VIBHINNA

VIBHINNA
Jalan 02



Sampailah Luna di rumahnya setelah menempuh waktu setengah jam ditambah dia harus jalan kaki sekitar lima menit lebih dari jalan raya menuju rumahnya. Sebenarnya perumahan Luna bukanlah perumahan yang mewah, perumahan itu merupakan perumahan yang sederhana dan yang menempati dari kalangan menengah ke bawah dan menengah.


Saat Luna membuka pintu terdapat adiknya yang masih asyik menonton TV di ruang keluarga.


"Ibu dimana Is?" Tanya Luna dan dia duduk di samping adiknya.


"Di dapur" jawab adiknya Luna singkat. FYI, nama adiknya Luna adalah Isna, umur mereka hanya terpaut tiga tahun dan anehnya lagi tinggi Luna tidak sebanding dengan adiknya. Adiknya lebih tinggi beberapa centi dari Luna. Oleh karena itu terkadang kalau mereka jalan bareng banyak yang bilang kalau mereka kembar. Luna dengan senang hati menerima itu karena artinya dia masih kelihatan muda dan seumuran dengan adiknya. Luna tertawa pelan saat membayangkannya.


"Oh, yaudah" lalu Luna menuju ke kamarnya untuk bersih-bersih badan karena seharian sudah bau keringat. Mungkin mandi air dingin menyegarkan.


Kalau kalian berpikir bahwa dengan jarak umur yang tidak terpaut jauh maka hubungannya akan dekat bahkan bisa dianggap sahabat. Tapi lain dengan Luna dan adiknya Isna, hubungan mereka tidak bisa dibilang renggang tidak juga dekat. Terkadang mereka juga berbagi kisah kehidupan sehari-hari dan bercanda bersama, namun untuk beberapa hal apalagi mengenai hal pribadi Luna paling ogah kalau harus bercerita ke Isna sebab adiknya itu sangatlah ember dan bocor sekali. Tidak bisa dipercaya dan amat sangat menjengkelkan, alasan itulah terkadang mereka bisa saling diam meskipun dalam satu  ruangan. Apalagi kalau masalah percintaan Luna akan memilih untuk curhat ke Putri daripada ke adiknya itu, karena balik lagi kefakta bahwa Isna sangatlah ember.


Luna merupakan tipe orang yang sulit percaya dan sulit nyaman sama seseorang bahkan sama Ibu nya sekalipun. Luna tidak pernah curhat mengenai percintaan atau masalah apapun yang dihadapi dengan Ibu nya, dia akan lebih memilih curhat ke sahabat yang dipercayainya dengan alasan nyaman. Karena jujur saja Luna tidak nyaman dan merasa malu jika harus curhat masalah pribadi dengan Ibu nya.


Bukankah rasa nyaman berada saat kita merasa percaya sama seseorang. Bukan maksud Luna untuk tidak percaya kepada orang tuanya hanya saja dia akan merasa malu dan terintimidasi.


Kembali lagi ke Luna yang sedang rebahan di atas kasurnya yang paling nyaman sambil mengecek chat yang masuk. Seperti biasa banyak yang chat dia dari teman SMA hingga teman sekelasnya dan semua rata-rata cowok. Bisa diakui bahwa Luna tidak amat cantik karena diluar sana masih banyak yang cantik, namun kebaikan hati dan keceriaannya ditambah senyumannya yang manis membuat siapun tertarik untuk mendekati Luna. Tapi Luna terlalu malas untuk menjalin hubungan dengan siapapun saat ini, karena Luna pikir mereka yang mendekati Luna tidak akan bertahan lama paling minggu depan mereka sudah memiliki kekasih, itu yang dialami Luna selama ini. Luna hanya membalas yang penting-penting saja kalau tidak dia akan biarkan.


Saat Luna sedang asik rebahan terdengar ketokan pintu disusul teriakan dari Isna "Kak! Makan, disuruh ibu"


Luna membalas teriak "iya!"


Lalu dia berjalan dan menuju dapur yang ternyata sudah lengkap ada ayahnya juga. Btw, ayahnya Luna bekerja sebagai sopir travel yang kadang tiga hari baru pulang. Namun hubungan mereka tetap hangat satu sama lain karena Ayahnya Luna bisa membangun suasana rumah menjadi hangat.


"Makan Lun"


"Iya Yah"


"Gimana kuliah kamu?" Tanya ayah Luna dalam selingan makan.


"Baik, minggu depan udah UAS"


"Berarti saat ini kamu sedang UAS Is?"


Isna yang merasa ditanya pun mendongak "Iya, UASnya dua minggu Yah"


"Belajar yang rajin kalau gitu, biar naik kelas"


"Iya, jangan main HP terus" sambar Ibu.


"Siap!" Jawab Luna dan adiknya barengan.


Lalu mereka melanjutkan makannya dengan tenang. Meskipun lauknya sederhana tapi kalau bersama keluarga apalagi keluarga lengkap seperti ini akan terasa sangat nikmat. Karena mereka juga jarang bisa makan bersama karena kesibukan masing-masing.


***


Jam menunjukkan pukul delapan pagi dan Luna sudah berada di kampus tepatnya di kantin kampus yang sekarang terlihat sepi.


Luna memilih untuk duduk ditempat yang pojok dan jauh dari jangkauan karena kini dia harus menyiapkan beberapa materi yang dia belum pahami dan meminta sahabat seperjuangannya yaitu Putri untuk menjelaskan beberapa materi yang tidak Luna mengerti. Namun Luna mulai kesal karena Putri belum juga kelihatan batang hidungnya. Padahal janjiannya jam delapan sampai kampus dan ini sudah lebih sedangkan ujiannya diadakan jam sepuluh.


Yappp, hari ini adalah hari pertama diadakannya UAS. Tak terasa seminggu rasanya cepat sekali dan kini Luna masih menunggu kedatangan Putri untuk diajak diskusi, ahh salah! Dia akan meminta untuk menjelaskan sedikit materi yang belum dia pahami dan pelajari. Meskipun ujian kali ini banyak yang praktek daripada materi namun tetap saja masih ada matkul wajib yang berupa ujian tulis.


"Sorry gue telat. Bis nya lama," ucap Putri yang baru datang lalu langsung duduk didepan Luna.


"It's okey lah. Yang penting lo datang pagi, bisa tamat gue kalau lo datang siang."


Putri mengeluarkan bukunya "iya deh sorry, jadi materi yang mana yang belum lo pahami?"


"Yang ini" Luna menunjukkan isi bukunya yang berisi beberapa materi.


Lalu Putri mulai menjelaskan materi yang dia tahu, semoga aja benar karena dia juga gak pintar banget 11 12 sama Luna. Namun kelolaan Luna telah melampui batas.


Memang sudah sering mereka belajar bersama saat mendekati ujian atau saat seperti ini. Mereka sudah berteman sejak menginjak bangku SMA tepatnya saat masih kelas sepuluh karena mereka satu bangku. Dan dikelas berikutnya mereka selalu dalam satu kelas padahal ada pengacakan entah jodoh ataupun bagaimana yang jelas mereka selalu sekelas sejak masih SMA dan lanjut ke kuliah mereka lanjut dengan pilihan jurusan yang sama.


Soal asmara mereka sama-sama tidak ahli dan terlalu malas untuk menjalin hubungan dengan lawan jangan kira mereka tidak normal karena mereka sangat normal bahkan mereka bisa dibilang pencinta Oppa Oppa Korea yang tampan dan satu hal lagi mereka EXO-L sejati. Yang kata temen-temen lainnya tingkat kesukaaan mereka sudah sampai tingkat dewa dan sudah masuk ke DNA. Mereka bukan hanya menyukai EXO tapi hampir semua grup mereka tahu dan ada beberapa yang mereka sukai kecuali EXO.


Tak terasa mereka sudah berdiskusi dengan waktu yang lama karena sekarang sudah menginjak jam setengah sepuluh yang artinya setengah jam lagi akan diadakan ujian.


Luna meregangkan badannya "capek banget astaga. Gak nyangka udah jam setengah sepuluh"


Putri mengangguk menyetujui "bener banget. Gue haus banget masak"


"Yaudah beli minum dulu lalu ke kelas yuk" ajak Luna yang diangguki oleh Putri.


Mereka membereskan barang-barangnya lalu membeli minum. Kalau dilihat kantin sudah mulai rame dengan banyaknya mahasiswa yang mulai berdatangan untuk sekedar beli minum atau bahkan makan.


Sesampainya dikelas, mereka lalu mencari tempat duduk yang mejanya sudah terdapat namanya karena seperti biasa kalau ujian pasti duduknya sesuai urutan absen. Dan seperti dugaan Luna tempat duduknya akan berjauhan dengan Putri. Padahal kalau dekatan, Luna memiliki niat untuk mencontek kalau-kalau ada soal yang tidak dia mengerti. Tapi tak apa Luna sangat yakin dia akan bisa melalui ujian ini dengan lancar.


Luna menoleh kearah Putri dan untungnya Putri juga melihat kearah Luna "semangat!" Luna mengatakan itu dengan gestur tangan yang dikepal.


"Lo juga" balas Putri yang diakhiri senyuman. Putri merasa beruntung memiliki sahabat seperti Luna yang baik dan tidak ada niatan busuk.


Luna membalas dengan tersenyum dan menganggukkan kepala lalu mulai mempelajari materi lagi untuk pemantapan.


Setelah itu kelas mulai rame dengan teman-teman Luna yang berdatangan dan ujian pun dimulai.


***


Tak terasa ujian telah selesai dan bersyukurlah karena berjalan dengan lancar meskipun saat ujian praktek komputer pengoprasian CDR Luna gak lupa sedikit tapi untungnya temannya mau memberitahu dia tadi. Jadi dia lega luar biasa saat sudah selesai mengerjakannya.


Kini Luna beserta Putri dan juga tiga teman lainnya sedang berada disebuah coffee shop dekat kampus yaitu di MSF coffee shop.  Mereka memang sering nongkrong di cafe ini alasannya selain murah dikantong mahasiswa kopi disini rasanya enak dan menu pendampingnya setiap minggu pasti ada yang baru dan jika tidak suka kopi disini juga ada beberapa pilihan minuman selain kopi. Ditambah tempatnya yang sangat nyaman dengan AC dan full Wi-Fi sangat cocok bagi Luna yang memang penikmat Wi-Fi gratis.


Sebenarnya selain Putri, Luna juga akrab dengan tiga temannya itu kalau di kampus tapi intensitasnya masih sering Putri karena terlampau nyaman.


"Pengennya gak ikut tapi gak enak sama anak lainnya. Jadi sepertinya ikut" jawab Luna jujur.


"Gue mah bodoamat kalau sama yang lainnya mau bilang apa. Toh gak ngaruh nilai" kata Sukma cuek bebek. Salah satu sifat Sukma ya seperti itu. Cueknya sudah offset sepertinya.


"Lo mah gak usah ditanya. Gue juga gak pengen ikut Lun, takut kemalaman pulangnya" sahut Laily. Berbanding terbalik dengan Sukma kalau Laily ini lebih feminim, banget malah. Sering pakai rok kalau ke kampus,  pokoknya feminim sekali.


"Kalau lo Fik?" Tanya Luna kepada Fiky. Fiky ini orangnya 11 12 seperti Sukma hanya saja Fiky kekurangannya dibadan doang. Badan dia lebih kecil dan tidak tinggi, sama Luna lebih tinggi Luna beberapa centi.


Fiky nampak menyesap kopinya "gue mah ngikut kalian aja. Gue bebas kok"


Luna cemberut merasa iri "enak banget sih lo"


Fiky tertawa pelan "iya dong. Lo ikut Put?"


"Gue juga ngikut kalian. Terlebih ke Luna tuh"


Semua pandangan menuju ke Luna "eh, kok gue sih?"


Sukma memutar bola matanya "ya terus?"


Luna kembali cemberut sambil menyesap cappucino nya pelan "yaudah deh ikut. Kata Kak Na juga kalau kemalaman boleh pulang duluan"


"Emang yang ikut tanding siapa aja sih sampe harus ada suporter?" Tanya Luna kembali.


"Katanya sih dari DG yang pasti, terus ada anak teknik juga" jawab Laily.


"Ada kating yang ikut gabung juga" tambah Fiky.


"Kating dari DG dan Teknik?" Tanya Putri yang mulai tertarik sekaligus penasaran.


"Iyalah, yakali dari JP" sahut Sukma.


"Ya santuy dong"


"Ini udah santuy Putri" jawab Sukma sambil memakan kue red velvet nya.


Putri hanya mendengus. Jangan heran lagi mereka sudah terbiasa seperti itu. Memang kelihatannya aja yang nampak ribut tapi sebenarnya tidak.


"Eh, tapi katanya anak JP ada beberapa yang ikut main dan mungkin juga ceweknya ada yang ikut jadi suporter" jelas Laily.


"Oh ya?" Tanya Luna yang nampak terkejut.


"Iya"


Bahu Luna merosot "tambah gak pengen ikut gue. Pasti rame banget"


"Namanya juga pertandingan ya rame lah" jangan tanyakan yang bilang itu siapa. Yapp, dia adalah Sukma. Sepertinya dia sedang PMS. Bawaannya sensi terus.


Luna hanya bisa cemberut "kalian kan tahu gue gak suka keramaian anak DG dan teknik aja udah banyak banget. Lha ini malah ditambah JP, duh jadi pengen gak ikut"


"Ikut aja sih Lun. Pasti asik, gue malah pengen banget ikut" sahut Fiky.


"Iya, udah ikut aja. Gak enak sama anak lain kan" sambar Laily.


"Yaudah deh. Eh ngomongin anak JP kemarin kan gue gak sengaja nabrak kating dan katanya sih anak JP lalu kenalan. Namanya Janah ada yang kenal"


Nampak Laily dan Fiky menggelengkan kepalanya.


"Janah? Gue sepertinya tahu, dia yang pendek itu kan dan kulitnya agak gelap kan?"


"Nah bener. Kok lo bisa kenal?" Tanya Luna penasaran.


"Dia emang sok akrab gitu, gue beberapa kali papasan dan tidak sengaja ada yang manggil dia. Jadi tahu deh" jelas Sukma.


"Sok akrab? Tapi dia kelihatan baik deh" sambar Putri.


"Don't judge book by the cover. Ingat?"


Putri menganggukkan kepala sebagai respon dari perkataan Sukma tadi.


Luna nampak tidak menyetujuinya "Eh, tapi beneran baik deh. Kan gue sama dia satu perum tapi beda kompleks terus selama perjalanan dia cerita banyak hal, meskipun lebih ke kehidupan dia di kampus yang katanya super sibuk sih"


Fiky bergumam namun masih terdengar "lo mah terlalu polos Lun"


"Emang lo pernah pulang bareng?" Tanya Laily.


"Iya pernah satu kali, itupun saat itu ada gue juga" jawab Putri dan Luna menganggukkan kepala tanda setuju.


"Jangan mudah percaya deh Lun. Kan biasanya lo juga gak mudah percaya kan" saran Laily yang mulai bisa mengenal sifat Luna sedikit demi sedikit.


Luna menganggukkan kepalanya "iya deh"


Ya memang benar bahwa Luna memang sulit untuk percaya dan nyaman dengan seseorang, namun seakan ada pengecualian dengan sendirinya hatinya akan merasa nyaman jika ada seseorang yang dengan senang hati mencurahkan atau sekedar bercerita kepada Luna, seakan Luna memang tempat yang cocok dibuat sharing cerita. Itu termasuk kelemahan yang dimiliki Luna. Makanya dia membutuhkan teman yang selalu mengingatkan jika dirinya sudah salah langkah dan untungnya sekarang ada teman.


Lalu mereka melanjutkan untuk mengobrol kesana kemari dengan banyak hal yang dibahas dari yang mulai tertawa lepas sampai ketegangan saat bercerita mereka lakukan. Dan mereka mulai pulang saat jam menunjukkan angka lima sore. Tak terasa mereka sudah berjam-jam di cafe tersebut.