
"Awwwww. Hei!! Kalau dikoridor jangan lari-lari dong" teriak seorang gadis yang bahunya tidak sengaja ditabrak oleh seorang cewek yang sedang terburu-buru.
Dia menelangkupkan tangannya jadi satu "maaf Kak, gue buru-buru. Sorry" lalu dia melanjutkan larinya agar segera sampai di kelas tepat waktu. Meski dia yakin bahwa dia akan telat.
Dia adalah De Luna Millenica. Sedikit aneh memang namanya ditengah era global ini. Namun setiap nama bukankah ada artinya begitupun orang tua Luna, yappp panggilannya adalah Luna. Dia cewek yang Indonesia banget dengan kulit yang kuning langsat, memiliki hidung yang standar artinya tidak mancung banget tidak pesek banget. Dia memiliki mata dengan dua lipatan dan bibir yang kecil dengan warna merah muda alami terkadang ditambah sedikit lipstik agar tidak pucat.
Kembali ke Luna yang sudah berdiri tepat di depan pintu kelasnya dengan nafas ngos-ngosan. Sambil merapikan bajunya sebentar lalu mengambil nafas dia mengetuk pintu lalu masuk. Untunglah dosen yang mengajar sekarang tidak killer.
Luna berjalan dan duduk tepat disamping temannya, Putri "gila ya lo, telat lima belas menit. Untung gak Pak Ali, bisa abis lo," bisik Putri.
"Salahkan bisnya tuh, gila aja gue nunggu setengah jam lebih. Parah banget."
"Pantes, lo bau matahari"
Luna melotot lalu mencium baunya takut beneran bau karena percayalah menunggu bis setengah jam lebih dijam sepuluh emang dapat menyebabkan bau badan, kumel dll dan untungnya dia masih wangi "masih wangi gue ini."
Putri menahan tawa "nih, catet. Baik kan gue?" Putri memberikan catatannya ke Luna ya bagaimanapun Putri adalah teman Luna yang tetap setia bertahan disamping Luna disaat yang lainnya memilih asyik dengan teman baru.
"Percaya gue"
Lalu mereka melanjutkan mendengarkan Pak Dosen didepan yang sedang sibuk menjelaskan beberapa materi.
FYI, mereka kuliah jurusan Desain Grafis semester dua di salah satu Politeknik negeri yang ada di daerah Jakarta.
***
Setelah satu jam lebih terkurung di dalam kelas dan otak yang dipaksa berpikir dengan kerasnya akhirnya selesai saat Pak Dosen mengakhiri marerinya hari ini lima menit yang lalu.
Luna menaruh kepalanya dimeja dan memirinhkan wajahnya ke Putri "njir ih. Gue capek banget"
"Leanguage please, lo semakin kasar aja sih Lun," Putri semakin sebel dengan sahabat satunya ini semakin dewasa dia menambah kata-kata kasar dalam setiap umpatan. Padahal dulu, boro-boro berkata kasar mengumpat aja tidak pernah. Waktu berlalu begitu sangat cepat ternyata. Sehingga bisa mengubah seseorang secepat ini.
Luna meringis "ya sorry. Gue sebel banget hari ini. Capekk," Luna merengek diakhir kalimat.
Putri yang sudah biasa mendengar rengekan Luna hanya menghela nafas. Heran, padahal Luna sudah jadi mahasiswa hampir setahun karena sebentar lagi akan UAS tapi kelakuan masih seperti bocah.
FYI aja, kalau kalian pikir yang manja adalah biasanya anak terakhir berbeda dengan Luna karena dia adalah anak pertama dan memiliki adik. Putri lah yang anak terakhir tapi lebih dewasa Putri.
"Yaudah, kantik yuk?" Ajak Putri.
Senyum dibibir Luna tercetak yang menimbulkan dia terlihat semakin manis "ayok," lantas Luna merapikan barangkan dan memasukkan ketas dan mulai berdiri.
Mereka berjalan beriringn menuju pintu namun terhenti saat ada yang manggil "Lun, mau kemana lo?"
Luna berbalik badan "kantin"
"Nitip dong" kata orang itu dengan senyum lebar.
"Ogah ah, beli sendiri" lalu Luna melanjutkan jalannya diikuti Putri dibelakang. Dan masih bisa mendengar umpatan kecil yang dilakukan orang itu.
Tidak heran lagi. Karena orang yang manggil Luna tadi pasti selalu nitip kalau dia malas untuk keluar kelas karena toh nanti dia balik ke kelas lagi dan kemalasannya itu setiap hari jadi Luna ogah dititipin setiap saat sama dia. Dia adalah Danis, temannya Luna bisa dibilang dekat bisa juga tidak karena Luna lebih sering main dengan Putri.
Mereka kini sudah duduk dibangku kantin dengan makanan mereka masing-masing setelah memesan tadi.
"Lo tahu Put... "
"Enggak" jawab Putri cepat.
Luna cemberut "gue belum selesai elahh"
Putri tertawa "iya, apa?"
"Gue tadi nabrak KATING waktu lari-lari kekelas"
"Gak heran lagi gue. Lo kan ceroboh banget"
"Masak iya sih? Gue tadi emang lagi buru-buru aja. Untung tuh KATINGnya gak ngamuk. Eh, dia marahin gue sih"
"Lo kan udah tahu kalau emang bakal telat, tapi kenapa lari coba percuma" tanya Putri yang tidak habis pikir lagi dengan sahabatnya yang satu ini. Ada-ada aja kelakuan anehnya tiap hari.
Luna tampak berpikir sejenak "iya ya! Kenapa coba gue lari tadi"
Putri mendengus "bodohnya temanku ini"
Luna hanya nyengir lalu melanjutkan makannya.
"Permisi, gue boleh gabung gak?"
Mendengar suara Luna dan Putri yang duduknya bersebelahan mendongak.
"Boleh kak" jawab Putri.
Sedangkan Luna nampak berpikir.
"Lo?!" Kata orang itu.
Luna meringis "hai, kak"
Putri menyenggol lengan Luna untuk meminta penjelasan "dia KATING yang gue tabrak tadi," Luna berbisik pelan.
"Lo yang nabrak gue tadi kan?"
Luna tersenyum canggung "Iya kak, sorry ya. Gue tadi buru-buru"
"Oke, kenalin gue Janah" dia yang ditabrak Luna dengan tidak sengaja memperkenalkan diri.
"Gue Luna dan ini temen namanya Putri"
"Hai kak" sapa Putri.
Janah tersenyum "btw, kalian dari apa?"
"Oh, kami dari DG, semester dua. Kalau kakak sendiri?" jawab Luna.
"Gue Jasa Pariwisata semester empat"
Luna dan Putri hanya menganggukkan kepalanya tidak tahu harus gimana lagi. Keadaan menjdi hening karena mereka sama-sama melanjutkan makannya.
"Gue balik duluan ya. Gue udah selesai,"
Luna tersenyum "iya kak, kami juga udah selesai kok"
"Kalau gitu gue duluan ya" Janah berdiri lalu meninggalkan mereka berdua. Yang sepertinya masih betah dikantin lama-lama karena waktu istirahatnya juga masib lama, masih ada waktu lima belas menit. Cukup kalau dibuat jalan sampe kelas.
"Dia baik ya ternyata" kata Luna.
Putri meganggukkan kepalanya tanda setuju "kelihatannya sih gitu tapi gak tahu juga sih. Kan baru kenal"
"Bener sih"
"Paling besok juga udah lupa siapa kita"
"Bisa jadi. Kan kita mahasiswa kupu-kupu" kata Luna diakhiri dengan tawanya.
Yaa memang mereka sudah menetapkan untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu. Karena beberapa alasan pertama karena mereka tidak bisa pulang terlalu malam sebab minimnya transportasi berhubung mereka biasanya naik bis dan kedua mereka tidak mau jadi mencolok. Mereka memiliki alasan sendiri. Selain memang ingin tetap fokus pada matkul-matkul dan nilai.
"Ayo"
Akhirnya mereka memilih untuk kembali ke kelas karena UAS akan sebentar lagi jadi meraka harus banyak-banyak ekstra belajar agar nilainya memuaskan. Selain harus rajin masuk kelas mengerjakan tugas yang sudah seperti gunung Himalaya juga harus mereka lakukan tak ayal jika mereka terkadang dihari libur disempatkan untuk berdiskusi dan mengerjakan tugas bersama dengan teman-teman satu kelas. Itupun kalau merekanya mau.
Sesampainya mereka dikelas untungnya belum ada dosennya padahal kalau dilihat ini sudah telat lima menit.
Putri duduk dibangkunya yang tadi diikuti dengan Luna.
"Kak Na, kok dosennya belum ada?" tanya Luna kepada teman didepannya. Kenapa dipanggil Kak. Karena memang lebih tua dua tahun dibandung Luna. Dan asal kalian tahu saja bahwa diangkatannya Luna, Luna lah yang paling muda.
Kak Na menoleh ke Luna "gak tahu, paling juga telat"
Luna menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Lo tadi telat kenapa? Gak biasanya telat" tanya Kak Na penasaran. Pasalnya memang benar bahwa Luna jarang banget telat masuk ke kelas.
"Gue nunggu bis setengah jam lebih tauk Kak. Sebel banget"
"Oh, kasihan banget sih"
Luna menganggukkan kepala "bener banget Kak"
"Tapi beruntung dia Kak, tadi bukan Pak Ali" sambar Putri.
"Nah, bener bener. Beruntung tadi gak Pak Ali, coba aja beliau pasti udah disuruh balik kerumah lagi"jawab Kak Na, nah memang benar apa yang dikatakan mereka bahwa dosen terkiller mereka adalah Pak Ali. Duh, telat semenit aja disuruh pulang lagi. Oleh karena itu Luna tadi sangat beruntung bukan matkul beliau.
Kak Na dan Putri tertawa "bener banget tuh"
"Iya sih, untungnya gue"
"Oh ya, tadi ada kating kita datang waktu kalian ke kantin. Katanya kita sekelas wajib jadi suporter pertandingan futsal selesai UAS" Kak Na memberitahu Luna dan Putri ya memang Kak Na lumayan dekat dengan mereka dibanding teman yang lainnya.
Meskipun masih ada beberapa yang dekat namun kalau di kelas pasti mereka pisah-pisah. Ya gak heran juga sih, toh yang mereka bicarakan juga berbeda. Kak Na dan kembarannya yang plaing netral yaitu Kak Ni. Ahhhhh, sebenarnya nama mereka itu Ana dan Ani. Kak Na untuk Ana dan Kak Ni untuk Ani.
Luna cemberut "emang wajib banget ya Kak?" tanya Luna karena dia kurang suka dengan keramaian aaplagi ini dengan kating bisa mati kutu dia. Dia termasuk orang yang pemalu sebenarnya.
"Iya Kak, emang wajib banget?" tanya Putri. Sebenarnya Putri tidak masalah dengan keramaian tapi dia hanya malas saja jadi suporter.
"Katanya sih gitu. Ya kan Kak Ni?" Ana menyenggol Ani yang duduk disebelahnya.
"Iya, lagian dosen kita juga katanya ada yang gabung" jawab Ani.
Luna menghela napas "males banget gue Kak Ni"
"Gapapa ikut aja, itung-itung refresing kan"
"Kalau gak ikut gimana?" tanya Putri.
"Ya gapapa juga mungkin, tapi kan gak enak sama yang lain nanti" jawab Ana.
"Iya sih. Diadainnya sore atau pagi?" tanya Luna.
"Sore katanya" jawab Ani.
Luna cemberut "gak ikut lah gue Kak kalau sore, nanti pulangnya gimana coba"
"Gak usah nonton sampai selesai, nanti kalau udah malam pulang duluan aja" saran Ana
Sambar Kak Ni "nah, bener yang penting udah kelihatan ikut. Katanya nanti tanding sama anak teknik, katingnya juga"
Luna nampak berpikir "gimana Put? Ikut gak?" tanya Luna ke Putri pasalnya Luna emang harus satu paket dengan Putri. Kemana-mana pasti mereka selalu berdua. Banyak yang bilang juga kalau mereka kemnar padahal mah beda. Putri yang lebih tinggi dengan Luna dan kulitnya Putri juga agak gelap dari Luna.
"Terserah lo, lo ikut gue ikut. Tapi kalau gak ikut gak enak juga sama yang lainnya. Nanti pulang duluan aja kalau kesorean seperti saran Kak Na"
"Oke deh"
"Nah, kalau kalian ikut kan tambah rame" kata Kak Ni.
Luna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Tak lama setelah itu Dosen yang mengajar datang. Dan mereka semua yang ada di kelas mengikuti dengan baik. Meskipun beberapa diantara mereka ada yang asyik sendiri dengan gadjetnya. Bukankah sudah biasa seperti itu. Dalam satu kelas ada yang benar-benar mendengarkan ada juga yang setengah-setengah, sebentar mendengarkan penjelasan dosen dan sebentar fokus kegadjet.
Begitupun dengan Luna kalau sudah mulai bosan dan dosennya santuy dia akan membuka Instagram atau youtube yang menayangkan video berbagai macam makanan. Dan agar terlihat tidak main gadjet Luna memiliki trik sendiri yaitu gadjetnya di sandarkan ke kursi depannya karena mereka duduknya mepet-mepet jadi tidak kelihatan apalagi duduknya Luna dibelakang. Spot yang sangat bagus untuk tidak memperhatikan dosen yang menjelaskan. Tapi jangan ditiru yang para readers gak baik. Hehehe.
***
Luna dan Putri kini sudah di halte untuk menunggu bis. Karena mereka satu arah jadi mereka sering pulang bareng dan kalau berangkat juga kadang janjian dan nanti berakhir ketemu di bis. Itupun kalau memang mereka jodoh kalau enggak ya mereka tidak bisa barengan.
"Put, gue pengen banget jajan es didepan tapi takut nanti ada bis" kata Luna. Ya memang benar kadang Luna itu merasa khawatir kalau-kalau nanti dia beli es di depan alias di sebrang jalan yang terdapat warung. Nanti bisnya akan lewat sebelum selesai beli es, kan Luna takut udah gak ada bis lagi.
"Mau beli? Mumpung masih jam lima ini" tanya Putri. Ya mereka menerapkan prinsip sebelum jam tujuh jangan panik karena kemungkinan masih ada bis yang lewat.
Luna nampak berpikir "gak deh. Gue lebih pengen pulang"
"Yaudah"
Lalu keadaan kembali hening sampai ada seseorang yang gabung.
"Hai, ketemu lagi kita" kata orang itu lalu duduk di samping Luna.
"Oh, hai Kak Janah" Luna tersenyum menyapa.
"Baru pulang Kak?" tanya Putri.
"Iyanih, tadi baru selesai ngajuin proposal" Putri dan Luna mengangguk sebagai jawaban.
"Kalian satu tetanggaan atau bagaimana?" tanya Janah.
"Gak Kak, kalau Putri di Perum Griya Hijau sedangkan gue di Griya Indah" jawab Luna. Sekedar info aja kalau ke Perum Griya Hijau ke Griya Indah perjalanan bisa sampai lima belas menit. Jadi rumah Putri dan Luna itu terpaut jauh. Namun mereka juga kadang malah sering main bareng.
"Satu arah berarti sama gue. Gue juga di Griya Indah, btw"
Luna sedikit terkejut "oh ya? Bisa kebetulan banget. Tapi kok gue gak pernah lihat lo ya Kak"
"Beda kompleks kali" jawab Janah
Luna mangut-mangut "ah, bener bener"
"Kalian juga pulangnya sore banget. Bukannya kelasnya dari tadi pagi?" tanya Janah, karena setahunya jika masih semester awal SKS yang mereka ambil itu belum banyak jadi bisa pulang agak sorean.
"Tadi nongkrong di kelas sebentar Kak" jawab Putri.
"Yap betul. Sambil menghabiskan Wi-Fi kampus" sambar Luna dengan senyuman.
"Wi-Fi nya gak akan habis kali Lun" Janah tertawa. Merasa lucu dengan perkataan Luna. Janah merasa nyaman diantara mereka padahal kalau dilihat mereka itu seperti dua orang yang tidak mau diganggu dunianya artinya mereka seperti sudah nyaman dengan berdua aja tanpa ada orang lain. Dan Janah berani bertaruh bahwa pertama kali melihat mereka maka orang akan berpikir kalau mereka tidak asik ternyata salah. Mereka asik juga.
Luna dan Putri tertawa "bener juga" jawab Luna.
"Itu sepertinya ada bis deh" ujar Putri yang melihat penampakan bis dari jauh.
"Ahh, iya benar" jawab Janah.
Dan mereka kini bersiap untuk menaiki bis. Untung aja bis nya lumayan kosong jadi ada tempat untuk mereka duduk lumayan juga daripada harus berdiri kurang lebih setengah jam.