WAR Viewpoint

WAR Viewpoint
2. Si tiran dan penolong kecil



"Aho ka! perhatikan kemana kau berjalan!"


Tiran ini pasti lebih kesal pada ku dari pada sebelumnya, ini benar benar situasi yang merepotkan.


Sekarang posisi mereka berdua adalah dimana mereka terduduk di lantai bersama.


Tetapi hal yang paling mengganggu ku bukanlah kata kata kasar itu, tetapi bunyi rintikan air lainnya yang tak terdengar lagi.


Sama sekali tidak peduli dengan kata kata kasar itu dia mencoba untuk berdiri dan berusaha sebaik mungkin untuk tidak terjatuh sekali lagi.


Untuk mengusir nasib buruk aku benar benar harus pergi dari tempat ini, aku mencium bau masalah yang menyengat jika aku tidak segera pergi dari tempat itu.


Melangkahkan kaki dengan terburu buru, tetapi sayang hal yang paling menyakitkan adalah pada saat kau terbang dan melayang jauh di atas awan harapan tetapi terhempas dan terjatuh oleh kenyataan langsung dari ketinggian itu, dan ini benar benar mendeskripsikan apa yang saat ini tengah terjadi pada diriku.


Saat ingin keluar dan berada di depan pintu kedua tangan besar dengan sigap menahan bahu ku.


Gawat antek antek bocah tiran ini benar benar tidak dapat diajak untuk bekerja sama, kenapa mereka selalu muncul dari ketiadaan pada waktu yang tidak tepat.


"Kusogaki kau benar benar membuatku kesal saat ini"


Mengambil langkah dengan wajah kesal dia berdiri di hadapan kami.


Lalu terlihatlah pemandangan konyol yang aneh, ini karena kedua raksasa berbadan besar yang saat ini memegang tangan ku dikedua sisi tampak seperti anjing penurut di bawah kata katanya.


Jika orang orang melihat ini hal pertama yang akan mereka lakukan mungkin adalah mengecek seberapa tingginya mereka setelah apa yang di lakukan apa mereka menyebutnya marijua_? Ah! marijuana itu.


Lagi pula pemandangan ini dapat merusak sudut pandang logika dunia tidak peduli dari sisi mana seorang memandangnya.


Ini karena dunia bekerja dengan yang kuat akan selalu berada di atas yang lemah, itu juga tidak membantu dengan sifat manusia yang selalu menilai sesuatu dari sampulnya.


Lalu disinilah aku, sisi lemah yang siap untuk dimangsa oleh predator tyran itu.


Tubuhnya yang lebih kecil dari dua orang yang saat ini memegang tanganku mungkin akan membuat situasi ini terlihat lucu.


Tetapi alasan mereka sebenarnya tunduk kepadanya lebih dari itu.


Tetapi hal yang sebenarnya lebih aku takutkan di bandingnya menjadi pelampiasan amarah oleh seorang bocah yang mengeluarkan tentrumnya adalah bagaimana mata tajam lainnya yang melihat dari berbagai arah ke arah kami.


Mereka akan sekali lagi menganggap ini sebagai pertunjukkan.


Dan hari ini akan sekali lagi menjadi hari yang sangat panjang lainnya.


***


"Hei banjingan apa yang terjadi dengan sikap buruk mu di hari pertama, apakah bahkan kau tidak bisa berdiri dengan benar setelah itu?"


"Kalian orang orang bodoh sebaiknya mengontrol diri kalian, jangan menggunakan seluruh kekuatan"


Melangkahkan kakinya dia pergi dengan memejamkan mata seolah olah tidak ada yang terjadi dengan handuk yang melilit pinggangnya.


'Tiran sia*an'


Sekarang dia harus menanggung malu karena anak kecil yang mengasihaninya.


Orang yang baru saja berbicara adalah yang terkecil di antara mereka bertiga.


Tubuh yang terlempar kedinding sama sekali tidak menimbulkan banyak bunyi.


Ini bukan satu atau kedua kalinya dia merasakan ini.


"Uhuk uhuk!"


Rasa besi berkarat mengalir disertai batuk itu.


Darah mengalir keluar dari mulutnya yang sama sekali tidak dia pedulikan.


tetapi air dengan cepat membawa percikan darah itu pergi tampa meninggalkan jejak.


"Ughh!........"


Suara langkah kaki yang memudar sama sekali tidak membuat situasi ini lebih baik.


'Dasar tyran bajin*an dia membawa pergi antek anteknya setelah melakukan ini tampa membersihkan apapun'


Merasakan rasa pusing luar biasa di kepalanya membuat situasi ini lebih buruk dari sebelumnya.


Mencoba bersusah payah agar menjaga maniknya agar tetap terbuka.


Di antara kesadaran yang melawan untuk terjatuh pada kegelapan dia merasakan langkah kaki yang pendekat, dan bersamaan dengan kesadarannya yang tertelan oleh kegelapan.


***


Kala mata terpejam indra penciuman menjadi indra pertama yang sadar.


Bau anestesi obat obatan mengonfirmasi tentang dimana dia berada saat ini.


Perlahan membuka maniknya hal pertama yang menyambut adalah terangnya lampu ruangan yang terasa sangat menyilaukan.


Rasa kebas di kanan adalah rasa familiar yang menyebalkan untuknya.


"Tulang tangan yang retak, lalu cedera di kepala, apakah menurutmu tubuh adalah mainan?"


Suara feminim yang tertuju padanya menyadarkannya dari lamunan segera.


"Madam eleanor"


"Ian berhentilah menjadi pengejut yang selalu tertindas, kau harus mulai belajar untuk melawan, jika tidak hanya tuhan yang tahu apa yang akan terjadi pada tubuhmu satu atau dua tahun lagi"


Mendengar penuturan kasar itu aku hanya dapat menutup mataku dan tersenyum dengan kikuk menggarukkan kepala yang tidak gatal.


Wanita itu berjalan ke sisinya untuk menyuntikkan sesuatu ke dalam jalur selang infus.


Walaupun telah berada di usia kepala tiga harus di akui bahwa dia tidak terlihat setua itu.


Dia sebenarnya tidak memiliki pangkat apapun dalam markas ini, hanya seorang dokter biasa dan itupun bukan dokter militer dan adapun alasan kenapa orang orang memanggilnya madam itu karena suaminya.


Singkatnya dia berada di sini tak lebih karena keinginan suaminya itu, menjadi tidak lebih dari pajangan dan seperti malaikat yang terkurung dalam sangkar emas dengan sayap yang menghilang karena keegoisan.


Atau hanya dia yang suka menganggapnya seperti itu.


"sampai kau merasa lebih baik beristirahatlah disini"


Melihatnya ingin berbalik pergi aku cepat cepat meraih bahunya.


"Tunggu madam bisakah kau memberi tahuku apakah ada orang yang telah mengantarkan ku ke sini?"


Nyonya eleanor lalu berhenti.


"bahkan jika ada mengapa aku harus memberi tahumu"


"Itu urusan ku untuk tahu dan kau harus mencari jawabannya"


"Ian kau tahu jawabannya lebih baik dari pada aku"


Setelah mengatakan itu wanita itu keluar meninggalkannya tampa mendengar bisikan nya.


"Hmm , Kurasa kau benar"


Selain itu aku pikir kita berdua sudah tahu jawabannya


***


Kafetaria ketentaraan


Saat ini duduk dalam kesunyian di kelilingi oleh keterasingan dia tidak punya pilihan lain selain pergi ke tempat ini ketika perutnya berbunyi untuk diisi.


Mengisi perutnya dengan apa yang mereka sebut makanan di sini.


Aroma dan tampilan familiar sebuah bubur merah yang dia tidak tahu apa bahan bahan yang mereka gunakan untuk membuatnya benar benar membuatnya ingin muntah.


Sebuah pertanyaan terkadang melintas di kepalanya setiap kali dia melihat apa yang mereka sajikan untuk para prajurit.


Jika ini adalah makanan yang mereka dapatkan lalu bagaimana dengan para tahanan-tahanan di balik jeruji besi itu.


Atau apakah orang orang tingkat tinggi di negara ini sama sekali tidak menganggap mereka berbeda dengan para tahanan itu?


Jika saja perutnya tidak meminta untuk diisi dengan senang hati dia akan melakukannya.


Mengambil dengan sendok siap untuk memasukkan hal hal yang hampir tidak terlihat seperti makanan itu kedalam mulutnya.


Saat ini satu satunya hal yang perlu dia lakukan adalah memasukkan hal ini ke mulut dan segera menelan tampa mengunyahnya seakan akan tidak ada yang terjadi.


Kebisingan disana tidak mengganggunya.


Dan di menit berikutnya akhirnya dia dapat menyelesaikan makanannya, apa yang membuatnya lebih bersyukur adalah keberadaan susu sapi segar untuk menghilangkan dahaga.


Biasanya jika orang orang itu mencoba untuk menjadi egois apa yang mereka berikan adalah susu coklat, dan membayangkan bagaimana hal itu bercampur dengan bubur merah yang biasanya menjadi makanan disini cukup untuk membuat sebagian prajurit muntah muntah.


Meminun susu dengan tenang, di tengah lamunannya suara kebisingan yang berhenti di sekitar membuatnya heran.


Bunyi pintu berdenyit adalah apa yang selanjutnya menarik perhatiannya.


Sekelompok prajurit tingkat tinggi masuk di pimpin oleh orang yang sangat familiar.


Seragam militer yang sama yang dikenakannya tidak akan berbeda dari yang lain jika saja bukan karena banyaknya lencana yang berada menghias di sana.


Dia adalah pemimpin markas ini.


Laksamana abellard flynn


Pasangan madam eleanor


Tetapi yang menjadi perhatian semua orang bukanlah para prajurit itu tetapi tubuh kecil dengan pakaian lusuh yang mereka kelilingi.


Mereka kemungkinan besar adalah tiga orang budak lain yang di beli oleh negara.