What If I Become A God

What If I Become A God
Chapter I : Fell



“Hey Shyr cepatlah, kita harus sampai di dungeon itu sore ini". Lian berteriak dari barisan bagian depan. Aku kemudian berlari secepat mungkin ke tempat Lian agar aku tidak dimarahinya.


Namaku adalah shyr aku adalah seorang petualang biasa dari kota Tish. Saat sedang mencari misi di guild petualang, tiba tiba ada yang memegang punggungku.


“ Hey, siapa namamu?”. Seorang perempuan bertanya kepada ku saat aku berbalik.


“ Namaku Shyr,  aku petualang C rank. Apa yang kau butuhkan dariku?”. Aku pun bertanya kembali.


“Ah, aku Lian, aku seorang petualang S rank. Aku sedang mencari orang yang mau bergabung dalam partyku untuk mengalahkan boss dungeon. Apakah kau mau ikut?”. Dia mengajakku untuk bergabung dalam party nya, untuk mengalahkan boss dalam sebuah dungeon. Aku pun menerima tawaran itu.


Setelah menerima tawaran itu aku kembali ke rumahku untuk mengambil beberapa perlengkapan serta pedang dan tas ku. Lalu aku langsung berlari kembali ke guild karena aku belum tahu kapan kami akan berangkat menuju dungeon itu, karena menuju dungeon itu butuh waktu 10 jam jalan kaki.


“Kak Lian aku sudah siap. Apakah kita akan langsung jalan kak?”. Aku berlari dari luar guild dan menanyakan waktu keberangkatan pada Lian.


“Hah, iyalah memangnya kamu pikir kita akan jalan kapan dan jangan panggil aku kak itu terdengar menjijikan, panggil saja aku Lian”. Lian membalasnya dengan nada malas.


Setelah itu kami langsung berangkat menuju dungeon itu, kami semua berjumlah 45 orang dengan ketua tim kami Lian. Kami dibagi menjadi 3 barisan. Barisan pertama adalah tim Lian yang bertugas untuk mengalahkan monster sepanjang perjalanan, lalu barisan kedua adalah pengguna sihir dan healer. Mereka bertugas untuk memberikan buff untuk barisan pertama saat terjadi pertempuran, dan yang terakhir adalah barisan ketiga. Barisan ketiga hanya berisikan 5 orang yang di pimpin olehku, barisan ketiga berfungsi untuk membawa barang bawaan.


Saat di tengah perjalanan barisan kedua kami diserang oleh monster, monster ini berukuran sekitar 3 meter tingginya dan  lebarnya 1,5 meter. Kepalanya terdapat sebuah tanduk yang berbentuk seperti palu, nama monster ini adalah Bigboar. Lian lalu berteriak dari bagian depan untuk melakukan serangan pada monster itu.


“Cepatlah sebelum barisan kedua ada yang terluka, serang monster itu!”. Lian langsung bergerak menuju monster itu dan menyerang kaki bagian belakangnya untuk mengurangi pergerakan monster itu. Kemudian dua orang pengguna tombak datang dan menusuk perut monster itu dari kedua bagian dan menahan monster itu untuk sementara. Lalu barisan kedua yang tadinya diserang sudah bangun dan mereka dengan sigap memberikan buff kepada Lian dan dua orang pengguna tombak itu.


“ Terima kasih. Hey kalian tetap tahan seperti itu, dan aku akan menghabisinya”.


Lian Lalu berlari memutar dari bagian belakang monster itu lalu ia melompat ke atasnya dan langsung memotong kepala monster itu. Darah pun langsung bercucuran tidak karuan dan tubuh monster itu tumbang setelah dipenggal kepalanya. Setelah tubuh monster itu tumbang Lian menyuruh kami barisan ketiga untuk menguliti monster itu dan menyimpannya sebagai bahan makanan. Aku pun menguliti monster itu sendirian karena Cuma aku yang mempunyai pengetahuan untuk menguliti mosnter. Setelah selesai menguliti monster itu kami kembali melanjutkan perjalanan, setelah beberapa lama berjalan kami barisan ketiga sedikit tertinggal karena barang bawaan yang kami bawa sangat berat.


“ Ah cepatlah, kita terlalu lama berjalan. Jika seperti ini kita tidak akan sampai sore ini”. Lian berkata dengan tegas. Sejak pagi kami sudah berjalan menuju dungeon yang dikatakan oleh Lian.


“Tunggu sebentar barisan belakang belum sampai”. Seseorang berkata kepada Lian di barisan bagian depan.


“Hey shyr cepatlah, kita harus sampai di dungeon itu sore ini". Lian berteriak dari barisan bagian depan. Aku kemudian berlari secepat mungkin ke tempat Lian agar aku tidak dimarahinya.


“Maafkan aku, barisan ketiga sudah sangat lelah berjalan dan aku lelah sekali karena harus menguliti monster itu sendirian".


“Begitu saja sudah lelah, bagaimana kau akan mencapai S rank sepertiku”. Lian lalu kembali berjalan kedepan dan meninggalkan ku setelah berkata seperti itu.


“Ayo, jangan dipikirkan apa yang Lian katakan. Kita harus sampai sore ini, jika kau tidak mau dimakan monster”. Liam mengajakku untuk kembali melakukan perjalanan. Liam adalah saudara perempuan Lian. Berbeda dengan Lian, Liam lebih baik dan lebih pengertian daripada Lian. Mereka berdua dikenal sebagai duo terkuat di kota Tish karena kemampuan berpedang Lian yang sangat hebat ditambah lagi Liam adalah pengguna sihir tingkat tinggi.


Setelah berjalan sebentar akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kami tidak langsung masuk kedalam dungeon, Lian berkata untuk istirahat di titik aman dungeon dan kemudian masuk kedalam dungeon pagi sekali besok. Saat sedang istirahat Aku dan Liam menyiapkan makan malam, kami memasak daging Bigboar yang kami kalahkan siang tadi di perjalanan. Setelah selesai masak kami berdiskusi tentang rencana besok yang dipimpin oleh Lian.


“Dengarkan kalian semua pagi – pagi sekali kita akan pergi kedalam dungeon. Kita akan membagi menjadi 4 grup. Pertama Aku, Shyr, dan Liam akan pergi ke ruangan boss  untuk mengalahkan boss sisanya kalian akan membantu kami untuk melawan musuh lain saat kami sedang melawan boss”. Lian menjelaskan dengan penuh wibawa. Setelah mendengar penjelasan Lian kami pun tidur.


Ketika kami baru saja menghindar, kelinci itu menghilang. Dalam sekejap mata tiba-tiba kelinci itu sudah berada di depan ku dengan kakinya mengarah padaku. Kecepatan kelinci itu sama sekali tidak bisa diikuti kecepatan mata. Aku menutup mata takut dan mengira ini adalah akhir riwayatku.


“Ting". Itu adalah bunyi pedang yang berbenturan. Saat aku membuka mataku pedang Lian sudah menangkis serangan dari kelinci itu.


“ Kau tidak apa-apa Shyr?”. Liam bertanya kepadaku.


“Aku tidak apa-apa”. Aku membalas Liam.


“ Hey Liam cepat beri aku buff, dan juga Shyr jika kau ingin menjadi kuat maka bangunlah dan hadapi monster ini".


“Baiklah aku akan membantu”. Aku kemudian berdiri dan mengambil pedangku. Lalu Liam memberi buff kepada kami berdua. Aku kemudian berlari ke sudut ruangan.


“ Hey, apa yang kamu lakukan?” Liam berteriak.


“ Tenang saja aku punya rencana”.


Saat sampai di sudut ruangan aku menggunakan skill provoke untuk memancing kelinci itu agar datang menyerangku. Setelah terpancing aku menghindari tendangan dari kelinci itu dan kemudian menusukkan pedangku ke perut kelinci itu lalu membantingnya ke lantai.


“Sekarang saatnya Lian! “. Aku berteriak pada Lian memberi kode kalau kelinci itu sudah tidak bisa bergerak.


“ Bagus sekali Shyr" Lian langsung berlari dan menebas kepala kelinci itu dengan pedang.


Tubuh kelinci itu pun perlahan menghilang, Liam yang berada di sisi lain ruangan kemudian berlari menuju kami.


“Kau tidak terluka kan Shyr?”. Liam bertanya sambil mengecek seluruh tubuhku.


Setelah tubuh kelinci itu menghilang sebuah item jatuh dari tubuh kelinci yang tadi. Lian kemudian mengambilnya dan memasukan kedalam tasnya. Lalu pintu menuju ruangan selanjutnya terbuka. Kami bertiga berjalan menuju pintu itu. Lian dan Liam masuk terlebih dahulu kedalam. Dalam pintu itu terdapat jembatan penghubung yang mengarah ke pintu yang lain.


“Wah indah sekali disini". Aku terdiam sebentar di depan pintu itu. Setelah beberapa saat terdiam aku pun ikut masuk kedalam. Saat sampai di jembatan penghubung aku melihat ke bawah jembatan. Dibawah sana sangat gelap seperti gelap itu akan melahapku.


“Eh, aku terjatuh...”. Tiba – tiba badanku serasa melayang menuju kegelapan itu. Aku berbalik dan melihat apa yang terjadi sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi.


“Selamat tinggal Shyr “. Liam melambaikan tangannya sambil tersenyum seolah tak terjadi apa – apa, Lian yang berada disampingnya juga tersenyum saat melihatku jatuh. Sial.


 


...~end of chapter 1~...