Until the end of time

Until the end of time
Episode 8



29 Agustus 2020


Hingga akhir waktu


Episode 8


            Kasih sayang berubah menjadi sebuah kebencian, ketulusan berubah menjadi kemunafikan, kelembutan berubah menjadi amarah yang bahkan tak dapat terkendali, Soici berdiri di depan kakakknya dengan mata berkilat tajam, sedang Fransis tidak mampu melakukan apapapun, tubuhnya terasa sangat lemah, perutnya terasa sakit, tapi bibirnya tetap tidak mampu berkata jujur pada adiknya.


Sret..


Pria itu mencengkam kerah kemeja kakaknya mengangkatnya memaksa Sang kakak untuk berdiri,”Kak, Fransis. Jangan menguju kesabaranku,” desisnya. Fransis menatap Sang adik sendu, kenapa lagi adiknya ini, kenapa matanya seakan ingin membunuhnya, apakah jiwanya benar-benar tidak bisa dikendalikan?,


            “Hn.” Pria bukan bermaksud berbohong, tapi berkata jujur saat kondisi kejiwaan adiknya kembali tidak normal juga tidak akan membuatnya mengerti, atau mungkin akan menangis, tertawa sendiri seperti orang gila.


Buagh…


Buagh..


Duagh…


Tubuh Soici gemetar setelah meninju perut kakaknya berulang kali dan menendangnya dengan lutut, matanya kosong bahkan saat Sang kakak kesakitan, tubuhnya membungkuk tangannya mencengkram perutnya bahkan memuntahkan darah dari mulutnya, dia hanya bisa terdiam seperti patung, entah apa yang membuatnya kembali melukai seorang kakak yang begitu sangat menyayanginya, perasaan panas membakar dalam dadanya, merasa dikhianati dan dikecewakan.


Bruk…


Fransis memandang Sang adik yang menjatuhkan tubuhnya di atas lutut, kedua tangannya mencengkram kepalanya, tubuhnya gemetar seperti ketakutan. Pria itu ikut menjatuhkan dirinya di depan adiknya, tangannya yang gemetar karena menahan sakit terulur untuk menyentuh Sang adik yang kondisi mentalkan kembali terpuruk,”Soici,” panggilnya lemah.


            Soici menggelengkan kepalanya kuat, dalam bayangannya tubuh kakaknya bersimbah darah karena dirinya yang berniat menghajar kedua orang tuanya karena selalu rebut bahkan bercerai dan kakaknya menjadikan dirinya sebagai tameng saat Sang ayah ingin mencambuknya, dia hanya bisa menangis tanpa bisa menghentikannya atau pun menolong Sang kakak yang saat itu sekarat karena luka yang cukup parah.


            “Aku jahat, aku sangat jahat!” teriaknya histeris. Kondisi mental adiknya kembali buruk, pria itu bahkan menangis sekatkutan setelah meluainya, tatapan matanya yang bersinar telah redup, kondisi ini persisi seperti 10 tahun yang lalu, kosong, penuh penyesalan dan selalu menyalahkan dirinya sendiri, saat itu kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah, adiknya yang masih berumur 16 tahun mengalami depresi berat, hingga membuat jiwanya terganggu. Fransis tidak ingin melihat adiknya menjadi gila,  dia juga tidak ingin semua orang tahu kalau Soici sinting, dengan penuh kasih sayang, ia merawat adiknya, bekerja keras mulai dari tukang kuli batu, memungut sampah, kedua orang tuanya sudah tidak mau lagi mengurusnya, uang yang diberikan kedua orang tuanya juga sudah habis untuk biaya adiknya, menanggung semua penderitaan dan hinaan, hingga dia bertemu dengan nenek tua yang baik hati, memberikan dirinya dan adiknya tempat tinggal bahkan bersedia merawat adiknya yang sudah gila, dengan kemampuan otaknya yang cemerlang, Fransis mampu mendirikan perusahaan sendiri, nama Fransis sugami dia ubah menjadi Fransis Lonenlis. Dia tidak masa-masa itu terulang lagi, ia tidak ingin melihat adiknya menjadi gila lagi, siapa nanti yang akan bersedia mengurus orang gila, kalau dirinya meninggal karena penyakit kangker yang dideritanya, bagaimana nasib adiknya?.


            “S-Soici, kau kenapa?” tanyanya penuh perhatian.  Pria itu berusaha menahan segala rasa sakit dalam tubuhnya, baginya sakit yang dia alami tidaklah seberapa dibandingkan melihat adik tercinta kembali mengalami gangguan mental, ia hendak mengulurkan tangannya untuk menyentuh adiknya tapi Sang adik justru menepisnya dengan kasar.


            “Aku jahat, aku sudah membuatmu menderita. Aku pantas mati! Aku pantas mati… huhuhu.” Sang adik menangis memilukan di depannya, bagaikan tercabik melihat adiknya menangis dan terus menyalahkan dirinya sendiri, terkadang dirinya menyesali kelmahan tubuhnya, bahkan disaat Sang adik dalam keadaan jiwa yang tergungcang, dirinya tidak bisa segera bergerak cepat untuk memanggil dokter kejiwaan atau sekedar mengambil obat penenang, ia hanya mampu merengkuh tubuh Sang adik dalam dekapanya tak perduli pukulan adiknya yang semakin menggila, ia hanya ingin adiknya bisa tenang.


            “Tidak, kau tidak boleh mati. K-kau bukan orang jahat, kau adikku yang paling baik dan paling kusayangi, dengarkan aku… “ Fransis semakin mengeratkan pelukannya pada Sang adik, meski sekarang rasanya dia sekarat, tapi seandainya dirinya harus kehilangan nyawa detik ini juga asal adiknya baik-baik saja, semua akan direlakannya.


            “Aku tidak menderita, aku bahagia punya adik sepertimu. Jadi jangan pernah bicara seperti itu lagi, kaulah satu-satunya alasan untukku tetap hidup.” Suaranya semaki lemah, bahkan nyaris putus.


            Seakan kesadaran kembali mengambil alih dirinya mengembalikannya kedalam kesadaran yang normal, hatinya merasakan sebuah kehangat saat kakaknya memberikan pelukan padanya, ia pun membalas pelukan kakaknya,”Kak Fransis,” lirihnya.


            Fransis tersenyum lega, suara lembut Sang adik mengalun indah dalam pendengarannya, ia pun melepaskan pelukannya, ditatapnya adiknya penuh kasih sayang,”Hn.”


            “Aku barusan kenapa?” tanya Soici entah pada siapa, dia tidak bisa mengingat apapun yang baru saja dialaminya, yang ia ingat hanya tentang pelukan kakaknya yang begitu lembut dan menghangatkan.


            “Tidak apa, tidak perlu dipikirkan.” Fransis menepuk pelan bahu adiknya, apa bagusnya juga kalau diceritakan yang sejujurnya pada adiknya, kalau barusan pria penyakit gilanya kambuh lagi, bukannya akan bahagia adiknya pasti akan semakin memburuk.


            Soici mengangguk, tapi sejujurnya dia merasa masih ada yang tidak beres, dalam hatinya merasa khawatir kalau baru saja penyakit mentalnya kumat dan menyakiti kakaknya. Matanya memperhatikan wajahn kakaknya yang terlihat sangat pucat, ia pun mengulurkan tangannya menyentuh wajah itu, dingin wajah itu terasa dingin, apakah pria itu sedang sakit?.


            “Hanya lelah,” jawab Fransis berbohong, dia tidak ingin membuat adiknya semakin khawatir.


            “Oh, baiklah. Kalau begitu kakak harus makan dulu, karena seingatku dari tadi pagi kakak belum makan,” balas Soici seperti seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan kesehatan putranya. Fransis hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Sang adik, tidak masalah jika adiknya bersikap seperti ini, tidak apa juga seorang pria memiliki sikap keibuan dari pada penyakit mentalnya kembuh lagi.


            Soici bangkit dari posisinya dan meninggalkan kakaknya untuk menyiapkan makanan untuk Sang kakak, setelah punggung adiknya tidak terlihat lagi, tubuh Fransis tersungkur di lantai, matanya terpejam rapat, rasa sakitnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Pria itu pasrah kalau seandainya memang Tuhan ingin mengambil nyawanya saat itu juga, mulutnya terbungkam rapat, tiada guna untuknya berteriak, bahkan mengeluarkan suaranya sekedar memintak tolong saja sudah tidak mampu, alangkah lebih baik jika dirinya pingsan sehingga setelah adiknya kembali akan mengira kalau dirinya sedang  tidur.


Soici to Fransis


Ho…


Genangan merah teralir, dari hati penuh lukamu…


Senyum tak pernah berhenti, meski tubuh telah ringkih,,,


Uluran tangan selalu kau berikan padaku,,


Dekap kasih sayangmu membuatku selalu rindu,,,


Kautlah… kuatlah,,, jangan pernah kau rapuh…


Bangkitlah… bangkitlah…


Jangan tinggalkan aku…


Hatiku… hatiku, tak bisa hidup tanpa kamu.


Kau terlalu berharga untukku dan tak bisa ku kehilanganmu.


Kautlah… kuatlah,,, jangan pernah kau rapuh…


Bangkitlah… bangkitlah…


Jangan tinggalkan aku…


Tak mampu, kau telah tak mampu untuk menjagaku seperti dulu..


Tapi perjuanganmu tak pernah berhenti sampai disini,,,


Hanya di batu nisanmu kini, ku tetipkan salam rinduku,,


Semoga kau tenang selalu, bersama yang kuasa


Untuk menyanyikan lirik ini gunakan lagu sanam re