
"perempuan rendahan, aku tidak akan memelukmu atau memberimu hadiah, "batin Fransis merendahkan. Mereka berjalan bersama secara beriringan dengan gadis itu masih dengan senang hati menggandeng lengannya.
"Soici, "panggil Erika manja. Kesabaran pria itu benar-benar sudah habis sekarang, dia pun berbalik dan menatap tajam gadis itu hingga gadis itu terpaksa melepaskan lengan pria itu, hatinya merasa takut dan seluruh tubuhnya gemetar, baru kali ini ia merasa takut melihat tatapan mata sang kekasih.
"Kau terlalu berisik, wanita rendahan! "desis Fransis tajam. Erika langsung terdiam membeku, ia sekali lagi tak menyangka kalau pria yang selama ini selalu bersikap romantis terhadapnya kini berubah menjadi seorang pria yang sangat dingin dan bermulut pedas.
"Soici, "cicitnya.
"Diam! jangan mengejarku lagi, "bentak Fransis. Setelah itu ia meninggalkan Erika yang masih dalam keadaan sock menerima perlakuan kasarnya.
Erika hanya bisa menatap punggung pria yang dikiranya sebagai sang kekasih itu nanar, dadanya terasa sesak, baru kali ini ia di perlakukan serendah ini oleh seorang yang dia sayang. Dua orang gadis berjalan menghampirinya,kedua gadis itu tak mengerti kenapa sahabatnya terlihat sangat sedih dan sock, "Erika, apa yang terjadi? "tanya salah satu diantara mereka.
"Itu benar, Erika, kau kenapa? "tanya yang satunya.
"Aku tidak tau apa salahku, dia begitu dingin padaku, bahkan tadi dia menyebutku wanita rendahan, "ucap Erika. Lelehan air mata mulai berjatuhan membasahi pipinya, bahkan kedua temannya itu seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu,mereka tau bahkan gadis itu sedang menceritakan tentang kekasihnya Soici Sugami, tapi mereka tak tau bahwa yang tadi ditemui adalah orang lain yaitu Fransis Lonenlis saudara kandung Soici Sugami.
"Sudalah, Erika, mungkin,Soici,tidak sengaja mengatakan itu, "ucap salah satu teman menenangkan gadis itu,gadis itu bernama Yuki.
"Itu tidak mungkin, Soici, tidak akan begitu, " sanggah Erika.
"Sudalah,sebaiknya kita masuk, sebentar lagi dosen sastra akan segera datang, semoga dia lupa pada tugas membuat puisi yang diberikan pada kita, "sahut Yuki menengahi pembicaraan.
"Setuju! "seru Erika dan Miki bersamaan. Setelah itu mereka bertiga pergi menuju kelasnya.
******
Fransis kini sudah berada di ruang kelasnya,ia duduk dengan nyaman di bangkunya, di sampingnya seorang gadis duduk di bangku dengan kepala tertunduk dan wajah memerah karena kedatangan pria itu,"P-pagi, Soici, "sapanya gagap.
"Hn, "jawab Fransis tak jelas. Tak lama kemudian ia merasakan rasa tak nyaman menghinggapi perutnya, dia mengumpat dalam hati, harusnya sebelum pergi dia meminum obatnya terlebih dulu agar penyakitnya tak kambuh sembarangan. Pria itu mencengkram perutnya saat nyeri itu semakin menjadi, dia bahkan sampai menundukkan kepalanya dan memjamkan matanya seakan menikmati rasa sakit yang kini menyambanginya.
Seorang gadis yang bernama Nadza Edogawa, dia merupakan orang yang sangat perduli pada Soici, tapi pria itu sama sekali tak perduli terhadapnya, dia justru memilih Erika sebagai kekasihnya. Gadis itu memperhatikan Fransis yang dikiranya adalah pujaan hatinya yang sedang menundukkan kepala sambil memejamkan matanya, kemudian ia beralih pada tangan pria itu yang sedang mencengkram perutnya, dia pun berfikir kalau pria itu ada masalah dengan pencernaannya.