di belakang gedung olahraga seseorang sedang menunggu. Dia seorang perempuan. Karena penasaran siapa orang yang dia tunggu aku langsung pergi menghampirinya.
“Permisi, apakah kamu sedang menunggu seseorang?”
“Ah, iya aku sedang menunggu kamu".
Hah? Aku kaget saat dia berkata sedang menungguku. Aku bingung untuk apa dia menungguku. Aku kemudian bertanya lagi.
“Mengapa kamu menungguku? Aku tidak mengingat kalau membuat janji untuk bertemu denganmu”.
“Ah, maafkan aku. Aku yang menaruh surat itu di loker sepatumu dan aku disini untuk mendengar jawaban dari mu”.
Saat mendengar jawabannya aku makin bingung. Aku kira yang mengirim surat ini adalah seorang laki-laki tapi ternyata tidak. Orang yang mengirim surat ini ternyata seorang gadis, tingginya mungkin 145cm, panjang rambutnya sebatas bahu dan berwarna hitam pekat, wajahnya berbentuk bulat dan kecil membuatnya terlihat imut. Tapi aku tahu aku tidak bisa menerima perasaanya karena kami sama-sama perempuan.
“Aku tahu kamu mungkin sangat menyukainya sampai kamu bisa untuk memberanikan diri menulis surat untukku tapi aku minta maaf aku tidak bisa menerima perasaanmu. Kita tidak bisa bersama".
“Seperti itu yah. Kalau begitu aku minta maaf jika surat yang aku berikan membuatmu resah".
“Tidak apa-apa karena aku sama sekali tidak merasa seperti itu”.
Setelah berkata seperti itu wajahnya terlihat sangat kecewa lalu pergi dari tempat itu. Aku tidak menyesalinya karena aku memang tidak merasakan apapun padanya terlebih lagi dia adalah seorang perempuan.
Setelah itu aku pergi ke parkiran sepeda lalu mengambil sepedaku dan pulang ke apartemenku. Saat sampai di persimpangan dekat apartemen ku tiba-tiba sepedaku menabrak sebuah mobil van yang keluar sedang berbelok di persimpangan. Aku terjatuh dari sepedaku. Saat terjatuh bokongku terasa sangat sakit.
“Aduh, sakit sekali". Aku meringis kesakitan.
Mobil yang aku tabrak juga berhenti. Seseorang keluar dari mobil. Dia memakai pakaian serba hitam, tingginya sekitar 180cm, badannya berotot, dan tidak memiliki rambut di kepalanya.
Orang itu keluar dan mengecek keadaan mobilnya. Dia melihat bagian dimana aku menabraknya. Setelah melihat keadaan mobilnya dia kemudian berjalan kearahku. Karena melihatnya berjalan kearahku aku langsung berdiri sambil menahan sakit akibat terjatuh. Dan akhirnya dia sampai di hadapanku.
“Aku minta maaf telah menabrak mobil mu, aku sama sekali tidak melihatnya. Aku minta maaf sekali".
Aku langsung meminta maaf pada orang itu saat dia sampai di hadapanku. Saat orang itu mendengar permohonan maafku dia terdiam sesaat lalu terdengar seseorang sedang memanggil dia dari dalam mobil. Orang itu lalu berjalan kembali ke mobilnya dan sepertinya dia berbicara dengan orang yang memanggilnya.
Setelah beberapa saat mereka berbicara orang itu datang lagi ke hadapanku. Dia melihat ke sekeliling kami lalu mendekati aku.
“Aku minta maaf jika kerusakannya besar, aku akan bekerja sambilan untuk mengganti rugi jadi mohon maafkan aku”.
Sesaat setelah selesai meminta agar mereka memaafkanku tiba-tiba mataku menjadi gelap. Aku kehilangan kesadaranku. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tapi kenapa aku tiba-tiba kehilangan kesadaran.
~*~
“Konfirmasi: Pecahan Jiwa akan mencapai batas waktu hidup".
“Jiwa akan kehilangan tubuh dalam 1 jam kemudian".
“Mulai menghitung mundur".
~*~
“Apakah nona yakin ingin melakukannya?”.
“Ya aku yakin kenapa tidak. Aku akan mendapatkan orang yang ku cinta jadi jangan menggangu rencana ku”.
Apa ini? Dimana aku? Apakah ini dalam sebuah mobil? Mengapa aku ada di dalam sebuah mobil? Apa yang terjadi padaku?. Saat tersadar tangan dan kakiku diikat dengan tali. Aku panik dan berusaha untuk mencari sesuatu yang dapt membantuku namun saat sedang mencari aku melihat seseorang yang aku kenal sedang berbicara di kursi depan mobil. Karena penasaran aku mencoba untuk melihat lawan bicaranya dan aku sangat terkejut ketika berhasil melihat lawan bicaranya. Orang yang tadi aku temui di persimpangan sedang berbicara dengan Sinohara. Mengapa Sinohara berbicara dengan orang serba hitam itu? Apa hubungan mereka berdua? Namun tanpa disadari aku terjatuh dari kursi mobil saat sedang memikirkan itu. Sinohara sadar akan itu dan langsung menoleh kebelakang, dia melihatku dengan senyum yang menakutkan.
“Ah, Ivy kamu sudah sadar ya? Bagaimana perasaanmu?”. Sinohara menanyakan itu Sinohara kembali tersenyum. Senyumannya terlihat menakutkan. Karena aku penasaran mengapa dia mengikat kaki dan tanganku aku ingin bertanya kepadanya tapi ternyata mulutku juga diselotip agar tidak bisa berteriak memanggil bantuan.
“Kamu pasti penasaran kan? Mengapa aku ada di sini? Apa yang akan kamu lakukan padaku? Itu semua sudah jelas karena aku mencintaimu. Tapi apa yang aku dapat, hah? Kamu menolak dan tidak mau menerima cintaku. Kamu berkata kita tidak bisa bersama karena kita sesama perempuan aku tidak peduli dengan itu. Kamu mungkin tidak mengerti bagaimana cinta ku kepadamu. 3 tahun lalu saat di jembatan penyeberangan, saat aku akan mengakhiri hidupku sendiri dengan melompat dari sana tiba-tiba kamu datang dan menahanku untuk tidak melompat namun karena aku sudah melompat kamu hanya bisa memegang tanganku. Kamu berusaha mengangkat aku agar tidak jatuh kebawah namun sialnya saat aku sampai keatas tanganmu terpeleset dan kamu yang jatuh kebawah. Kamu langsung ditabrak oleh sebuah mobil saat jatuh dan terpental 2 meter jauhnya. Aku langsung naik keatas dan pergi kearahmu. Aku berlari sekuat mungkin sambil menelpon ambulans. Saat sampai kamu masih bisa berkata padaku ‘Aku senang kamu baik-baik saja’. Kamu berkata padaku sambil tersenyum dan senyuman itu menyelamatkanku. Saat sampai di rumah sakit kamu langsung dibawa ke ruangan icu, aku menunghu diluar ruangan dengan cemas. Saat menunggu 4 jam akhirnya dokter keluar. Dia memberitahu bahwa kamu mengalami patah tukang dan kamu menjadi lupa ingatan. Dokter berkata itu adalah keberuntungan yang snagat hebat sehingga kamu tidak meninggal di tempat. Saat itu keluargamu baru saja sampai di rumah sakit. Aku langsung memberi tahu keadaanmu sambil meminta maaf namun aku langsung diusir oleh keluargamu. Mereka berkata aku adalah pembawa sial bagi keluargamu. Karena itu aku hanya bisa memperhatikan dari jauh”.
“Setelah 4 bulan dirawat dirumah sakit, akhirnya kamu bisa pulih dan diperbolehkan pulang kerumah. Aku terus memperhatikanmu sampai suatu saat kamu pindah dari rumah lamamu tanpa aku ketahui. Aku terus mencari dimana keberadaanku sampai beberapa hari lalu aku melihatmu di sekolah yang sama denganku. Dan saat melihatmu hasaratku tidak tertahankan. Aku menulis surat lalu menaruhnya di loker sepatumu. Lalu sat pulang aku mengikutimu dari sekolah, minimarket sampai di apertemenmu”.
“Dan karena kamu menolakku tadi aku sangat marah, perjuangan untuk mencarinya butuh waktu yang lama tapi kamu meperlakukanku seperti itu. Aku tidak terima jadi aku menunggu mu di persimpangan itu dan menculikmu. Dan sekarang ayo kita melakukannya Ivy”.
Sinohara berpindah dari kursi depan mobil ke bagian belakang. Dia mengangkat kepalaku lalu membuka selotip di mulutku dan dengan sekejap dia mencium bibirku. Tidak sampai disitu setelah dia selesai menciumku dia pisau dari tasnya dan ingin merobek baju dan rokku. Aku berusaha untuk memberontak namun tidak bisa. Dia perlahan memutuskan kancing bajuku. Dan saat sampai di kancing di dekat dadaku tiba-tiba mobil kami menabrak sesuatu. Akibat guncangan dari tabrakan itu pisau yang dipegang Sinohara menusuk jantungku.
“Ivy kamu tidak apa-apa?”. Sinohara panik dan langsung mencabut pisau itu. Saat pisau itu tercabut darah langsung menyembur keluar dari dadaku. Dadaku terasa panas. Aku perlahan kehilangan kesadaran. Apa ada kesalahan yang aku perbuat? Mengapa aku harus mengalami semua ini? Saat memikirkan semua itu tubuhku perlahan mati rasa. Semua sekitarku mulai terasa dingin.
“Konfirmasi: Pecahan Jiwa Individu bernama Shyr telah didapatkan”.
“Individu dikonfirmasi telah terpisah dari tubuh jasmani”.
“Memindahkan Pecahan Jiwa ke tubuh jasmani yang asli”.
...~End Of Chapter 4~
...