VIBHINNA

VIBHINNA
Jalan 03



Sore hari ini, sesuai janji bahwa Luna akan menjadi suporter untuk jurusannya dan kini dia telah berada di kampus tepatnya di lapangan indoor kampusnya yang masih sepi. Hanya da beberapa anak dari kelasnya dan kating dari teknik serta DG juga.


Sepertinya Luna dan Putri datang terlalu cepat. Tapi katanya pertandingan akan dimulai jam setengah lima dan ini udah jam empat tapi masih sepi. Mungkin mereka akan datang mepet waktu.


Luna duduk ditribun atas karena memang tempat yang akan tidak terjamah oleh orang-orang yang datang hari ini. Katanya ada kating dari teknik yang kece badai dan yang datang rata-rata sangatlah excited untuk melihat betapa kece badai kating nya itu.


"Gue kira hari ini akan sangat rame" kata Luna yang melihat orang-orang mulai berdatangan.


Putri pun melihat sekeliling "benar, lihatlah anak JP juga pada ikut nonton. Dan sepertinya masih banyak lagi dari jurusan lainnya nanti"


"Bukannya itu Lisa?" Tanya Luna saat dia tidak sengaja melihat kearah tribun depannya. Padahal tadi tidak ada, kemungkinan yang ditanyakan Luna baru berangkat.


Putri mulai mencari seseorang yang dimaksud Luna "yang mana?"


"Didepan kita, arah jam sepuluh"


"Ah, iya benar. Dia udah banyak temannya ya" kata Putri saat melihat orang tersebut yang tak lain adalah Lisa. Sebenarnya dulu sewaktu SMA, mereka yaitu Luna, Putri dan Lisa sangatlah dekat bisa dikatakan mereka adalah sahabat yang tidak bisa dipisahkan. Kemana-mana selalu bertiga namun ada sebuah kejadian yang menyebabkan mereka jadi retak dan renggang dan sampai sekarang malah mereka seolah-olah tidak mengenal satu sama lain.


"Ya bagus kalau gitu. Jadi dia tidak sendirian" kata Luna. Sebenarnya Luna tidak mau jika mereka harus seperti ini, dari dulu dia selalu berusaha agar mereka tetap saling bersahabatan namun tidak ada timbal balik yang baik dan Luna sadar mungkin memang mereka tidak bisa lagi kembali untuk bersama-sama.


Sewaktu dulu saat baru saja mereka bertengkar Luna merasa kasihan terhadap Lisa karena saat itu Lisa sendirian dan dia juga tidak berusaha untuk mencari teman lagi, mungkin ini pengaruh dari dia yamg sudah nyaman bertiga tapi tiba-tiba harus berpisah dan saat itu juga Una sebisa mungkin untuk mengajak Lisa berbaikan namun Lisa bersikap seolah-olah mereka tidak saling mengenal. Beruntungnya saat itu sudah kelas dua belas dan mendekati UN jadi hanya sebentar lau mereka lulus. Sekarang melihat Lisa bisa memiliki teman dan bergaul membuat Luna ikut merasa senang sekaligus lega.


"Lo masih ingin berhubungan baik sama dia?" Tanya Putri, karena dia dulu sempat menjadi penengah diantara mereka karena sikap Lisa yang semakin menyebalkan jadi Putri lebih memihak ke Luna.


"Kalau memang bisa kenapa tidak. Toh dulu kita memang sahabat kan?"


Putri mendengus "Sahabat apaan yang seperti itu. Kalau dia mengerti seharusnya dia tidak sampai seperti ini"


"Namanya juga masih labil. Lo pernah mikir gak sih kalau Lisa juga pengen kita sama-sama terus?" kata Luna yang kini memandang kearah Lisa yang sedang bergurau dengan sahabatnya. Sepertinya Lisa tidak sadar bahwa ada Luna juga.


"Dulu pernah sewaktu dia sendirian di sekolah tapi lo juga kan mencoba untuk memperbaiki, toh dia nya juga yang gak mau. Dan sekarang gue gak pernah kepikiran kalau dia punya niatan untuk sahabatan lagi sama kita. Dia juga udah punya teman baru yang lebih asik" Putri ikut memandangi kearah Lisa.


Luna tersenyum getir "memang benar sih. Gue juga waktu itu salah kali ya"


Putri lagi-lagi mendengus "lo salah dilihat dari mananya sih Lun. Udah deh, males gue bahas ini lagi"


Luna tersenyun maklum "oke,"


Keadaan kembali hening untuk beberapa waktu sampai suara seseorang menginstrupsi mereka "Luna! Duduk sini aja, kenapa disitu?"


"Gak ah, gue disini aja Sukma" jawab Luna kepada Sukma.


"Gak seru lo ah" lalu hanya dijawab dengan senyum oleh Luna. Ternyata teman-temannya udah pada berdatangan. Dan Sukma berserta Laily dan Fiky duduk diteibun paling depan. Tak bisa dipungkiri bahwa mereka snagat bersemangat. Ahh, mungkin cuman Luna yang tidak dan Putri kelihatannya akan menikmati pertandingan ini secara dia memang suka sepak bola.


Melihat ke lapangan sepertinya sebentar lagi pertandingan akan dimulai karena sudah ada bapak dosen dari DG yang sepertinya akan menjadi wasit dan ada beberapa anak juga yang sudah menggunakan jersey berada di lapangan dan kalau dihitung-hitung jumlah mereka kurang dua personil. Mungkin telat, pikir Luna.


"Putri, gue mau ke toilet bentar"


"Mau gue anter?" Tanya Putri. Karena biasanya memang dianter oleh Putri.


"Gausah deh, deket juga"


"Oke, kalau gitu sekalian beliin minum ya"


"Oke deh" Luna berdiri dan menuju ke toilet.


"Mau kemana Lun?" Tanya Danis saat mereka berpapasan di depan pintu keluar.


"Beli minum" kata Luna, dia sedikit malu jika bilang ke toilet.


"Nitip dong"


"Ogah, beli aja sendiri"


"Gak ada waktu Luna, gue mau tanding ini. Lo gak kasihan sama gue kalau nanti gue keahusan, trus pingsan gimana" kata Danis mendramalisir.


"Alay lo ah, yaudah mana duit?" Luna mengulurkan tangannya.


Danis mengeluarkan uang dari dompetnya dan dikasihlah Luna uang sepuluh ribu "nih, kembaliaanya buat lo aja. Gue air mineral yang ada manis-manisnya oke" lalu Danis nampak berlari meninggalkan Luna untuk menuju ke lapangan.


"Ini mah buat beli dua aja masih harus nambah duit. Dasar" Gerutu Luna yang mulai melangkahkan kakinya ke toilet.


Sekembalinya Luna dari toilet dia menuju ke kantin yang memang tidak jauh dari toilet. Dia membeli tiga botol air mineral yang kata Danis ada manis-manisnya. Dia membawa tiga botol itu dalam dekapannya, karena dia menerapkan prinsip untuk memperminim penggunaan plastik satu kali pakai, kalau dia bisa membawa tanpa plastik kenapa tidak. Kalau tidak dari hal-hal yang kecil seperti ini dan kalau bukan sekarang kapan lagi.


Saat Luna berjalan untuk kembali ke lapangan tiba-tiba ditengah jalan dia ditabrak seseorang dengan keras. Yang seketika membuat dia memekik.


"Awwww!" Luna jatuh terjerembab dan botol yang dibawanya jatuh berserakan.


Seseorang yang menabrak Luna yang ternyata adalah cowok dan dia seketika terkejut.


"Sorry, gue buru-buru tadi" cowok tersebut mencoba untuk membantu Luna berdiri.


Luna menerima uluran tangan tersebut, yaa mau bagaimana lagi dia juga butuh bantuan. Luna merasakan bahwa lututnya sangatlah nyeri. Namun dia menahannya, tidak mungkin dia mengaduh kepada orang yang tidak dikenalnya.


Setelah melihat orang yang ditabrak secara tidak sengaja tadi cowok itu memunguti botol Luna dan diberikan ke Luna. Dan Luna menerima itu.


"Lo gapapa?" Tanya cowok itu yang diperkirakan Luna adalah kating nya dan sepertinya dia juga ikut tanding nanti. Karena jika dilihat dia juga memakai jersey.


"Iya gapapa"


"Bisa berjalan gak?" Tanya orang itu khawatir.


Luna mengangguk "bisa kok" meskipun


Cowok itu melihat kearah lutut Luna yang kebetulan Luna memang sedang memakai rok pendek lima centi diatas lutut.


"Tapi lutut lo biru gitu?"


Luna melihat lututnya dan ternyata benar, lututnya biru dan ada sedikit lecet "gapapa kok"


"Beneran? Kalau sakit gue anter ke UKS aja"


"Gapapa kak, beneran. Sepertinya kakak juga udah ditunggu di lapangan"


Cowok tersebut menepuk jidatnya. Gara-gara dia menabrak cewek jadi lupa kalau dia tadi buru-buru karena sudah telat ke pertandingan.


"Lo beneran gapapa?" Tanya cowok itu memastikan.


Luna tersenyum "beneran gapapa kak"


"Sekali lagi sorry ya. Kalau gue duluan gapapa kan"


"Iya, gapapa"


Cowok itu mengangguk "sekali lagi sorry ya. Gue duluan"


Luna tersenyum lalu mengangguk dan cowok itu kembali berlari menuju ke lapangan.


Luna mulai berjalan menuju ke lapangan dengan pelan-pelan karena nyeri yang ada dilututnya.


Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di lapangan dan kembali duduk disamping Putri.


"Lo itu pergi ke toilet sebelah mana sih Lun. Lama banget"


"Lo lihat ini" Luna menunjukkan lututnya kepada Putri.


Putri yang melihat lutut Luna membiru dan lecet pun kaget "kok bisa?"


"Ceroboh banget sih"


Luna hanya tersenyum. Belum siap untuk cerita kepada Putri yang sesungguhnya dan Putri tampak percaya karena memang Luna itu orangnya ceroboh sekali.


"Pertandingannya udah dimulai dari tadi?" Tanya Luna yang kini fokus ke lapangan dan dia melihat cowok yang melihat tadi sedang berlari-lari mengejar bola.


"Baru aja sih. Paling lima menitan" jawab Putri.


"Oh ya, ini minum lo" Luna memberikan satu botol air mineral ke Putri.


"Thanks, itu dua punya lo semua?" Tanya Putri saat melihat ada dua botol yang dipangku Luna.


"Oh, yang satu punya Danis tadi dia nitip. Ketemu di pintu"


Putri hanya ber-oh ria.


Keduanya pun nampak menikmati pertandingan sesekali mereka teriak jika ada dari timnya yang jatuh atau tidak sengaja ketendang. Dan Putri sesekali memberi semangat.


Namun Luna tetap diam menikmati pertandingan yang berlangsung, jujur saja dia tengah mengamati cowok yang tadi menabraknya, yang Luna pikir itu adalah kating nya dari teknik. Jika Luna lihat-lihat kating nya utu memang lumayan menarik dengan tinggi yang Luna kira-kira sekitar 178 dengan badan yang proposional juga memiliki otot yang sedikit menonjol. Luna yakin seratus persen kalau dia memiliki four or sixpack diperutnya. Luna menggelengkan kepalanya pikirannya terlalu menerawang jauh. Ahhh, ini semua gara-gara para oppanya mulia memamerkan abs mereka.


Luna mengecek jam yang melingakr ditangannya. Ternyata jarum jam sudah menunjuukkan pukul setengah enam.


"Putri, pulang yuk" Ajak Luna.


"Jam berapa emangnya?" Tanya Putri.


"Sudah jam setengah enam"


"Yaudah ayok. Tapi pamit dulu sama yang lain"


"Oke" akhirnya mereka menuju ketribun paling depan.


"Sukma, kami pulang dulu ya" kata Luna kepada Sukma yang memang jaraknya dekat dengan jalan sehingga tidak mengganggu penonton yang lain.


"Oh, udah mau pulang aja nih?"


"Iya, takut kemalaman"


"Kalian mau pulang dulu?" Tanya Fiky yang duduk disebelah Sukma.


Luna mengangguk "iya"


"Yaudah hati-hati"


"Iya, hati-hati ya kalian" sambar Laily yang duduk disebelah Fiky.


"Yaudah, hati-hati juga kalau gitu" kata Sukma.


"Oke, kami pulang duluan. Bye" pamit Putri. Dan Luna melambaikan tanganya disertai senyum.


Lalu mereka mulai berjalan untuk keluar lapangan namun tiba-tiba ada yang memanggil.


"Luna!" Panggil Danis.


Luna membalikkan badan.


Danis mengadahkan tangannya tanda meminta "minum gue?"


"Ah, iya sampe lupa. Nih" Luna memberikan satu botol mineral kepada Danis.


"Thanks. Lo mau kemana?"


"Mau pulang"


"Pertandingannya kan belum selesai"


"Takut kemalaman"


"Pulang nanti aja, gue anter lo pulang deh"


"Gak deh, nanti Putri gimana?" Tolak Luna. Memang benar nanti kalau dia pulangd ianteirm Danis lantas Putri gimana. Dia tidak akan meninggalkan temannya.


"Nanti gampang lah. Kan banyak anak-anak"


"Gimana Put?"


"Lo mau emangnya?"


Luna menggelengkan kepalanya.


"Yaudah. Kalau gitu kami pulang duluan ya Dan" kata Putri.


"Beneran nih?" Tanya Danis memastikan.


"Iya"


"Yaudah. Kalau gitu gue balik ke lapangan dulu. Bye" Danis melambaikan tangannya lalu berlari menuju ke lapangan.


Lantas Luna dan Putri melanjutkan jalannya jntuk meninggalkan lapangan sekaligus meninggalkan kmapus. Untuk menuju rumah.


***


Sekembalinya Danis menemui Luna dia kembali untuk bergabung dengan teman-temannya. Membicarakan berbagai hal dari mulai stretegi untuk pertandingan sampai hanya gurauan biasa.


Disaat-saat terakhir waktu istirahat akan berakhir Danis dihampiri seseorang.


"Hai bro!" Ditepuklah punggung Danis.


Danis sedikit terkejut "Oh, hai kak" pasalnya katingnya tersebut memang tidak terlalu akrab dengannya meskipun beberapa kali pernah tanding bareng dan sedikit mengobrol. Tapi hubungannya tidak akrab sampai bisa dikatakan teman.


"Nanti selesai main, gue minta waktu lo boleh?"


"Boleh aja, by the way ada hal penting apakah yang menyebabkan kak Tama menemui saya?" Tanya Danis mendaramalisir.


Tama tertawa mendengar itu "nanti aja, kita bicarain. Kalau sekarang gak enak sama anak-anak" Tama membisikkan kalimat terakhirnya.


"Gue jadi kepo ini"


"Tidak penting-penting banget aslinya"


"Ok ok" kata Danis santai.


Tama tersenyum "yaudah, kalau gitu gue balik lagi"


"Iya kak"


Sekembalinya kak Tama, Danis mendapat beberapa pertanyaan dari anak-anak lain, yang juga merasa heran kenapa katingnya yang tidak akrab dengan Danis bisa mengahampiri Danis dan sepertinya hal yang dibicarakan sangatlah penting. Itu yang dilihat dari ekspresi kating tersebut.


Dan yang Danis lakukan hanya menjawab dengan santai jika tidak ada masalah yang penting karena sejujurnya Danis sendiri juga sangatlah kepo apa yang akan dikatakan katingnya itu kepadanya nanti.


Setelah itu sekitar lima menit kemudian pertandingan kembali dimulai. Suara penonton mulai terdengar kembali dengan sangat riuh dan pertandingan tampak begitu seru dari babak yang pertama.


Dan yang pada akhirnya pertandingan dimenangkan oleh anak-anak dari teknik. Yang diakui oleh Danis kalau permainan mereka sangatlah badass serta kompak sekali sehingga pertahanan mereka sulit untuk dirobohkan. Pertandjngan dimenangkan dengan skor satu kosong. Sejujurnya pertandingna seperti ini memang sering sekali diadakan namun seringnya itu anak teknik dengan anak JP dan kalau dnegan DG itu tidak terlalu sering mungkin ada beberapa pertandingan. Pertandingan tadi adalah salah satunya.