What If I Become A God

What If I Become A God
Chapter 3: Last Battle



Aku berhasil menemukan gua yang bisa digunakan untuk bersembunyi, namun monster itu masih mengejarku.


“Bagaimana caranya agar aku bisa kesana? Apa yang harus kulakukan" aku terus memikirkan cara agar bisa sampai ke gua itu sedangkan monster itu sedang mengejarku.


Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalaku, aku melihat sekitar sebelum melakukan ideku. Setelah memastikan keadaan sekitar aku yakin bahwa monster itu tidak akan menyerang ku saat aku melompat ke sana.


Setelah memastikan monster itu tidak ada di sekitarku aku langsung melompat ke arah gua itu. Namun pemikiranku sangat naif. Monster itu tidaklah menjauh, dia dari tadi berada di sampingku sembari menunggu kesempatan untuk menebas kepalaku.


Saat aku melompat ke arah gua itu, monster itu langsung muncul disampingku sembari mengangkat cakarnya bersiap untuk menebas kepalaku. Aku dengan refleks melindungi kepalaku dan mengarahkannya ke bawah dan membungkusnya dengan tanganku. Tapi sialnya kaki kananku yang menerima serangan itu, dan dalam sekejap kakiku lansung terhempas kedepan monster itu.


Kakiku yang tadi ditebas terasa sangat sakit. Darah mengalir dengan deras dari kakiku. Monster yang mengejarku dari tadi perhatiannya akhirnya teralihkan pada kakiku yang tadi dia tebas. Aku memanfaatkan kesempatan yang ada untuk masuk kedalam gua itu. Dengan sekuat tenaga aku merangkak menuju gua itu. Setelah sampai masuk kedalam gua itu aku langsung menggunakan sisa kekuatan yang ada untuk menutup mulut gua itu dengan sihir tanah.


Sehabis menutup mulut gua itu aku langsung berbaring lemas. Kekuatanku habis terpakai. Aku sama sekali tidak bisa lagi bergerak. Aku hanya bisa pasrah ketika monster itu berhasil menerobos sihirku.


Darah terus mengalir dari kaki kananku. Aku memaksakan tubuhku untuk bangun lalu aku membuka bajuku dan membalut kaki kananku. Lalu kembali berbaring di tanah. Kaki kananku perlahan mulai mati rasa. Kesadaranku pun mulai menghilang.


Kesadaranku terasa seperti tenggelam kedalam lautan lepas. Terus tenggelam seakan ingin membawaku sampai ke dasar. Dan akhirnya aku kehilangan kesadaranku.


“Yo, akhirnya kamu sampai juga" sebuah suara yang tidak asing menyapaku dari dalam kegelapan.


Tempat apa ini? Apa yang terjadi padaku? Bukannya tadi aku kehilangan kesadaran? Terus mengapa kaki kananku tidak putus? Semua pertanyaan itu muncul ketika aku mendengar suara itu.


“Kamu pasti bertanya-tanya, tapi tenang saja kami akan menjelaskan apa yang harus kamu lakukan". Tiba-tiba seseorang yang lain muncul dari belakangku.


“Siapa kalian? Apa yang kalian perlukan dariku?”. Aku bertanya kepada mereka sambil waspada.


“Tenang apakah kamu tidak menyadari bahwa kami adalah dirimu sendiri?”.


Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia katakan, tetapi saat memperhatikan dengan jelas dan benar saja mereka memiliki wajah, postur, dan suara yang sama denganku. Instingku pun juga mengatakan bahwa mereka bukanlah ancaman. Mereka adalah dirimu sendiri. Tapi aku tetap tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi.


“Baiklah kami akan menjelaskannya kepadamu. Tempat ini adalah alam bawah sadar dirimu dan alasan mengapa tubuhmu masih utuh itu karena dirimu yang sekarang berada dalam tubuh astral atau bisa disebut juga jiwaku sendiri. Dan kami berdua adalah dirimu sendiri. Kami adalah benih untuk kebangkitanmu”. Diriku yang berdiri dibelakangku menjelaskan perlahan-lahan sambil berjalan kearah diriku yang satunya.


“Tunggu dulu, apa itu benih untuk kebangkitan?” Aku balik bertanya pada diriku yang sedang menjelaskan.


“Kau benar-benar tidak tahu ya? Apa boleh buat kau kan tidak mendapat pengetahuan tentang itu semua”.


“Akan ku jelaskan, kamu adalah keturunan murni dari kedua dewa tertinggi. Ayahmu merupakan anak dari Raja Iblis dan Ibumu merupakan cucu dari Dewa Tertinggi. Dan kami lahir secara bersamaan denganmu, kami sudah berada dalam tubuhmu sejak kamu lahir. Namun syarat untuk mencapai keberadaan kami adalah dengan menderita ketakutan yang sangat besar dan ketakutan itu harus membuatmu di ambang kematian. Kami adalah benih kebangkitan. Benih kebangkitan diperlukan jika ingin menjadi Dewa”. Diriku yang satu lanjut menjelaskan tentang keberadaan mereka.


“Hah apa yang dia bicarakan? Tidak mungkin ayah dan ibu adalah keturunan dari dua Dewa tertinggi itu” aku bergumam sendiri saat mendengar penjelasan dari diriku yang satu.


“Kami tahu kamu masih belum bisa menerima kenyataannya namun kami sedang tidak berbohong. Dan jika kamu bingung ingin memanggil kami apa kamu bisa memanggilku putih dan dia hitam"


“Itu tidak mungkin karna aku sejak lahir bahkan tidak pernah melihat ayah dan ibuku, dan kalian bilang kalau mereka adalah keturunan Dewa tertinggi. Jangan berbicara omong kosong kepadaku”. Aku membentak si putih yang sudah menjelaskan dari tadi.


“Kalau kamu kira kami berbohong maka itu adalah kesalahan besar. Karena keberadaan kami sudah menjadi bukti bahwa kamu adalah keturunan para Dewa. Dan bagaimana kami bisa tahu bahwa kamu adalah keturunan dari Dewa tertinggi karna sangatlah tidak mungkin jika keturunan dari Dewa biasa yang mempunyai dua benih kebangkitan dalam tubuhnya apalagi kedua benih itu memiliki elemen yang beberbeda". Si hitam yang dari tadi terdiam pun langsung angkat suara.


Aku sangat kebingungan, aku bahkan tidak tahu siapa ibu dan ayahku tapi mereka bisa mengetahuinya. Yang kutahu hanyalah aku dirawat oleh seorang pemilik penginapan.


“Lalu mengapa aku sama sekali tidak mengetahui siaa ayah dan ibuku? Sedangkan kalian bisa mengetahui siapa mereka”. Aku pun kembali bertanya.


“Mereka dibunuh saat Ibumu selesai melahirkan dirimu dan kami para benih sudah mendapatkan pengetahuan tentang keberadaan kami. Kami tahu dari mana kami berasal”. Si putih menjelaskan dengan sangat tenang.


“Tapi tetap saja aku tidak percaya".


“Kalau kau ingin mengetahui semuanya maka kau harus mendapatkan benih kebangkitan" si putih lalu memberitahu apa yang harus ku lakukan.


“Kau juga mungkin bisa tahu siapa yang membunuh kedua orang tuamu” si hitam lalu berjalan kedekatku.


“Kau tahu, kau itu sangatlah bodoh, kau kira dengan hidup bersama-sama dengan orang itu bisa membuatmu bahagia"


“Apa yang kau katakan?” Aku membentak si hitam.


“Aku berkata yang sebenarnya, aku mengatakan fakta. Manusia rendahan itu tidaklah cocok untuk tinggal bersamamu”. Si hitam terus merendahkan ibu angkatku sambil tersenyum.


“Tarik kata-katamu sekarang! Aku tidak akan segan-segan melawan orang yang mengejek ibuku". Aku tidak bisa mengendalikan emosiku sama sekali.


“Hah Ibumu, lucu sekali. Manusia rendahan seperti itu bukanlah Ibumu sampai kapan kamu akan sadar”. Si hitam mengejek ibuku sambil tertawa.


“Kubilang tarik kata-katamu tentang Anna sekarang! Walaupun dia adalah ibu angkatku aku tidak akan segan-segan”. Aku membentak si hitam lebih kuat lagi.


“Jika kau ingin aku menarik kata-kataku maka lawanlah aku"


“Baiklah aku akan melawanmu". Aku menerima tawaran si hitam untuk melawannya.


“Jika kau ingin melawan kami maka akan ku beritahu satu hal, jika kau terluka menggunakan tubuh itu maka akan menjadi luka yang permanen dan tidak bisa disembuhkan serta rasa sakit yang kamu dapatkan saat menggunakan tubuh ini akan sama seperti saat kamu menggunakan tubuh jasmani, jadi ingat itu baik-baik”. Setelah menjelaskan itu si putih dan si hitam mundur beberapa langkah dariku. Mereka menjaga jarak sebelum memulai pertarungan.


“Aku akan mengingat itu”.


“Baiklah jika kamu ingin melawan maka aku akan membantu hitam". Si putih mulai memasang wajah serius.


“Bahkan jika kalian berdua sekalipun aku tidak takut". Aku juga mulai menyiapkan kuda-kudaku sebelum memulai pertarungan.


“Ohh hebat sekali, hebat sekali, aku sampai merinding mendengarnya”. Si hitam kembali mengejek ku.


“Baiklah mari kita mulai pertarungannya” si putih dan si hitam juga sudah menyiapkan kuda-kuda mereka.


“Konfirmasi: Pertarungan untuk mendapatkan benih akan dimulai"


Suara apa itu? Aku tidak pernah mendengar suara itu. Aku melihat sekitar dan tidak ada apa-apa selain kami bertiga.


“Apakah kau tidak pernah mendengar suara sistem?” si hitam melihatku seperti sedang mengejek tapi aku tidak menghiraukannya. Suara sistem aku sama sekali tidak pernah mendengarnya. Konon suara itu hanya terdengar pada orang-orang tertentu. Dan banyak orang mengaku bahwa sudah pernah mendengar suara sistem karena orang yang mendengar suara sistem dianggap mendapat pencerahan yang di berikan oleh dewa tertinggi dan orang yang dapat mendengar suara sistem akan diperlakukan secara khusus di mana saja. Namun karena banyak orang yang mengaku bahwa mereka bisa mendengar suara sistem maka suara sistem akhirnya hanya dianggap sebagai omong kosong.


“Konfirmasi: perisapan pertarungan sudah selesai, bersiap untuk memulai pertarungan. Pertarungan 2 melawan 1 akan dimulai. 3,2,1 pertarungan dimulai"


“Teratai Langit: Tujuh belas tetesan" si hitam tiba-tiba berteriak.


Aku yang sudah menyiapkan kuda-kuda langsung menahan serangan si putih lalu mengalihkan serangannya ke samping kiriku. Dan langsung menjaga jarak dari si putih. Aku melompat ke kanan sekitar 2 meter untuk menjauh. Namun saat mendarat tangan kananku terkena serangan dari si hitam. Apa yang terjadi? Aku pun tak tahu. Tiba-tiba saja aku terkena serangan dari si hitam. Terdapat lubang yang menembus tanganku akibat terkena serangan si hitam. Aku lalu menoleh ke arah si hitam.


Di sekitar si hitam terdapat seperti bola-bola air yang terus berputar mengelilingi si hitam. Jumlah bola-bola itu ada enam belas yang masih ada di sekitarnya. Bola-bola itulah yang melubangi tangan kananku.


“Aku harus berhati-hati agar tidak terkena serangan itu. Karena kalau sampai terkena serangan itu di titik vitalku maka akan berakibat sangat fatal". Aku kemudian terus menghindari serangan yang dilancarkan oleh si hitam.


Si putih yang tadi menyerang ku kini sedang terdiam. Ia sedang menyiapkan sesuatu sembari si hitam menyerangku.


“Sihir penciptaan: Rainbow Sword". Si putih tiba-tiba mendapatkan pedang yang memiliki 7 warna entah dari mana. Pedang tujuh warna adalah pedang legenda yang dulunya pernah dimiliki oleh seorang Dewa perang. Dan pedang itu hanya ada di dunia para Dewa. Apa itu? Bagaimana dia bisa mendapatkannya? Banyak hal yang terjadi. Aku tidak mengerti semuanya. Si putih lalu maju dan mulai mendekatiku dan saat sudah berada di hadapanku si putih langusung menyerangku menggunakan pedan itu.


“Rainbow Sword: Gaya pertama: Lengkungan Pelangi". Si putih langsung menyerang dengan skill pedang itu. Ia hampir saja menebas leherku menggunakan pedang itu namun untungya aku bisa menghindari serangan itu dan melompat beberapa langkah ke belakang. Tidak sampai di situ si hitam juga mengeluarkan skill yang lainnya.


“Teratai Langit: Tetesan Darah". Darahku yang dari tadi meleleh menjadi bola-bola dan berputar mengelilingi si hitam.


Sepertinya skill yang di pakai si hitam memerlukan cairan untuk mengeksekusi serangannya. Dan yang dia pakai di awal adalah cairan dari tubuhnya. Dan sekarang ia menggunakan darahku yang meleleh sebagai amunisi untuk skill nya.


Si hitam mulai menyerangku kembali. Kali ini kecepatan serangannya meningkat. Dan kerusakan yang di berikan pun lebih besar. Aku berusaha sekuat tenaga menghindari serangan dari mereka berdua. Dari delapan serangan yang di berikan si hitam aku terkena tiga serangan. Untungnya tidak ada yang terkena titik vitalku. Tangan kananku menerima dua serangan sekaligus dan alhasil serangan itu mentebabkan tangan kananku tidak dapat berfungsi lagi. Dan pahaku tergores saat menghindari serangan si putih.


“Hah, hanya itu saja kah kemampuanmu? Bukankah kau ingin aku menarik ucapanku, atau tekadmu hanya sampai situ saja". Si hitam sangat membuatku marah, aku bersumpah akan membuat dia menarik perkataannya.


Si putih kemudian terdiam lagi. Si hitam masih terus menyerangku dan aku masih berusaha untuk menghindarinya. Setelah menghindar beberapa saat si hitam juga mulai berhenti menyerangku. Si hitam mulai berhenti menyerang ku lalu dia terdiam untuk sementara waktu dan tiba-tiba dia mengacungkan tangannya kedepan.


“Summon: Dark Puppet". Di depan si hitam muncul sebuah lingkaran sihir, dan perlahan-lahan sebuah portal terbuka di lingkaran sihir itu. Portal itu makin lama makin membesar hingga diameter portal itu berukuran sekitar tiga meter. Portal itu mengeluarkan aura kegelapan yang sangat pekat. Dan sesuatu sepertinya mulai keluar dari dalam portal itu. Dan yang keluar dari portal itu adalah sebuah boneka yang berbentuk seperti manusia dengan tinggi hampir mencapai tugas meter. Boneka itu memiliki enam tangan dan keenam tangannya memegang senjata yang berbeda-beda.


“Mengapa kau terdiam seperti itu? Apa ku ingin mati?”. Aku sama sekali tidak sadar kalau si putih menghilang dari tadi karena aku terlalu sibuk menghindari serangan dari si hitam. Tiba-tiba saja dia sudah berada di belakangku dan mengayunkan senjatanya. Karena tidak ada cara lain aku mengorbankan tangan kananku yang dari tadi terkena serangan secara terus-menerus. Dan si putih pun berhasil menebas tangan kananku.


Aku merasa sangat tidak adil dalam pertarungan ini. Bagaimana tidak aku hanya bisa menghindari serangan mereka satu persatu sedangkan aku sama sekali tidak punya perlindungan dan senjata untuk menyerang balik. Aku berpikir sangat keras untuk bisa mengalahkan mereka tanpa senjata. Namun aku terpikirkan sesuatu yang sangat gila.


“Melawan tanpa senjata kah? Itu sama saja cari mati. Jika mereka bisa mengeluarkan senjata seperti itu maka aku juga seharusnya bisa karena mereka juga adalah diriku". Gumamku. Aku kemudian menunggu mereka mmenggunakan salah satu skill mereka agar aku bisa mempelajari bagaimana mereka menggunakannya. Si hitam yang sudah menyelesaikan pemanggilannya langsung memerintahkan boneka itu untuk menyerangku. Dan si hitam kembali terdiam, aku yakin sekali ia akan mengeluarkan sebuah skill. Dan tepat sekali.


“Sihir Penciptaan: Robin Hood”. Seketika langsung muncul sebuah busur panah di tangan si hitam. Dan setelah busur itu muncul si hitam langsung menyerangku untuk membantu si putih dan boneka panggilannya yang sedang menyerangku dari jarak dekat. Busur yang dimiliki si hitam tidak menggunakan anak panah asli karena aku tidak melihat ada anak panah yang muncul bersamaan dengan busur itu tapi yang dikeluarkan dari busur itu adalah anak panah sihir.


Aku kemudian mulai mencari cara bagaimana dia menggunakan sihir penciptaan untuk mendapatkan senjata sembari menghindari serangan yang datang padaku. Aku tiba-tiba teringat pada sebuah buku yang pernah aku baca di guild petualang tentang cara menggunakan sihir. Di situ dijelaskan bahwa jika ingin menggunakan sihir yang di perlukan adalah gambaran tentang apa yang di keluarkan yang berarti yang diperlukan saat menggunakan sihir adalah berimajinasi. Semuanya masuk akal karena saat ingin menggunakan sihir si hitam atau si putih pasti akan terdiam beberapa saat.


Tapi dengan mengetahui bagaimana mereka menggunakan sihir belum bisa membantuku. Karena saat ingin menggunakan sihir aku perlu berimajinasi senjata apa yang ingin aku ciptakan. Dan saat berimajinasi aku perlu diam beberapa saat agar bisa mengimajinasikan sebuah senjata dengan baik dan itu sangatlah tidak mungkin karena mereka akan langsung menyerangku saat aku terdiam. Namun aku tidak bisa berlama-lama tanpa senjata karena itu akan sangat merugikan bagiku. Namun aku dapat ide yang sangat gila tapi sebelum melakukan ide gila itu aku perlu memikirkan terlebih dahulu senjata apa yang akan aku ciptakan sebelum menggunakan sihir itu.


“Aku akan menciptakan senjata itu saja”. Setelah terpikirkan senjata yang akan ku ciptakan aku lalu menghindari beberapa serangan dari mereka dan aku langsung melakukan ide yang aku pikirkan tadi. Walau ini sangat gila dan tingkat keberhasilannya tidak lebih dari 25% tapi aku harus mencobanya. Aku lalu melompat ke atas sekuat tenaga di tambah dengan sihir angin dasar untuk membantuku melayang di udara untuk sementara waktu. Si hitam dan si putih yang masih menyerangku kaget karena aku melompat sangat tinggi dan ini merupakan kesempatan yang sangat bagus saat mereka masih berusaha memahami keadaan. Tanpa berlama-lama aku menggunakan kesempatan ini untuk berimajinasi dan merapalakan sihir penciptaan sebelum ada serangan yang datang. Si hitam yang sudah mengerti dengan apa yang sedang terjadi dia lalu mengangkat busurnya dan mengarahkannya padaku. Dia tanpa ragu langsung mengeluarkan skill dari busur itu.


“Robin Hood: Gaya Kesembilan: Bintang Jatuh Harley”. Serangan itu langsung menuju padaku dengan kecepatan tinggi. Aku berusaha untuk berimajinasi dengan baik agar aku dapat menciptakan senjata sebelum serangan si hitam mencapaiku. Dan akhirnya aku menyelesaikannya. Aku lalu langsung menggunakan sihir penciptaan.


“Sihir penciptaan: Ame No Habakiri”. Sebuah Katana mulai muncul di tangan kiriku. Dan setelah katana itu muncul seutuhnya aku lalu dengan cepat mengeluarkan Ame No Habakiri dari sarungnya menggunakan mulutku. Setelah mengeluarkannya aku langsung berbalik dan menebas serangan si hitam yang dari tadi mengarah padaku. Karena menebas serangan dari si hitam aku terhempas ke belakang sejauh empat meter. Dengan cepat aku bangun dan mempersiapkan posisi sebelum mereka sampai dan kembali menyerangku.


Senjata yang aku ciptakan adalah sebuah katana yang dulunya pernah di pakai oleh salah satu dari Dewa perang. Aku membaca buku tentang para Dewa saat masih kecil dan buku itu terdapat cerita dimana seorang Dewa berperang menggunakan satu Senjata dan Mengalahkan 2.000 Dewa yang lainnya sendirian mengunakan senjata itu. Ame No Habakiri adalah senjata dengan skill pasif yang dapat menyerap kekuatan dari lawan di sekitarnya. Semakin lama musuh bertarung maka akan semakin melemah dan Ame No Habakiri adalah salah satu pedang tertajam dalam legenda.


Saat sedang mempersiapkan posisi tiba-tiba ada banyak pengetahuan yang masuk ke kepalaku secara bersamaan. Semua itu masuk secara bersamaan dengan jumlah yang banyak dan karena itu kepalaku menjadi sangat sakit namun aku harus menahannya. Setelah semua pengetahuan itu muncul kepalaku mulai tidak sakit lagi.


Saat baru akan merasa lega si putih sudah datang sambil mengayunkan senjatanya dan dibantu dengan boneka itu. Boneka itu mengayunkan sebuah tongkat panjang yang merupakan senjata dari keenam senjatanya. Aku tidak menghindari serangan mereka tapi aku langsung berlari menerjang kearah mereka.


“Ame No Habakiri: Gaya Ketiga: Tebasan Bayangan”. Si putih yang melihat aku berjalan aku berlari kearah mereka mengayunkan pedangnya untuk menebasku namun dia yang terluka saat mengenai skill ku dan yang dia tebas adalah bayangan dari skill Ame No Habakiri. Lehernya terluka parah dan darah bercucuran sangat deras sedangkan senjata dari boneka itu terbelah menjadi dua. Setelah melakukan serangan itu aku langsung pergi untuk menyerang si hitam.


“Ame No Habakiri: Gaya Kelima: Jalan Bayangan". Aku menggunakan skill Ame No Habakiri untuk mencapai si hitam secepat mungkin agar dapat melumpuhkannya sebelum si putih kembali melancarkan serangan. Aku masuk kedalam bayanganku menggunakan skill jalan bayangan dan bergerak dengan cepat kearah si hitam. Untungnya tempat ini gelap sehingga aku lebih leluasa menggunakan skill ini untuk berpindah tempat dan setelah sampai di belakang si hitam aku langsung keluar dari bayanganku dan menusuk jantungnya.


Si hitam yang jantungnya tertusuk langsung tersungkur lemah dan tidak bisa bergerak lagi. Boneka panggilan si hitam juga berhenti bergerak. Boneka itu perlahan-lahan mencari dan kemudian menghilang.


“Sepertinya kau lengah, apakah kau sudah lega karena mengira aku sudah tidak bisa bergerak?”. Aku tidak sadar kalau si putih berada di belakangku sampai dia menusuk perutku dari belakang menggunakan pedangnya. Apakah dia dibelakangku saat aku berhasil melumpuhkan si hitam?. Sial aku terlalu lengah, aku berulang kali mengutuk kebodohanku. Apakah aku akan kalah? Aku sudah tidak tahu lagi.


“Konfirmasi: Pertarungan untuk mendapat benih telah selesai. Pertarungan dimenangkan oleh pemilik tubuh individu bernama Shyr.”


Kukira aku akan kalah, aku kemudian berjalan menuju si hitam untuk memintanya menarik perkataannya. Saat sampai aku membaringkan si hitam dan memintantanya untuk menarik perkataannya.


“Hei hitam aku sudah memenangkannya, aku juga sudah mengalahkanmu. Aku minta untuk tarik kembali perkataanmu sebelumnya”.


“Dasar bodoh, kau berjalan dengan luka itu hanya untuk itu. Apakah kau sudah tidak sayang pada nyawamu? Tapi baiklah aku akan menarik perkataanku, aku minta maaf jika itu melukai hatimu. Aku melakukan itu karena kami ingin kamu untuk melawan kami dan kalau aku tidak melakukan itu maka kau tidak akan mau melawan kami. Aku sungguh minta maaf. Aku sangat menyayangimu diriku". Si hitam lalu menutup matanya untuk selamanya. Aku menyesali semuanya, aku telah melakukan semuanya hanya denga emosi sesaat.


“Kamu tidak perlu menyesalinya karena itu semua adalah keinginan kami”. Si putih menepuk pundak ku untuk menghibur dan setelah itu ia berjalan kearah si hitam lalu mengangkat mayat si hitam. Ia lalu berjalan beberapa langkah menjauh dariku.


“Selamat tinggal diriku, sangat senang saat melihatmu berada di sini. Aku juga sangat mencintaimu, selamat tinggal diriku". Si putih lalu tersenyum hangat padaku. Aku hanya bisa terduduk saat melihatnya. Aku sama sekali tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa melakukan apapun.


“Ohh sistem kami sudah siap". Si putih lalu berteriak lantang.


“Konfirmasi: proses pengambilan benih akan dimulai"


Apa itu? Si putih dan mayat si hitam perlahan mulai memudar. Mereka makin malam makin menghilang. Kaki mereka mulai berubah menjadi butiran-butiran cahaya dan membentuk sebuah benih. Sebelum seutuhnya menghilang si putih kembali memberikan senyuman hangatnya kepadaku seolah ia ingin menyemangatiku dan akhirnya mereka berdua hilang sepenuhnya. Aku sangat sedih, aku menyalahkaj semuanya. Jika saja aku tidak berada di sini maka aku tidak akan mengalami semua ini. Aku tidak akan memaafkan mereka yang membuatku berada disini. Aku akan membunuh kalian suatu saat Lian dan Liam. Aku akan membuat kalian merasakan hal yang sama denganku.


“Konfirmasi: Proses pengambilan benih telah selesai. Benih yang di dapatkan ada dua, apakah ingin memasang keduanya?”


“Ya tolong lakukan itu". Aku tidak akan menyia nyiakan usaha mereka.


“Konfirmasi: Penanaman benih akan dimulai. Melakukan pencocokan tubuh astral dan benih. Menghitung semua kemungkinan".


Tubuhku terasa panas saat proses ini. Semua bagian tubuhku sangat sakit. Aku memuntahkan banyak darah dan perutku yang terluka juga mengalami pendarahan. Urat-urat di tubuhku bermunculan. Tubuhku membiru. Aku tidak bisa menahannya lagi.


“Aku minta maaf hitam dan putih, aku sudah tidak bisa bertahan lagi dan jika aku sudah sampai disana tolong jangan memarahiku”. Aku sudah mencapai batas kekuatanku. Aku sudah tidak bisa bertahan.


“Konfirmasi: Jiwa individu bernama Shyr telah menghilang. Proses tidak dapat di lanjutkan. Di perlukan Jiwa yang memiliki frekuensi yang sama! Memulai pencarian Jiwa dengan frekuensi yang sama".


...~End Of Chapter 4~...