VIBHINNA

VIBHINNA
Jalan 04



Sesuai apa yang dikatakan tadi kini Danis menunggu kating nya yang terlihat sedang berbincang dengan teman-temannya nampak membicarakan hal yang seru. Sedangkan teman-teman Danis sudah pada pulang lima menit yang lalu dan suasana lapangan tampak sepi hanya ada beberapa orang yang sepertinya sedang menunggu dan ada juga yang bersiap-siap untuk pulang.


Kating itu menghampiri Danis "sorry ya, gue tadi masih ada urusan"


"Santuy kak. Btw, selamat ya permainan kalian emang  the best deh"


Kating itu tertawa "thanks"


"Jadi ada hal penting apakah yang mau Kak Tama bicara dengan saya ini?"


Tama tertawa mendengar perkataan Danis "bisa aja lo"


Danis ikut tertawa "jadi ada apa kak?"


"Lo sekelas dengan Luna?"


"Kebetulan iya. Kenapa nih? Jangan bilang lo naksir dia kak?" Tanya Danis


"Jangan deketin kak, dia yang naksir diam-diam banyak dan semua tidak ditanggapi" lanjut Danis


Tama kembali tertawa "gue kalau kumpul sama lo bisa awet muda nih. Ketawa mulu"


"Jadi, pertama gue mau minta nomer dia dan kedua gue gak deketin dia atau apapun itu"


Danis mengerutkan kening tidak mengerti. Tidak mau deketin tapi minta nomernya "lo aneh ternyata kak. Gak deketin tapi minta nomernya?" Danis menaikkan alisnya.


"Kebetulan gue ada urusan sama dia. Jadi boleh minta nomernya"


"Oke deh, nanti gue WA lo ya"


"Sekarang kalau bisa"


Danis tertawa "Santuy bos"


"Sebentar Kak" Danis mengambil HPnya yang ada ditas lalu mulai mengirim nomer Luna.


"Udah ya kak"


Tama mengecek HPnya "ok, thanks ya"


"Oke. Santai"


"Mau langsung pulang kan lo"


"Iyalah kak, yakali gue nginep disini. Horor" ya memang benar bahwa lapangan indoor ini memang tidak diragukan lagi soal rumor ke horor annya. Karena ada beberapa mahasiswa yang tidak sengaja lewat sini dimalam hari sering melihat penampakan.


"Yaudah bareng aja. Ayok"


"Kuy"


Lalu mereka berjalan bersama keluar lapangan. Sepanjang jalan menuju parkiran banyak hal yang mereka bicarakan dari mulai perbedaan dan persamaan matkul mereka sampai anak dari penjual di kantin yang katanya cantik melebihi artis ibukota.


"Kak, gue duluan ya. Motor gue ada disebelah sana soalnya" kata Danis menunjuk motornya yang terletak dipojok.


"Ok ok, hati-hati ya lo"


"Yoi. Lo juga kak. Bye" Danis melambaikan tangannya ke Tama. Sepertinya memang kebiasaannya Danis setiap dia akan berpisah.


Tama berjalan menuju motornya yang beberapa meter didepannya sebelum dia menjalankan motornya dia mengirim WA keseseorang terlebih dahulu. Lalu setelah terkirim dia mulai menjalankan motornya menuju rumah.


***


Jarum jam menunjukkan angka tujuh dan Luna sekarang sedang rebahan diatas kasurnya yang super duper nyaman. Luna tidak tahu apa yang akan dilakukannya dimalam minggu ini, main HP males gak ada yang dia minati, mau tidur juga masih jam segini, untuk menonton TV dia sudah tidak minat, gak ada yang menarik dari TV soalnya. Mau drakoran? sepertinya ide yang bagus kebetulan dia masih ada satu stok film yang belum dia tonton.


Luna mengambil laptopnya lalu mencari file filmnya. Nah setelah mendapatkan file film yang ingin dia tonton dia mencari posisi yang senyaman mungkin karena drakoran akan menyita banyak waktu mungkin sampe pagi hari.


Disaat Luna tengah asik menonton filmnya tiba-tiba HPnya berbunyi satu, dua sampai tiga kali yang membuat Luna penasaran. Siapa yang mengirimnya pesan karena mungkin orang yang tidak dikenal Luna atau yang sedang mendekati Luna karena semua orang itu sudah dalam mode sembunyi.


Karena penasaran Luna mengambil HPnya dan seketika dia menyerngitkan dahinya. Nomer tidak dikenal ternyata.


08xxxxxx


Hai


Ini Luna kan?


Gue Tama, yang tadi nabrak lo.


Luna bertanya-tanya pertama kenapa katingnya itu bisa tahu namanya dan kedua darimana katingnya itu mendapatkan nomernya. Ahhh, opsi kedua tidak begitu penting bagi Luna karena memang nomer Luna ini banyak yang punya. Dan dulu waktu pertama masuk juga disuruh menyertakan nomernya pada waktu pengisian identitas.


Luna


Iya, ini Luna kak.


Dan akhirnya Luna membalas pesan dari Tama. Setelah itu dia kembali fokus pada drakornya karena tidak ada tanda-tanda akan ada balasan jadi dia menaruh handphonenya disampingnya kembali.


Sekitar satu jam kemudian handphonenya kembali berbunyi lantas Luna mempause filmnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan. Apakah Tama atau bukan.


Ternyata Tama.


Tama


Ok.


Gimana lutut lo? Udah baikan?


Luna melihat kakinya yang tadi sempat dia kasih plaster pada lututnya yang lecet. Digerakkan lah lutut Luna, masih sedikit sakit tapi tidak separah tadi sore sih.


Luna


Udah mendingan kak


Tama


Syukurlah kalau gitu


Luna merasa tidak ada hal lagi yang akan dia bahas dengan katingnya itu jadi dia membiarkan pesan katingnya, memilih untuk tidak membalasnya. Dan melanjutkan untuk drakor an.


***


Di lain tempat Tama sedang kebingungan karena pesannya hanya dibaca oleh Luna.


Perkenalkan Tama, atau nama lengkapnya adalah Lee Praxathityo Hutama. Nama yang unik memang, dia adalah anak teknik semester empat di kampus yang sama dengan Luna tentunya.


Kembali lagi ke Tama yang membenarkan perkataan Danis bahwa memang Luna sulit untuk didekati nyatanya pesannya hanya dibaca begitu aja oleh Luna. Padahal dia berniat untuk mengobrol dengan Luna. Jujur saja Tama merasa tertarik dengan Luna sejak dia tidak sengaja menabrak Luna tadi sore dan dia mengetahui namanya setelah tidak sengaja melihat Danis menemui Luna dan mendengar sedikit perbincangan Danis dan teman-temannya mengenai Luna yang ternyata cewek yang dia tabrak.


Rasanya Tama ingin sekali mengirim pesan kepada Luna tapi dia tidak tahu apa yang akan dia bicarakan dengannya secara dia juga tidak ada keperluan yang penting atau hal yang akan membuat Luna seolah tidak tahu kalau dia mulia tertarik dengan Luna. Gimana tidak tertarik jika cewek-cewek lain yng ditabrak Tama pasti reaksinya akan lebay dan pasti penuh drama untuk menarik simpati Tama namun berbeda dengan Luna, Tama menyodorkan tangannya untuk membantunya berdiri aja dia ragu untuk menerimanya dan Tama yakin bahwa tadi Luna tidak sanggup untuk berdiri sendiri sehingga dia menerima uluran Tama.


Dan lagi jika cewek lainnya akan memperlihatkan gestur senang karena bertemu Tama beda lagi dengan Luna yang merasa biasa aja. Dan satu lagi Luna terlihat baik hati dengan wajahnya yang polos, pantas saja Danis bilang yang mendekati Luna itu tidak sedikit, cewek itu memang memilki daya tarik sendiri meskipun masih ada banyak cewek cantik diluaran sana namun Luna memilki ciri khasnya sendiri.


Tama menyadarkan dirinya agar tidak terlalu memikirkan cewek itu. Lalu dia membiarkan saja pesannya tidak balas mungkin besok-besok dia memilki ide agar dia bisa mendekati Luna. Semoga.


***


Minggu pagi yang cerah Luna sudah berada di taman yang ada didepan kompleksnya. Tadi pagi sekali adiknya itu sangat bawel agar dia ikut untuk lari-lari pagi di taman, padahal Luna sudah mencoba beribu cara agar adiknya menyerah tapi tidak mempan malah dia yang dimarahi ibunya karena setiap minggu itu tidur terus kerjaannya dan kemudian dia terpaksa bangun, lalu mandi dan ikut adiknya lari pagi. Meskipun pada akhirnya dia hanya jalan santai saja karena dia kan sudah mandi.


Luna kini duduk dikursi plastik untuk menunggu buburnya siap. Yaa, dia sekarang sedang membeli bubur ayam di depan taman karena memang jika minggu pagi banyak penjual yang berada di area taman tak lain dan tak bukan karena pada hari minggu banyak yang melakukan aktivitas di taman seperti jogging.


Isna, adiknya Luna kini sedang jogging bersama teman-temannya. Kan sialan tuh emang adiknya yang ternyata sudah janjian bersama temannya sedangkan Luna ditaman ditinggal sendirian. Karena dongkol dengan adiknya itu maka Luna memutuskan untuk mencari makan dan kebetulan ada bubur ayam jadi dia memilih untuk membeli bubur.


Disaat Luna tengah menunggu dan dia memilih menyibukkan dengan bermain handphone tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.


"Luna" sapa orang itu.


Luna melihat kebelakang "eh, kak Tama" dia terkejut karena orang itu adalah kating yang menabraknya secara tidak sengaja.


Yap, orang itu adalah Tama, dia mengambil kursi yang ada disebelah Luna lalu dia duduki.


"Sendirian?" Tanya Tama.


"Tadi kesini sama adik, tapi dia sedang jogging sama temennya"


Tama membulatkan bibirnya "lo gak ikut?"


Luna menggelengkan kepalanya "gak"


"Kenapa? Kaki lo masih sakit?" Tanya Tama ketika melihat lutut Luna yang masih tertempel plaster. Karena Luna memakai celana pendek sejengkal diatas lutu dan kaos jadi lutut Luna terlihat.


"Gak kok, cuman lagi males aja"


"Emang rumah kak Tama dimana?"


"Di griya kusuma"


Luna hanya membulatkan bibirnya. Ternyata katingnya ini orang kaya, mungkin bisa aja orang tuanya merupakan orang yang terpandang, secara sepengetahuan Luna Griya kusuma adalah perumahan elite meskipun jaraknya tidak terlalu jauh dengan perumahan yang ditempati Luna.


"Neng, ini buburnya. Tanpa bawang dan sayur kan?" Panggil Bapak penjual bubur.


Luna berdiri "iya, terima kasih pak" Luna mengambil buburnya dan tak lupa membayarnya.


"Mau langsung pulang?" Tanya Tama


"Gak, mungkin ketaman dulu. Cari adik sekalian makan ini" Luna menunjukkan buburnya.


"Gue ikut"


"Eh?" Luna menyerngit bingung. Untuk apa katingnya ini mau ikut dengan Luna.


Tama langsung berdiri "Tungguin sebentar. Pak punya saya udah jadi?"


"Udah den, ini" Bapak penjual bubur langsung memberikan buburnya. Tak lupa Tama mengucapkan terima kasih kepada bapak-bapak penjual bubur ayam.


"Jadi ke taman?" Tanya Tama yang kini disebelah Luna.


"Eh, iya jadi"


"Yaudah ayo"


Kini Luna dan Tama berjalan beriringan untuk menuju ke taman.


"Sebentar ya kak" ujar Luna saat handphonenya bunyi.


"Halo?"


"Kak, sorry ya gue udah pulang sama temen. Eh, gak pulang deh, main kerumah temen. Lo pulang sendiri aja, kalau gak mau sendirian dan nanti malah terlihat jomblo, suruh anter  ojol aja. Oke? Thanks kakakku. Bye" dan seketika panggilan diputus begitu aja.


Seketika membuat Luna mengumpat pelan. Yang sayangnya masih didengar oleh Tama.


"Kenapa?" Tanya Tama penasaran.


"Adik gue pulang duluan"


"Lo mau pulang juga?"


"Udah terlanjur disini kak" 


"Yaudah cari tempat duduk yuk"


Luna menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka berjalan mencari bangku yang ada mejanya.


"Disini aja Kak" kata Luna saat menemukan bangku.


"Oke"


Lalu mereka duduk berhadapan. Mereka makan dlaam diam keduanya tidka tahu apa yanga akn mereka bicarakan baik Luna maupun Tama, Luna sendiri bingung harus berkata apa atau membicarakan hal apa dengan katingnya ini. Sedangkan Tama merasa sedikit beruntung hari ini dam sama dekali tidak menyangka kalau hati ini dia akan bertemu dengan Luna.


Tama sekarang tinggal sendirian dirumahnya. Asisten rumah tangganya sedang cuti oleh karena itu dia keluar cari makan dan ketikamelewati taman dia melihat penamlakan yang mirip Luna awalnya Tama pikir itu bukan Luna maka dia dekati dan yernyata benar kalau itu Luna. Tama tidak akan menyiakan kesmepatan ini.


Saat Tama sedang makan sambil sesekali emlihat kearah Luna yang juga sedang menikmagi buburnya itu. Dia yersenyum. Senyuman itu dignatika dengan keterkejutan saat mendengar Luna cegukan.


"Lo gapapa"


"Gapapa kak" setelah berakta seperti itu Luna kemabki cegukan.


Tama mengambil langkah "gue beliin minum bentar" kenpaa juga mereka bisa lupa beli minum.


Luna mencoba untuk menghilangakn cegukan dengan memukul pelan dadanya, kenapa juga dia harus cegukan djdpena katingnya dan kenpa juga dia mmyidal membli minum tadi. Rutuk Luna dalma hati.


Tama yang baru datamg melihat tluna memukul dadanya melarang "Jangan dipukul, nanti lo sakit" tangan Tama memegang tangan Luna yang dihunakan untuk emmukul.


"Nih, minum" Tama memberika air mineral yang sudah diujka tutupnya


Luna menerima itu dan mulai meminumnya


"Terima kasih kak" kata Lun setelah selesai meminum.


Tama kemudian duduk disamping Luna yang kebetulan bnagku itu hanya muat diisi oleh dua orang saja.


"Bubur lo gak dihabisin?"Tanya Tama saaat meliht bubur lun yang masih separuh.


"Udah kenyang"


"Sini, gue habisin" Tama menarik bubur ayam itu .


Luna yang melihat menghentikan "eh, jangan kak. Itu kan bekas gue"


Tama tersenyum "gapapa kali"


"Gak boleh. Kan bekas, kalau lo kurang beli lagi aja"


"Gapapa" seketika Tama langsung mengambil alih dan memakan bubur Luna.


Luna terkejut "kak!" Dia mengambil alih lagi buburnya.


Tama yang melihat Luna akan marah malah cengengesan, ternyata marahnya Luna itu lucu dan menggemaskan menurut Tama.


Tama mengangkat tangannya "Oke oke"


Luna bediri "Yaudahlah, gue mau pulang kak. Mendung, kayaknya mau hujan"  sekarang memang musin hujan jadi wajar klau pagi-pagi sudah hujan.


"Gue anterin" ajak Tama saat melihat langit mendung.


"Gak usah, rumah gue deket kok" tolak Luna.


"Please, sebagai permintaan maaf"


"Kan udah gue maafin, jadi gak usah. Gue bisa pulang sendiri kak"


Luna lalu berjalan untuk pulang. Dan dibelakang diikuti Tama. Tama memang ingin sekali mengantar cewek itu pulang. Disisi lain dia juga ingin melihat rumah Luna.


Tama sengaja mengikuti Luna dari belakang dan terlihat jelas bahwa kakinya masih sakit, dilihat dari cara berjalannya yang pelan Taman yakin kaki Luna sakit. Dia jadi merasa sangat bersalah.


Tiba-tiba hujan turun dengan deras, Luna mengehala nafas. Kenapa pula hujannya sekarang bukan nanti aja kalau dia sudah sampai rumah. Sedangkan Tama melihat Luna yang nampak kesal lalu Luna mencari tempat yang teduh, beruntungya di taman ini banyak pohon besar dan ada gazebonya juga dibeberapa titik. Dan untungnya lagi gazebo itu dekat dengan Luna. Luna berlari sedikit terseok-seok menuju gazebo dan diikuti oleh Tama.


Tama bersebelahan dengan Luna. Mereka sama-sama diam menikmati air ynag turun dari langit.


CETRRRRRR!!!


Tiba-tiba suara petir menhambar yang membuat Luna ketakuan. Luna sangat takut pada petir. Dia menutup telinganya dan kedua matanya, dia benar-benar takut inilah alasannya dia tidak suka jika hujan turun meskipun terkadang dia ingin melihat  hujan. Tama yang melihat Luna ketakutan jadi bingung harus bereaksi apa.


Tama menyentuh pundak Luna "Luna? Lo gapapa?"


"Luna?" Panggil Tama lagi setelah tidak ada respon.


Luna masih tetap pada posisinya dan sekarang malah menggigil membuat Tama tambah bjngung. Apa yang mau dia lakukan jika ada orang yang ketakutan? Dia memikirkan berbagai cara.


Lantas Tama mengambil tindakan "maafin gue kalau gue lancang" Dia memeluk Luna dan mengusap kepala Luna pelan agar dia kembali tenang.


Mereka orang yang saling kenal bahkan hanya lewat insiden tidak mengenakan berpelukan ditengah derasnya hujan.


***


ini Tama


ini Luna


dan ini style Luna



***


Sebelumnya terima kasih karena telah membaca cerita saya ini. Saya sangat sangat berterima kasih.


Saya hanya mau bilang kalau cerita ini murni dari imajinasi saya dan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat atau apapun itu saya ucapkan minta maaf karena ini memang dari imajinasi saya yang liar ini.


Dan gambar yang saya ambil berasal dari pinterest ya kawan.