WAR Viewpoint

WAR Viewpoint
3. Code name



Bintang biru saksi kita.


Melihat ke arah langit berbintang.


Tersesat dia ke dalam lamunan itu.


Merasakan melamunkan rasa yang sama.


Dia tahu lebih baik rasa ini.


Di Saat cahayanya menggantikan malam.


Dia terbangun oleh cahaya hangat.


Tetapi tertinggal dalam gelap dan kesendirian.


Terjebak dalam perasaan kesendirian.


Kenapa dia tidak dapat mengejarnya.


Kenapa selalu ada waktu yang memisah.


Tidak bisa dia menghilangkan rasa kesendirian itu.


Hanya bisa mengharapkan.


Melamunkan.


Keabadian sore.


Tolong berikan waktumu.


.....


"Kalian ingin mengatakan padaku bahwa hanya itu kemampuan kalian!"


"Kalian kira tempat ini apa? Taman kanak-kanak?!"


"Usahamu bahkan lebih buruk dari seseorang anak yang berada di bangku sekolah menengah pertama"


Teriakan dari atasan yang menjadi juru pelatih pemula terdengar di setiap sudut lapangan.


Ini adalah pagi terbaik yang pernah dia rasakan.


Jika saja bukan karena fakta bahwa bukan mereka yang menjadi korban teriakan itu, mungkin senyuman kecil di wajahnya juga akan berubah.


Tetapi sayang hal itu tidak berlaku untuk tiga budak baru yang menjadi sasaran dari kekerasan ferbal saat ini.


'Apakah dia melunakkan hatinya karena melihat usia mereka yang lebih muda dari kami waktu itu?'


'Padahal apa yang kami terima saat itu jauh lebih buruk dari pada ini'


Saat ini ketiga dari mereka baru saja menyelesaikan lari pemanasan sebanyak 10 putaran lapangan sepak bola.


Mendengar bagaimana setiap nafas itu tersengal sengal dan menghirup udara dengan rakus dapat membuat siapa saja berpikir bahwa ini adalah latihan yang sangat kejam untuk di lakukan pada anak anak seumuran mereka dan pelatih ini pasti telah menganiyaya mereka.


Tetapi para veteran tau lebih baik, latihan semacam ini adalah latihan yang bagus untuk semacam pemula untuk meningkatkan mentalitas dan fisik mereka.


Yah setidaknya itu terbukti mengingat bahwa apa yang mereka lakukan waktu itu bahkan lebih kejam dari pada apa yang mereka minta anak anak baru itu lakukan.


"Tiga ternitas pecundang generasi pertama"


Mendengar bagaimana nama konyol yang selalu dia benci keluar dari mulut mantan pelatih, masing masing dari mereka yang tahu dengan baik kepada siapa nama konyol itu mengarah dengan cepat berdiri secara horizontal membuat barisan.


"Siap"


"Aku ingin memperkenalkan kepada kalian calon tiga ternitas pecundang generasi kedua"


Melihat ketiganya berkumpul pelatih itu tak perlu berbahasa yang basi.


"Kemajuan dan kemunduran mereka bertiga di masa depan menjadi tanggung jawab kalian"


"Aku tidak ingin ada satupun drama disini"


"Jadi kalian sesama pecundang, sebaiknya kalian bekerja sama dengan baik!"


***


Sore hari setelah latihan berakhir


Brak!


suara pintu besi yang terbuka dengan kasar berhasil menarik perhatian di ruangan.


"Siapa yang bernama ian disini?"


Seseorang yang menjadi pelaku dari hal itu masuk dengan wajah serius kemudian bertanya.


Menghiraukan nada kasar itu, ian yang merasakan namanya di panggil menolehkan kepalanya dengan tanda tanya besar.


"Laksamana memanggilmu"


***


Melewati lorong demi lorong, walaupun tidak ada mulut yang berbicara, siapapun dapat mengetahui bahwa ada semacam keanehan yang terjadi pada hari ini.


Lalu ada juga aura tak mengenakan yang datang dari setiap prajurit.


Apa yang terjadi hari ini?


Dan yang lebih penting lagi kemana mereka akan membawanya?


Apa hal yang sangat penting ini sehingga bahkan mereka tidak membiarkannya mengganti baju dengan benar.


Dia saat ini berjalan dalam keadaan bertelanjang dada.


ada total empat prajurit yang menuntun di setiap sisinya.


Dengan perasaan was was, irisnya melihat mereka telah menuntunnya ke arah yang bahkan dia sendiri tidak ketahui


Memasuki sebuah ruangan yang terlihat biasa, salah satu dari mereka mendekat ke arah salah satu diantara penjaga itu dan mengeluarkan bisikan.


Setelah selesai mereka kemudian berjalan kembali memasuki ruangan, hal yang tak terduga adalah keberadaan tangga yang menuju bawah tanah di tempat itu.


Merasakan bahaya, dia yakin bahwa detak jantungnya yang tak karuan telah di dengar oleh orang orang itu


Bisa saja tidak, tetapi sebagai elit apakah sesulit itu mendengarnya? atau mereka tidak peduli sama sekali.


Berhenti di depan tangga sejenak, tetapi mereka sama sekali tak membiarkan itu, sebuah tangan bergerak cepat mendorongnya dari belakang untuk terus bergerak maju.


Pasti salah satu prajurit di belakangnya.


Ruang luas berwarna putih adalah apa yang selanjutnya dia lihat, cukup mengejutkan ini bahkan di bangun di bawah tanah.


Terus berjalan, di sepanjang jalanan, dia melihat orang orang dengan kemeja putih dan beberapa tentara.


Sebuah tangan di punggungnya mengingatkannya untuk apa dia disini, orang orang itu terus menuntunnya untuk bergerak maju.


Sama sekali tidak ada jendela yang tidak mengejutkan tetapi pintu yang berderet di sepanjang jalan sangat mencurigakan, apalagi fakta bahwa mereka memiliki penampilan yang sama.


Seberapa luas tempat ini? Cukup mengejutkan tempat semacam ini di bangun di bawah tanah.


Apa yang mereka lakukan dengan tempat semacam ini?penelitian bom nuklir?


Tepat setelah dia mengira mereka hampir sampai, mereka berhenti di sebuah pintu besar yang terlihat seperti ruangan penting.


dia kemudian melihat salah satu dari mereka pergi untuk menggesek sebuah kartu sebelum pintu itu terbuka sepenuhnya.


tetapi apa yang dia lihat selanjutnya membuat nafasnya tercekat.


Tabung tabung itu, apa yang mereka lakukan menaruh mereka disana.


Ketiga anak baru yang seharusnya saat ini berada di dalam ruangan isolasi pemula masing masing berada di dalam tabung yang berbeda dengan berbagai kabel yang terhubung ke tubuh mereka.


Bahkan haru dan achilles.


Apa yang terjadi, mereka baru saja menyelesaikan misi itu dan menuruti apa yang mereka perintahkan.


Ini sangat berbeda dengan apa yang mereka janjikan.


Tahu bahwa situasi akan merepotkan dia tetap mencoba untuk mencari jalan keluar.


"Hentikan dia"


Suara laksamana flynn terdengar dengan perintah mutlak.


Keempat penjaga sebelumnya kini berusaha untuk menghentikannya.


Tetapi sekuat apapun dia mencoba, ini benar benar situasi yang buruk, bagaimana dia dapat menang dari empat lelaki dewasa yang telah menghabiskan waktu mereka di ketentaraan.


Dengan beberapa pukulan dari mereka sudah cukup untuk membuatnya kalah dan terjebak dalam genggaman mereka.


Bahkan jika situasi telah berjalan ke titik ini bagaimana bisa dia membiarkan mereka menang telak dengan puas.


"Manusia gila! ayah macam apa yang membiarkan anaknya menjadi tikus penelitian"


Meludahkan kata kata itu di wajah sang laksamana, melihat bagaimana alis itu berkerut dan ekspresi wajah yang berubah dia tahu bahwa dia telah menyentuh titik terlemahnya.


Hal yang selanjutnya terjadi adalah bagaimana tubuhnya terhempas ke dinding terdekat karena sebuah pukulan.


Sebuah tangan kasar menggenggap rambutnya yang membuatnya mendongak ke atas.


"Nak kau harus perhatikan baik baik bagaimana kau bicara, aku juga mempunyai batas kesabaran, apa yang aku lakukan untuk achilles adalah apa yang aku anggap terbaik sebagai ayahnya"


"Dan kau juga berada di sini karena ayahmu menginginkan kau untuk ikut dalam hal ini"


Mendengus dengan lucu dan rasa kesal yang bercampur aduk, apa yang dia benci adalah ketika seseorang menyebutkan hal itu.


"seorang ayah yang tidak pernah peduli pada anaknya tidak berhak untuk ikut campur dalam urusannya"


Hal terakhir yang dia ingat setelah itu adalah bagaimana dia merasakan tubuhnya terhempas sekali lagi di sertai oleh rasa sakit yang menusuk di keningnya dan suara samar.


"k%ta h#r@s &@%yu$tik&ya"


"C@de n4m#"


"_003"