
Tama masih memeluk Luna erat dan menenangkannya dengan mengusap kepala Luna pelan. Semua itu beberapa menit dan disaat Luna tenang dia melepas pelukannya.
"Lo gapapa?" Tanya Tama khawatir.
Luna mengusap sisa air matanya dan mengangguk. Ya Tuhan, Luna benar-benar merasa sangat malu sekarang tapi apa daya dia juga tidak bisa mengatasi ketakutannya sendirian.
"Setakut itu sama petir?"
Luna hanya mengangguk, belum siap untuk berbicara.
Tama mengangguk maklum "mau gue anterin pulang?"
"Gak usah, gue pulang sendiri aja"
"Tapi hujannya masih deras"
"Ya pulangnya nanti kalau udah reda"
"Tapi kelihatannya akan lama"
Luna menghela nafas melihat langit yang masih gelap dan tersenyum "Gapapa"
"Yaudah, kalau gitu gue temenin"
"Gausah protes. Kalau tiba-tiba ada petir lagi gimana coba" kata Tama saat melihat Luna akan melayangkan protes.
"Yaudah terserah" putus Luna.
Keduanya sama-sama diam hingga beberapa menit kemudian Luna merasa dirinya mulai kedinginan. Dia mengusap-usap lengannya semua tindakan Luna tak luput dari pandangan Tama.
"Lo kedinginan?"
Luna menganggukkan kepalanya.
"Mau ke mobil gue dulu? Daripada disini nanti lo tambah kedinginan"
"Sebentar lagi juga reda Kak"
"Ok, kalau lima menit lagi dan masih hujan sederas ini lo wajib ikut ke mobil gue"
Luna hanya diam tidak mau menanggapinya biar aja katingnya itu berkata apa. Kan nanti dia juga bisa menolak. Disisi lain Tama sepertinya akan kehabisan kesabaran karena ternyata Luna itu keras kepala dan semua itu malah membuat Tama merasa tertantang untuk melunakkan keras kepalanya Luna.
"Sudah lima menit dan masih hujan sederas ini. Lo harus ikut gue"
"Gak mau Kak"
"Harus Luna"
"Gak mau"
"Bisa berlari kan?"
Belum juga Luna sempat menjawab tapi Tama sudah bicara lagi "Gue anggap lo bisa"
Ditariklah tangan Luna yang membuat Luna memekik terkejut. Mereka berlari bersama dibawah derasnya hujan, tak sampai lima menit sudah sampai didepan mobil Tama dibukakan pintu mobil untuk Luna setelah itu Tama memutari mobilnya dan masuk di bagian kemudi.
Dia mengambil sesuatu di jok belakang lalu memberikannya ke Luna.
"Nih, handuk. Masih bersih kok" biasanya Tama memang selalu membawa handuk kecil bersih didalam mobilnya untuk berjaga-jaga kalau saja dia tiba-tiba diajak untuk futsal sama temen-temennya.
Diterimalah handuk itu oleh Luna "makasih" Luna tak lupa mengucapkan terima kasih ya meskipun dia masih agak kesal juga dengan katingnya itu.
Karena hanya ada satu handuk dan itupun sudah dipakai Luna maka Tama mengacak-acak rambutnya agar tidak terlalu basah. Luna yang tidak sengaja melihat itu seketika terpesona melihat Tama mengacak rambutnya sehingga menambah kesan tampan, Luna yakin kalau jika saja cewek lain yang melihat itu maka mereka akan menjerit saking terpesonanya.
Tiba-tiba Tama mengarahkan kepalanya kearah Luna, pandangan mereka bertubrukan tapi tak lama karena Luna memilih untuk mengakhirinya dengan mengalihkan pandangan kearah depan.
"Sorry, karena gue udah paksa lo"
Luna mengalihkan pandangannya kearah Tama "it's okey kak. Lagipula gue emang terlalu keras kepala. Padahal mah aslinya gue kedinginan"
Tama tersenyum dan itu membuat Luna terpukau, jujur aja senyuman Tama memang manis dan membuat siapa aja jadi ikut tersenyum "gue gak nyangka kalau lo bakal jujur"
Luna tersenyum simpul "untuk apa bohong juga Kak, gak ada gunanya" memang benar kan bahwa berbohong juga tidak ada gunanya toh kebenaran akan menunjukkan dirinya seiring berjalannya waktu.
"Lo termasuk orang yang gak suka hujan?"
"Gak juga, tapi ada masanya gue gak suka hujan yang terkadang datang tiba-tiba. Seperti saat ini, disaat gue gak mau sama lo malah terpaksa harus sama lo"
Tama mengangguk mengerti namun diakhir kalimat Luna dia tidak mengerti "ada apa dengan gue?"
"Gue hanya gak mau. Bukan artinya gue benci lo ya kak"
"It's okey. Itu wajar mungkin gue nya aja yang terlalu sok kenal sama lo"
"Ehemm. Dan makasih karena tadi udah nenangin gue kak, gue gak tahu apa jadinya gue jika gak ada lo. Kayak apa banget emang gue, tapi ya gitulah"
"Anggap aja itu sebagai permintaan maaf gue. Lo emang setakut itu sama petir?"
"Gue udah maafin lo kak. Jadi jangan merasa bersalah lagi toh cuman masalah kecil"
Luna melanjutkan bicaranya "dulu gue suka sama hujan apapun yang berbau hujan gue suka. Tapi ada kejadian dimana gue takut sama petir dan angin kencang saat hujan. Gue akan gelisah sepanjang hujan dan kalau ada petir yang seperti tadi yang lo lihat, gue juga gak kuat dengan udara dingin"
"Semacam trauma?"
"Ya seperti itu"
Tama menganggukkan kepalanya jadi cewek disampingnya ini ada trauma sendiri.
"Gue anter pulang ya"
"Gak usah kak" tolak Luna.
"Please, sekali aja" Tama memohon kepada Luna. Semoga aja usahanya berhasil.
Karena Luna tidak tega melihat katingnya ini memohon jadi dia mengiyakan "yaudah iya"
Tama tersenyum "mau pulang sekarang atau nunggu hujan reda?"
"Sekarang aja"
"Beneran gapapa?"
Luna mengnaggukkan kepalanya "iya"
Tama mulai melajukan mobilnya menuju rumah Luna dan dengan arahan Luna tentunya. Karena memang rumah Luna yang tidak jauh bisa dikatakan deket jadi hanya butuh waktu lima menit untuk mereka sampai didepan rumah Luna.
Hujan masih turun dengan deras saat mereka sampai.
"Masih hujan, turun nanti aja" saran Tama.
"Gapapa toh udah basah juga ini. Lo juga udah basah kak. Nanti bisa masuk angin" mereka memang sama-sama basah saat menerobos hujan tadi.
"Beneran gapapa?"
"Gapapa, yaudah gue duluan ya kak. Dan terima kasih"
"Oke, hati-hati kalau gitu"
Luna menganggukkan kepalanya dan mulai membuka pintu tapi saat ingin keluar Tama kembali besuara.
"Gue boleh temenan sama lo?"
Mendengar itu Luna tersenyum mengangguk "boleh" dan Luna langsung lari untuk masuk kerumahnya. Semoga aja ibunya tidak curiga jika dia dianter cowok bisa abis dia. Karena jujur saja Luna dilarang untuk dekat dengan cowok kalau belum lulus.
Disisi lain Tama merasa hari ini dia bahagia. Bisa mengenal Luna dengan dekat membuat dia ingin terus bersama Luna dan mengetahui sedikit kelemahan Luna membuat Tama seakan ingin melindungi cewek itu.
Tama melajukan mobilnya menuju rumahnya yang membutuhkan sekitar tak sampai sepuluh menit.
***
Keesokan harinya seperti biasanya Luna berangkat ngampus ya meskipun memang sudah ujian akhir namun dia akan tetap berangkat untuk memantau apakah nilainya cukup atau tidak. Seperti itu juga yang dilakukan teman-temannya.
Luna kini sudah berada dikelas dengan Putri tentunya dan ada beberapa temannya yang lain mereka sibuk dengan gadgetnya masing-masing.
"Putri, kantin kuy. Laper" ajak Luna ke Putri yang sekarang Putri juga sedang sibuk dengan gadgetnya itu.
"Sebentar"
Luna cemberut, sepertinya hanya dirinya didalam kelas ini yang tidak bermain gadget. Lagipula dia juga males buka handphonenya gak ada yang penting juga.
"Ayok ihhh" ajak Luna lagi. Kali ini dengan menggoyangkan tangan Putri.
Putri mematikan handphonenya dan dimasukkan ke tasnya "Iya iya, ayok"
Luna tersenyum "kuy"
Lalu mereka berjalan beriringan menuju ke kantin. Sambil sesekali mengobrol tentang bias mereka. Saat sedang asik-asiknya mengobrol sambil sesekali mereka tertawa tiba-tiba Luna mematung ditempat sebab dia melihat Tama didepannya dengna seorang teman disampingnya mungkin sebentar lagi dia akan berpapasan, Luna terkejut namun sebisa mungkin dia bersikap biasa aja.
Luna akan mengambil langkah jika katingnya itu menyapanya maka ia akan menyapa balik jika tidak maka Luna pun tidak. Saat mereka berpapasan Tama melihat Luna dan tersenyum otomatis membuat Luna juga ikut tersenyum. Putri yang ada disebelah Luna menyerngit bingung pasalnya Luna hanya kenal dengan teman sekelasnya saja dan jika ada kating yang tersenyum kepada Luna seakan menyapa apalagi sepengetahuan Putri itu adalah katingnya maka Putri sekarang benar-benar bingung.
Tama melewati Luna.
"Dia kenal lo"
"Iya, nanti gue ceritain" Putri menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti.
Mereka tetap terus berjalan seolah tidak ada apa-apa. Sesampainya di kantin memereka memesan mkanan dan minuman kesukaan mereka, setelah emndapatkan apa yang diinginkan mereka mencari tempat duduk speerti biasa emncari temapt yang orang tidak adan menyadari kehadiran mereka yaitu dipojok paling belakang.
"Jadi?" Tanya Putri yang sudah penasaran.
"Biarin gue makan dulu. Ok"
Putri mengerucutkan bibirnya sebal. Temannya ini apa tidak taju kalau dia sedang dlam amsa yang sangat kepo. Gimana bisa dan bagaimana? Itu yang menjadi pertanyaan Putri.
Mereka akhirnya memilih untuk menghasibiskan makanannya terlebih dahulu sebelum Luna akan menceritakan hal yang sebenarnya terjadi secara rinci kepada Putri.
"Waktu jadi suporter?" Tanya Putri
Luna mengangguk "jadi waktu itu gue ditabrak orang dan orang itu kak Tama" Luna sedikit berbisik saat menyebut nama Tama
"Terus dari situ lo kelihatan akrab?"
"No, terus kemarin gue gak sengaja ketemu dia ditaman" Luna merasa bingung harus apa tidak menceritakan bagian dia dipeluk Tama.
Luna nampak berpikir "nah kan gue beli bubur dia juga, terus kan gue ketaman tuh untuk makan bubur yang gue beli nah dia ngikut terus kita ngobrol dari situ kita lebih akrab"
Putri menganggukkan kepalanya jadi seperti itu "udah gitu doang?"
Luna berdehem sebagai jawaban.
"Yaudah balik kelas yuk" ajak Putri.
"Eh, tapi jangan cerita siapa-siapa. Secara dia kan kating yang lumanyan populer"
"Siap deh"
Ketika mereka hendak berdiri tiba-tiba ada yang menghampiri mereka lebih tepatnya menyapa.
"Hai, Lun" sapa orang itu dengan minumam dan makanan ditangannya lalu ditaruh dimeja.
"Hai kak Jan" jawan Luna, orang yang menyapa adalah Janah.
"Hai Putri" dibalas anggukan oleh Putri.
"Kalian udah mau balik kelas" tanya Janah saat melihat meja dengan piring yang sudah kosong.
"Iya nih Kak, kami udah dari tadi disini"
Janah kelihatan kecewa "yah, padahal gue mau gabung kalian"
"Sorry kak, tapi kita udah mau balik" samabar Putri. Dia masih terprovokasi ucapan Sukma tempo lalu.
"Yaudah deh. See you" final Janah.
"Bye kak" pamit Luna.
Lantas mereka berjalan menuju kelas.
***
Disisi lain Tama dan temannya yang bernama Huda sedang nongkrong dilab teknik. Sebenarnya sih mereka akan berkumpul ramai-ramai tapi Tama sepertinya datang terlalu cepat. Tapi kalau dilihat-lihat dia dayang tepat waktu.
Mereka duduk selonjoran dilantai karena memang tidak ada kursi adanya bongkahan mesin-mesin.
"Tadi yang lo senyumin siapa?" Tanya Huda heran karena Tama itu bukan tipe orang yang akan menyapa dengan senyuman hanya sekedar untuk menunjukkan 5S yaitu senyum, sapa, salam, sopan dan santun. Dia akan menyapa jika benar-benar kenal. Dan Huda kepo, karena dia tidak mengenali seorang cewek yang disenyumin oleh Tama.
"Yang tadi dijalan?"
"Iyalah yang mana lagi"
"Oh, Luna. Dia setahun dibawah kita"
"Lo kenal?"
"Iya"
Huda menyerngitkan keningnya "kok bisa?"
"Ya bisa lah"
Huda memutar bola mata malas "Lo tahu maksud gue Tam" kata Huda sedikit ditekankan. Kan niatnya dia ingin mengorek tapi Tama seolah polos tidak tahu yang dimaksud Huda.
Tama tertawa geli temannya ini sikap keponya memang belum hilang "okok"
"Waktu itu gue gak sengaja nabrak dia saat gue telat datang ke pertandingan. Nah, karena gue orangnya baik hati gue merasa bersalah dong. Gue minta aja nomer dia ketemannya lalu gue kirim pesan tuh tapi dia super cuek. Dan emang pada dasarnya gue ini manusia yang penuh keberuntungan paginya waktu gue cari sarapan gue ketemu dia ditaman saat beli bubur. Disitu gue akrab sama dia"
Huda mendengus mendengar pernyataaan Tama yang mengangumi dirinya sendiri.
"Oh, terus lo tertarik sama tu cewek?"
Tama mengedikkan bahunya "gak tahu, mungkin iya"
"Gue tertarik sih. Bagi nomernya dong"
"Gak boleh. Kata temennnya dia itu susah untuk dideketin jadi lebih baik gue aja. Gue kan tangguh tuh, sedangkan lo?" Tama menaikkkan alisnya.
Huda menggeplak kepala Tama "sialan. Lo ngeremehin gue?"
"Mana bisa gue ngeremehin orang yang pacarnya setiap hari ganti coba"
"Kata-kata lo seakan menghina gue *****"
Tama hanya tertawa keras, temannya ini memang playboy cap kadal. Tak lama teman mereka mulai berdatangan satu persatu. Mereka mulai membicarakan banyak hal namun lebih banyak bercanda. Kalau mereka lapar maka akan pergi ke kantin bersama-sama dan pasti mereka tidak akan meninggalkan sifat yang selalu tebar pesona. Meskipun tidak mereka sadari namun secara tidak sengaja mereka telah melakukan itu. Cogan bebas ya kan.
***
Hari berjalan dengan sangat cepat menurut Luna pasalnya tadi pagi dia baru aja berangkat ngampus eh sekarang dia sudah nunggu bis untuk pulang ke rumah bersama Putri yang ada disampingnya tentunya. Waktu berjalan dengan sangat cepat ternyata.
"Liburan mau kemana lo Put? Ada rencana gak?" Luna memulai percakapan.
"Gak ada, dirumah mungkin"
Luna menganggukkan kepalanya dia juga sepertinya tidak ada rencana untuk pergi jalan-jalan. Uang limit soalnya.
"Liburnya lama gak sih?" Tanya Luna.
"Gak tahu lah. Biasanya paling lama dua bulan"
"Bagus tuh. Lumayan kalau kerja bisa dapat duit"
"Bener sih. Cari lowongan kerja yuk"
"Ayo. Nanti gue cari-cari deh kalau ketemu gue kasih tahu lo, lo juga cari ya"
"Oke" mereka memanfaatkan waktu libur untuk bekerja lumayan juga kalau liburnya panjang bisa nambah uang jajan atau gak, bisa ditabung tuh duit secara mereka sama-sama dari keluarga yang sederhana gak ada waktu buat sekedar main.
"Hai, ketemu lagi" sapa Janah kepada mereka. Klaau dilihat lihat dia juga kaan pulang.
"Hai kak" jawab Luna.
Janah duduk disbeleah Luna kebetulan memnag lagi kosong.
"Kalian mau pulang kan?"
"Iya kak"
"Oke, gue juga"
Tiba-tiba ada sebuah motor matic berhenti didepan mereka.
"Putri, bokap lo"
"Iya, tahu" lalu Putri menghampiri ayahnya. Mereka nampak bercakap sebentar.
Putri kembali ke Luna "Gue pulang duluan gapapa?"
"Gapapa kan ada Kak Janah. Buruan gih, udah ditunggu"
"Yaudah. Gue duluan, lo hati-hati. Bye" Putri melambaikan tangannya.
"Lo juga hati-hati" Luna malambai dan tersenyum ke ayahnya Putri.
"Bokapnya Putri?" Tanya Janah.
"Iya Kak"
"Sering dijemput gitu?"
"Gak sih. Mungkin tadi emang gak sengaja lewat terus ngelihat Putri makanya dihampirin soalnya kan Putri memang udah biasa niak bis"
"Kalau gak ada gue sendirian dong?"
Luna tersenyum "iya, untung ada lo kak"
"Ada untungnya juga gue ya"
Luna membalas dengan tertawa ringan.
Selang beberapa menit ada seseorang cewek yang membawa motor matic berhenti didepan mereka.
"Janah, nebeng gak lo?" Tanya cewek itu. Sepertinya temannya Janah.
Janah melihat ke arah Luna "duluan aja gapapa kak, disini masih rame kok"
"Beneran gapapa?" Tanya Janah menyakinkan.
Luna tersenyum "Iya gapapa"
"Gue duluan klau gitu, lo hati-hti"
"Iya kak, lo juga"
Janah lalu menghampiri temannya itu untuk menebeng. Luna menghela nafas, kini dia sendirian meskipun masih ada beberapa orang dihalte namun mereka beda arah sama Luna jadi kemungkinan nanti dia akan sendiri kalau saja oramg-orang itu sudah mendapatkan bis.
Beberapa menit kemudian tinggal Luna seorangd iri dihalter dan dia mulai merasa cemas karena hari sudah petang. Sial sekali dirinya kali ini. Yaa mau bagaiman lagi toh dia juga gak mungkin mealrang temannya untuk menunghunya sedangkan dia sudah dijemput. Luna menghela nafas lelah dan berdoa didalam hati semoga bisnya cepet datang.
Untuk mengisi waktu sendirkannya Luna memainkan handphonenya membuka sosmed para biasnya. Sambil sesekali melihat kearah jalan siapa tahu ada bis yang lewat, namun bukannya bis yang lewat dan berhenti didepan Luna melainkan seseorang yang mengendarai motor gede dengan warna hitam merah tak lupa helm full face yang mneghiasi kepalanya.